Sunday, 6 March 2011

Kehancuran Moral, Kehancuran Agama, Kehancuran Bangsa


Baru sekitar sebulan yang lalu, ranah negeri kita diguncang bom maksiat dengan adanya video mesum yang pelakunya adalah Public Figur negeri kita yang berdarah serambi mekah dengan darah kelahiran pulau Dewata.


Itu adalah sebagian kecil dari teror bom-bom maksiat yang dilakukan oleh muslim negeri ini. Mereka semua pada mengaku muslim yang berkepercayaan kepada Allah Sang Esa dan utusan-Nya Muhammad SAW. Namun dari banyaknya pengakuan atas keimanan mereka, tak ada satu bukti yang dapat menjelaskan bahwa keimanan mereka adalah keimanan yang hakiki. Bukti mereka bukanlah tanda bukti ikrar kesetiaan pada sang Pencipta melainkan tanda pengingkaran kepada Pencipta atas nikmat yang telah Pencipta berikan, baik itu berupa islam, iman dan jua akal pikiran.

Target-target dari terorisme pada agama ini menyerang pada inti-inti dari hati dan keyakinan para muslim. Moral yang bejat, tauhid yang diambang kepastian, kedangkalan tentang hukum syara’ kini telah banyak melanda para muslim negeri ini. Yang lebih parah lagi yaitu tentang hancurannya moral anak-anak bangsa sebagai penerus jihad para ulama’(Pahlawan.Red) penegak NKRI. Khususnya pada muslim-muslim yang sekarang telah lupa dan telah menanggalkan baju moralnya. Justru mereka lebih cenderung menggunakan pakaian-pakaian moral para non muslim dari pada memakai gaun moral agama islam yang secara resmi telah diakui sang Khaliq. Dan jua Rasulullah pernah mensabdakan sebuah hadits yang isinya tentang anjuran untuk berbaju moral agama(siapa yang tidak punya moral bagaikan lalat.Red). Meskipun Rasulullah SAW sudah menganjurkan umat-umatnya untuk berpakaian moral agama, namun respon dari mereka, hanya menganggap hadits beliau adalah isapan jempol belaka.

Murahya moral remaja bangsa kita, bisa kita lihat dari realita para pelajar sekitar kita. Meskipun mereka pelajar yang seharusnya terpelajar akan tetapi mereka hanya seperti mengenakan moral mereka pada jam-jam sekolah saja. Setelah jam sekolah usai, atribut moral mereka begitu saja di tanggalkan di rumahnya masing-masing dan keluar rumah tanpa moral bagaikan para binatang yang berkeliaran. Contoh kecil dari itu adalah banyaknya dari kalangan hawa yang bedomosili di madrasah hanya memakai penutup kepala(Jilbab.red) atau penutup tubuh (Baju muslim.red) hanya bertujuan untuk formalitas seragam yang telah di tetapkan dari madrasahnya. Mereka bukan bertujuan untuk melaksanakan tuntutan dari agama melainkan mereka lebih di tuntut dari pihak madrasah. Karena dari realitanya banyak pelajar hawa hanya menutup aurat ketika bersekolah saja dan ketika sudah di luar, mereka begitu saja menanggalkan penutup auratnya di rumah(keluar rumah dengan aurat terbuka.red).

Lain ladang, lain pula belalang. Mungkin ungkapan itu patut disematkan pada pelajar putra yang berdomisili di madrasah. Karena realitanya tak jauh berbeda dari apa yang pelajar hawa lakukan. Meski di madrasah, keseharian mereka dipenuhi dengan materi-materi yang tak jauh dari agama, moral dan kebangsaan. Akan tetapi itu hanyalah isapan jempol belaka. Realita di luar jauh berbeda dangan apa yang diharapkan di dalam. Di dalam, mereka begitu patuh dan taat akan undang-undang yang ada. Sedang ketika jam sekolah sudah usai, mereka tak lagi seperti seorang pelajar. Banyak dari mereka yang menanggalkan ilmu dan pakaian moral yang sudah di bekali dari sekolah seperti halnya marak terjadi kasus prostitusi, perjudian dan aksi ugal-ugalan. Dari contoh sebagian kejadian itu tidak ada indikasi yang menunjukkan mereka adalah seorang pelajar muslim.

Dari berbagai rentetan-rentetan kasus yang menyangkut kepolisian, baik itu berupa bobroknya moral, banyak dari kalangan pelajarlah yang menjadi tersangkanya. Mungkin bila MenDikNas punya pemahaman tentang kehancuran moral para pelajar negeri ini. Pastinya materi tentang moral akan diujikan dalam ujian Nasional maupun ujian praktek. Akan tetapi cara itu bukanlah satu-satunya jalan pintas yang bisa digunakan sebagai jalan keluar dari permasalahan moral itu. Namun penekanan dari guru dan peran serta Orang tualah yang dapat menekan dan mengawasi para pelajar dan anaknya untuk melakukan suatu moral yang baik, luhur dan berbudi pekerti. Sehingga apabila moral mereka baik maka agama juga akan menjadi baik dan bangsapun akan menjadi baik.


Rasulullah SAW bukan diutus di muka bumi ini untuk menyempurnakan ilmu , melainkan di utus untuk menyempurnakan moral umatnya.

*dimuat di buletin madrasah NU TBS el_Insyaet edisi 42

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html