Sunday, 6 March 2011

True Love, Never Dies


Hakikat cinta bukanlah mencintai sesuatu hanya dengan nafsu belaka. Namun hakikat Cinta adalah mencintai karena ketulusan hati cinta. Dan cinta adalah koneksi dua bathin yang saling mengerti dalam berbagai aspek perbedaan. Gejolak perbedaan bukanlah hijab untuk mencintai dari satu hati ke hati yang lain. Akan tetapi dari gejolak tersebut, akan menetaskan sebuah cinta sejati. Dan cinta sejati itu takkan pernah mati dilekang oleh sang waktu.

Pencarian cinta sejatiku berawal sekitar setengan tahun lalu, tepatnya dibulan suci ramadlan. Kala itu aku sedang mengajak temanku Joshef, muallaf yang membutuhkan panduan tentang agama dariku. Sebelumnya aku tak menduga kalau Joshef akan mengajak saudara sepupunya untuk ikut berbuka denganku.

Waktu itu adalah awal perkenalanku dengan Inez, saudara Joshef yang berparas cantik dan punya kecerdasan super. Tak membutuhkan waktu yang lama, tepat setelah buka bersama selesai, sebelum Joshef dan Inez pergi meninggalkan rumahku, kami sempatkan untuk bertukar nomer HP disertai canda yang mewarnai perpisahan kami.

Detik berganti detik, menit berganti menit. Perputaran waktu terus berputar cepat. Lambat laun hati ini terus berdenyut mengganti ruang menjadi cinta. Kini aku mengenalnya lebih jauh, dan dia juga lebih jauh mengenalku. Bisa dibilang aku sedang jatuh cinta dengan Inez. Hati ini selalu berdzikir menyebut nama Inez. Aku selalu teringat senyum manisnya yang semeringah kala pertemuan sejenak itu dan waktu lah yang memisahkan pertemuan yang tak disengaja itu.

*****

Setengah tahun berlalu, namun kontak kami tak pernah surut hanya sekejab saja. Hari-hariku dipenuhi dengan SMSan dan telephonan dengan Inez. Ketika ia sedang OL difacebok, aku juga menyempatkan OL, semata ingin selalu ada untuknya. Semua caraku itu bertujuan agar dia tahu kalau aku mencintainya. Waktu telah memakan semua caraku mencuri perhatian darinya, sehingga membuatku memperjantankankan diri untuk terus terang mengungkap apa yang terpendam dalam lubuk hatiku.

Tak butuh waktu yang lama, akhirnya aku, dengan keyakinan yang tulus dan suci , untuk memberanikan diri menyatakan cinta itu padanya. Mungkin ini dibilang adalah hal yang sangat extreme, namun ini adalah keyakinan hatiku bahwa dia adalah masa depanku. Aku menelponnya, awalnya tentunya diawali dengan basa basi tanya tentang ini dan itu. Dan pada inti dari maksud aku menelponnya.

“Nez, ada sebuah pohon, pohon itu kecil dan berakar rapuh, sedangkan ada badai dan angin yang kencang menerjang si pohon kecil itu diwaktu sekarang. Pohon kecil yang rapuh itu tak bisa berdiri tanpa adanya sandaran, dia sangatlah membutuhkan sandaran untuk menopang dirinya. Dia sudah mempunyai sandaran jati dirinya, namun sandaran itu tak mampu menopang pohon kecil yang rapuh itu untuk berdiri tegak, sehingga dia mencari sandaran lainnya. Apakah kamu mau menjadi sandaran dari si pohon kecil itu.” Ungkapku pada Inez

“Maafkan aku Ra, sebenarnya aku mau menjadi sandaran si pohon kecil itu, karena aku juga ingin bersama si pohon kecil itu. Namun aku sudah bersama seseorang yang mungkin itu adalah yang terbaik untukku. Dan sekali lagi maaf ya Ra” jawabnya

Dengan hati sedikit kekecewaan, sehingga aku tak bisa berkata lagi dengannya. Handphoneku terlepas dari genggaman tangan yang penuh dengan dosa ini, dan terjatuh” brak......brak...” Handphone yang jadul itu berantakan, tepecah menjadi keping-keping yang hancur. Seketika itu telponku terputus.

*****

“Ara.....” tertulis kotak masuk yang datang dari Inez. Sebelumnya aku malas untuk membalas pesan itu, namun aku tetap membalas pesan itu, aku tak mau hati sang cinta itu terluka karena kekecewaanku. Aku akan tetap menunggu, karena keyakinan masa depanku mengatakan kalau dia adalah masa depan cintaku.

Cerita cintaku begitu kusam dan kelam. Hingga suatu saat ketika ada sebuah diskusi antar sekolah di SMA 1 Harapan Bangsa. Aku menemui seorang putri cantik yang menjadi lawan omongku dalam diskusi tersebut. Aku tertarik dengannya, namun aku tetap akan setia menjunjung tinggi cinta Inez. Karena cintaku dengan Inez adalah cinta yang suci, meski aku mudah untuk mencintai seorang wanita. Dia satu sekolah dengan Inez, namun aku baru mengenal orang itu ketika diskusi itu berjalan. Namanya Novia, putri dari pengasuh ponpes Mawadah.

Kala dihadapkannya dua pilihan yang membuatku bingung atas cinta itu. Jika aku memoligamikan cinta itu, maka aku akan menerima kepahitan itu, namaku akan tenggelam karena cintaku itu. Aku terus merenung, memikirkan akan nasib hati ini. Kebingungan ini adalah kebingungan yang maha dahsyat, memilih nama hancur, atau meninggalkan cinta itu.

Malam-malam ku jadikan siang, semata memikirkan cinta. Aku meminimalisir tidur lelapku demi memikirkan cinta itu. Aku kian hanyut dalam aliran cinta yang sedikit menghambat prestasiku untuk memajukan raga yang terkucilkan ini. Keinginanku untuk menyandingkan piala prestasi kehidupan dan piala cinta itu, membuat aku sedikit memaksa kehendak Khaliq untuk menjalankan takdirku. Aku seakan mengatur Tuhan, merasa bahwa Tuhan sedang kupaksa, sedangkan aku tak pernah menggubris apa yang diserukan Tuhan.

Kian hari, kian ku terhijab dengan Tuhan karena pencarian cinta palsu yang ku anggap pencarian atas nama cinta sejati. Aku melupakan Tuhan, demi memalingkan hati ini mencari palsunya cinta.

*****

Dalam istirahat malamku yang sejenak, aku termimpi akan suara yang aneh.

“Ara..... dimanakah jati dirimu yang sebenarnya” Suara mimpi yang mengatasnamakan pemerhatiku, lelaki berbaju putih.

Aku hanya terdiam, ketakutan akan suara yang begitu menggeligar. Terdengar suara lelaki itu mengguncang telingaku lagi.

“Ara, apakah hatimu sudah terhijab karena cinta palsu itu. Sehingga kamu melupakan cinta sejati, yaitu cintamu pada Allah SWT. Kamu terus mengucurkan keringat yang deras demi pencarian cinta pada makhluk yang hakikatnya adalah kepalsuan. Kamu itu bukanlah Ara yang sebenarnya. Kamu sudah terlelap dalam kenikmatan duniawi, berkedok nafsu dan syahwat. Aku ingin kamu seperti Ara yang dulu, mencintai Allah dan sebagainya. Bukan Ara yang sekarang, hanya mencintai makhluk, tanpa mencintai Khaliq. Silahkan kamu mencintai makhluk, namun kamu harus menjadikan cinta makhluk yang hakikatnya cinta pada Khaliq.”

Suara itu langsung lenyap dan meninggalkanku terbangun dengan ketakutan yang teramat pedih. Aku merenungi sikapku selama ini, melupakan Khaliq dan mencintai Makhluk.

*****

Waktu menunjukkan pukul 02:00 WIB, aku mengambil air untuk membasuh sebagian dari tubuhku untuk menenangkan diri dan mencoba kembali membuka hati yang tertutup akan gerbang hijab pada Allah SWT. Sudah lama aku meninggalkan sholat malamku, aku hanya membuka mata ditengah malam demi membuat sepucuk goresan tinta pemuas kecintaan pada makhluk.

Setelah usai pertemuan sakralku dengan khaliq, dimalam yang sunyi dan khusyu’ itu, ku tuangkan kisah tragis tentangku, aku menjadi seorang korban akan cinta palsu berkedok nafsu. Dimalam itu, aku merasa hanyalah seonggok daging yang dulu terbuat dari air sperma, tanpa ruh yang dituangkan Allah pada seonggok daging kecil itu, aku bukanlah makhluk yang dapat berkeliaran membuat tingkah.

Aku mencoba menatap hari dengan kecintaan pada Allah yang besar. Mencoba mengecilkan cintaku pada makhluk. Aku menggantungkan cintaku pada Inez dan Novia sebagai harapan dan angan dengan menghakikatkan cinta kepada mereka berniatkan cinta untuk Allah SWT.

*dimuat di buletin madrasah NU TBS el_Insyaet edisi 43

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html