Wednesday, 11 May 2011

Bukan Sekedar Maulid

Akhir-akhir ini telah terjadi sebuah fenomena yang sangat amatlah sulit mengambil kesimpulan dari peristiwa itu.

Fenomena tersebut adalah maulid nabi Muhammad SAW. Dalam peristiwa ini tentunya tanpa saya membicarakan masalah ini disini, pasti para pembaca sudah tahu permasalahannya. Dalam maulid nabi Muhammad SAW tidak afdhol kalau tanpa ada iringan rebana dalam bersholawat. Namun permasalahannya bukanlah disini, akan tetapi permasalahannya terdapat pada jama’ah yang mengikuti maulid tersebut.
Tidak asing lagi bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya, menyaksikan aksi para jama’ah ketika Maulid sedang berlangsung. Tepatnya ketika qashidah-qashidah sholawat dilagukan dan dilantunkan. Bendera, shal dan rida’ yang berkibar dan mengayun-ayun seperti halnya para supporter sepak bola maupun suasana konser musik. Ketika jama’ah maulid melakukan aksi tersebut, maka ketika membedakan aksi supporter sepak bola ataupun aksi penonton konser musik sangatlah sulit.
Memang, diantara ribuan jama’ah yang memadati tiap acara maulid nabi, pasti ada yang tidak dengan kesengajaan melakukan aksi tersebut. Secara hakikinya gerak-gerak tangan maupun badan jama’ah tersebut adalah gerakan yang tercipta dengan sendirinya karena hati jama’ah tersebut sudah menghadlirkan diri untuk hormat dan tunduk kepada baginda Rasulullah. Dan dengan kehendak Allah jama’ah tersebut bisa bergerak tanpa kesengajaan dari jama’ah sendiri. Akan tetapi rata-rata dari jama’ah melakukan aksi tersebut dengan keadaan sengaja.
Ada yang bilang itu adalah wujud rasa mahabah jama’ah kepada nabi Muhammad SAW, dengan dalil “barang siapa memulyakan kelahiranku (nabi Muhammad SAW) maka orang itu akan mendapat syafa’at ketika di akhirat”. Hadits itu memang benar, akan tetapi permasalahnya adalah sikap jamaah yang over, yang berlebihan, sehingga membuat paradigma orang melihat itu sebagai sebuah bid’ah dzolalah. Maulid nabi memang sebuah bid’ah hasanah, akan tetapi sikap jama’ah yang over tersebut, kadang membuat sudut pandang orang yang anti maulid membesar-besarkan permasalahan itu. Sehingga timbullah statmen-statmen yang menjelekkan kita sebagai jama’ah pencinta Rasulullah SAW.
Bukankah seorang muslim dilarang membuat sebuah perkara yang dapat menimbulkan fitnah? Tapi kenapa kita sebagai muslim yang mengaku sebagai pecinta nabi Muhammad SAW, malah mebuat sesuatu hal yang dapat menimbulkan fitnah. Yang imbasnya bukan kepada kita saja, ataupun pimpinan majlis, akan tetapi imbasnya bisa sampai kepada Rasulullah dan Agama Rasulullah. Kenapa penulis berkata seperti itu? Karena ketika non muslim dan non aliran kita mengetahui hal tersebut, maka mereka akan menyuarakan opini yang jelek, yang menyudutkan kita dan menyudutkan agama kita.
Mencintai nabi Muhammad SAW itu wajib. Akan tetapi cara dan jalan kita kadang memang dipandang orang tidak sedap. Sehingga menimbulkan statmen dari orang luar dari kita, juga berstatment yang tidak enak diteliga kita. Oleh karenanya, mari kita mencintai nabi Muhammad dengan jalan tanpa menimbulkan sebuah fitnah yang mengarah kepda kita khususnya, dan mengarah pada agama kita umumnya. Dan kibarkan panji-panji shalawat dimanapun tempatnya dan kapanpun waktunya. “Allahumma Shalli ala Sayyidina Muhammad”.

Oleh: Zackie Rc.*)
(dimuat elinyaet edisi 44)

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html