Wednesday, 11 May 2011

Nasionalisme Sebagai Barometer Ukhuwah Wathaniyyah

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Dewasa ini, kesadaran nasionalisme seolah-olah hanya dikumandangkan ketika hari kemerdekaan Republik Indonesia, yakni 17 Agustus saja. Bahkan lebih parahnya, Menurut Gus Mus banyak orang mengatakan bahwasanya Nasionalisme sudah tidak relevan untuk dikaji kembali, karena Nasionalisme hanya relevan dikaji ketika tahun-tahun 1945-1970-an.
Tak pelak, problematika yang dialami oleh rakyat bangsa ini sulit untuk dipecahkan, karena ada kesalahan dalam persepsi dan salah penafsiran pada makna nasionalisme. Sehingga banyak dari rakyat bangsa ini tak sadar, dan kemudian terjebak pada makna nasionalisme yang diterapkannya.
Itulah yang melatarbelakangi karya tulis ini, dimana penulis akan mencoba mengupas permasalahan yang membelit pada rakyat bangsa ini, dengan adanya krisis nasionalisme yang berdampak pada kesenjangan sosial antara rakyat sebangsa. Penulis juga mencoba menetaskan sebuah penyelesaian yang akan menjadikan persatuan bangsa tidak semrawut lagi.

B. Rumusan masalah
1. Mengapa nasionalisme perlu dijadikan sebagai barometer ukhuwah wathaniyah?
2. Mengapa pendidikan nasionalisme harus dikaji?
3. Apakah dengan pluralnya bangsa ini dapat menyebabkan ukhuwah wathaniyah itu menipis?
4. Bagaimana solusi untuk mempererat ukhuwah wathaniyah?
C. Tujuan penulisan
1. Untuk mengetahui seberapa besar kecintaan masyarakat kepada bangsa ini, sehingga berujung pada ukhuwah wathaniyah yang terjalin rapi.
2. Untuk menyadarkan pada masyarakat Indonesia bahwasanya pendidikan nasionalisme sangat berperan penting dalam ukhuwah wathaniyah di Indonesia.
3. Untuk membuktikan pada masyarakat bahwasanya pluralnya bangsa bukanlah penghambat ukhuwah wathaniyah.
4. Untuk mencari solusi untuk mempererat ukhuwah wathaniyah.
D. Manfaat Penulisan
Dapat mengaplikasikan rasa nasionalisme sebagai barometer ukhuwah wathaniyah yang dikaitkan dengan kadar kualitas nasionalisme rakyat bangsa ini. Selain itu juga, dengan kesadaran nasionalisme akan menghantarkan dekonstruksi mahabesar yang tercipta dan berbuah manis untuk merajut keutuhan dan persatuan berbangsa. Dan ketika keutuhan kebangsaan terjalin rapi, maka kemajuan dalam tubuh bangsa ini akan terjadi.
E. Sistematika penulisan
Sistematika penulisan mencakup;
1. Halaman judul, yang menyajikan: bidang kajian, logo sekolah, judul, nama penulis, tujuan LKTI, nama sekolah, kota, bulan dan tahun.
2. Bab I Pendahuluan, yang berisi: latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan.
3. Bab II Pembahasan, yang memuat analisis permasalahan dan alternatif pemecahan masalah.
4. Bab III Penutup, yang mencakup kesimpulan dan saran.
5. Daftar Pustaka
6. Lampiran-lampiran, yang mencakup pembimbing dan biodata penulis.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Analisis Permasalahan
A.1. Perlunya Nasionalisme
Nasionalisme sendiri mempunyai makna; paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Artinya, bahwasanya nasionalisme adalah sebuah paham, ajaran, maupun mazhab untuk seseorang yang berada dalam sebuah bangsa maupun negara agar mencintai bangsa maupun negaranya sendiri. Sehingga sejatinya nasionalisme adalah sikap masyarakat untuk mencintai sebuah bangsa maupun negaranya sendiri, karena sebuah bangsa maupun negara tidak akan bisa berdiri tanpa ada inisiatif dan ideologi rakyat bersama.
Apakah hanya karena keterjajahan saja yang menjadikan momentum bangkitnya nasionalisme yang bersandar pada perasaan dan penderitaan yang sama? Serta apakah hanya direbutnya beberapa pulau yang menjadi hak kita oleh negara tetangga, rasa memiliki kita baru muncul? (Amin, 2010). Begitulah sedikit gambaran barometer, tolok ukur rasa nasionalisme masyarakat bangsa ini, dimana rasa nasionalisme hanya muncul kala bangsa kita sedang mengalami nasib yang tidak sedap pada masyarakat pribumi. Padahal hakikat bangsa adalah suatu masyarakat yang berada dalam suatu daerah atau wilayah yang sama dan tunduk kepada kedaulatan Negara sebagai suatu kekuasaan tertinggi, baik kekuasaan ke luar maupun ke dalam. Namun kesadaran akan nasionalisme belumlah merambah pada masyarakat Indonesia, dan itulah krisis nasionalisme yang melanda bangsa ini.
Seharusnya bukan hanya pada momen-momen tertentu saja seperti memperingati hari kemerdekaan atau hari pahlawan, rasa memiliki Negara ini terucap. Sebaliknya, ketika kita menjalankan kegiatan sehari-hari pun harus mencerminkan kecintaan pada bangsa dan Negara ini, karena dari situ selain dapat meningkatkan etos kerja, virus korupsi di bumi pertiwi ini juga akan musnah, sebab kalau dia mencintai negaranya, pasti tidak mungkin akan melakukan korupsi (Amin, 2010).
Sebenarnya kita tidak usah bicara ini itu tentang kebangsaan. Asalkan, kita sadar bahwa kita orang Indonesia. Ini yang sering dilupakan masyarakat kita. Jika beragama Islam berarti orang Indonesia yang beragama Islam. Jika beragama Selain Islam berarti orang Indonesia yang non-muslim, begitu seterusnya. Sehingga, kita dapat dibedakan dengan orang yang kebetulan tinggal di Indonesia (Fa’lul, 2010). Tanpa mengupas banyak pengertian tentang nasionalisme, yang terpenting dari kita adalah mengerti bahawasanya kita berbangsa ini, maupun berbangsa itu. Ketika kita tahu dan mengerti, bahwasanya kita berwarga negara Indonesia, berarti kita sudah mengetahui dan sadar akan kewarganegaraan maupun kebangsaan Indonesia.
Itulah krisis nasionalisme yang melanda tanah air ini, dimana rasa nasionalisme hanya muncul ketika momen-momen tertentu. Sebaliknya, keseharian masyarakat luput dengan pandangan nasionalisme. Itu bisa dilihat dari perilaku dan tingkah para elit pemimpin bangsa ini. Posisi mereka adalah pengemudi, namun sikap mereka jauh dengan apa yang dikemudikannya. Perilaku itu juga berimbas kepada rakyat-rakyat bangsa ini.
A.2. Pendidikan Nasionalisme Nyaris Punah
Masyarakat ini belumlah sadar akan arti nasionalisme dalam kehidupannya. Jutaan masyarakat bangsa ini, dari rakyat jelata hingga para atasan elit politik negeri ini tidak ada satupun masyarakat yang memang sadar akan jiwa kebangsaan yang ada dalam sanubari mereka. Contoh kecilnya saja, dalam pendidikan bernasionalis, tidak perlu muluk-muluk untuk memahami undang-undang negara ini yang begitu banyak. Namun dengan mempelajari dan merenungkan isi yang telah termaktub didalam pancasila saja itu sudah sangatlah cukup untuk menggali dan menyadarkan kita tentang arti kebangsaan pada kita.
Dimana makna “ketuhanan yang maha esa” –sebagaimana sila pertama Pancasila- manakala kekerasan atas nama agama dan kepercayaan masih belum terselesaikan. Bukankah kekerasan dilarang dalam setiap agama yang mengakui Tuhan yang Maha Esa. Tindakan menentang sila pertama justru dilakuakan pemerintah yang meligitimasi tindak kekerasan atas nama agama dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) atas kesesatan Ahmadiyyah.

Dimana juga bunyi sila kedua; “kemanusian yang adil dan beradab”, jika antara penegakan hukum dan tradisi kekerasan tidak bisa dibedakan. Banyak kasus pelanggaran HAM yang mangkrak di meja para praktisi hukum, belum terselesaikan. Sementara, tindakan main hakim sendiri, baik yang dilakukan oleh rakyat maupun birokrat, menjadi pilihan dalam setiap penyelesaian masalah.
Dimana kita harus mencari makna “Persatuan Indonesia” kalau antara tokoh politik saling tuduh, saling serang, saling mengumpat, saling bertengkar demi kepentingan sesaat –bukan untuk rakyat-, seperti terbaca dalam fenomena iklan tokoh politik nasional akhir-akhir ini. Bukan hanya itu, persatuan bangsa juga dipertaruhkan ketika golongan mayoritas memaksakan kehendaknya untuk mendapatkan hak istimewa tanpa mendengar aspirasi lain dengan menerapkan sistem hukum yang didasarkan pada identitas primordial.
Sampai kapan kita akan merindukan hadirnya nafas “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan” jika kekuasaan negara yang dibagi dalam kekuatan eksekutif, legislatif dan yudikatif tidak berimbang. Bahkan, dalam beberapa waktu terakhir, cengkeraman kekuasaan legislatif begitu kuat, sehingga dengan angkuh tidak mendengar otoritas eksekutif maupun yudikatif, begitu juga sebaliknya, sebagaimana kita lihat beberapa waktu lalu terjadi kemelut antara Presiden dan DPR dan antara DPR dan KPK.
Sila terakhir Pancasila sepertinya malah jauh dari harapan tercapai. Sebab, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” ternyata hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja yang dekat dengan pintu kekayaan dan kekuasaan. Sementara, rakyat kecil tercekik terus menerus. Bulan Mei tahun ini tidak akan dilupakan sebagai bulan “pembunuhan masal” secara perlahan terhadap rakyat, akibat kenaikan BBM. Keadilan ekonomi belum menampak dalam kehidupan nyata bangsa Indonesia. (Abdullah;2008).
Itu hanya makna dasar pancasila yang mungkin bisa direnungan masyarakat Indonesia dewasa ini. Namun hingga saat ini, tidak ada satupun yang dapat mengamalkan dan mengaplikasikan dasar ideologi bangsa ini. Gubernur Bibit Waluyo mengingatkan, berbicara tentang refleksi 65 tahun lahirnya Pancasila, tidak akan terlepas dari latar belakang dan alasan mengapa dan untuk apa Pancasila dilahirkan. Disamping itu bukti dan manfaat apa yang telah kita rasakan jika kita mengamalkan dan tidak mengamalkan Pancasila. “Oleh karena itu, kita tidak perlu lagi mempersoalkan siapa penggali dan yang melahirkan Pancasila, tetapi yang perlu kita pahami adalah manfaat riil dari implementasi Pancasila yang mampu menjadi perekat kesatuan dan persatuan Indonesia,” tegas Bibit.
Pendidikan Nasionalisme di tanah air ini bukanlah sebuah barang yang Fardlu ‘ain, namun hanya sebuah barang yang sekunder, bahkan barang yang tersier. Fenomena ini bisa dilihat ketika UN berlangsung. Materi pelajaran yang bersangkutan dengan pendidikan nasionalisme, seperti Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah, tidak dimasukkan kedalam materi yang diujikan ketika UN berlangsung, tapi hanya sebagai barang sekunder yang ditaruh di materi pelajaran yang diujikan di UASBN. Sangat nyaris ketika menilik kecintaan para pelajar, ketika penulis menanyakan apakah materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan anda sukai? Dari sepuluh sample yang penulis tanyai, delapan diantaranya menjawab tidak suka. Sangat ironis, ketika melihat pendidikan tentang nasionalisme dikesampingkan, apalagi dijadikan barang yang tersier.
A.3. Pluralisme Bukanlah Pemecah Ukhuwah Wathaniyah
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mempunyai berbagai ragam agama, suku, etnis, budaya dan bahasa. Namun dengan kepluralan yang dimiliki bangsa ini,bukanlah penghambat persatuan bangsa ini. Akan tetapi, pemandangan itu belumlah sepenuhnya bisa dinikmati masyarakat Indonesia. Sebagian dari masyarakat indonesia ada yang sudah mengaplikasikan Bhineka tunggal ika dengan rapi. Seperti halnya di forum yang bernama Macapat Syafa’at, yang digelar setiap bulan sekali, tepatnya pada malam hari tanggal 17 bulan milladiyyah(hijriyyah). Dalam koridor budaya, seluruh elemen masyarakat yang berlatar belakang etnis, golongan sosial, maupun agama yang berbeda-beda, semua menyatu saling berkomunikasi berkomunikasi tanpa dinding pembatas dan pembeda(Faris;2010). Begitu indah pemandangan ketika mempertemukan berbagai etnis, golongan, agama dan elemen tanpa adanya kekerasan dan kebencian.
Namun dilain sisi persatuan bangsa tersebut, masih ada dari masyarakat kita yang tidak bisa menjaga persatuan kebangsaan sesuai semboyan bangsa ini; Bhinneka Tunggal Ika. Seperti ketika melihat perseteruan yang masih berlaga antara fanatisme suporter antara Bonek Mania dan Aremania, dan juga antara The Viking dengan The Jack Mania. Sangat ironis, ketika melihat perseteruan yang masih terjalin antara fanatisme yang dimiliki para masyarakat bangsa ini yang masih punya label suporter. Bukannya rasa nasionalisme yang dibina, namun sikap egoisme yang selalu membara dalam benak masyarakat Indonesia.
A.4. Memudarnya Ukhuwah Wathaniyah
Akhir-akhir ini bangsa ini dihadapkan pada suatu keprihatinan besar terhadap nilai-nilai yang menopang sendi-sendi kehidupan berbangsa. Fenomena negatif dalam kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan yang terjadi(Jatengprov.go.id), seperti halnya insiden-insiden berdarah yaitu Kerusuhan Suporter fanatik, kekerasan SARA, konflik antar suku, agama, maupun ormas. Itu semua mengindikasikan beberapa faktor seperti melemahnya karakter, menipisnya identitas dan jati diri, rapuhnya ideologi serta hilangnya kepercayaan yang terakumulasi dalam bentuk krisis kehidupan kebangsaan. Ini merupakan kondisi nyata yang membahayakan keutuhan dan kesatuan bangsa ini(Jatengprov.go.id).
Tanpa masyarakat menyadari bahwasanya nasionalisme masyarakat Indonesia dewasa ini mulai menipis. Imbasnya ukhuwah wathaniyah masyarakat bangsa ini kian hari, kian mencarut. Itu disebabkan adanya rasa fanatisme dan egoisme yang masih berkuasa di hati masyarakat Indonesia, sedangkan rasa nasionalisme kian hari, kian mengikis dalam hati masyarakat.
Nasionalisme seakan menjadi pebincangan yang tabu untuk diomongkan. Banyak orang mengatakan bahwa nasionalisme sudah tidak relevan lagi untuk dikaji. Mereka selalu beralasan nasionalisme relevan untuk dipermasalahkan ketika tahun-tahun 1945-1970-an(Fa’lul; 2010). Ironis sekali ketika masyarakat bangsa ini sudah tidak peduli dengan rasa nasionalisme yang digoreskan dalam hati masyarakat ini.
Imbas dari memudarnya nasionalisme adalah renggangnya ukhuwah wathaniyah yang terjalin antara masyarakat bangsa ini. Namun masyarakat bangsa ini tidak pernah memikirkan sejauh mana dampak ketika masyarakat bangsa ini melupakan rasa nasionalisme. Hingga detik ini banyak inseden-insiden yang mengindikasikan memudarnya ukhuwah wathaniyah bangsa ini.
B. Alternatif Solusi pemecahan masalah
B.1. Barometer Nasionalisme Penghantar Ukhuwah Wathaniyah
Tanpa adanya barometer, tolok ukur rasa nasionalisme pada masyarakat Indonesia, maka tidak akan ada kesenjangan sosial berbangsa. Salah satu alternatif yang perlu dilakukan untuk meningkatkan nasionalisme salah satunya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memiliki rasa nasionalisme tersebut. Artinya, ketika masyarakat sudah mengetahui akan posisinya, maupun kedudukannya dalam bangsa ini, maka akan mengerti bagaimana cara mengaplikasikan nasionalisme tersebut sesuai kedudukannya. Sehingga dari kesadaran hati nurani tentang nasionalisme menjawab problematika sosial kehidupan berbangsa, dan masyarakat tahu bagaimana caranya agar keutuhan itu terjalin dengan pluranya bangsa ini.
Dengan kesadaran akan rasa memiliki Indonesia, yakni wujud rasa nasionalisme pada bangsa ini, maka ukhuwah wathaniyah dengan pluralnya bangsa ini bukanlah sebuah masalah, tapi itu adalah sebuah keunikan yang dimiliki bangsa ini.
Langkah kongkritnya yakni dengan mengaplikasikan rasa nasionalisme pada wujud tingkah laku ataupun kemampuan diri yang mungkin dapat mengharumkan bangsa ini dan juga mempererat ukhuwah wathaniyah. Banyak hal yang dapat realisasikan disamping merupakan hubbul wathan, juga merupakan implementasi dari hobby atau kegemaran. Misalnya kita sangat gandrung perkumpulan atau organisasi, selain banyak menambah link(jaringan) dan pengalaman, juga dapat dibilang salah satu implementasi dari hubbul wathan yakni, dengan menjadi aktifis yang baik,bukan hanya pandai mengkritisi namun juga memberi solusi(Amin;2010).
B.2. Pendidikan Nasionalisme Harga Mati
Pendidikan nasionalisme sepatutnya menjadi sebuah harga mati yang harus dimiliki oleh setiap masyarakat bumi pertiwi ini. Namun sayang, tidak ada inisiatif dari pemerintah yang menahkodai bangsa ini untuk mencoba menerapkan pendidikan nasionalisme dan doktrin nasionalisme kepada seluruh masyarakat Indonesia. Pendidikan Nasionalisme di jenjang formal hanya dikampanyekan melalui materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan saja. Ironisnya, ditambah tidak ada penekanan khusus dan penekanan wajib agar masyarakat Indonesia mau mempelajari dan mengerti pendidikan nasionalisme.
Seharusnya pemerintah, sebagai pemegang otoritas tertiinggi bangsa, melakukan sebuah ajakan dan anjuran kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk mempelajari pendidikan nasionalisme. Bahkan kalau bisa, pendidikan nasionalisme dalam dunia pendidikan jenjang formal dijadikan sebuah pendidikan yang sifatnya primer, namun fenomena tersebut tidak didapatkan di sebuah bangsa ini. Pendidikan nasionalisme di Indonesia hanya sebagai pendidikan sekunder dan tersier.
Tidak cukup dengan pendidikan nasionalisme yang mengacu pada pancasila. Namun juga dibutuhkan doktrin kuat bahwasanya bangsa ini adalah bangsa yang dimiliki oleh jutaan masyarakat yang merasa dan mengerti tentang kebangsaan Indonesia.
B.3. Pluralisme Bukan sebuah penghalang Ukhuwah Wathaniyah
Dengan Pluralnya bangsa ini bukanlah sebuah alasan atas terhambatnya ukhuwah wathaniyah, namun ketidaksadaran masyarakat mengenai kebangsaan tersebut. “Ibarat dalam satu rumah, terdiri dari bapak, ibu, dan anak. Entah itu dari segi pendidikan, kepribadian diri, maupun pemikiran. Dan kembali saya tegaskan, yang penting mereka harus sadar bahwa, mereka tinggal dalam satu rumah (Indonesia) untuk mencapai tujuan bersama yakni kebahagiaan(kemajuan bangsa) “ (Ath Thullab; edisi XIV).
Sebagai pengingat masyarakat akan pentingnya pluralisme dalam berbangsa. Ingatlah bahwasanya Indonesia adalah bangsa yang mempunyai cita-cita yang sama, yang termaktub dalam semboyan Indonesia; Bhinneka Tunggal Ika. Meski kita berbangsa dengan ragam bahasa, budaya, suku, etnis dan agama, namun Indonesia adalah berbangsa satu Indonesia, bertanah air satu Indonesia, dan berbahasa satu Indonesia.
Begitu tinggi makna daripada ikrar sumpah pemuda yang beralkuturasi pada Bhinneka Tunggal Ika yang bisa menjadikan masyarakat Indonesia paham begitu pentingnya makna pluralisme yang ada dalam kehidupan berbangsa.
Salah satu alternatif solusi permasalahannya yakni, dengan menghargai semua bahasa, budaya, agama, etnis, maupun suku yang ada di dalam bangsa Indonesia, baik itu dalam keadaan mayoritas maupun minoritas.
B.4. Upaya meningkatkan Nasionalisme
Nasionalisme yang memudar di bangsa ini seakan menjadi peristiwa yang wajar-wajar saja, seakan itu adalah kejadian yang sudah lumprah. Namun merosotnya nasionalisme imbasnya sangat besar bagi bangsa ini. Tanpa disadari merosotnya nasionalisme sudah merugikan bangsa ini dari segi sosial maupun ekonomi, namun yang terpenting adalah hubungan sosial antara masyarakat bangsa ini yang terjalin rapi.
Salah satu alternatif solusinya untuk meningkatkan nasionalisme adalah dengan mengoptimalkan pendidikan nasionalisme kepada masyarakat. Serta setiap masyarakat dari berbagai elemen untuk sadar bahwasanya bangsa ini adalah bangsa milik bersama. Meski bangsa ini mempunyai berbagai macam ras, suku, adat, budaya dan agama, namun itu bukanlah sebuah penghalang meningkatnya nasionalisme masyarakat bangsa ini. Dan kesadaran dari setiap warga yang akan menjawabnya.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan Pluralnya bangsa ini bukanlah sebuah alasan atas terhambatnya perekat persatuan bangsa. Namun ketidaksadaran masyarakat mengenai kebangsaan tersebut. “Ibarat dalam satu rumah, terdiri dari bapak, ibu, dan anak. Entah itu dari segi pendidikan, kepribadian diri, maupun pemikiran. Dan kembali saya tegaskan, yang penting mereka harus sadar bahwa, mereka tinggal dalam satu rumah (Indonesia) untuk mencapai tujuan bersama yakni kebahagiaan(kemajuan bangsa) “ (Ath Thullab; edisi XIV).
Ketika rakyat sudah mengetahui akan posisinya, maupun kedudukannya dalam bangsa ini, maka akan mengerti bagaimana cara mengaplikasikan nasionalisme tersebut sesuai kedudukannya. Sehingga dari kesadaran hati nurani tentang nasionalisme menjawab problematika sosial kehidupan berbangsa, dan rakyat tahu bagaimana caranya agar keutuhan itu terjalin dengan berbagai pluranya bangsa ini. Baik kepluralan itu berwujud perbedaan kedudukan, antara pejabat dengan rakyat jelata, maupun perbedaan etnis, antara orang dayak dengan orang jawa, atau juga perbedaan antara agama dan aliran, baik itu kristennya, islamnya, maupun yang lainnya. Ketika semua rakyat tahu kedudukan dan posisinya, maka akan terjalin sebuah keutuhan dan persatuan kebangsaan. Dan buah dari hasil keharmonisan berbangsa akan berbuah kepada kemajuan bangsa ini.
Manakala kesadaran akan rasa memiliki bangsa ini sudah tertanam. Dan doktrin bahwa nasionalisme adalah harga mati. Maka tidak hanya persatuan kebangsaan yang terjalin, namun lebih dari itu. Bangsa ini akan bisa menjadi bangsa yang maju dengan kekayaan yang melimpah. Karena bangsa ini mempunyai tambang emas, dan tambang gas terbesar di dunia. Dan juga hujan tropis terbesar di dunia, lautan terluas di dunia, jumlah penduduk terbanyak di dunia, tanah paling subur di dunia, dan pemandangan maupun pariwisata yang paling eksotis dan indah.
B. Saran
Penulis hanya bersaran kepada semua elemen masyarakat dari rakyat jelata hingga elit atasan pemerintah. Ukhuwah wathaniyah di bangsa ini akan terjalin apabila masyarakat sadar akan nasionalismenya dan juga doktrin dalam hati masyarakat bahwasanya nasionalisme adalah harga mati. Untuk para pejabat, sebagai pemegang tampuk kekuasan tertinggi rakyat negeri ini, agar bisa memulai untuk menerapkan pendidikan nasionalisme sebagai pendidikan yang primer, bukan sebagai pendidikan sekunder maupun tersier.
Penulis hanya berharap agar karya tulis ini bermanfaat bagi seluruh elemen masyarakat. Semoga inisiatif penulis dapat diaplikasikan kepada seluruh elemen masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Bahasa indonesa. Pusat Bahasa. Jakarta.
__________. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA/MA kelas X. Viva Pakarindo penerbit dan percetakan. Klaten.
Fa’lul dan Basith. 2010, Menakar Nasionalisme pelajar. Ath Thullab. Edisi XIV. hal. 11.
Fa’lul dan Basith. 2010, Merenungkan Indonesia. Ath Thullab. Edisi XIV. hal. 12-13.
Faris, dkk. 2010, Mempersandingkan Budaya Nusantara. Ath Thullab. Edisi XIV. hal. 14-15.
Amin.S, A. 2010, Bernasionalis, Ibda’ Binnafsi. Ath Thullab. Edisi XIV. hal. 22.
Redaksi el_Insyaet. 2011. Negara Terkaya di Dunia?????. el_Insyaet. Edisi XLIII. hal. 18-19.
http://abdallaoke.blogspot.com/2009/08/demokrasi-pancasila-di-persimpangan.html
http://www.jatengprov.go.id/?document_srl=6721
http://cak-faris.blogspot.com/2010/01/sepakbola-kapitalisme-dan-konflik.html
http://bethz05.wordpress.com/2009/11/21/39/

(diikutkan pada LKTI IAIN walisongo Semarang HMJ PAI Fak. Tarbiyah tahun 2011)

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html