Sunday, 23 October 2011

Urgensitas MAKESTA dalam Regenerasi Kepemimpinan NU

BAB I
PENDAHULUAN 

A.    Latar Belakang Masalah
NU telah menjadi organisasi dominan di Indonesia, yang memiliki Banom, lembaga, instansi, dan lajnah yang amat banyak. "Hingga akhir tahun 2000, jaringan organisasi NU meliputi; 33 Wilayah, 439 Cabang, 15 Cabang Istimewa yang berada di luar negeri, 5.450 Majelis Wakil Cabang/MWC, 47.125 Ranting" (http://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_Ulama).
Akan tetapi, banom, lembaga, lajnah, instansi dan umat yang begitu banyak tersebut belum mampu membuktikan jati diri NU kepada organisasi islam lain di Indonesia, bahwa NU adalah sebuah organisasi yang  cukup andil dalam mengatur hubungan sosial kemasyarakatan.
Memang banyak cabang struktur organisasi NU yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan, seperti Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumi), Lembaga  Kemaslahatan Keluarga (LKKNU) dan lain sebagainya, akan tetapi warga Nahdliyyin sendiri kurang begitu antusias untuk mengikuti kegiatan struktur organisasi-organisasi NU tersebut. Padahal kegiatan tersebut, sejatinya merupakan cerminan dari pribadi dan ciri khas NU itu sendiri. Warga Nahdliyyin  juga belum mampu memperlihatkan jati diri mereka sebagai organisasi yang cukup kompleks persebarannya. Warga Indonesia memang dominan mengikuti NU dalam menjalankan syari’at islam, menentukan hukum dan lain sebagainya. Akan tetapi semangat dalam berorganisasi warga Nahdliyyin sangatlah minim.
Yang mengkhawatirkan, semangat dalam berorganisasi IPNU-IPPNU (remaja Nahdliyyin) sekarang ini juga dirasa kian lama kian melemah. Sehingga mengancam proses regenerasi pemimpin-pemimpin NU. "Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi menilai masalah terberat yang dihadapi Muktamar NU ke-32 pada Januari 2010 adalah regenerasi. Sebab, banyak orang yang mulai tidak mengikuti nilai luhur NU." 
(http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/19440/Warta/Masalah_Terberat_NU_adalah_Regenerasi.html )
Mengingat adanya permasalahan minimnya keikutsertaan warga nahdliyin dalam berorganisasi khususnya di kalangan IPNU-IPPNU seperti yang telah dijabarkan di atas. Penulis ingin mengkajinya secara mendalam dengan karya tulis yang berjudul Urgensitas Makesta Dalam Regenerasi Kepemimpinan NU.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan-permasalahan yang akan diangkat adalah sebagai berikut:
1.      Seberapa pentingkah pengkaderan pelajar Nahdliyin terhadap regenerasi di Organisasi NU?
2.      Bagaimana pengaruh pelaksanaan MAKESTA terhadap regenerasi Organisasi NU?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui seberapa urgennya pengkaderan pelajar nahdliyin terhadap regenerasi para pemimpin NU.
2.      Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pelaksanaan makesta terhadap regenerasi  kepemimpinan NU.

D.    Manfaat Penulisan
1.     Secara Teoritis       : -dapat menambahkan pengetahuan kepada para pembaca tentang arti
                                       penting MAKESTA.
-dapat menambahkan pengetahuan kepada para pembaca tentang Andil
 IPNU-IPPNU dalam organisasi NU.
2.   Secara Praktis        : -dapat merangsang tumbuhnya rasa memiliki   NU di kalangangan para
                                       pelajar nahdliyin.

BAB II
PEMBAHASAN
A.Telaah Pustaka
A.1. Urgensitas MAKESTA
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia urgensitas berasal dari kata urgen yang berarti mendesak sekali pelaksanaannya atau sangat penting (gawat, mendesak, memerlukan tindakan segera). Sedangkan urgensi mempunyai makna keharusan yang mendesak atau hal yang sangat penting. (KBBI, 2008:1789)
MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) adalah pendidikan jenjang awal dalam sistem kaderisasi formal IPNU yang menjadi persyaratan untuk menjadi anggota IPNU yang sah. MAKESTA mempunyai tujuan yang terbagi dari tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum MAKESTA yakni sebagai gerbang awal untuk menciptakan anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama yang ideologisasi yang memiliki kesetiaan kepada organisasi. Melalui pengenalan organisasi IPNU kepada calon anggota yang diarahkan kepada perubahan mentalitas, keyakinan dan sikap persaudaraan serta kecintaan kepada organisasi. Sedangkan tujuan secara khusus yaitu; menumbuhkan keyakinan tentang kebenaran Islam Ahlus-sunnah Waljamaah sebagai satu-satunya sistem yang berkesinambungan untuk melanjutkan da’wah Islamiyah, memberikan pemahaman tentang NU sebagai wadah perjuangan Islam Ahlussunnah Waljamaah di Indonesia, meyakinkan kepada calon anggota bahwa IPNU merupakan organisasi pelajar yang tepat sebagai sarana perjuangan da’wah Islamiyah, mengenal dan memahami organisasi IPNU sebagai banom NU serta memahami isi materi organisasi IPNU (PD/PRT, PO dan lain lain), dan juga menumbuhkan wawasan dan kemampuan dasar berorganisasi. ( http://dc233.4shared.com )
Urgensitas MAKESTA dapat diartikan sebagai pentingnya MAKESTA, yang ditujukan kepada pelajar Nahdliyin agar dapat mengenal IPNU-IPPNU untuk selanjutnya dipercaya dan mau berjuang di IPNU-IPPNU, memahami dasar-dasar Islam Ahlussunnah Waljamaah, memahami organisasi terutama di lingkup Nahdlatul Ulama’, memiliki skill berorganisasi dan analisis pemecahan terhadap masalah pribadi dan lingkunganya. (http;//ahmadnaufa.wordpress.com)

A.2 Regenerasi Kepemimpinan
Regenerasi  mempunyai makna pembaharuan semangat dan tata susila atau penggantian generasi tua kepada generasi muda atau peremajaan. (KBBI, 2008:1280)
Definisi kepemimpinan menurut George R. Terry (yang dikutip dari Sutarto, 1998: 17) bahwa Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan menurut Ordway Tead (1929) Kepemimpinan sebagai perpaduan perangai yang memungkinkan seseorang mampu mendorong pihak lain menyelesaikan tugasnya.
Menurut Rauch & Behling (1984) Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan. Namun menurut Katz & Kahn (1978) Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada, dan berada diatas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi.
Kepemimpinan (Hemhill & Coon; 1995) adalah pelaku dari seorang individu yang memimpin aktifitas-aktifitas suatu kelompok kesuatu tujuan yang ingin dicapai bersama (Shared goal). Kepemimpinan ( William G.Scott; 1962) adalah sebagai proses mempengaruhi kegiatan yang diorganisir dalam kelompok di dalam usahanya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan. Kepemimpinan ( Stephen J.Carrol & Henry L.Tosj (1977) adalah proses mengarungi orang-orang lain untuk melakukan apa yang kamu inginkan dari mereka untuk mengerjakannya.
Menurut Dr. Thomas Gordon " Groub Centered Leadership ". A Way of releasing creative power of groubs. Kepemimpinan dapat dikonsepsualisasikan sebagai suatu interaksi antara seseorang dengan suatu kelompok, tepatnya antara seorang dengan anggota-anggota kelompok setiap peserta didalam interaksi memainkan peranan dan dengan cara-cara tertentu peranan itu harus dipilah-pilahkan dari suatu dengan yang lain. Dasar pemilihan merupakan soal pengaruh, pemimpin mempengaruhi dan orang lain dipengaruhi. Namun Tannenbaum, Weschler,& Massarik (1961) berpendapat bahwa kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, yang dijalankan dalam situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu. Sedangkan P. Pigors (1935) menyatakan bahwa Kepemimpinan adalah suatu proses saling mendorong melalui keberhasilan interaksi dari perbedaan perbedaan individu, mengontrol daya manusia dalam mengejar tujuan bersama. (http://kepemimpinan-fisipuh.blogspot.com )
Regenerasi Kepemimpinan berarti penggantian kader yang telah lama untuk digantikan kader-kader yang muda, khususnya pengkaderan pada pemimpin baru. Jadi dalam regenerasi kepemimpinan tentunya membutuhkan seorang pemimpin dan yang dipimpin, atau kelompok yang disebut organisasi.                       
Dalam bahasa Indonesia "pemimpin" sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya. Sedangkan istilah Memimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara.
Pemimpin adalah suatu lakon/peran dalam sistem tertentu; karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Istilah Kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan ketrampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang; oleh sebab itu kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan "pemimpin".
Arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan - khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang , sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu beberapa tujuan. (Kartini Kartono, 1994 : 181).
Pemimpin jika dialihbahasakan ke bahasa Inggris menjadi "LEADER", yang mempunyai tugas untuk me-LEAD anggota disekitarnya. Sedangkan makna LEAD adalah Loyality, seorang pemimpin harus mampu membagnkitkan loyalitas rekan kerjanya dan memberikan loyalitasnya dalam kebaikan. Educate, seorang pemimpin mampu untuk mengedukasi rekan-rekannya dan mewariskan tacit knowledge pada rekan-rekannya. Advice, memberikan saran dan nasehat dari permasalahan yang ada Discipline, memberikan keteladanan dalam berdisiplin dan menegakkan kedisiplinan dalam setiap aktivitasnya. ( http://kepemimpinan-fisipuh.blogspot.com)
Dipimpim atau anggota, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai makna bagian dari sesuatu yang berangkaian atau orang(badan) yang menjadi bagian atau masuk dalam suatu golongan (KBBI, 2008;65)
Sesuai makna KBBI, anggota mempunyai bagian yang fital dalam suatu organisasi. Akan tetapi tugas anggota hanya menjalankan yang diperintahkan dari pimpinan.

A.3. NU
Nahdlatul ulama (NU) merupakan Jamiyyah Diniyyah Islamiyyah yang beraqidah Islam menurut faham Ahlussunnah Waljamaah dan menganut salah satu madzhab empat; Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Sedang tujuan organisasi NU adalah untuk melakukan ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunnah Waljamaah dan menganut salah satu madzhab empat di tengah-tengah kehidupan, dalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia yang berazazkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Dalam Bahasa Indonesia Nahdlatul Ulama berartikan kebangkitan para ulama. Kebangkitan yang dimaksud ialah kebangkitan menuju Izzul Islam Walmuslimin artinya kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Adapun yang memberikan nama Nahdlatul Ulama adalah KH. Mas Alwi Abdul Aziz dari Surabaya.
Nahdlatul Ulama didirikan untuk meningkatkan mutu pribadi-pribadi muslim yang mampu menyesuaikan diri dalam kehidupannya sehingga mampu mewujudkan agama Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.
Untuk mencapai hal itu, maka NU melakukan serangkaian usaha yang pada pokoknya sebagai berikut:
1.      Bidang agama
Mengusahakan agar terlaksananya ajaran islam dalam masyarakat dengan melaksankan amar ma’ruf nahi mungkar serta meningkatkan ukhuwah islamiyyah.
2.      Bidang pendidikan , pengajaran dan kebudayaan
Mengusahakan terwujudnya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran serta pengembangan kebudayaan berdasarkan agama Islam untuk membina muslim yang bertaqwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas dan terampil, berkepribadian serta berguna bagi Agama, Bangsa dan Negara.
3.      Bidang sosial
Mengusahakan terwujudnya keadilan sosial dan keadilan hukum bagi seluruh rakyat untuk menuju kesejahteraan umat di dunia dan keselamatan hidup di akhirat.
4.      Bidang ekonomi
Mengusahakan terciptanya pembangunan ekonomi yang meliputi berbagai sektor yang mengutamakan tumbuh dan berkembangnya koperasi. (PW LP Ma’arif NU Jateng : 2002:23)

B. Analisis Permasalahan
B. 1. Kadar Urgensitas Pelajar Nahdliyin Terhadap Regenerasi Kepemimpinan NU

IPNU-IPPNU Sebagai Wadah Organisasi Pelajar NU
IPNU/IPPNU sebagai organisasi pelajar NU berfungsi sebagai: Wadah perjuangan NU dalam pendidikan dan kepelajaran, wadah pengkaderan pelajar NU untuk mempersiapkan kader-kader penerus bangsa, wadah penguatan pelajar NU dalam melaksanakan dan mengembangkanIslam untuk melanjutkan semangat, jiwa dan nilai- nilai Nahdliyah, wadah komunikasi pelajar NU untuk memperkokoh ukhuwah Islamiyah. Perubahan akronim IPNU-IPPNU dari Ikatan Putra Nahdlatul Ulama dan Ikatan Putri-putri Nahdlatul Ulama menjadi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama pada Kongres XIV-XIII di Asrama Haji Sukolilo merupakan tonggak sejarah yang sangat penting bagi IPNU-IPPNU di Indonesia.
Ini menunjukkan bahwa secara substansi, keputusan ini telah mempertegas posisi dan peran IPNU-IPPNU di masyarakat. Dengan segmentasi harap pada pelajar maka IPNU-IPPNU secara tidak langsung lebih banyak bergerak pada wilayah-wilayah yang berkenaan dengan kehidupan pelajar (pendidikan, kesehatan maupun kesejahteraan pelajar). Sementara itu dewasa ini tantangan global yang digapai  oleh IPNU-IPPNU semakin kompleks. Remaja dan pelajar yang merupakan aset berharga bagi suatu bangsa kini banyak yang terjebak pada kehidupan hedonisme dan mulai meninggalkan unsur-unsur budaya dan etika masyarakat Indonesia.
Sedangkan IPNU-IPPNU hendaknya menjadikan sebagai ajang pendidikan politik dan demokrasi yang mencerdaskan bukan terjebak pada kehidupan politik praktis yang terjadi. Maka untuk mengembalikan arah perjuangan IPNU ke pelajar, didirikanlah pimpinan komisariat IPNU-IPPNU di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari sekolah, pesantren hingga perguruan tinggi. Pimpinan komisariat berkedudukan dilembaga pendidikan yang merupakan pimpinan tertinggi IPNU-IPPNU yang telah mempunyai sedikitnya 10 (sepuluh) anggota yang terdiri dari ketua, wakil, sekretaris, bendahara dan beberapa departemen, dimana ketua dipilih oleh rapat anggota masa bakti 1 tahun dan tidak dapat dipilih kembali untuk periode berikutnya. Keberadaan PK IPNU-IPPNU di sekolah bukan berarti harus menghapus OSIS, melainkan sebagai organisasi ekstra maupun intrex (intra dan ekstra), IPNU-IPPNU sebagai organisasi ekstra tidak akan menggusur keberadaan OSIS, artinya OSIS tetap ada dan IPNU-IPPNU sebagai kegiatan ekstra yang tentu saja tetap berciri khas sebagaimana organisasi ekstra lainnya.
IPNU-IPPNU sebagai organisasi intra dan sekaligus ekstra artinya keberadaan komisariat akan menggusur posisi OSIS sehingga IPNU-IPPNU merupakan satu satunya organisasi intra sekolah, komisariat tipe lain secara intra akan tetap berada dalam kendali sekolah dalam hal ini kepala sekolah, namun secara ekstra tidak akan terlepas dari hubungan struktural IPNU-IPPNU mulai dari Pimpinan Ranting, Ancab sampai Pimpinan Cabang.(http://id.shvoong.com) 

Peran IPNU-IPPNU Dalam Organisasi NU
IPNU-IPPNU merupakan wadah perjuangan putra-putri NU. Sebagai organisasi NU, IPNU-IPPNU ikut berperan aktif dalam mensosialisasikan komitmen nilai kebangsaan keilmuan dan pengkaderan dalam upaya penggalian dan pembinaan potensi sumber daya anggota yang senantiasa mengamalkan kerja nyata demi tegaknya ajaran Islam Ahlussunnah waljamaah dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
Beberapa orientasi perjuangan IPNU-IPPNU meliputi :
Wawasan Kebangsaan
Wawasan kebangsaan yang dimaksudkan IPNU-IPPNU  ialah pandangan yang dijiwai oleh asas kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat yang mengakui keanekaragaman sosial budaya yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, menghargai harkat dan  martabat manusia yang memiliki komitmen dan kepedulian terhadap nasib bangsa dan negara yang berdasarkan pada prinsip keadilan, persamaan dan demokrasi.
Wawasan Keislaman
Wawasan keislaman ialah pandangan IPNU-IPPNU yang menempatkan ajaran agama Islam sebagai sumber motifasi dan inspirasi dalam memberikan makna dan arah pembangunan manusia. Ajaran Islam sebagai ajaran yang memberi rahmat kepada seluruh alam bersifat memperbaiki dan menyempurnakan seluruh tata nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, IPNU-IPPNU dalam masyarakat bersikap Tawassuth (tengah-tengah) dan I’tidal (tegak lurus), yaitu menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kejujuran dan menghindari sikap ekstrim, serta tidak memaksakan kehendak dengan menggunakan kekuasaan.
Wawasan Keilmuan
Wawasan keilmuan yang dimiliki oleh IPNU-IPPNU ialah cara pandang yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk mengembangkan kecerdasan anggota dan kader, sehingga dengan bekal ilmu pengetahuan itu anggota mampu mengaktualisasikan dirinya sebagai manusia yang utuh dan tidak menjadi beban di masyarakat. Oleh karena itu, IPNU-IPPNU menekankan kepada seluruh anggota dan para kadernay untuk tekun dan giat belajar, dan mempelajari ilmu pengetahuan di segala bidang.
Wawasan Pengkaderan
Wawasan pengkaderan yang dimiliki IPNU-IPPNU adalah sebuah cara pandang yang menempatkan organisasi sebagai wadah untuk membina anggota agar menjadi kader yang memiliki komitmen ideologi Islam Ahlussunnah Waljamaah, memiliki kebangsaan yang luas dan utuh serta berpribadi seimbang antara pribadi Islam Ahlussunnah Waljamaah dan dengan komitmen bangsa. (PW Lp Ma’arif NU Jateng : 2002:48-49)

Makesta Sebagai Legalisasi Pelajar Nahdliyin Di IPNU/IPPNU
Makesta adalah pelatihan singkat yang memuat pengenalan tentang Ahlussnunnah Waljamaah (ASWAJA) IPNU-IPPNU dan materi lain sebagai syarat menjadi anggota IPNU/IPPNU yang sah. (http;//ahmadnaufa.wordpress.com)
Tujuan dilaksanakannya MAKESTA ini sebagai upaya memperkenalkan IPNU-IPPNU kepada kader-kader baru dan juga dalam rangka memberikan bekal dan wawasan kepada para peserta guna memahami tentang keoganisasian, ke-NU-an, Aswaja dan juga mencetak calon-calon pemimpin yang berwawasan luas serta berakhlakul karimah yang berfaham ahlusunnah wal jama’ah.
Dijelaskannya, pengkaderan bagi organisasi seperti IPNU-IPPNU merupakan hal mutlak dan menjadi sangat penting untuk terus dikembangkan di lingkungan badan otonom NU.
Pengkaderan ini menjadi salah satu agenda atau program yang terus akan dilaksanakan bagi IPNU-IPPNU, di samping juga program-program sosial keagamaan yang lainnya.
Sedangkan materi-materi yang disampaikan pada acara Makesta yaitu, Ke-NU-an, Aswaja, sejarah IPNU-IPPNU, manajemen organisasi, kepemimpinan serta narkoba dan kenakalan remaja.
Materi-materi tersebut dinilai sangat penting untuk diketahui oleh kader-kader IPNU-IPPNU terlebih lagi persoalan narkoba dan kenakalan remaja yang akhir-akhir ini menjadi sangat marak dikalangan pelajar kita, tentu hal ini sangat memprihatinkan dan IPNU-IPPNU termasuk salah satu organisasi yang peduli untuk menanggulangi hal ini.
Narkoba merusak generasi bangsa, merusak akhlak dan moral pelajar-pelajar kita, tentu hal ini tidak bisa dibiarkan, oleh karenanya IPNU-IPPNU membentuk Lembaga Anti Narkoba (LAN) dan selalu memberikan penyuluhan atau sosialiasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba khususnya bagi kalangan pelajar. ( http://ipnuippnukrpc.blogspot.com )

B.2.Pengaruh Pelaksanaan MAKESTA terhadap Regenerasi kepemimpinan NU

Tujuan MAKESTA diselenggarakan
Sebuah kegiatan tentunya mempunyai sebuah tujuan dan harapan. Adapun tujuan pelaksanaan MAKESTA ialah;
a. Mengenalkan IPNU-IPPNU kepada peserta
b. Memberi pemahaman pentingnya sebuah organisasi
c. Menanamnya ideology aswaja
d. Memberi stimulus peserta untuk selalu belajar, berjuang dan bertaqwa
(http;//ahmadnaufa.wordpress.com)

Kontradiksi pemikiran antara Kaum Muda NU dengan Kyai
Beberapa tahun terakhir ini kaum muda dari NU mengalmai transformasi baik aksi maupun pemikiran. Anak-anak NU rajin membuat gerakan-gerakan pembaharuan yang belum dilakukan kaum muda lainnya. Martin melukiskan bahwa gerakan kaum muda NU ini adalah sebagai gerakan yang mengejutkan. Menurutnya dikalangan generasi muda NU terlihat dinamika baru dengan menjamurnya aktivitas sosial dan intelektual, yang nyaris tertandingi oleh kalangan masyarakat lain. Selama ini Nahdlatul Ulama dianggap ormas yang paling konservatif dan tertutup dan sedikit sekali punya sumbangan kepada perkembangan pemikiran—baik pemikiran keagamaan maupun pemikiran sosial dan politik. Perihal pemikiran keagamaan, NU justru didirikan sebagai wadah para Kyai untuk bersama-sama bertahan terhadap gerakan pembaharuan pemikiran Islam yang diwakili oleh Muhammadiyah, Al Irsyad dan Persis. NU hanya menerima interpretasi Islam yang tercantum dalam kitab kuning ortodoks, Al Kutub Al Mu’tabaroh, terutama fiqh Syafi’i dan aqidah menurut madzhab Asy’ari, dan menekankan taklid ulama besar masa lalu
Lebih lanjut, pembaharuan pemikiran Islam, boleh dikatakan,  secara prinsip bertentangan dengan sikap keagamaan NU. Dalam sikap politik dan sosialpun, NU dikenal sangat pragmatis dan kurang orisinil ketika Herb Faith dan Lance Castles menysusun sebuah antologi tentang pemikiran politik Indonesia setelah kemerdekaan (Indinesian Political Thingking 1945-1965. Cornell University Press, 1970), mereka mencantumkan dari semua aliran politik kecuali NU karena memang hampir tidak ada satupun pemikiran politik NU yang menonjol saat itu.
Gerakan inilah yang dimaksud oleh Hairus Salim sebagai cultural hibrida kaum muda NU di jalur cultural. Menurutnya anak muda NU yang sering dikatakan kolot konservatif kini telah berubah paradigma. Gerakan-gerakan cultural yang dilakukan oleh kaum muda ini bisa terlihat dari aksi-aksi yang mereka lakukan. (Tutik, dkk, 2008:107-109)
Ego ibarat replika diri. Ia yang membentuk sifat, karakter dan sikap setiap kita, manusia berbudaya. Selaras tidaknya kita dengan lingkungan kosmologis, bergantung pada manajemen ego diri.
Karena ego adalah ruh manusia yang memiliki unsur tubuh, akal dan perasaan. Peradaban adalah efek tak langsung manajemen ego. Peradaban dan kebudayaan bukan berdasarkan pada kebenaran, tapi tindakan: mengatur ruang eksistensi ego. Yakni sejauh mana manajemen itu berhasil diterapkan; manusia akan tetap dianggap manusia, yang memiliki tabiat membangun keharmonisan.(Badri: 2011)
            Kontradiksi antara Kaum Muda NU yakni para kader hasil baiat MAKESTA tidak sedikit berdampak pada keterbatasan ruang berideologi dan berimajinasi anggota IPNU-IPPNU dalam menggagas MAKESTA sebagai wadah regenerasi kepemimpinan NU yang sangat berkualitas, seperti figur KH. Abdurrahman Wahid.
BAB III
METODE PENULISAN

Pendekatan Penulisan
Karya tulis ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif berdasarkan kajian kepustakaan. Pemilihan pendekatan ini diasumsikan dapat memberikan gambaran mengenai urgensitas makesta dalam regenerasi kepemimpinan NU. Dalam pendeskripsian tersebut, penulis merujuk pada pustaka-pustaka yang relevan. Rujukan tersebut setidaknya dapat digunakan untuk menjelaskan dan memperkuat pada bab pembahasan.

Sumber Kajian
Dalam pengerjaan karya tulis ini, penulis menggunakan studi kepustakaan serta artikel dan berita yang didownload dari internet untuk dapat mendeskripsikan fenomena yang terjadi di lapangan.

Prosedur Penulisan Karya Ilmiah




Pedoman penyusunan karya ilmiah ini melalui tahapan-tahapan penulisan yang sistematis sehingga diharapkan akan dihasilkan karya tulis yang komprehensif dan terstruktur. Tahapan penulisan karya tulis ini adalah:
Menemukan dan merumuskan masalah; 
Mencari dan menyeleksi sumber-sumber pustaka yang relevan; 
Menganalisis sumber-sumber pustaka untuk menjawab permasalahan; 
Merumuskan alternatif permasalahan; 
Menarik simpulan dan merumuskan saran; 
Menyusun karya tulis.


BAB IV
PENUTUP



A.    Simpulan
 Ego ibarat replika diri. Ia yang membentuk sifat, karakter dan sikap setiap kita, manusia berbudaya. Selaras tidaknya kita dengan lingkungan kosmologis, bergantung pada manajemen ego diri. 
Karena ego adalah ruh manusia yang memiliki unsur tubuh, akal dan perasaan. Peradaban adalah efek tak langsung manajemen ego. Peradaban dan kebudayaan bukan berdasarkan pada kebenaran, tapi tindakan: mengatur ruang eksistensi ego. Yakni sejauh mana manajemen itu berhasil diterapkan; manusia akan tetap dianggap manusia, yang memiliki tabiat membangun keharmonisan.(Badri: 2011) 
MAKESTA sebenarnya sudah layak menjadi sebuah wadah kaderisasi kepemimpinan NU yang baik. Namun kendalanya adalah perselisihan dan perpecahan di tubuh NU, sehingga kaderisasi sedikit terhambat karena fanatisme perpecahan tersebut.  
B.     Saran
Padukan pemikiran, karena NU adalah satu organisasi yang seharusnya mampu memadukan berbagai ideologi dari tiap kader-kader yang akan menggantikan kepemimpinan NU. Dan Nahdlohkan Ulama’, karena krisis kaum muda NU berada pada perpecahan Ulama’. Umat lebih percaya terhadap Ulama’, sehingga tiap ada perselisihan yang terjadi antara kaum Muda NU dan Kyai, maka warga NU yang lain, yang akan mengikuti MAKESTA bersikap berfikir dua kali.  

DAFTAR PUSTAKA


Tutik, Titik Triwulan, dkk. 2008. Membaca Peta Politik Nahdlatul Ulama’. Jakarta: Lintas Pustaka.
Departemen Pendidikan Nasional.2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta:Pusat Bahasa.
Wahib, Abdul, dkk. 2002. Materi Dasar Nahdlatul Ulama’ (AHLUSSUNNAH WALJAMAAH).
               Semarang: PW LP Ma’arif NU Jawa Tengah.
Badri, M Abdullah. 2011. Dalam Buaian Ego. Harian Analisa Medan. Rabu, 15 Juni 2011
(http://ahmadnaufa.wordpress.com/2010/12/29/orientasi-forum-dan-kontrak-belajar-dalam-makesta/)diunduh pada tanggal 15 Oktober 2011.
(http://id.shvoong.com/social-sciences/political-science/2194157-fungsi-ipnu-ippnu/) diunduh pada tanggal 15 Oktober 2011.
(http://dc233.4shared.com/doc/AbYxDJMW/preview.html) diunduh pada tanggal 13 Oktober 2011.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_Ulama). diunduh pada tanggal 15 Oktober 2011.

Oleh: Habib Arafat, Muhammad Kholilur Rohman, dan Yasin Hakim
(Diikutan PORSENI PAC. IPNU-IPPNU LKTI, dan menyabet juara III)

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html