Thursday, 20 December 2012

Antologi "Dari Sragen Memandang Indonesia"

Daftar nama 127 penyair

1. A’yat Khalili
2. Abah Yoyok
3. Abdul Aziz (HM. El-Basyroh)
4. Abdul Salam HS
5. Abdurrahman El Husaini
6. Achiar M Permana
7. Adi Rosadi
8. Adi Suhara
9. Adin
10. Agung Yuli TH
11. Agus R. Sarjono
12. Agus Sri Danardana
13. Agustav Triono
14. Alex R. Nainggolan
15. Alfiah Muntaz
16. Alie Emje
17. Aming Aminoedhin
18. Andrias Edison
19. Arafat AHC
20. Arini Septiyan Irawati
21. Asih Prasetiyawati
22. Asyari Muhammad
23. Ayu Cipta
24. Azie Nasrullah
25. Badaruddin Amir
26. Bagus Burham
27. Bambang Eka Prasetya
28. Bambang Karno
29. Bambang Wadoro
30. Bambang Widiatmoko
31. Beni Setia
32. Btara Kawi
33. Bontot Sukandar
34. Budhi Setyawan
35. Boedi Ismanto SA
36. Bunga Hening
37. Cho Chro Tri Laksono
38. Danarto
39. Daniel Tito
40. Daru Maheldaswara
41. Dasuki D.R.
42. Deddy Firtana Iman
43. Dedet Setiadi
44. Dharmadi
45. Dictionary Januar Rabit
46. Dimas Arika Mihardja
47. Dimas Indianto S.
48. Djuhardi Basri
49. Dwi Ery Santoso
50. Dyah Setyawati
51. Edy Samudra Kertagama
52. Ekohm Abiyasa
53. EM Yogiswara
54. Endang Setiyaningsih
55. Endang Supriadi
56. Eri Maryana
57. Es Wibowo
58. Fadjar Sutardi
59. Fanny Chotimah
60. Fathur E.R.
61. Fauzi Robbani
62. Gatut Lestari
63. Gia Setiawati Mokobela
64. Giyanto Subagio
65. Gunawan Tri Atmodjo
66. Handry TM
67. Hardo Sayoko SPB
68. Haryono Soekiran
69. Heru Mugiarso
70. Ilham Wahyudi
71. Indah Darmastuti
72. Indrawisudha
73. Jeny Rahmat Taufika
74. Johan Bhimo
75. Joshua Igho BG
76. Jumari HS
77. Karisma Fahmi Y
78. Kusprihyanto Namma
79. Lailatul Kiptiyah
80. Lailiatul Barokah
81. Latief S. Nugraha
82. Lennon Machali
83. M Enthieh Mudakir
84. M. Raudah Jambak
85. M. Maksum
86. Maria Magdalena Bhoernomo
87. Moh. Ghufron Cholid
88. Mubaqi Abdullah
89. Muhammad Rois Rinaldi
90. Muhammad Asqalani eNeSTe
91. Murdoks
92. Nanang R Supriyatin
93. Nanang Suryadi
94. Nurochman Sudibyo YS
95. Parlin Parline
96. Poetry Ann
97. Pradita Nurmalia
98. Puitri Hati Ningsih
99. Puspita Ann
100. R. Djoko Prakosa
101. RB. Edi Pramono
102. Ribut Achwandi
103. Riswan Hidayat
104. Sandra Palupi
105. Santi Almufaroh
106. Seruni Unie
107. Setia Naka Andrian
108. Slamet Widodo
109. Sofyan RH. Zaid
110. Sri Wintala Achmad
111. Sunardi KS.
112. Susmi Hartini
113. Suyitno Ethex
114. Thomas Budi Santoso
115. Thomas Haryanto Soekiran
116. Thoni Mukharrom
117. Tri Astoto Kodarie
118. Udik Agus D.W
119. Umirah Ramata
120. Usup Supriyadi
121. W Haryanto
122. Wieranta
123. Windu Mandela
124. Wongwingking
125. Yogira Yogaswara
126. Yudhie Yarcho
127. Zen AR

Friday, 14 December 2012

Monday, 10 December 2012

Undangan Antologi "Dari Sragen Memandang Indonesia"

127 PENYAIR
“DARI SRAGEN MEMANDANG INDONESIA”

Kepada Yth.
Teman-teman Penyair
Di Tempat.

Salam,

Berikut kami informasikan daftar nama 127 penyair yang puisinya lolos seleksi untuk program Penerbitan Antologi Puisi “DARI SRAGEN MEMANDANG INDONESIA” oleh Dewan Kesenian Daerah Sragen.
Selanjutnya, panitia akan mengirimkan surat undangan resmi kepada para penyair untuk hadir pada acara launching antologi tersebut.
Terima kasih atas segala partisipasinya.

Salam

Sosiawan Leak (Kurator 1)
Sus S Hardjono (Kurator 2)

Daftar nama 127 penyair

1. A’yat Khalili
2. Abah Yoyok
3. Abdul Aziz (HM. El-Basyroh)
4. Abdul Salam HS
5. Abdurrahman El Husaini
6. Achiar M Permana
7. Adi Rosadi
8. Adi Suhara
9. Adin
10. Agung Yuli TH
11. Agus R. Sarjono
12. Agus Sri Danardana
13. Agustav Triono
14. Alex R. Nainggolan
15. Alfiah Muntaz
16. Alie Emje
17. Aming Aminoedhin
18. Andrias Edison
19. Arafat AHC
20. Arini Septiyan Irawati
21. Asih Prasetiyawati
22. Asyari Muhammad
23. Ayu Cipta
24. Azie Nasrullah
25. Badaruddin Amir
26. Bagus Burham
27. Bambang Eka Prasetya
28. Bambang Karno
29. Bambang Wadoro
30. Bambang Widiatmoko
31. Beni Setia
32. Btara Kawi
33. Bontot Sukandar
34. Budhi Setyawan
35. Boedi Ismanto SA
36. Bunga Hening
37. Cho Chro Tri Laksono
38. Danarto
39. Daniel Tito
40. Daru Maheldaswara
41. Dasuki D.R.
42. Deddy Firtana Iman
43. Dedet Setiadi
44. Dharmadi
45. Dictionary Januar Rabit
46. Dimas Arika Mihardja
47. Dimas Indianto S.
48. Djuhardi Basri
49. Dwi Ery Santoso
50. Dyah Setyawati
51. Edy Samudra Kertagama
52. Ekohm Abiyasa
53. EM Yogiswara
54. Endang Setiyaningsih
55. Endang Supriadi
56. Eri Maryana
57. Es Wibowo
58. Fadjar Sutardi
59. Fanny Chotimah
60. Fathur E.R.
61. Fauzi Robbani
62. Gatut Lestari
63. Gia Setiawati Mokobela
64. Giyanto Subagio
65. Gunawan Tri Atmodjo
66. Handry TM
67. Hardo Sayoko SPB
68. Haryono Soekiran
69. Heru Mugiarso
70. Ilham Wahyudi
71. Indah Darmastuti
72. Indrawisudha
73. Jeny Rahmat Taufika
74. Johan Bhimo
75. Joshua Igho BG
76. Jumari HS
77. Karisma Fahmi Y
78. Kusprihyanto Namma
79. Lailatul Kiptiyah
80. Lailiatul Barokah
81. Latief S. Nugraha
82. Lennon Machali
83. M Enthieh Mudakir
84. M. Raudah Jambak
85. M. Maksum
86. Maria Magdalena Bhoernomo
87. Moh. Ghufron Cholid
88. Mubaqi Abdullah
89. Muhammad Rois Rinaldi
90. Muhammad Asqalani eNeSTe
91. Murdoks
92. Nanang R Supriyatin
93. Nanang Suryadi
94. Nurochman Sudibyo YS
95. Parlin Parline
96. Poetry Ann
97. Pradita Nurmalia
98. Puitri Hati Ningsih
99. Puspita Ann
100. R. Djoko Prakosa
101. RB. Edi Pramono
102. Ribut Achwandi
103. Riswan Hidayat
104. Sandra Palupi
105. Santi Almufaroh
106. Seruni Unie
107. Setia Naka Andrian
108. Slamet Widodo
109. Sofyan RH. Zaid
110. Sri Wintala Achmad
111. Sunardi KS.
112. Susmi Hartini
113. Suyitno Ethex
114. Thomas Budi Santoso
115. Thomas Haryanto Soekiran
116. Thoni Mukharrom
117. Tri Astoto Kodarie
118. Udik Agus D.W
119. Umirah Ramata
120. Usup Supriyadi
121. W Haryanto
122. Wieranta
123. Windu Mandela
124. Wongwingking
125. Yogira Yogaswara
126. Yudhie Yarcho
127. Zen AR

Tuesday, 4 September 2012

Dalil Cinta


Merangkai cinta
Menusuk hati dan mengharukan
Kala cinta merangkai dalil
Di atas puing shalawat

Tersujud cinta
Dalam gelap hingga terang
Menaklukan hati

Dari beberapa dan beberapa

Senandung dalil cinta
Meruntuhkan hati beberapa
Merevolusi kupu-kupu malam
Di atas bendera jihad

Untaian shalawat
Selalu tercurah
Takkan pernah usai
Dari rangkaian cinta

Hati yang kelabu
Terang seketika
Dalam permulaan setan
Ke pertumbuhan cinta

Mahabbah yang sempat hilang
Tanpa adanya dalil cinta
Kini kembali
Tuk merangkai cinta
Di atas ridhaNya

Shaffar 1430 H, Habib Arafat

(Terangkum dalam antologi puisi "Selayang Pesan Penghambaan". JPIN (Jaringan Pena Ilma Nafia). Pustaka Nusantara. 2012.

Tuhan, Ijinkan Aku Menyetubuhimu


 “ Aku meminta ijin padamu, ijinkanlah aku menyetubuhimu
                                                          
: Tuhan

Aku ingin menyetubuhimu
Menyodorkan do’a di malam-malam
Dan memainkan instrument hati merayap matamu

Akupun ingin seperti Siti Jenar atau Rabi’ah Addawiyah
Selalu menjamahmu
Merasakan kehangatan di sela tanganmu
Dan kenikmatan yang menyelimuti tubuhku

Disaat dingin menyapu kehangatan
Aku ingin merasakan vebrasi kehidupan

Tuhan
Meski tubuhku dibanjiri sperma yang muncrat dari rongga marni

Aku meminta ijin padamu, ijinkanlah aku menyetubuhimu

Shaffar 1433 H, Habib Arafat

(Termuat dalam antologi Puisi "Ayat-Ayat Ramadlan". 2012)



Friday, 31 August 2012

Malu Mengaku Aku Kemaluan

Sebenarnya kita lupa pada kelamin yang basah,
yang anyir.
Dan kita merasa berkepala tanpa berhati.
Di tiap hari.
Di tiap nanti,
Di Tiap Mati

Atau sebenarnya kita malu.
Berkata kemaluan itu adalah aku
Dan kita selalu berlomba di ujung kematian-
berlomba memperbesar kemaluan
kemaluan-kemaluan di gampar-gampar
Di sana
Di mana-mana

Syawwal 1433 H, Habib Arafat

Friday, 20 April 2012

Mengenang April, Mengenang Emansipasi, Mengenang Semangat Penindasan dan kepenyairan

Murtidjono

Akhir tahun lalu, tepatnya Senin (26/12), Kota Bengawan kembali berduka. Salah satu figur yang memperjuangkan kesenian di Solo, Murtidjono, pergi untuk selamanya akibat leukemia. Eyang Murti, begitu sapaan akrabnya, meninggalkan kesan mendalam bagi para seniman lintas kota.
Di 40 hari wafatnya, seniman dari Solo, Jogja, Semarang dan sekitarnya siap menggelar pentas dan diskusi untuk mengenang almarhum di Pendapa TBS, Senin (13/2). “Kami semua inisiatif sendiri untuk memberi penghormatan bagi Eyang Murti. Sebenarnya banyak (seniman) yang ingin berpartisipasi, namun tak bisa diakomodasi semua karena keterbatasan waktu,” ujar koordinator acara, ST Wiyono, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (10/2/2012).
Dipaparkannya, kegiatan 40 Hari Mengenang Murtidjono dibagi menjadi dua segmen. Segmen pertama, imbuhnya, yakni diskusi bertemaMurtidjono dan Ruang Publik yang digelar pukul 09.00-13.00 WIB. Pihaknya mengundang narasumber seniman seperti Afrizal Malna, Ardus M Sawega, Eko Tunas dan MT Arifin.
“Butet Kertarejasa rencananya juga akan hadir. Tinggal menunggu konfirmasi,” katanya.
Dalam diskusi tersebut, pihaknya akan mengetengahkan pemikiran Murtidjono yang berhasil membangun TBS menjadi ruang publik bagi seniman dan masyarakat. “Selama 26 tahun kepemimpinan beliau, TBS tumbuh menjadi ruang berekspresi. Meski bukan seniman murni, Eyang Murti memiliki peran penting dalam dinamika kesenian Kota Solo.”
Pergelaran Seni
Pada malam harinya, pergelaran seni yang melibatkan puluhan seniman lintas kota akan dipersembahkan di Pendapa TBS. Pergelaran tersebut, jelas ST Wiyono, salah satunya Cipta Umbul Donga yang menyajikan kolaborasi tari Suprapto Suryodharmo, Mugiyono Kasido, Pamardi, Hari Genduk, Rusini, Sahita, Studio Taksu dan Wahyu SP. “Umbul Donga juga didukung paduan suara Wasi Bantala dan Dedek Ensemble. Saat ini persiapan sudah 70%,” urainya.
Seniman lain yang turut memperingati 40 hari Murtidjono lewat pentas tari yakni Eko Pece, Jen Shue, Andre Ellen dan Sanggar Paramesthi Semarang. Sementara dari pentas musik menyuguhkan Gondrong Gunarto, Atisejati, Eko Tunas, Pak Kodok, Agus Dukun, Janthit Sanakala, Yasudah dan keroncong Wartono dkk.
“Nanti juga ada pembacaan puisi karya Murtidjono dari Jati Kusumo dan Gigok Anurogo. Pergelaran ditutup wayangan semalan suntuk oleh Ki Gendut.” JIBI/SOLOPOS/Chrisna Chanis Cara
R.A Kartini
Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Pada tanggal 17 september 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan
Chairil Anwar

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepasperceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.
Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”
Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.
Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.
Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”
Makam Chairil di TPU Karet Bivak

 
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html