Sunday, 17 February 2013

SURBAN


                Bulan mati, dan mentari hidup kembali. Alunan tasbih ayam, dzikir rumput terdengar oleh telinga hati. Namun imaji masih mengingat pertikaian malam tadi, sesaat musyawarah santri tentang kehidupan santri di pesantren.
                Pagi, menghadirkan mentari yang malu melihatkan raut wajahnya padaku, atau juga pada lainnya. Bersama secangkir renungan yang mengendapkan lelet kehidupan. Aku mengingat dan merenungi pertikaian tadi malam, tentang surban yang ku ributkan dengan santri lainnya.
                Bagiku itu hanya sebuah perbedaan kecil, yang tak menjadi kunci dari keyakinan santri, yakni kalimah Laa Illa Ha Illallah Muhammadur Rasulullah. Peristiwa itu membengkak, seperti halnya media-media kota yang mewartakan gaya hidup artis, yang selayaknya tak perlu diekspos untuk diperbincangkan. Sedangkan krisis nurani kita tak pernah kita tanggapi obrolannya, seperti ketidakpedulian kita terhadap saudara-saudara kita yang menghuni kolong kekafiran.
                *****
Malam itu, hatiku menjerit, meneriaki dunia, tentang kekonyolan saat aku mengenakan surban di bahu kiriku, yang kemudian diprotes santri-santri lainnya. Aku benar-benar mengingat kejadian tadi malam, persis apa yang terjadi. Karena saking uniknya untuk diingat.
“ Nabimu siapa? Tuhanmu Siapa? “ Tanya Shodiq, santri senior seperti bertanya kepada orang yang berbeda keyakinan.
“ Nabiku Muhammad dan Tuhanku Allah. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Bukankah keyakinanku dan keyakinanmu sama? “ Jawabku mengimbangi nada pertanyaannya.
Mendengar jawabanku, Selamet, Lurah Pondok ikut menyudutkanku dengan sebuah pertanyaan. “ Kalau kamu berkeyakinan sama denganku, lalu kenapa kamu mengenakan surbanmu di bahu kirimu? “
“ Apakah Allah dan Rasulullah melarang tentang mengenakan surban di bahu kiri? “ tanyaku balik.
“ Dasar tolol!” pertanyaanku dijawab dengan serapah santri yang bernama salam, dan dia lanjut menjawab pertanyaanku. “ Rasulullah tidak pernah mengajarkan itu! “
“ Perlu diketahui Zak, bahwasanya Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan untuk mengenakan surban di bahu kiri, akan tetapi di bahu kanan. Jadi kalau kamu membuat sesuatu yang baru, yang tidak diajarkan Rasulullah, maka itu bid’ah. Dan setiap Bid’ah adalah sesat. “ Tambah Selamet.
Malam yang mencekam, membuatku hanya bisa diam. Bukannya aku tak mau menimpali pendapat-pendapat mereka. Namun karena aku yang masih santri baru yang tak pantas bila aku menimpali kata-kata mereka: yang masih tumbuh tanaman kesombongan dan kefanatikan tanpa pernah disiram dengan obat perbedaan. Pula waktu telah mengatup, saatnya berjamaah para santri untuk melaksanakan ritual rutin terhadap Tuhannya di waktu Isya’.
Kegetiran terus menggelisahi malam-malamku. Angin tampak getir berjalan kesana-kemari dengan cepatnya. Air kulah tampak pucat, barangkali karena belum dikuras. Dan langit-langit tampak pucat, dengan tangis petir dan petangnya awan. Malam tadi benar-benar menyapirkan kegelisahan di ranting-ranting hatiku.
                *****
                Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB, kini mentari sudah mulai sedikit menampakkan raut mukanya. Di Loteng Pondok, lantai III, sendirian aku bercakap dengan hatiku. Hati yang masih merenungkan kegetiran yang terjadi malam tadi, mengatakan padaku agar aku selalu berpegang teguh pada pendirianku, meskipun pendirian itu terus diguncang badai perbedaan.
                Tadi malam, aku belum melampiaskan pendapatku tentang aku yang mengenakan surban di bahu kiri. Pagi ini, ingin sekali rasanya aku melampiaskan semuanya padaku sendiri.
                Tahukah kalian tentang yang aku maksud? Tentang kenapa aku mengenakan surban di bahu kiriku? Dan perlu kalian ketahui bahwasanya aku juga tahu tentang surban di bahu kanan yang dilakukan Rasulullah. Namun kalian tidak tahu simbolisasi surban di bahu kiriku yang ku lakukan. Itu semua adalah makna ngiwakke awakku ketimbang gusti kang murbo, atau ngiwakke urusanku ketimbang urusane liyan. Itu yang ku maksudkan dari semiotika yang ku kenakan. Apakah kalian sudah mempunyai bukti bahwa yang ku lakukan adalah sesuatu yang menimbulkan dosa. Sedangkan yang kalian lakukan tidak menimbulkan dosa. Toh, tidak ada larangan dalam agama tentang apa yang aku lakukan.
                “ Ah, . .  Pusing mikirin semua ini. “ teriakku setelah memikirkan perbedaan sudut pandang yang tak ada ujungnya, namun hakikatnya mempunyai ujung yang pasti, yakni menghargai perbedaan. Sesaat itu pula, teriakanku menyadarkan santri-santri lainnya yang khusyu’ saat membacakan kalam-kalam Tuhan tanpa intonasi yang jelas.
                “ Ada apa Zak? Kok teriak sendirian? “ Tanya Syam, yang sedari tadi melantunkan kalam-kalam Ilahi disampingku.
                “ Tidak ada apa-apa kok Syam. Hanya aku yang pusing memikirkan urat-urat kesombongan dan kefanatikanku yang belum di putus Allah. “ Jawabku, menyembunyikan kebenaran.
                “ Memangnya kau pernah Sombong? Dan bukankah kau orang yang tak pernah menghina orang? Dan juga apa kau pernah tersesat terhadap kefanatikan kepercayaanmu sehingga menyalahkan kepercayaan lainnya? “ Pertanyaan bertalu yang menghujaniku. “ Apa kamu membohongiku. Bahkan kau membohongi dirimu sendiri? ” lanjutnya, seperti air hujan yang telah lama merindukan jatuh ke bumi.
                Begitu derasnya pertanyaan Syam menghujaniku. Membuatku hanya bungkam seribu bahasa, dan seribu nada. Aku hanya bisa diam. Aku hanya terbisu. Aku terbungkam oleh pertanyaan Syam yang tiada henti. Seketika mulutku refleks menceritakan semua yang aku pikirkan. Mendengar semuanya Syam hanya berkomentar bahwa setiap manusia didesaign dengan beragam karakter.
                Jadi aku dan mereka tidak mungkin bisa sama. Postur tubuh saja sudah berbeda, apalagi karakternya. Sehingga aku yang sudah mengerti tentang perbedaan karakter harusnya menghargai pendapat mereka, meski mereka tidak bisa menghargai pendapatku. Kalau begitu aku teringat tentang ucapan pamanku tentang menjadi Terate, yang bisa hidup dimana saja, untuk beradaptasi dengan perbedaan karakter di lingkungannya.
                Aku harus belajar menjadi Surban, dalam ngiwakke urusanku ketimbang urusane liyan, yang dapat mengedepankan pendapat situasi mayoritas. Tanpa mengedepankan dokma-dokma yang selama ini ku pakai.
                *****
                Mentari kini telah sempurna bertatap dengan mukaku. Mengajarkanku agar aku menjadi sempurna dan terang benderang dalam menghargai perbedaan, tanpa mengedepankan pendapat individu. Dan terus belajar tentang penglihatan hatiku dalam menangkap ratusan cahaya, sehingga meski dalam kegelapan aku akan bisa melihatnya.
                Aku akan selalu menjadi Surban. Surbanku adalah Surbanku, dan Surbanku bisa menjadi Surbanmu. Atau juga Surbanmu menjadi Surbanku. Meski hanya sejenak, semoga ini bisa membahagiakanmu dan tak terulang kembali seperti malam tadi. Wa’allahu ‘A’lam.

Kudus, 2012-Habib Arafat-

(Kesasar Di Buletin Perahu Sastra Edisi Januari 2013)

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html