Sunday, 24 March 2013

4 Puisi Arafat AHC Terpaku di Majalah PAPIRUS edisi Februari 2013, UMS Solo


Taman Rumah Di Bulan Juni

Taman rumah-rumah tanam.
Kini taman rumah hanya tersisa kaktus,
Tanaman lain telah mati, sayang.
Taman-taman ini tak serupa dengan taman-tamanku dulu.

Salah siapa?
Aku atau kamu.
Tiga tahun lalu aku tak menitipkan air,
tak menitipkan udara,
tak menitipkan tanah.
Api,
Api,
Dan api yang ku titip di taman-taman.
Tapi kau tentu ingat
Dua bulan lalu aku mulai mencoba mengenalmu, di taman-taman yang tak seperti sedia kala.
Atau kamu, yang tak mau menghujani cinta, di taman-taman yang mulai gersang ini.
Bukankah aku pernah menitip cinta di daun anggrek yang menggantung di hatimu?
Kau melupa atau lupa.
Kau mengalah atau salah.
Seharusnya cinta itu kau ukir ditaman-taman yang mulai gersang.

Taman rumah-rumah tanam.
Hanya pekerjaan yang melelahkan memupuk cinta,
yang telah memudar di anggrek-anggrekmu.
Hanya saja aku sanggup mengitari kelelahan ini,

Rajab 1433 H, Habib Arafat

Terangku Juga Gelapmu

: Trianingrum

Terangku juga gelapmu
Di malam yang menitipkan cahaya mentari,
Pada rembulanmu
Ada kegelapan yang masih menyelimuti hati, seperti senyapnya kamar yang menunggu kita.

Terangku juga gelapmu
Kamar-kamar kita menunggui aku dan juga kau
Memainkan kata-kata kita, agar menjadi kalimat
" Jadilah, maka akan terjadi "
Atau juga kamar-kamar terlalu takut apabila kita diluar rumah,
Sedang rembulan telah redup,
Rembulan telah wafat,
Rembulan gelap.
Dan masihkah kita akan terus memenjarakan diri di luar kamar, di luar rumah.
Sedangkan kalimat-kalimat telah menunggu kita merangkai kata atau juga gelapmu juga terangku.

Terangku juga gelapmu
Terang-gelap.
Terang-gelap.
Gelap-terang.
Terang-gelap.
Gelap-terang.
Seperti halnya kita di kamar memainkan lampu-lampu, meracik kata-kata, dan pula rembulan-surya, surya-rembulan.

Terangku juga gelapmu.
Kalimat kita telah selesai.
Kun Fayakun.

Rajab 1433 H, Habib Arafat

Sebuah Ingatan Tentang Keberadaan Yang Tak Ada

Ada-ada saja dia. selalu mengikuti kemana saja kaki ini menapak. Kalau saja dia tahu bagaimana mata ini menangis sedih, menangis haru, dan pula menangis kerinduan. Oleh matanya yang selalu menyelimuti cinta ini.

Aku tak pernah lupa gelak tawanya. Sama persis seperti tadi, hanya sekejap. Tanganku masih malu melambaikan tawanya, dan mulutku masih takut salah tingkah saat membaca puisi-puisinya. Dia begitu lugu untuk melanjutkan puisiku yang belum purna.

Ini pertanda atau ramalan tentang peristiwa yang terus berulang kembali. Kembali terulang, dan kembali lagi. Atau hanya sekedar intuisi yang tak jelas menuliskan alamatnya. Tapi cinta takkan pernah bersiul pada alamat-alamat lain, selain dia.

Muharram 1434 H, Habib Arafat

Hujan

Bila Malam telah menyampirkan hujan.
Peluh yang akan selalu bernaung pada dada kita, masing-masing.
Kita akan saling berkejaran dengan hujan,
Tak akan lagi mengering.
Seperti Bumi Noah, yang bergelanyut air mata,

Dzulhijjah 1433 H, Habib Arafat

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html