Wednesday, 8 May 2013

Cerpen Yang Kejepit di Wawasanews.com


Apa Yang Diinginkan Beliau?

Oleh: Arafat AHC *)

                Pagi itu, seolah langit runtuh menindih angan yang bertahun-tahun ku rangkai. Bukannya pagi memberi kado terindah di 1 Januari lalu, namun api panas yang menyulutkan kehancuran. Aku tak mengerti apa yang diinginkannya terhadapku, ketika ku lihat di dinding biru kamarku terdapat tiga carik surat. Satunya dari Pamanku Joshef, yang satunya dari Pamanku Ari, dan yang satu lagi dari Kakakku Anwar. Satu persatu kubuka, dengan rasa berselimut kegelisahan.
                Air mata mulai berjatuhan seiring terbukanya ketiga surat tersebut. Dan kini telah membanjiri wajahku yang muram setelah melihat ketiga surat berinstrumen penyudutan. Aku hanya terdiam di sudut kamar yang sering memainkan imajinasi untuk melahirkan karya-karya: meski karyaku tak pernah di muat di media massa. Pintu, jendela, dan lantai kamar tak lagi tertawa melihatku yang tak seperti biasanya. Obituari kebahagiaan dan kesuksesan kini mengerutkan dahi dibalik dinding kamar yang sedari tadi melantunkan nada kesedihan.
                “ Tidak mungkin ini!!! Tidak mungkin ini semua dari mereka bertiga “ kegelisahan hatiku yang hanya terdengar oleh seisi kamar.
                Keraguanku terhadap pintu, lantai kamar, dinding kamar dan seisi kamarku yang menyaksikan tentang surat-surat yang digantung oleh mereka, mulai menggerayangi pikiranku. Sesaat kejiwaanku mulai tercecer di lantai-lantai kamar. Satu waktu, mengajakku untuk keluar dari jalur yang selama ini ku tempuh, dan mengikuti jalur yang sama persis seperti mereka. Satu waktu, melarangku untuk keluar dari jalur yang selama ini ku pijak. Satu waktu lagi mengingatkanku terhadap masa laluku yang telah membenamkan aku dari kehidupanku dan kehidupan keluargaku.
                Detik semakin bertambah, semakin banyak pula kegelisahan yang menyelimutiku dengan berbagai macam warna. Namun akhirnya sedikit demi sedikit beban itu pudar dari pikiranku, setelah menghirup tembakau yang terbungkus rapi. Setelah pikiran stabil, lantas aku keluar kamar. Waktu itu jam dinding menunjukkan pukul 11.15 WIB.
                Uripmu neng pondok selama iki cuman turu, mangan, lan ngentekke duit seng tak wenehi? ” Bentak Umi melihatku keluar dari kamar pada waktu yang bertabur terik mentari di tengah bumi.
                Sontak, ketenangan jiwa yang baru saja tercipta. Buyar dan hilang. Menghilang entah kemana. Dengan emosi yang labil, ku banting saja pintu itu, tanpa aku memerdulikan siapa yang ada dihadapanku.
“ Braakkkkk ” suara bantingan pintu yang tercipta dari tumpukan emosi.
Akhirnya aku mengurung diri di kamar lagi. Hanya ditemani beberapa benda yang menghuni kamar, yang sering ku tinggal ke Kudus utuk mengais sedikit sisa-sisa ilmu yang masih tercecer di jalan-jalan kehidupan. Yang bisa kulakukan hanya meratapi kesendirianku. Disaat seperti itulah biasanya aku selalu menyempatkan untuk menelpon saudaraku, yakni Zahra. Lantas aku mengambil handpone lama yang masih setia menemaniku kemana saja dan menelponnya.
Satu panggilan tidak dijawabnya. Panggilan kedua tidak dijawab pula. Sedikit keputusasaan itu terobati ketika panggilan ketigaku diangkat.
Assalamu’alaikum
Wa’alaikumussalam
“ Langsung to the pointnya ya Kak “
“ Iya, ada apa Fa “
“ Sebenarnya apa yang diinginkan keluarga ini, khususnya Umi? “
“ Mereka hanya menginginkan kamu menjadi baik “
“ Tapi menurutku tidak. Karena tiap kali aku jatuh, aku hanya mendapat hujan amarah dari beliau. Tiap aku mencoba bangkit beliau malah menyerimpung usahaku untuk bangkit. Dan ketika aku sudah bangkit, beliau bilang, sudah terlambat. Itulah yang aku bingungkan tentang beliau. Apa dengan cara tersebut aku akan baik? Tidak Kak!!! Aku malah akan down lagi, karena tidak ada yang mendukungku untuk menjadi baik dan terbaik. ”
“ Semua itu karena kamu yang sebelumnya telah mengecewakan beliau, kamu sudah sering berujar, Aku bangun, Aku bangun, dan Aku bangun. Namun apa? Kamu tidak bisa dipercaya untuk bangun. “
 “ Kalau memang mereka benar-benar menginginkan aku menjadi baik. Kenapa mereka menutup jalan untuk menjadi baik. Apa dengan cara menghukumku dibiarkan di kejelekan akan membuatku menjadi baik? Tidak Kak!!!! Itu semua malah akan menjadikanku lebih jelek daripada sekarang. “
“ Yasudah. Sekarang yang kamu inginkan itu apa? “
“ Aku ingin laptop dan motor. Dan juga kuliah lagi. “
“ Mikir to Fa, Umi kan lagi tidak punya uang. “ dengan nada emosi, barangkali emosinya sudah memuncak di ubun-ubunnya.
“ Kan masih ada tanah yang bisa digadaikan. Lagi pula ingin laptop dan motor untuk kemajuan kita. Laptop ku gunakan sebagai sarana untukku berorganisasi dan berkarya, dan juga bisa ku gunakan untuk mendesaign apabila ada pemesanan yang berupa undangan, majalah atau yang lainnya. Sedangkan motor ku gunakan untuk mencari relasi dan juga untuk bekerja mengembangkan usaha krupuk rambak beliau. Dengan usaha itu, mungkin bisa melunasi hutang-hutang atas penggadaian tanah. Untuk kuliah, aku ingin bakatku yang terpendam selama ini bisa matang. Sedikit demi sedikit, bakatku mulai tergali. Meski fosilnya belum utuh ditemukan dalam jiwaku. “
“ Oke, kalau itu yang kamu mau. Entar tak bilangin sama Umi. Ada masalah lagi? “
“ Tidak Kak. Makasih ya. Sudah mendengarkan curhatku. Wassalamu’alaikum warahmatullah. “
Wa’alaikum salam Warrahmah.
Sedikit reruntuhan langit mulai terangkat berkat bantuan saudaraku Zahra. Setelah puing-puing reruntuhan langit yang sebagian telah terangkat, aku mencoba merenungkan masa depan agar tidak berantakan seperti masa lalu.
*****
                Dulu aku telah mendustai Beliau tentang tunjanganku untuk membelikan handpone, dengan dalih kalau aku menggunakannya untuk menjalin hubungan dengan keluarga, namun malah kugunakan untuk menjadi playboy yang busuk. Dulu juga Aku mengkhianati Beliau tentang tunjangan buat sekolah yang ku pergunakan untuk bersafari ke Pekalongan, Yogyakarta, Semarang, Jakarta, dan kota-kota lain. Sekolahku juga pernah berantakan karena mempertahankan pacarku yang tidak direstui Beliau, namun pacarku tersebut malah seenaknya pergi meninggalkanku, dan bayangannya masih menggema di memoriku saat ini.
                “ Rafa “ terdengar panggilan dari Beliau terhadapaku, seketika lamunanku buyar. Dan Aku bergegas membuka pintu. Lantas kubuka pintu dan menemui beliau.
                Njeh, wonten nopo  Mi? “ tanyaku
                Merene, Aku mau bar ditelfon Mbakyumu. Aku meh ngomong karo kowe.
                Setelah itu, kami berbincang-bincang asyik, antara aku dan Beliau. Membahas tentang rencanaku untuk menjadi manusia yang baik. Dan juga membahas tentang rencanaku untuk membuat usaha RAFA Corporation’s, yang menerima jasa pembuatan undangan, bulletin, majalah, spanduk, MMT/Banner, sablon kaos, cetak foto, pengetikan, dll. Tidak hanya itu, namun juga membuka penjualan pulsa electric beserta perdana-perdananya. Membahas usaha Beliau PR. Rambak Fathimiyyah, yang menerima pesanan snack pernikahan, sunatan, hajatan, seminar dan even-even lain. Tidak hanya itu, PR. Rambak Fathimiyyah juga menjual krupuk rambak baik mentah maupun matang.
                Setelah berjam-jam berbincang-bincang mengenai apa yang aku inginkan agar sesuai dengan apa yang diharapkan Beliau. Beliau hanya berpesan agar aku komitmen terhadap apa yang telah kuajukan kepadanya, agar tidak ada kesalahan-kesalahan seperti masa lampau. Dan Beliau berpesan agar aku rajin untuk beribadah, dan berakhlak serta harus bisa membanggakan di perguruan tinggi nanti.
*****
                Setengah tahun telah berlalu, akhirnya aku bisa menjadi seorang mahasiswa di perguruan tinggi di kota Semarang, pada Fakultas Ushuluddin, jurusan Perbandingan Agama. Aku mengambil study bagian itu karena aku suka hidup damai bersama agama-agama lain. Tujuanku masuk kuliah mengambil study perbandingan agama, tidak lain tidak bukan, karena aku hanya ingin persamaan agama, yang sama-sama bertuhan. Tidak sepatutnya kita bermusuhan dengan agama lain, karena kita tidak tahu apa kita nanti yang selamat dari hari akhir nanti, atau justru mereka yang akan selamat. Dan kita juga tidak tahu, mana yang benar dan mana yang salah. Karena kita tercipta dengan perbedaan, dan hanyalah Tuhan yang maha mengetahui kebenaran.
                Di kampus itulah, yang akhirnya mengantarkanku menjadi seorang sastrawan dan organisator ulung, yang memandang perbedaan adalah sebuah rahmat. Meski sebelumnya aku telah menanamkan diri tentang permasalahan perbedaan adalah rahmat, sejak SMP dulu. Setelah namaku menjadi topik terhangat perbincangan di kampus. Bukan karena berita-berita negatif, namun disebabkan aku telah menjadi orang terhebat di kampus. Hingga akhirnya pacarku yang dulu meninggalkanku, kembali lagi kepadaku. Sebelumnya aku ragu tentang dia yang kini mengajakku untuk menyemai cinta, yang waktu dulu pernah tersemai di masa abu-abu lalu. Namun karena dialah yang telah membuat aku sadar akan makna playboy: yang menyakitkan perasaan wanita. Tanpa pikir panjang, akhirnya aku menerimanya kembali. Dengan syarat agar dia tidak mengulangi perbuatannya di masa lampau.
                Setelah Rofiq --temanku sejak SMP, yang selalu mendukung apa yang aku inginkan— mengetahui aku menyemai cinta dengan Nurul. Rofiq pun angkat bicara tentang hubungan Kami.
                “ Fa, dengar-dengar kamu balikan sama Nurul?” tanya Rofiq.
                “ Iya, Fiq. Sorry aku lupa memberitahumu. “
                “ Bukan itu yang menjadi masalahku. Namun apa kamu tidak mengingat masa lampau, tentang apa yang telah diperlakukan Nurul kepadamu. “
                “ Iya, Fiq. Tapi Dia juga banyak berjasa terhadapku. Ketika dulu Aku yang playboy, sejak mengenalnya aku tidak lagi berani memainkan hati seorang wanita. Ketika Dia meninggalkanku, inspirasiku untuk bersastra semakin dahsyat. Meskipun Dia juga punya dosa yang banyak terhadapku. Manusia kan tempatnya kesalahan Fiq. Dan buat apa Tuhan menciptakan kata maaf, kalau manusia tidak boleh bersalah. “
                “ Bener juga Fa. Yasudahlah itu semua tergantung Kamu deh. Terpenting Kamu tetap menjadi orang yang selalu di jalan lurus. Dan Kita selalu bersama “
                “ Sukses Untuk Kita “ teriak kami bersama.

MANUSIA TIDAK LUPUT DARI KESALAHAN. DAN BUAT APA TUHAN MENCIPTAKAN KATA MAAF. KALAU MANUSIA TIDAK BOLEH MELAKUKAN KESALAHAN.

Kudus, 2012-Habib Arafat-

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html