Wednesday, 8 May 2013

Essay Pada BePe #1 Edisi Puisi M. Kholilurrohman Serta Launching Komunitas jeNANG


Keberanian Kholil Menanamkan Cerita Lama Pada Puisinya[1]
Oleh: Arafat AHC[2]

I

“Menulis adalah sebuah keberanian” kata Pramoedya Ananta Toer. Maka Muhammad Kholilurrohman telah menunjukkan keberaniannya lewat sepuluh puisi yang dikirim kepada saya. Sebab keberaniannya menulis puisi menimbulkan hasrat, atau barangkali sebuah beban moral yang menjadikan saya menulis sebuah tulisan untuk mengulasnya.

…………

Di sini
Ku layangkan berjuta harapan untuk satu sapaan
Ku benamkan berjuta kegelisahan untuk satu senyuman
Dalam diam dan penantian

Mungkin karena aku hanya sekadar
Sekadar kumpulan sisa pasir
Sekadar debu batu yang mengeras
Sekadar kucuran air
Dan sekadar aku

(“Sekadar Aku”, yang menunggu Sapa)

Jika meminjam kata-kata Decrates, “ aku berfikir, maka aku ada”, Kholil telah ada. Sebab dalam  bait  - Di sini/Ku layangkan berjuta harapan untuk satu sapaan/Ku benamkan berjuta kegelisahan untuk satu senyuman/Dalam diam dan penantian-, mula ia bertarung(berharap) kepada sebuah angan yang diinginkannya. Namun pada bait selanjutnya ia seolah berpikir tentang batasnya sebagai manusia (menyadari) tentang sebuah angan itu. -Mungkin karena aku hanya sekadar/Sekadar kumpulan sisa pasir/Sekadar debu batu yang mengeras/Sekadar kucuran air/Dan sekadar aku-. Seharusnya ia tidak merasa pasrah setelah berfikir, tapi ia harus lebih bisa action daripada hanya merasa keterbatasan yang ia miliki, terlihat dari banyaknya kata “sekadar” yang hinggap pada bait tersebut.

                II

………….

Seharusnya aku tak memuja
Saat kau tulikan telinga
Dengan harta, yang terlihat penuh cinta
Juga dengan cinta, yang terlihat menjelma harta
Gemricik recehmu sungguh menghina
Lalu, bungkam benarnya kata
Dan sesatkan logika yang tengah mengembara
Dulu aku mengabdi
Tapi tak pernah kau beri arti
Dulu aku pengagum janji
Yang kini kau ingkari
Tuan,
Ini terakhir kali aku menyebutmu tuan
Tak ada lagi pengabdian
Untuk orang yang menghilangkan perhatian
Setelah usai, dan turun jabatan

(Tuan(?))

                Kembali lagi ikhwal keberanian, dalam puisi, -Tuan(?)-, ia menciptakan sebuah perlawanan atas sebuah ketertindasan. Ia juga sanggup mengikat suara ketertindasannya dalam rima yang begitu indah. Dulu aku mengabdi/Tapi tak pernah kau beri arti/Dulu aku pengagum janji/Yang kini kau ingkari. Puisinya mengingatkan saya pada Musthofa Bisri dengan puisi “Aku Harus Bagaimana”. Setelah mengingat Gus Mus(Musthofa Bisri), pikiran saya pun bertanya, apa jangan-jangan ia men(k)iblatkan gaya berpuisinya kepada penyair asal rembang itu? Sebab ia kalangan santri (yang samasama sebackround dengan Gus Mus).
                Melebar pada diksi yang ia pakai. Banyak sekali ia memakai diksi yang dipakai pada sastra klasik, seperti kita kembali membaca hikayat, babad, dongeng, dll. Kata Tuan, Baginda, maharaja seringkali hinggap pada beberapa sajaknya, sehingga ia- dalam kapasitas pemuisi- merangkap sebagai subyek yang mengingatkan obyek-obyek yang banyak kita tanggalkan pada modernisasi saat ini.
               
III

Puisi-Puisi Kholil memang sesederhana dirinya. Selain diksi yang ia pakai sederhana, pemaknaanpun sederhana. Ada beberapa alasan yang mengharuskan saya mengapresiasi puisinya.
Pertama, ia begitu berani. Ia berani menempuh jalan berpuisi, meski jalan berpuisi bukanlah jalan untuk mencari kehidupan yang “wow” di bumi. Ia berani kembali mengunggah diksi yang barangkali bukan pada musim yang tepat. Keberaniannya yang menurut Pram yakni, pertama , ia berani menulis. Kedua, sebagai seorang pemuda ia membuktikan pernyataan Pram bahwasanya pemuda tak hanya berfungsi sebagai penernak diri, namun ia berfungsi sebagai seorang pekarya. -Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri- Pram.
Kedua, ia berpikir. Ia berpikir bagaimana dirinya harus ada pada puisi lalu menulisnya. Itu sama seperti penyataan decrates diatas , lalu ia mengolaborasikannya dengan pernyataan Pram “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”. Sehingga ia merasa harus ada maka ia berfikir lalu menulis. Ia juga berpikir bagaimana pembaca. Mungkin sampai saat ini pemuisi adalah jalan yang masih dianggap minoritas-puisi belum bisa menyatu dalam masyarakat- sehingga ia menulis puisi tanpa diksi yang rumit, agar puisi dapat menyatu pada masyarakat.

IV

Barangkali ini adalah mula Kholil menjalani hidup sebagai pemuisi sesungguhnya. Sehingga mengharuskan ia banyak membaca –Sebab Penulis yang baik adalah pembaca yang baik-. Selain banyak membaca ia juga harus banyak mereproduksi pikirannya dalam tulisan. Dan sekali lagi, jalan kehidupan masih panjang. Jangan sekali-kali berhenti untu, belajar.


Kudus, 20 April 2013.


[1] Judul yang barangkali essay. Guna menyemarakkan launching komunitas dan BePe (bedah Poeisi) #1, Sabtu, 20 April 2013, di Kediaman Mirza Iqbal. Dalam essay ini banyak sekali memunculkan pemikiran Pramoedya Ananta Toer.
[2] Penyair yang pernah bermusim di Kudus

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html