Wednesday, 8 May 2013

Puisi Pilihan Timur Sinar Suprabana, Edisi 07, Tahun I, Jum'at, 12-04-2013


Sajak Kehilangan

/Di Plataran/

Anak-anak barangkali telah lupa bagaimana cara mengaktifkan permainannya. Permainannya bersembunyi dimana? Plataran tak lagi menampilkan tombol play untuk mereka injak dan berlari-lari. Karung dan layang-layang telah diterbangkan asa yang kita putus lusa lalu. Seperti kita putus jaringan wifi, blueooth, facebook, twitter. Mereka berlarian takut tombol baru kita selaras cande’olo yang diminum setiap cahaya padam.

/Di Masjid/

Kicauan mana lagi yang masih terdengar selain kicauan-kicauan pada bayang-bayang? Suara bertalu mikrofon apalagi. Semua suara telah padam. Ludah keangkuhan kita barangkali yang memadamkannya. Selalu seringnya berdiam diri satu sama lain.

/Di Rumah/

Anak-anak ternyata bermain petak umpet di HP, BB, FB-nya masing-masing di kamar rumahnya. Lalu mengapa mereka bermain di kamar  sendirian? “ alam luar terlalu kejam untuk kami injak-injak dan dipermainkan “ katanya. Permainan ini adalah sepetak permainan yang kita cita-citakan untuknya bermain sehebat mungkin. Lalu mereka semua angkuh mencari kamar-kamarnya sendiri.

/Di Sawah/

Petani gagal memanen kata-kata. Sebab kerbau-kerbau lari terbirit-birit dikejar mesin-mesin:
1.                   Traktor: ia terlalu ganas membajak sawah dan ladang untuk ditanami cinta kemudian.
2.                   Sepeda motor: ia datang menakuti pit onthel, pit kebo: dulu merekalah yang selalu bermandikan  peluh dan asa petani.
3.                   Obat-obat baru: menggeser cita rasa khas sawah. Teletong dari kandang kerbau yang ditabungkannya berulang kali  dengan air mata.

/Di Sungai/

-Tentang ibu-ibu
Mereka bermalasan membuka baju di sepanjang sungai. Kamarnya lebih nyaman untuk dijadikannya mencuci baju penuh parfum-parfum baru dari tanaman baru tanpa cinta.
-Tentang anak-anak
Airnya bertikai dengan anak-anak. Anak-anak takut air mengamuk. Sungai mengamuk ketika snack, permen, cokelatnya anak-anak dititipkan pada tiap hulu, hilir, pinggir, dalam, dan setiap gang-gang sungai istirah akan tepi yang sepi.
-Tentang ikan-ikan
Semuanya rindu mencium bau kaki para petani. Rindu anak-anak menceburkan cintanya. Rindu wangi perawan berkemban saja.

/Di Sekolah/

Siswa mulai tak bisa mengerjakan rumus dan sajaknya. Gurunya asik memanipulasi kata untuk dipresentasikannya pada siswa, pejabat, dan tuhan. Lalu siswanya melucu diri di depan papan tulis yang tak lagi tertulis nama-nama tiap kali pagi merapal kecerdasan masing-masing. Sekolahnya mulai roboh. Hanya gedungnya yang tersisa rapi, gagah, indah.

Rabi’ul Awwal 1434 H, Habib Arafat

Catatan:
Cande’olo: penakut buat anak-anak saat maghrib tiba: digambarkan seperti hantu namun para orang tua memaksudkan cande’olo itu kecandak barang olo(jawa)= Keperangkam dalam kejelekan(Indonesia). Tradisi seperti itu dulu sering dipakai orang desa Jetak, Wedung Demak
Pit Onthel, Pit Kebi: Jenis Sepeda
Teletong: Kotoran Kerbau

2 comments:

  1. fat ,kunjungi blogku yo,hehe ...
    wes tak genti jenenge

    http://lintasankatakata.blogspot.com/

    salam..

    ReplyDelete

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html