Saturday, 5 October 2013

Antologi "Puisi Buat Gus Dur Dari DAM SENGON ke Jembatan Panengel"


Kita Itu Sama

Aku Jawa, kamu Sunda, dia Batak, mereka Dayak
Aku Indonesia, kamu Londo, dia China
Itu sama

Kita itu sama
Dirakit dari beberapa mesin hati, mesin akal, dan mesin nafsu
Dialiri energi darah , udara, air dan elemen-elemen kehidupan
Berbatrai nyawa dan sukma

Kita Itu Sama
Diciptakan oleh Yang Maha Sama

Pondok Janggalan, Muharram 1433 H

Sajak Baru di Tahun Baru

inilah sajak baru di tahun baru. tertulis keheningan. tentang kembang api telah luntur oleh hujan yang membasahi di malam itu. terompetnya pada patah terpotong kegilaan-kegilaan yang telah kau titipkan sebelum malam.

inilah sajak baru di tahun baru. tanpa gedung lantai tiga ratus lima puluh tiga puluh juta seratus delapan puluh sembilan triliun dua milyar empat puluh satu ribu koma tiga tiga enam delapan tujuh satu: ada perawan bermandi uang, ada insinyur berkaca uang, ada kursi berbusa uang, ada kain berbahan uang. itu gedung uang.
dan kami hanya menikmati sajak-sajak yang tercipta dengan kesederhanaan dan kesetaraan.

inilah sajak baru di tahun baru. hanya desa yang tersusun oleh kebersamaan. hanya lurah yang terpilih dengan kebenaran. perangkatnya tersusun dari pengabdian.
dan kamu bilang kami terlalu desa untuk membangun kebudayaan yang berbudaya.

inilah sajak baru di tahun baru. kami hanya menuliskan keamanan adalah kepercayaan. menuliskan kepercayaan itu keterbukaan.

inilah

sajak baru di tahun baru. di tahun baru, sajak baru. sajak baru di tahun baru. di tahun baru sajak baru. baru saja tahun baru. tahun baru, baru saja. sajak baru di tahun baru, sajak baru di tahun baru saja tahun baru, baru saja.



Gubuk Jetak, Shaffar 1434

keterangan foto: di 0 KM, Yogyakarta

Surat Permintaan Kemerdekaan Tubuh-Tubuh

perihal: mata yang tak pernah mengatupkan jendelanya, pada semua warna

kepada, kelamin yang tak pernah kering oleh keringat pembohongan, atau karena onani yang tak pernah reda berdiam diri padamu.

dengan sedikit tidak hormat, maka kami:
mata-mata yang tertusuk senyum.
narasi tubuh berlalu lalang pada kebuntuan jalan.
kamu hanya tinggal diam pada mikrofon yang bertalu, sepenggal intrupsi berdiam diri pada oksigen, darah, air, debu, ketombe, veses, kuku. mereka didiami sekejap. sekejap hilang, tak bersuara lagi. kami kira tanah telah mati, atau kamu yang mati.
ternyata kau hanya tertidur di bawah meja kerjamu. “meja ini ada suara-suara kalian yang belum terekomendasi uang kalian pada kantong-kantong kami” katamu. lalu komersil siapa? aku atau kamu. kamu bilang kami terlalu komersil, untuk menuntut hak hidup, hak pandai, hak merdeka. bukankah kalian adalah jalan untuk memerdekaan kepenjaraan tubuh selama ini.
rasanya kau hanya terkena demam kebaikan lima tahunan sekali. dan kami selalu terjangkit penyakit ketertindasan. maka dari itu kami memohon dengan pisohan kami, yang katamu kami tak menghormatimu. lalu kami ganti dengan puisi-puisi, itupun kau bilang kami terlalu komunis untuk menyebut kata-kata kami. lantas dengan apa kami meminta?
oleh karenanya, kami-kami yang kenyang caci maki. serapah anjing herdok, bahkan jangkrik pun ikut kau bawa-bawa. kami membicarakan tubuh ini, bukan tubuh-tubuh lain. maka lihatlah tubuh ini saja, merdekakan kami  segera.

sekian, tanpa terima kasih.
Semarang, Muharram 1434 H


                                                                                    hormat kami



                                                                                     Tubuh satu, satu tubuh, tubuh Indonesia

2 Puisi di Antologi "INDONESIA DALAM TITIK 13"


Surat Permintaan Kemerdekaan Tubuh-Tubuh

Perihal: Mata yang tak pernah mengatupkan jendelanya, pada semua warna

Kepada, Kelamin yang tak pernah kering oleh keringat pembohongan, atau karena onani yang tak pernah reda berdiam diri padamu.

Dengan sedikit tidak hormat, maka kami:
Mata-mata yang tertusuk senyum.
Narasi tubuh berlalu lalang pada kebuntuan jalan.
Kamu hanya tinggal diam pada mikrofon yang bertalu, sepenggal intrupsi berdiam diri pada oksigen, darah, air, debu, ketombe, veses, kuku. Mereka didiami sekejap. Sekejap hilang, tak bersuara lagi. Kami kira tanah telah mati, atau kamu yang mati.
Ternyata kau hanya tertidur di bawah meja kerjamu. “Meja ini ada suara-suara kalian yang belum terekomendasi uang kalian pada kantong-kantong kami” katamu. Lalu komersil siapa? Aku atau kamu. Kamu bilang kami terlalu komersil, untuk menuntut hak hidup, hak pandai, hak merdeka. Bukankah kalian adalah jalan untuk memerdekaan kepenjaraan tubuh selama ini.
Rasanya kau hanya terkena demam kebaikan lima tahunan sekali. Dan kami selalu terjangkit penyakit ketertindasan. Maka dari itu kami memohon dengan pisohan kami, yang katamu kami tak menghormatimu. Lalu kami ganti dengan puisi-puisi, itupun kau bilang kami terlalu komunis untuk menyebut kata-kata kami. Lantas dengan apa kami meminta?
Oleh karenanya, kami-kami yang kenyang caci maki. Serapah anjing herdok, bahkan jangkrik pun ikut kau bawa-bawa. Kami membicarakan tubuh ini, bukan tubuh-tubuh lain. Maka lihatlah tubuh ini saja, merdekakan kami  segera.

Sekian, tanpa terima kasih.
Semarang, Muharram 1434 H


                                                                                    Hormat kami



                                                                                     Tubuh satu, satu tubuh, tubuh Indonesia
 


Sajak Baru Di Tahun Baru

Inilah sajak baru di tahun baru. Tertulis keheningan. Tentang kembang api telah luntur oleh hujan yang membasahi di malam itu. Terompetnya pada patah terpotong kegilaan-kegilaan yang telah kau titipkan sebelum malam.
Inilah sajak baru di tahun baru. Tanpa gedung lantai tiga ratus lima puluh tiga puluh juta seratus delapan puluh sembilan triliun dua milyar empat puluh satu ribu koma tiga tiga enam delapan tujuh satu: ada perawan bermandi uang, ada insinyur berkaca uang, ada kursi berbusa uang, ada kain berbahan uang. Itu gedung uang.
                Dan Kami hanya menikmati sajak-sajak yang tercipta dengan kesederhanaan dan kesetaraan
Inilah sajak baru di tahun baru. Hanya desa yang tersusun oleh kebersamaan. Hanya lurah yang terpilih dengan kebenaran. Perangkatnya tersusun dari pengabdian.
                Dan kamu bilang kami terlalu desa untuk membangun kebudayaan yang berbudaya
Inilah sajak baru di tahun baru. Kami hanya menuliskan keamanan adalah kepercayaan. Menuliskan kepercayaan itu keterbukaan.
Inilah
Sajak baru di tahun baru. Di tahun baru, sajak baru. Sajak baru di tahun baru. Di tahun baru sajak baru. Baru saja tahun baru. Tahun baru, baru saja. Sajak baru di tahun baru, sajak baru di tahun baru saja tahun baru, baru saja.

Gubuk Jetak, Shaffar 1434 H

Buletin Keris Edisi September 2013 ada satu Puisi Arafat AHC


Perempuan Dan Api

Sambil disebut-sebutn nama-nama tuhan, seorang perempuan melaknat diri. Berbincang dengan amarah tak putus oleh api. Ia berlarian mengejar angan, membunuh kata-kata, bahkan mengajak tuhan menyulut api, demi angan abadi di tangan.
Ada kalanya perempuan-perempuan menyilangkan teori minus dan plus agar menjadi plus. Namun sampai kapanpun plus hanya terjadi bila plus dikali plus, atau minus dikali minus.

Setelah perempuan memanggil tuhan, malaikat-malaikat pun diajak membakar perempuan lain. Dia tak terima naskah dramanya di pinjam. Dia marah.
Sembari marah, anaknya sibuk menciptakan naskah cerita ibunya dengan perempuan lain.
Api-api menjadi taman penghias naskah drama perempuan-perempuan.

Api adalah penghangat suasana hening pasca kata-kata terdiam beku. Api bukanlah pembakar kata-kata lain masih rapi berbaris pada kertas-kertas. Seharusnya dia menitipkan api pada tubuhnya, bukan menyulut api pada kelamin perempuan lain.
Api-api tak akan menyala, tak akan membakar, bila kita tak memberi aksi pada reaksi tersebut. Akan tetapi dia masih saja beraksi memercikkan panas pada perempuan lainnya. Dan, api membakarnya.

Rumahnya terbakar cemburu, dan tubuhnya hangus akan amarah. Anak-anaknya hilang tanpa bekas di tubuhnya. Ternyata anaknya di surga bermain api unggun dengan teman-temannya. Dan dia di dunia terpanggang api sendiri. Kekasihnya lari bersama perempuan lain di sepanjang rel kereta api.

Perempuan itu sendiri. Menari bersama api.

Ngaliyan, Dzulhijjah 1433 H

Ruang Kelas Tak Menghadirkanmu


pada pijar lampu yang menggigil. tiap waktu, tangan-tangan memanggil. kamu yang terlalu abstrak untuk ku presentasikan. dan kawan-kawan berlari mengejar pertanyaan. dimana jawaban, yang telah ku simpan di lacimu? kau dimana?

kau tak pernah hadir setiap kali aku mempresentasikan namamu. lalu bagaimana kawan-kawan bisa mengakhirkan pertanyaannya. sedangkan kau tak nampak, disaat aku begitu berharap padamu.

di lacimu, selalu ku absen daftar isi lacimu. pertanyaan lagi, lagi-lagi pertanyaan yang melambaikan tangan sambil bertanya-tanya lagi. laci-laciku makin menumpuk oleh pertanyaan yang tak tuntas kita jawab. lalu bagaimana aku mempresentasikanmu?

kau dimana?
aku berkali-kali memanggil namamu, memanggil baumu, memanggil kata-katamu. bukan kau yang hadir menyampaikan jawaban. tapi pertanyaan terus melambaikan tangan memanggil-manggil kita.

kau terlalu abstrak untuk ku presentasikan, jika kau tak hadir di sini. menemani kegelisahan yang bercakap ria dengan pertanyaan-pertanyaan.

Ngaliyan, Dzulhijjah 1433

keterangan foto: suatu ketika di makam Habib Shodiq (yek Nde') Kriyan, Kalinyamatan, Jepara.

Kolam Hati


:alGhozali

sebaiknya aku menggali atau mengairi?
telah lama aku mengairi kolam ini
lima arus sungai

sebaiknya aku menggali atau mengairi?
aku masih bekerja sebagai pengair
tapi kolam keruh, lantaran sampah menyumbat

lalu aku harus menggali atau mengairi?
tapi aku takut menggali
katamu itu asyik
aku terlalu takut lupa daratan
sebab nanti penyelaman itu mengasyikan
sebab aku masih nikmat berenang di sungai

lalu aku harus menggali atau mengairi?
sebab aku tak mau menggali bukan air
seperti tetangga keliru menggali air hasratnya

Yogyakarta, Rabi’ul Akhir 1434

keterangan foto: kanan-kiri: Sholihudin Al Gholany, "?", Arif Rahman, Bagus Dwi Hananto, pada saat launching Komunitas jeN4NG pada tanggal 21 April 2013.

Semusim Kenangan


#semusim kenangan yang bergelanyut pada genangan
kita masih setia menanti kering yang enggan melanda
lampion-lampion tenggelam pada asa
belum tuntas mendewasakan diri

#semusim kenangan di musim kesedihan
sebab kesedihan adalah perjudian
pergenangan menewaskan air mata
anak-anak memainkannya.
di selangkangan penuh genangan

#semusim kenangan di desa tenggelam
kita menyanyikan lagu sendu
aiyah, sumpahsumpah kita menyampah pada rumah
karam oleh air mata dan kesedihan
mula tercipta keberingasan dan kerakusan berhala diri
buku-buku sebanjir muka merah kita

#semusim kenangan yang tertulis di catatan harian kesedihan
pertikaian
keegoisan
kesombongan
kitaambangkan pada genangan
kesedihan ini perjudian lalu telah kita pasang di bandar seberang

Semarang-Demak, Jumadil Akhir 1434
 
keterangan foto: diambil saat menghadiri acara Selamatan 70 Tahun Gus Mus

Puisi-puisi di Suara Merdeka, 26 Mei 2013 M


Semusim Kenangan

#semusim kenangan yang bergelanyut pada genangan
kita masih setia menanti kering yang enggan melanda
lampion-lampion tenggelam pada asa
belum tuntas mendewasakan diri

#semusim kenangan di musim kesedihan
sebab kesedihan adalah perjudian
pergenangan menewaskan air mata
anak-anak memainkannya.
di selangkangan penuh genangan

#semusim kenangan di desa tenggelam
kita menyanyikan lagu sendu
aiyah, sumpahsumpah kita menyampah pada rumah
karam oleh air mata dan kesedihan
mula tercipta keberingasan dan kerakusan berhala diri
buku-buku sebanjir muka merah kita

#semusim kenangan yang tertulis di catatan harian kesedihan
pertikaian
keegoisan
kesombongan
kitaambangkan pada genangan
kesedihan ini perjudian lalu telah kita pasang di bandar seberang

Semarang-Demak, Jumadil Akhir 1434 H

Kolam Hati

: Al Ghozali

Sebaiknya aku menggali atau mengairi?
Telah lama aku mengairi kolam ini
Lima arus sungai

Sebaiknya aku menggali atau mengairi?
Aku masih bekerja sebagai pengair
Tapi kolam keruh, lantaran sampah menyumbat

Lalu aku harus menggali atau mengairi?
Tapi aku takut menggali
Katamu itu asyik
Aku terlalu takut lupa daratan
Sebab nanti penyelaman itu mengasyikan
Sebab aku masih nikmat berenang di sungai

Lalu aku harus menggali atau mengairi?
Sebab aku tak mau menggali bukan air
Seperti tetangga keliru menggali air hasratnya

Yogyakarta, Rabi’ul Akhir 1434 H

Ruang Kelas Tak Menghadirkanmu

Pada pijar lampu yang menggigil. Tiap waktu, tangan-tangan memanggil. Kamu yang terlalu abstrak untuk ku presentasikan. Dan kawan-kawan berlari mengejar pertanyaan. Dimana jawaban, yang telah ku simpan di lacimu? Kau dimana?

Kau tak pernah hadir setiap kali aku mempresentasikan namamu. Lalu bagaimana kawan-kawan bisa mengakhirkan pertanyaannya. Sedangkan kau tak nampak, disaat aku begitu berharap padamu.

Di lacimu, selalu ku absen daftar isi lacimu. Pertanyaan lagi, lagi-lagi pertanyaan yang melambaikan tangan sambil bertanya-tanya lagi. Laci-laciku makin menumpuk oleh pertanyaan yang tak tuntas kita jawab. Lalu bagaimana aku mempresentasikanmu?

Kau dimana?
Aku berkali-kali memanggil namamu, memanggil baumu, memanggil kata-katamu. Bukan kau yang hadir menyampaikan jawaban. Tapi pertanyaan terus melambaikan tangan memanggil-manggil kita.

Kau terlalu abstrak untuk ku presentasikan, jika kau tak hadir di sini. Menemani kegelisahan yang bercakap ria dengan pertanyaan-pertanyaan.

Ngaliyan, Dzulhijjah 1433 H

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html