Saturday, 5 October 2013

2 Puisi di Antologi "INDONESIA DALAM TITIK 13"


Surat Permintaan Kemerdekaan Tubuh-Tubuh

Perihal: Mata yang tak pernah mengatupkan jendelanya, pada semua warna

Kepada, Kelamin yang tak pernah kering oleh keringat pembohongan, atau karena onani yang tak pernah reda berdiam diri padamu.

Dengan sedikit tidak hormat, maka kami:
Mata-mata yang tertusuk senyum.
Narasi tubuh berlalu lalang pada kebuntuan jalan.
Kamu hanya tinggal diam pada mikrofon yang bertalu, sepenggal intrupsi berdiam diri pada oksigen, darah, air, debu, ketombe, veses, kuku. Mereka didiami sekejap. Sekejap hilang, tak bersuara lagi. Kami kira tanah telah mati, atau kamu yang mati.
Ternyata kau hanya tertidur di bawah meja kerjamu. “Meja ini ada suara-suara kalian yang belum terekomendasi uang kalian pada kantong-kantong kami” katamu. Lalu komersil siapa? Aku atau kamu. Kamu bilang kami terlalu komersil, untuk menuntut hak hidup, hak pandai, hak merdeka. Bukankah kalian adalah jalan untuk memerdekaan kepenjaraan tubuh selama ini.
Rasanya kau hanya terkena demam kebaikan lima tahunan sekali. Dan kami selalu terjangkit penyakit ketertindasan. Maka dari itu kami memohon dengan pisohan kami, yang katamu kami tak menghormatimu. Lalu kami ganti dengan puisi-puisi, itupun kau bilang kami terlalu komunis untuk menyebut kata-kata kami. Lantas dengan apa kami meminta?
Oleh karenanya, kami-kami yang kenyang caci maki. Serapah anjing herdok, bahkan jangkrik pun ikut kau bawa-bawa. Kami membicarakan tubuh ini, bukan tubuh-tubuh lain. Maka lihatlah tubuh ini saja, merdekakan kami  segera.

Sekian, tanpa terima kasih.
Semarang, Muharram 1434 H


                                                                                    Hormat kami



                                                                                     Tubuh satu, satu tubuh, tubuh Indonesia
 


Sajak Baru Di Tahun Baru

Inilah sajak baru di tahun baru. Tertulis keheningan. Tentang kembang api telah luntur oleh hujan yang membasahi di malam itu. Terompetnya pada patah terpotong kegilaan-kegilaan yang telah kau titipkan sebelum malam.
Inilah sajak baru di tahun baru. Tanpa gedung lantai tiga ratus lima puluh tiga puluh juta seratus delapan puluh sembilan triliun dua milyar empat puluh satu ribu koma tiga tiga enam delapan tujuh satu: ada perawan bermandi uang, ada insinyur berkaca uang, ada kursi berbusa uang, ada kain berbahan uang. Itu gedung uang.
                Dan Kami hanya menikmati sajak-sajak yang tercipta dengan kesederhanaan dan kesetaraan
Inilah sajak baru di tahun baru. Hanya desa yang tersusun oleh kebersamaan. Hanya lurah yang terpilih dengan kebenaran. Perangkatnya tersusun dari pengabdian.
                Dan kamu bilang kami terlalu desa untuk membangun kebudayaan yang berbudaya
Inilah sajak baru di tahun baru. Kami hanya menuliskan keamanan adalah kepercayaan. Menuliskan kepercayaan itu keterbukaan.
Inilah
Sajak baru di tahun baru. Di tahun baru, sajak baru. Sajak baru di tahun baru. Di tahun baru sajak baru. Baru saja tahun baru. Tahun baru, baru saja. Sajak baru di tahun baru, sajak baru di tahun baru saja tahun baru, baru saja.

Gubuk Jetak, Shaffar 1434 H

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html