Saturday, 5 October 2013

Puisi-puisi di Suara Merdeka, 26 Mei 2013 M


Semusim Kenangan

#semusim kenangan yang bergelanyut pada genangan
kita masih setia menanti kering yang enggan melanda
lampion-lampion tenggelam pada asa
belum tuntas mendewasakan diri

#semusim kenangan di musim kesedihan
sebab kesedihan adalah perjudian
pergenangan menewaskan air mata
anak-anak memainkannya.
di selangkangan penuh genangan

#semusim kenangan di desa tenggelam
kita menyanyikan lagu sendu
aiyah, sumpahsumpah kita menyampah pada rumah
karam oleh air mata dan kesedihan
mula tercipta keberingasan dan kerakusan berhala diri
buku-buku sebanjir muka merah kita

#semusim kenangan yang tertulis di catatan harian kesedihan
pertikaian
keegoisan
kesombongan
kitaambangkan pada genangan
kesedihan ini perjudian lalu telah kita pasang di bandar seberang

Semarang-Demak, Jumadil Akhir 1434 H

Kolam Hati

: Al Ghozali

Sebaiknya aku menggali atau mengairi?
Telah lama aku mengairi kolam ini
Lima arus sungai

Sebaiknya aku menggali atau mengairi?
Aku masih bekerja sebagai pengair
Tapi kolam keruh, lantaran sampah menyumbat

Lalu aku harus menggali atau mengairi?
Tapi aku takut menggali
Katamu itu asyik
Aku terlalu takut lupa daratan
Sebab nanti penyelaman itu mengasyikan
Sebab aku masih nikmat berenang di sungai

Lalu aku harus menggali atau mengairi?
Sebab aku tak mau menggali bukan air
Seperti tetangga keliru menggali air hasratnya

Yogyakarta, Rabi’ul Akhir 1434 H

Ruang Kelas Tak Menghadirkanmu

Pada pijar lampu yang menggigil. Tiap waktu, tangan-tangan memanggil. Kamu yang terlalu abstrak untuk ku presentasikan. Dan kawan-kawan berlari mengejar pertanyaan. Dimana jawaban, yang telah ku simpan di lacimu? Kau dimana?

Kau tak pernah hadir setiap kali aku mempresentasikan namamu. Lalu bagaimana kawan-kawan bisa mengakhirkan pertanyaannya. Sedangkan kau tak nampak, disaat aku begitu berharap padamu.

Di lacimu, selalu ku absen daftar isi lacimu. Pertanyaan lagi, lagi-lagi pertanyaan yang melambaikan tangan sambil bertanya-tanya lagi. Laci-laciku makin menumpuk oleh pertanyaan yang tak tuntas kita jawab. Lalu bagaimana aku mempresentasikanmu?

Kau dimana?
Aku berkali-kali memanggil namamu, memanggil baumu, memanggil kata-katamu. Bukan kau yang hadir menyampaikan jawaban. Tapi pertanyaan terus melambaikan tangan memanggil-manggil kita.

Kau terlalu abstrak untuk ku presentasikan, jika kau tak hadir di sini. Menemani kegelisahan yang bercakap ria dengan pertanyaan-pertanyaan.

Ngaliyan, Dzulhijjah 1433 H

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html