Friday, 6 June 2014

Cah Nom, Kon Neng Endi?

Oleh: Arafat Ahc

Jika Pemerintahan sudah tidak bisa memberikan ruang bagi pelaku kesenian, kebudayaan, serta basis kepemudaan—olahraga, serta bakat-bakatnya—, maka kami siap untuk mengajak dan bersama-sama hidup di tengah masyarakat dengan potensinya. Sebab hidup tanpa kreatifitasnya, maka anda-anda hanya seperti gurun tanpa pepohonan dan air. Tanpa kalian, kamipun tak bisa membawa baju desa yang arif dan bijaksana. Maka marilah kita bangun serta tata desa tanpa oknum, tanpa kerakusan, tanpa perselisihan, serta tanpa virus kota yang merebak—seolah tak ada vaksin untuk menawarkannya—.
Mengutip Ir. Soekarno, “ Berikan aku 10 pemuda yang cinta akan tanah airnya, maka aku akan mengguncang dunia. “, maka kamipun PSI-AL meminta 10 pemuda itu untuk membangun desa, membangun peradaban yang arif. Mengembalikan kenusantaraan ini! Mengembalikan ruh-ruh warisan Walisongo! Sepuluh saja, tidak lebih.
Kelemahan kita yakni, pertama: kita mudah merasa tua, dan merasa ingin dituakan, padahal usia sebatas takdir yang mestinya muda bukanlagi berpedoman pada usia. Siapa yang merasa muda—entah usianya berapa—, dia pasti akan mempunyai pengaruh manfaat terhadap masyarakat—tidak bertolak pada material belaka—, yakni siapa yang benarbenar ikhlas merayakan kehidupannya dengan keselarasan sesama makhluk Allah. Kedua: kita tidak diberikan kebebasan seluas-luasnya namun bertanggung jawab dari (yang merasa) tua.
Sebuah bangsa besar akan terlahir dari tangan-tangan para pemuda, dulu Ir. Soekarno memerlukan kaum muda untuk memerdekakan bangsa ini—meski setelah rezim 32 tahun sampai saat ini diisi yang tua, yang meninggalkan dan membiarkan pemudanya seperti bangkai hidup—. Tak beda seperti gerakan KH. Hasyim Asy’ari, Kangjeng Nabi Muhammad, serta bagaimana gerakan-gerakan berbasis kepemudaan yang dilakukan Sunan Kalijaga.
Mari kita kobarkan darah merah para pemuda, dengan menempatkan pemuda sebagai basis kemasyarakatan, yang tua di belakang sebagai putihnya. Seperti bendera kita yang menempatkan merah di atas, putih di bawah. Sebab ideologi bangsa kita bisa bergairah sebab merah lalu disangga putih. Dan kembalikan serta percayakan kepada para pemuda untuk berdiri di garda paling terdepan dalam membangun peradaban desa yang arif di desa Indonesia!

Arafat AHC, Mapping Project di Komunitas jeNANG Kudus.

ada di Buletin Provokatif edisi 2

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html