Friday, 6 June 2014

Renungan #1 (Komunitas jeN4NG-Kudus, April 2014)



Kabar Pagi Untuk Srun II

Adakah kerinduan yang masih kau tanam di jantungmu?
Berdetak, berdenyut, menghirup namaku.
Mengalir setiap jalur sel lajur darah-darah.

Srun, masihkah kau menyimpan jejak
kaki yang kutinggal
tuk menunggal di halaman rumahmu?
Lalu kelak anak-anak kita yang entah dimana akan memanennya.

Ohya, aku masih setia menemani kekeringan yang menjadi di tubuhku

Perpustakaan Sastra Indonesia-Arafat Library Demak, 1434-Rabi’ul Awwal 1435 



Kabar Risau

:Ibu yang berkebaya merah, jarit putih

Ibu, adakah bapak
masih setia merawat dua warna
di jantung kita?
tentang merah yang Al Lah
serta putih yang kasih

Ibu,  mestinya bapak dimana?
kucari di terumbu dalam Raja Ampat
lalu, mercusuar tertinggi di prambanan
masihsaja tak kasat
oleh mata putih bola merah

atau, bapak telah mati kaubunuh, bu?
Sebab anakanakmu banyak mati
oleh tangis kelaparan
anakmu murtad oleh risau ketidakadilan

Aku di kamar sebelah utara bagian tengah
Ja dan Wi atau Ja dan Wa
atau Jo dan Wo
masih setia meratapi
risau anakanakmu
yang samar oleh kabar kabur kubur

Gubuk Jetak, Jumadil Akhir 1435




Selamat Pagi

tak ada selain selamat pagi yang bisa
menyapamu, rul.
meski semilir salam tak pernah kaudengar

iya, kamu, rul.
sekian embun selalu membujuk kembalimu
aku di satu embun yang tak kausapa
kau kebingungan mencari pagi yang kusemat
di daun ketidakperdulian selalusaja kau sirami benci dan hirau, risau, acuh
pada kedatanganku

selamat pagi, rul
aku embun yang menguap panas tubuhmu
terimalah salam kesekian kali yang terasing dari pagimu

Gubuk Jetak, Jumadil Awwal 1434


Nyanyian Hotel

Di kota-kota
batu bata
tertawa
kaca-kaca
berdendang
nyiur kelupaan

Kita: manusia
lebih sumringah
ketimbang diskusi sastra
tak jelas kesimpulannya

Kita: sebagai apa?
Penyair atau Pemuisi
Sastrawan atau Pesastra
“ jangan-jangan kalian hanya orang gila yang diluluskan dari rumah-rumah ramah? “
                                lalu, kita merasa
                                berbangga hati
                                tertawa sendiri
                                mati tanpahati

Kata kawan, ini hanya tali sebagai penguat mereka
menari  di gedung-gedung
bernyanyi di sudut-sudut kamar
di resepsionis
di tempat makan
di toilet

ini sekedar nyanyian
penghibur diri
di hotel
tanpa anarkhis
tanpa rasis

FameHotel, Serpong, Tangerang Selatan, Shaffar 1435

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html