Wednesday, 1 October 2014

Bacalah!

Oleh: Arafat Ahc *)

I
Dalam KBBI kata Baca,membaca mengandung definisi melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis(dengan melisankan atau hanya dalam hati). Tidak sekedar dalam tulisan pekerjaan membaca kita lakukan; membaca situasi, membaca keadaan, membaca pengalaman serta membaca membaca lainnya. Membaca memang sesuatu hal yang membosankan dikalangan kita. “ketimbang moca-moco, kerjo kono lho! Men sugih.”, ucapan itu sering terlontar di mulut manis anda.
Mari putar kembali ingatan sejarah tentang Nabi Sulaiman—‘Alaih(is)Salam—. Dulu beliau diberikan tiga pilihan dari Allah yakni ilmu(membaca), harta atau tahta. Beliau lebih memilih membaca(ilmu), dan hasilnya ia berhasil menjadi raja(tahta) dan mempunyai segudang kekayaan(harta).
Tokoh-tokoh lama semisal Al Ghozali, Ibnu Sina, Imam Syafi’i, Al Jabar, sampai Ranggawarsita, Raden Syahid, Raden Fatah, mereka semua dikenal sebagai orang hebat sebab membaca. Tokoh-tokoh saat ini seperti Musthofa Bisri, Jusuf Kalla, Said Aqil Siradj, Sahal Mahfudz, Abu Rizal Bakrie, Emha Ainun Nadjib, sampai Choliel Idris, Basyir Muhsin, serta Ali Rodli, mereka semua sukses pada bidangnya disebabkan membaca. Lalu apa yang kurang meyakinkan dari pekerjaan membaca. Apa memang anda semua punya cita-cita dibodohi oleh pemerintahan serta antek-anteknya sebab ketidakmauan anda semua untuk membaca! Kalau memang seperti itu kemauanmu, maka teruskanlah kemalasan anda untuk terus berbodoh ria! Semoga anda tidak dalam prediksi buruk saya. Aamin.

II
Iqra’ B(i)Ismi Rabbika(al)Ladzii Kholaq”(QS. Al ‘Alaq: 1)
Membaca, ya, ayat tersebut memerintahkan kita untuk membaca. Pertanyaannya kenapa ayat pertama yang turun di bumi merupakan ayat tentang perintah membaca. Atau dalam goa saat pertemuan Jibril menyerahkan wahyu tersebut kepada Nabi Muhammad—Shallawwahu ‘Alaihi Wa Sallam, sampai ia harus mengulangi kata Iqra’ berulang-ulang? Pasti ada apa-apa dalam perintah tersebut!
Ya, sebab dengan membaca manusia akan menjadi bisa memahami apa yang ada dalam al qur’an—dalam kapasitas kecil permaksudan ayat tersebut— juga nantinya akan melebar pada pengetahuan-pengetahuan lain untuk kembali lagi kepada Qur’an. Maka bacalah! Sampai-sampai Muhammad SAW di dalam goa dihajar Jibril dengan tanda “!” sampai tiga kali.
Maka bacalah! Bukankah Muhammad seorang nabi—yang sekaligus rasul bergelar uswatun hasanah—, lalu kenapa Jibril harus mengulangi perintah membaca. Apa Muhammad begitu bodoh? Aih, nalar paham saya mengatakan tidak. Itu hanya sebuah semiotika yang mestinya kita pahami sebagai suatu perintah yang sangat berlebih terhadap kita yang sekedar berstatus manusia biasa—bukan rasul, bukan nabi—. Jika Nabi saja diperintah tiga kali—Iqra’, Iqra’, Iqra’— lalu kita yang sekedar manusia mestinya berpuluh, beratus, beribu, bahkan berjuta kali dalam membaca.
Tidak sekedar pemaknaan secara matematis saja dalam metafora yang ditimbulkan ayat tersebut. Suatu personifikasi bahwasanya baca adalah kehidupan itu sendiri. Ah, kenapa saya mesti panjang lebar membicarakan soal tafsir ayat tersebut, itu kan tugasnya mufassir. Saya akhiri saja sampai sini mengenai sebab begitu samudera jika kita unggah makna-makna yang terkandung dalam diksi-diksi AlQur’an. Maka bacalah! Sebab disitu nanti kita akan menemukan makna-makna lain.

III
Apa kurang yakin, apabila “baca” adalah suatu kehidupan yang bisa menghidupkan manusia sebagai manusia semestinya? Mari kita lihat diri tatkala dalam hidup kita tidak sanggup membaca apa-apa yang telah tertulis maupun ditulis. Jika anda tak sanggup membaca dan merasakan, maka saya saja yang akan membacanya dan merasainya bahwa hidup tanpa membaca seperti kelapa tanpa air serta daging degannya. Maka bacalah! Sebab manusia bisa disebut manusia tidak sekedar seonggok tubuh yang dulunya terbuat dari mani lantas dengan hebatnya Allah, Sang Pencipta, melahirkannya dari rahim seorang wanita bernama ibu. Namun manusia akan dikatakan sebagai manusia bila dalam pikirnya—serta dalam pahamnya— mempunyai isi yang sanggup mengenalkan kehidupan serta pencipta kehidupan. Maka bacalah!
Saya jadi teringat dengan apa yang pernah dibicarakan Emha Ainun Nadjib, Budayawan Yogyakarta, bahwa manusia sekarang hanya menginginkan kaldu rasa ayam, bukan ayam beneran. Maka jangan-jangan anda merupakan bagian dari kaldu rasa manusia, bukan manusia beneran? Semoga saja tidak dalam prediksi saya lagi, Aamiin.
Mari membaca…….

*) Mahasiswa Prodi Teknik Arsitektur Universitas Pandanaran Semarang.

di Buletin Provokatif Perdana

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html