Thursday, 30 April 2015

Naluri Luffy, Karomah Kang Dul

Oleh: Arafat Ahc
Rais Tanfidziyyah PeSaN-ALiD Demak

            Siapa yang belum nonton anime One Piece? Pasti sedulur-sedulurku sudah pernah menontonnya, kalaupun belum saran saya tontonlah. Meski sekedar anime, tapi banyak ibrah yang (mungkin) didapat. Anime yang ditokohi oleh Monkey D. Luffy, seorang manusia yang memakan buah gommu gommu no, menjadikannya menjadi manusia karet. Sayangnya, Luffy—sebutan Monkey D. Luffy— tergolong orang bodoh, tak tahu apa-apa dan mudah lupa—katakanlah pelupa—.
            Ketika menontonnya, pikiran saya hanya teringat pada sedulur saya, Kang Dul. Soalnya—tanpa diisi jawabannya—, dari sudut pandang karakteristik, mereka hampir (jika tidak hampir, ya cukup) mirip. Mereka sama-sama bodoh, sama-sama tak tahu apa-apa. Sama-sama pelupa—jika diingatkan dia kembali ingat—.
Gegara sahabat saya, Gus Iqbal, padahal sebelumnya saya termasuk orang yang sedikit alergi menonton anime kecuali Spongebob Squarpants dan Doraemon—itupun karena sudah dicepaki televisi, ya, sebab kebiasaan saya menjadikan televisi teman disaat makan saja—, yang memaksa menonton anime tersebut. Gus Iqbal yang nantinya bertanggungjawab jika kemudian hari membuat saya sebagai suatu kemudharatan bagi sesama, atau jika nanti ditanya malaikat karena adanya anime One Piece, maka Gus Iqbal lah, yang akan saya laporkan—jika jadi dipermasalahkan di yaumil ba’ats—, wong kesalahan murid itu tergantung pada pendidikan yang diberikan gurunya. Jadi saya aman-aman saja menonton One Piece, soalnya saya sudah mempunyai sanad pertanggungjawaban guru (kelak), wallahu ‘alam.
Kembali ke Kang Dul dan Luffy. Mereka sama-sama punya ambisi besar. Kalau Luffy, berambisi menjadi Raja Bajak Laut, entah itu suatu yang manfaat atau malapetaka, tapi pada kenyataan animenya, segala yang dilakukan Luffy selalu berlandaskan kemanfaatan. Meski kadang (sebelum mengenal haki pada dirinya) dia tidak mempertimbangkan kemanfaatan yang dicapai dengan kemalapetakaan yang diperolehnya. Hanya satu, berlandaskan asas kekomunalannya.
Jangan-jangan Luffy sudah membaca Surat At Taubah ayat 71, “Wal mu’minuna wal mu’minaatu ba’dhuhum auliyaau ba’dhin. .......” sehingga, menjadikannya terus membela siapapun yang sudah dianggapnya teman. Ketika Nami, salah satu teman bajak lautnya, menghadapi masalah, permusuhan dengan bajak laut Arlong, ia melindungi Nami—beserta desanya— dan tak segan-segan membunuh Arlong—beserta kru bajak lautnya—, sampai tumpah darah dan energi Luffy. Begitupun yang dialami Sanji, Chopper, Robin, teman-teman bajak laut Luffy. Tak peduli seberapa kuat musuhnya, bagaimanapun keadaannya, jika ada yang memusuhi dan melukai temannya, Luffy akan menjadi Auliya’ bagi temannya.
Sayangnya Luffy tidak “.......... wa yuqiimuuna assholaata wa yu’tuuna azzakaata  wa yuthii’uuna Allaha wa Rasuulahuu. Ulaaaika sayarhamuhumu Allahu. Inna Allaha ‘azizun hakim.”, atau memang penulis naskahnya sengaja tidak menampakkan sisi spiritualnya, atau karena memang jalan spiritual yang ditempuh sudah berbeda. Barangtentu terlepas dari agama yang dianut Luffy, ia telah menjadi “Wal mu’minuna wal mu’minaatu ba’dhuhum auliyaau ba’dhin. Ya’muruna bilma’rufi wa yanhauna ‘an ilmukari..........” dari kelengkapan ayat 71 surat AtTaubah “Wal mu’minuna wal mu’minaatu ba’dhuhum auliyaau ba’dhin. Ya’muruna bilma’rufi wa yanhauna ‘an ilmukari wa yuqiimuuna assholaata wa yu’tuuna azzakaata  wa yuthii’uuna Allaha wa Rasuulahuu. Ulaaaika sayarhamuhumu Allahu. Inna Allaha ‘azizun hakim.”.
Sementara Kang Dul, menjadi ayat tersebut secara penuh. Tidak ada yang tertinggal sekalimatpun dari keseluruhan ayat itu. Hanya saja kita tak pernah memandang Kang Dul secara keseluruhan sudut pandang dan angle yang kita bidikkan kepadanya.
Ambisi terbesar Kang Dul hanya ingin bertemu dengan Allah dan bersanding disampingNya. Oleh karena jalan yang seperti apapun, sesulit memintal benang di lautan, serumit memilin minyak di dalam kolam, pastinya Kang Dul dengan sukarela menempuhnya. Bahkan jangan dirinya, ia sendiri rela (sepertinya) untuk disembelih seperti Nabi Ismail jika itu adalah kehendak Allah. Berbeda dengan Luffy, Kang Dul selalu mempertimbangkan setiap langkah yang akan dilakukannya. Kang Dul mempertimbangkan kemanfaatan dan kemudharatan yang didapat sebelum melangkah, meskipun hal seperti itu menimpa temannya.

Naluri Luffy

Tanpa ayat pun, tanpa kitab sucipun, sebenarnya manusia mampu melihat mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang buruk. Hanya saja kekalahan pada diri sendiri yang membuat kita (kadang) sulit membedakan kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kesalahan.
Seburuk manusia pastilah tahu bahwa dirinya sedang melakukan kebaikan atau keburukan. Sesalah-salahnya manusia, juga mengetahui bahwa dirinya sedang benar maupun salah. Itulah naluri manusia yang ditumbuhkan sejak ruh bersemayam pada badan. Sejak Adam diciptakandari tanah di bumi surga. Oleh karenanya, setiap manusia masih memiliki kemungkinan-kemungkinan dan peluang untuk merubah hitam menjadi putih, putih menjadi hitam, bahkan putih bisa disulap jadi abu-abu, pun hitam bisa menjadi pelangi.
Karena kita telah mengkotak-kotakkan diri dalam wadah label pekerjaan. Kita begitu sempit membagi antara baik dan benar serta salah dan buruk. Pekerjaan yang baik dan benar semisal polisi, jaksa, hakim, pegawai negeri, dll. Sementara pekerjaan salah dan buruk yakni pencopet, penipu, pemulung, dll. Seperti halnya jika dari awal saya hanya menulis frasa “Luffy Raja Bajak Laut” pastilah sedulur-sedulurku akan memasukkannya pada kotak “ia orang salah dan buruk”, tanpa mempertimbangkan kemungkinan kronologis cerita hidupnya.
Luffy adalah maujud yang saya kembangkan menjadi wujud praktis ditengah kaburnya kebenaran dan kebaikan. Ambil saja KPK dan Polri sebagai perwujudannya, atau ketegangan gubernur DKI Jakarta dan DPRDnya. Siapa yang berani mengatakan dan menjawab pertanyaan siapa yang benar dan baik diantara mereka? Jika ada yang berani menjawab tentulah saya tidak akan percaya seratus persen sebab kemungkinan masih ada. Bisa saja, mereka hanya bentuk pengkaburan dari suatu kejahatan yang lebih besar dari yang kita anggap sebagai kebaikan dan kebenaran yang begitu kecil.
Maka marilah kita kembali belajar dan kembali bertanya pada diri kita. Kembali pulang ke timur. Kembali ke kampung halaman. Kembali menjadi diri kita yakni sesuai naluri kemanusiaan kita. Belajar praktisnya dari Luffy, sebelum mengenali hakinya, ia hanya berdasarkan naluri kemanusiaannya untuk melangkah. Meskipun (kadang) tak segan membantai lawan, Luffy tahu diri, jika lawannya memang layak untuk dibunuh maka dibunuhlah. Jika lawannya, tanpa dibunuh bisa bertaubat maka ia hanya mengalahkannya tanpa membunuh.
Dari naluri, Luffy tak memandang antara suku, ras, pekerjaan, agama bahkan bangsa dari teman-temannya. Nami, yang semula pencuri harta, semenjak bersama Luffy ia tak lagi mencuri—meski karakteristik lama sebagai tangan panjang terkadang muncul—, ia hanya meminta pada siapapun yang punya kelebihan harta, tidak untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kelompoknya—khususnya— dan siapapun yang sedang membutuhkannya. Ia kini hanya berambisi membuat peta seluruh dunia dengan berkeliling bersama Luffy.
Zoro, pemburu bajak laut dan maestro pedang, gegara Luffy, ia hanya menggunakan pedang untuk kemanfaatannya bersama Luffy dan sesuai perintah Luffy. Ussop, penembak (mungkin) jitu. Robin, seorang arkeolog. Chopper, seekor rusa yang bisa menjadi manusia. Sanji, koki yang memiliki tendangan mematikan. Franky, manusia yang memiliki kekuatan robot serta tukang kapal. Dan Brook, tengkorang hidup, yang mati suri dan pemain musik.
Mereka semua dari etnis yang beragam, latar hidup yang berbeda. Jenis kemampuan dan kapasitas yang macam-macam serta mempunyai keyakinan yang berbeda-beda mampu dikenal Luffy dengan sudut pandang yang sama. Sama-sama manusia dengan kemampuan dan latar hidup yang berbeda. Itulah sebenarnya kehidupan yang jika manusia mau kembali menggunakan nalurinya, akan bisa hidup sekapal tanpa adanya suatu masalah. Meski kadang ada masalah, itu hanya sebuah karang yang mendewasakan kapal untuk tahan dengan deburan ombak dan terjangan badai.

Karomah Kang Dul

Meski Luffy (kadang) humanis, (kadang) pluralis, (kadang) kagetan, karena ia hanya hidup menggunakan naluri. Jadi hidupnya jazzy sesuai perputaran ketentuannya. Meski naluri adalah kefitrian manusia dalam menjalankan hidup tapi hewan dan tumbuhan juga hidup berdasarkan nalurinya saja. Oleh karena itu, disetiap komunitas, secara kecil biasa kita kenal ormas. Lebih luasnya kita ketahui sebagai negara dan juga dunia ini, diciptakannya norma-norma dan undang-undang. Agar naluri satu sama lain tidak saling bertabrakan. Mungkin jika sedulur-sedulurku pernah duduk di bangku sekolah—dalam ruang kecilnya— akan lebih banyak menemukan history dan story mengenai terciptanya norma-norma dan undang-undang dalam ruang hukum dan budaya yang ada. Tapi itu tidaklah terlalu penting untuk dibicarakan, karena saya tahu sedulur-sedulurku tentunya lebih hapal dan paham mengenai itu ketimbang saya.
Sayangnya, (kadang) penciptaan hukum yang dituangkan dalam norma dan undang-undang, akhir-akhir ini—dahulu juga— tidak bertujuan mewujudkan kemaslahatan kebersamaan dan tidak bertujuan untuk mengatur naluri antar manusia agar tidak berbenturan naluri antar sesama. Melainkan kepentingan individu untuk melindungi diri sendiri, agar ada sesamanya yang jatuh dan mati, entah pada kapasitas jiwanya maupun badannya. Jadi matilah Indonesia Raya, dan hiduplah badannya sendiri. Yang kita butuhkan hari ini hanyalah Kang Dul. Kenapa Kang Dul? Karena dari Kang Dul kita mendapat karomah.
Ketika norma dan undang-undang tidak lagi kita miliki untuk hidup bersama. Sementara tidak mungkin kita (sebagai muslim) memaksakan perundang-undangan negara ini dari Al Qur’an dan Hadits. Sebab kita hidup bersama bersandingan dengan Perjanjian Baru (Injil), Perjanjian Lama (Taurat dan Zabur), juga kitab-kitab lainnya. Maka memang sepatutnya kita menuju tangga karomah agar naluri tidak saling berbenturan. Dan Luffy sebenarnya memiliki karomah—sebut saja haki—, namun tidak disadarinya, sebelum akhirnya ia menyadari setelah bertemu dengan Reyleigh.
Kang Dul juga memiliki karomah, entah disadarinya atau tidak, wallahu ‘alam. Beberapakali sering saya menjumpainya menampakkan karomahnya, tetapi ia tak pernah mengatakan padaku bahwa ia memiliki karomah. Terpenting adalah kemanfaatan kita yang gelombang frekuensinya mampu mengenai sesama makhlukNya, baginya. Tapi karomah hanyalah efek dari kemanfaatan yang konsisten kita ciptakan. Jika kita mau membuka kembali kitab-kitab kuning atau bertanya kembali pada sesepuh pesantren, adat, suku dan mengaca pada nenek moyang kita. Akan kita temukan maqolahAl istiqomah khoirun min alfi karomah” (atau kata mutiara) yakni Istiqomah (atau konsisten) lebih baik dari seribu karomah.
Ya, seperti halnya para wali yang kita kenal, Gus Dur—jika memang benar wali kesepuluh—, Gus Miek, Mbah Asrori serta yang lebih lampau lagi semisal Raden Syahid, Raden Rahmat, Raden Mahdum Ibrahim, dll. Maka kita (akan) menemukan mereka dengan karomahnya, hanya efek dari kekonsistenannya dalam mengiyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in kepada Allah, juga kekonsistenannya menjadi pusat kemanfaatan bagi sesamanya lillahi ta’ala, entah dengan jalan apapun dan alat berjalan yang seperti apapun.
Seperti rumus 1x7 (baca: satu kali tujuh) lebih baik daripada 7x1 (baca: tujuh kali satu). Dalam hal belajar sanggupkah kita konsisten satu jam semisal tiap hari dalam seminggu dari pada seminggu kita hanya belajar selama tujuh jam dalam sehari. Dari satu hari satu jam selama seminggu kita tak akan kelelahan dalam berpikir dan mempelajari apa yang kita pelajari. Sementara jika seminggu dalam satu hari kita fokuskan diri selama tujuh jam lamanya, pastilah hasilnya akan lebih memuaskan selama sejam sehari dalam satu minggu secara konsisten. Yakni daya tahan ingat dan kadaluarsanya akan semakin lama. Oleh karenanya, jika kita menengok ke pesantren-pesantren, maka kita akan temui rutinitas yang ajeg.
Yang sulit dari maqolah tersebut adalah konsisten yang semacam apa yang perlu kita tempuh dan jalani? Konsisten yang baik dan benar atau konsisten yang salah dan buruk. Atau konsisten yang baik dan salah atau konstisten yang benar dan buruk. Atau konsisten yang baik dan buruk atau konsisten yang benar dan salah. Atau juga konsisten yang benar dan buruk atau konsisten yang baik dan salah.
Dalam upaya semacam itu, Kang Dul dan Luffy lah yang mengetahui dirinya sendiri. Sementara kita harus berani memilih sesuai kesadaran diri kita akan kapasitas yang kita miliki. Jika kita terus (dan semakin banyak) bertanya pada diri sendiri, maka jawaban lambat laun akan dijawab oleh diri sendiri. jika kita terus (dan konsisten) belajar, maka waktu yang kemudian akan mempertemukan naluri dengan karomah itu. Sebagai suatu organisasi diri untuk menjalankan misi, visi dan tujuan hidup kita. Gambaran secara luas yakni ketika Luffy mampu mengorganisasi Nami, Ussop, Sanji, Zoro, Robin, Chopper, Franky, dan Brook dalam sebuah tujuan dengan kapalnya. Memperhatikan fungsi dan kegunaannya di waktu dan ruang yang pas.
Terakhir, saya ingin menukil Ngaji Urip #138 yang dikatakan Busyr alHarits alHafi, orang yang berpikir panjang pasti akan paham, orang yang paham pasti akan tahu, orang yang tahu pasti akan beramal. Begitulah naluri dan konsisten yang kita ketemukan untuk duet sepanggung diri dalam kurun panjang hidup kita. Sebagai Kang Dul lain, yang benar-benar Dul.

Gubuk Jetak, Jumadil Awwal 1436

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html