Thursday, 30 April 2015

P3K dan Keshalehan

Oleh: Arafat Ahc
Rais Tanfidziyyah PeSaN-ALiD Demak

Bukan Kang Dul jika tak mampu membikin jungkir balik kepalaku. Segala yang menurutku masuk akal selalu saja menjadi suatu yang abnormal baginya—padahal ia sangat normal dan tidak gila, meskipun banyak mengira ia tak waras—. Tapi keyakinanku selalu menciptakan prasangka-prasangka positif—khusnu udDzon—kepadanya, meski kadang, sebagian dari tingkah lakunya tak mampu kupahami sebagai seseorang yang mengimani adanya kejadzaban—keanehan, keunikan, kekhosan— dalam dirinya. Seperti kejadian tadi sore, ketika sedang bersilaturrahim ke Pesantren Raudlatul Mubtadi’ien Balekambang Nalumsari Jepara.
Tiba-tiba makjedunduk ia hadir di tengah keluarga santri, yang tengah nyambangi santri-santri—maklum tiap jum’at sore adalah jadwal santri disambangi oleh keluarganya, entah orang tua, saudara, bahkan kawan-kawannya— untuk ngirimi jatah bulanan, pesangon, serta merawat kemesraan keluarga dan beberapa kebutuhan, kepentingan antara penjenguk dan yang dijenguk.
Kali ini, Kang Dul mengeluarkan seperangkat pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Aku terbengong, “Apalagi yang akan dilakukan Kang Dul, tak ada yang kecelakaan, bisa-bisanya mengeluarkan alat-alat semacam itu.” gumam dalam hati. Memang tak ada kejadian kecelakaan, baik kecelakaan motor, mobil, orang jatuh, atau lainnya yang membutuhkan P3K. Seperti biasanya, aku menunggu—barangkali ada yang akan ia lakukan dengan alat-alat itu nantinya—, sebab kebiasaannya adalah menciptakan kejutan-kejutan atas keanehannya—yang selalu dihiraukan orang lain—.
Jika meminjam istilah Gus Mus, Kiai Musthofa Bisri, Kiainya NU yang penyair asal Rembang, bahwa keshalehan seseorang saat ini dibagi menjadi dua; keshalehan sosial dan keshalehan ritual. Meskipun orang-orang hanya memandang Kang Dul bukanlah orang shaleh, tapi makhluk urakan yang tak mengerti etika. Dalam pandanganku ia tergolong orang shaleh secara utuh, yakni shaleh ritual pun sosial. Keshalehan ritual, yakni golongan orang-orang yang rajin dalam hal ibadah yang bersifat vertical-social, keintiman antara makhluk dan khaliqnya. Sementara keshalehan sosial adalah mereka yang rajin dalam laku kebaikan sesama makhluk, baik manusia, hewan, tumbuhan—bahkan jin, dan segala dedemitpun, jika sanggup menggauli mereka—.
Kang Dul mampu menembus batas yang jika keshalehan hanya dibagi dua. Karena ia mampu masuk kedalam dua kategori tersebut. Sholatnya rajin, sampai-sampai sholat-sholat sunnah dan sholat malam tak pernah ditinggalkannya. Masalahnya hanya terletak pada masyarakat sekeliling Kang Dul, yang memasukkan ibadah ritual kedalam ibadah sosial. Sehingga seseorang akan cacat sosial manakala ia tidak memamerkan ibadah ritualnya kepada sesama manusia. Begitulah yang menimpa Kang Dul, meski ia cuek-cuek saja. Baginya tak ada yang bisa menilai serta menghakimi keshalehan—khususnya keshalehan ritual— seseorang kecuali Allah sendiri.
Soal sholatnya, ia begitu intim, sampai-sampai ia tak akan menampakkan sholatnya kepada masyarakat awam, yang tak mampu membagi ruang dan waktu—katakanlah momentum yang tepat— yang pas. Tapi dulu pernah saya menemui Kang Dul sholat disamping jemblongnya, saat saya hendak memancing. Semenjak itu, meski sebelumnya sudah memprasangkai baik padanya, membuat yakin bahwa ia teramat shaleh untuk ukuran manusia urakan dan manusia awam.
Hal semacam itu berdampak pada kebaikan-kebaikan sosialnya yang tak pernah dinilai plus oleh masyarakat yang mengenalnya. Tapi Kang Dul tak pernah mengeluh—apalagi galau—, karena baginya seluruh amal kebaikannya terhadap sesama merupakan moral yang diembannya sebagai manusia. Sebagai makhluk yang tidak sekedar makan dan minum. Makhluk yang telah ditunjuk oleh Allah sebagai Khalifatullah fil Ardli, makhluk yang mampu mengorganisasi seluruh kehidupan, seluruh elemen dalam suatu tatanan sunnatullahNya.
*****
            Namanya Kang Dul, kalau tidak memberiku kejutan, shockterapy, mungkin bukan dia. Ternyata tepat sesuai dugaanku, pasti Kang Dul akan melakukan sesuatu dengan peralatan yang dibawanya. Meski mulanya tak ada pertanda yang sesuai dengan apa yang ditandai olehnya, tapi ia adalah manusia tanpa pertanda yang bisa menjadi tanda. Seperti tak ada hujan, tak ada angin tapi tanah basah. Mungkin ia sendiri yang menjadi air untuk membasahi tanah tanpa meminta awan menghujani atau angin membuat kegaduhan agar sungai atau jemblong lumer ke dataran tanah.
            Ketika berbagi saran kepada adikku yang tengah duduk di bangku kelas 3 SMK, ada wali santri (baru saja tiba) yang duduk disampingku. Ketika (mau) bermusyafahah, salaman dengannya, ternyata di kaki dan tangannya terdapat luka (baru) yang lumayan parah. Jari kaki dan tangan lecet-lecet dengan darah mengalir alus. Di garis kakinya, lutut dan tangannya, ada luka yang blonyok. Seketika itu kutanyai mengenai kondisinya. Yang baju dan celananya juga sobek-sobek.
            Wali santri tersebut baru saja jatuh dari sepeda motor di perbatasan Demak-Jepara (beserta istrinya). Melihatnya, langsung saja aku bergegas menuju Kang Dul, beserta memberitahu wali santri tersebut, untuk menunggu sebentar, sebelum kami sampai padanya dengan membawa P3K. Kemudian, sesampainya kami padanya, Kang Dul sesegera mengobati luka-luka yang diderita si wali santri tersebut, sembari ia bercerita kronologi kecelakaan (tunggal)nya. Selain itu si wali santri tersebut juga bicara ngalor-ngidul padaku, sementara Kang Dul (seolah-olah) dicuekinya. Mungkin dipikiran si wali santri tersebut, masih berhinggap penilaian atas penampilan yang dikenakan Kang Dul.
            Waktu itu, Kang Dul mengenakan sarung batik warna cokelat—yang saat ini sudah tidak lazim dipakai oleh pemuda zaman sekarang, kecuali kakek-kakek dan nenek-nenek yang masih (mau) melestarikan kebudayaannya— berbaju kemeja dan rambutnya—yang memang sudah ditakdirkan semacam itu— yang panjang. Suatu penampilan yang sudah tidak trendy bagi usianya, yang masih muda, bisa dibilang tidak wajar dan aneh. Mungkin itulah sebabnya si wali santri tersebut, cuek (dan biasa-biasa) saja menampakkan raut mukanya kepada Kang Dul, meski Kang Dullah yang memberikan pertolongan. Bukan aku—yang sedari tadi diantusiasi percakapan kemesraan— yang sekedar jembatan untuk menghubungkan antara penolong dan yang ditolong.
            Selekas Kang Dul mengobati luka yang dialami wali santri, meski kami belum sempat menanyakan nama si wali santri tersebut. Bergegaslah Kang Dul untuk pamit pergi, beserta menerima ucapan terimakasih—yang kudengar dengan nada datar-datar saja—. Pun Kang Dul (tak) hirau pada terimakasih tersebut pada kepergiannya. Memang begitulah Kang Dul yang (tak) menerima kasih dari yang telah ia bantu, selalu cuek dengan bagaimanapun suasana dan perlakuan orang lain terhadap dirinya, meski orang lain tersebut masih berhutang budi padanya.
            Kang Dul telah menghilang dari pandanganku, sementara si wali santri itu kemudian menemui anaknya yang baru keluar menuju ruang tamu. Sambil meninggalkan senyuman dan terimakasih padaku, meski yang paling berjasa dalam hal pertolongan tersebut adalah Kang Dul.
            Waktu menunjukkan sore hari telah tiba, waktunya untuk meninggalkan adikku dan aku pulang ke rumah dengan membawa sangon dari Kang Dul. Kang Dul memang seperti kehidupan, yang tak pernah diundang selalu datang disaat yang pas, dan tidak hadir disaat diinginkan untuk datang. Bagaimanapun suasana dan perasaannya, Kang Dul selalu ajeg pada dirinya, dan cuek atas hinaan dan cercaan—bahkan dia teramat benci dengan pujian— yang menimpa dia.

RSUD Kudus-Demak-RSUD Kudus, Jumadil Awwal 1436

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html