Thursday, 30 April 2015

Ngaji Warna, Ngaji Nubuah, Ngaji Sejarah: Dari Kartosoewirjo via Om TT

Oleh: Arafat Ahc
Rais Tanfidziyyah PeSaN-ALiD Demak, pegiat sastra.

            I

Apa yang mesti ditulis oleh orang yang (kembali) belajar menulis tulisan panjang—pasalnya, lama saya tidak menulis tulisan panjang yang beraroma ulasan— sejenis essai. Lantaran saya, sepanjang 1433 hingga sekarang(1436) lebih intens dalam menulis dan berkehidupan di puisi. Tentunya tidak mungkin menolak tawaran dari sahabat saya, kang Wiwid (Widyanuari Eko Putra), sekaligus guru—secara konstektual— untuk mengulas sehimpun puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo (kemudian kita baca KKT). Kemudian, eyang Arif (Arif Fitra Kurniawan)—peresensi buku yang sekaligus guru saya— yang legowo memberikan buku tersebut kepada saya. Itu pertama.
Tapi tak apa, meski saya tetap memberi beberapa catatan yang perlu diingat pembaca. Kedua, saya tak akan menulis ulasan, yang membutuhkan validitas dan keilmiahan data. Sebab keterbatasan saya, tidak mampu menulis secara detail dan rinci—apalagi runut— dalam pembahasan sehimpun puisi karya om Triyanto Triwikromo (kemudian kita baca om TT). Pun saya memang tak terbiasa memposisikan diri sebagai titik tengah antara kelebihan dan kekurangan, melainkan yang saya tulis hanyalah efek dari membaca buku tersebut. Ketiga, dikarenakan sedikit banyaknya saya mengetahui—meski bisa dibilang belum mengenal— siapa gerangan, empu KKT. Ruang jaringan dan geografislah yang menghantarkan saya mengetahui seluk beluk om TT.
Ketimbang berlama-lama memukaddimahi ulasan yang hanya coretan ini, mari kita perlahan membuka lembar demi lembar KKT. Untuk dinikmati, dalam ruang apresiasi seni, diskusi serta gegombalan lainnya, bahkan untuk kemudian kita syarahi kembali. Ya, tradisi mensyarahi syi’ir bagi kalangan pesantren itu sudah hal biasa, namun bagi saya, luar biasa. Karena waktu telah lama mengurung saya dallam rangka uzlah diri dan hijrah jiwa. Maka sebisanya lah akan kita bahas bersama-sama.

II

Ada yang membuat saya tertarik dengan KKT, yakni warna. Tidaklah menarik jika suatu buku—bahkan hidup pun— jika tak memberi warna yang beragam. Meski warna hanyalah estetika hidup, guna menciptakan ketidakbosanan dalam menjalani. Di KTT ada 33 kata yang memiliki gender warna. Biru, hijau, biru tua, ungu, abu-abu, kuning, hitam, merah, putih. Itulah yang saya temukan, entah maksudnya apa, begitu banyak kata yang bergender warna—jika tidak salah, merupakan kata yang paling banyak— memenuhi ruang KTT.
Pertama, apa maksud om TT memilih diksi-diksi semacam itu berjubel di bukunya. Kedua, mungkinkah hal semacam itu merupakan karakteristik om TT dalam hidupnya beserta prosesnya. Ketiga, atau jangan-jangan dikarenakan sang tokoh Kartosoewirjo, yang memiliki ragam warna dalam sejarah hidupnya, sebagai latar belakang menarik om TT untuk menuliskan puluhan warna. Terlepas dari itu—kalau tidak salah hitung—, mengapa om TT menuliskan diksi bergender warna sebanyak 33? Jadi teringat setahun yang lalu, ketika mencuat buku 33 ********* paling berpengaruh, mari tertawa sejenak.
Paling tidak om TT berhasil membuat saya berpikir dan mengajak untuk memasuki ruang-ruang intimnya via laborat kesunyian saya. Ya, 33 memang bukan angka biasa—bagi kalangan pesantren— bagi saya. Pun angka tidak bisa dilepaskan dari kehidupan saya. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 17, 21, 22, 23, 27, 33, 44, 55, 66, 69, 73, 77, 88, 90, 91, 96, 99, dst., merupakan angka-angka yang (saya yakini) memiliki khasiat magic, bagi tumbuhkembangnya sejarah, peradaban, hidup dan menjadi pedoman bagi orang-orang jawa (pun orang islam). Seterusnya, maaf, tidak mungkin saya teruskan sebab terlalu banyak dari teramat sangat banyaknya angka yang tak terhingga yang berkhasiat semisal 111, 222, 333, 444, dan 4444.
Kembali ke 33, yang memang berkhasiat magic dan ampuh. Mari, kita buka halaman 33:

................. (hal. 32)

Pada 1927, aku dikeluarkan dari Nederlands Indische Artsen School. Tetapi Mas Marco Kartodikromo, pamanku, bilang, “ Jadilah dokter jiwa untuk masyarakat yang kehilangan jiwa. Jadilah dokter hati untuk masyarakat yang kehilangan hati. “

Lalu akupun belajar pada Raja Jawa Tanpa Mahkota, aku belajar pada Tjokroaminoto. Aku belajar pada keheningan cinta. aku belajar kesucian angin. (Aku tahu Sukarno pun belajar hakikat keindahan setitik embun di padang gersang pada laki-laki harum kopi, pemimpin Sarekat Islam Hindia Timur ini).

Baiklah kupertegas ceritaku: bagiku Tjokroaminoto terus saja menjadi Durna. Bagai Bambang Ekalaya, aku belajar padanya apa pun tanpa dia tahu aku telah mengeruk seluruh ilmunya.

Dan Sukarno? Sukarno tetap saja menjadi Arjuna. Tjokroaminoto begitu cinta padanya, sehingga banyak pengetahuan rahasia yang dia susupkan kepada murid yang dianggap tiada cela.

............. (hal. 34-36)

(Di Mobil Tahanan)

III

Ternyata menarik, di halaman 33, kita menemukan banyak ibrah. “ Jadilah dokter jiwa untuk masyarakat yang kehilangan jiwa. Jadilah dokter hati untuk masyarakat yang kehilangan hati. “, seolah Mas Kartodikromo memberi recehan kepada Kartosoewirjo. Dengan enteng tanpa beban, sementara beberapa kalimat tersebut menjadi beban Kartosoewirjo. Dibuktikan di bait berikutnya: //Lalu akupun belajar pada Raja Jawa Tanpa Mahkota, aku belajar pada Tjokroaminoto. Aku belajar pada keheningan cinta. Aku belajar kesucian angin. (Aku tahu Sukarno pun belajar hakikat keindahan setitik embun di padang gersang pada laki-laki harum kopi, pemimpin Sarekat Islam Hindia Timur ini).//
Meski nasehat pamannya Kartosoewirjo sekedar sederhana, nyatanya tetap saja relevan dipelajari kembali di tahun 2015. Rentang yang cukup jauh, 1927 hingga 2015, 88 tahun. Kembali kita ketemukan angka-angka keramatnya orang jawa. Tapi tak perlu lah kita bahas panjang lebar.
Pada nasehatnya, siapa diantara kita yang mampu menjadi dokter hati dan dokter jiwa (?), ditengah kepungan globalisasi, kapitalis berbaju indonesia, serta tingkat hedonis yang melangit. Kalau sekedar mencari dokter spesialis jantung, spesialis gigi, spesialis kandungan, teramat mudah. Hanya buka dompet, ketemulah mereka. Tapi, menemukan dokter hati dan dokter jiwa (?) dimana.
Secara tersirat, bait berikutnya telah menunjukkan. Bahwa orang-orang jawa lah yang mampu menjadi semacam itu. Maka Kartosoewirjo bergegas belajar pada Rajanya langsung, Raja Jawa Tanpa Mahkota, yakni Tjokroaminoto. Jika ia hanya belajar pada orang jawa biasa maka ia akan menemukan kebiasaan jiwa dan hati yang bersih saja. Jika ia belajar langsung pada Rajanya, maka yang didapatkan adalah hal yang luar biasa, yakni keheningan cinta dan kesucian angin.
Sementara itu, sahabatnya, Sukarno belajar hakikat keindahan setitik embun di padang gersang pada laki-laki harum kopi. Aneh-aneh saja, orang jawa (?), bagaimana bisa kita menemukan setitik embun di padang gersang. Maka menjadi hal yang biasa ditemukan orang jawa, mencipta tertawa di tengah kesusahan, membikin kegembiraan dikala musibah menimpa. Kalau meminjam istilah Islam, begitulah yang namanya Syukur, efek cahaya dari Syakurnya Allah. Dan benar-benar indah sangat, menemukan hakikat keindahan di padang gersang, apalagi menemukannya dari laki-laki harum kopi.
Meski hanya satu halaman, kita kembali menemukan ingatan-ingatan pengetahuan menyoal wayang-wayang dan dongeng-dongeng dari bait berikutnya. Tjokroaminoto terus menjadi Durna dan bagai Bambang Ekalaya, sementara Sukarno tetap saja Arjuna. Kemudian, Tjokroaminoto begitu cinta padanya, sehingga banyak pengetahuan rahasia yang dia susupkan kepada murid yang dianggap tiada cela. Seperti kisah dua sahabat, antara Musa dan Qorun, yang sama-sama memiliki keilmuan yang mumpuni.

IV

Mempelajari sejarah merupakan jalan mempelajari kesejatian diri sendiri. menemukan sama dengan hari ini, maka rumus yang dipakai adalah variabel-variabel yang telah terjadi di masa lampau. Sementara Om TT banyak membungkamku lewat KKTnya. Membungkam untuk tak berkomentar, namun menikmatinya dengan tenang dan memasuki tiap ruang-ruang yang berwarna. Memasuki ruang warna, ruang sejarah para nabi-nabi—dengan versi yang mix antara Qur’an, Injil dan beberapa sumber lain—, ruang perwayangan, ruang sejarah pra kemerdekaan dan periwayatan tokoh-tokoh bagi kaum yahudi, nashrani, islam, jawa dan nusantara.
Itulah yang menjadi alasan keempat saya, mengapa saya mau menulis sedikit coretan-coretan ini. Bukan untuk mengomentari karya om TT—wong, yang layak komentar, mereka yang punya kelas hati dan jiwa selaksa Gus Mus, Romo Budi, dll—, melainkan mempelajari. Mengolah raga, yang pada akhirnya saya lari-lari kembali membuka buku di PeSaN-ALiD, untuk menemukan keselarasan sejarah yang saya pahami. Mengolah pikir, ya, memang pikiranku kali ini harus berolah raga ekstra, meski memang sangat menyenangi dan menggemari sejarah. Pikiranku dipaksa membuka buku-buku tentang Adam, Nuh, Musa, Isa, Ibrahim hingga menyoal malaikat, setan, iblis, jin. Wah, plus-plus, tidak cuma berpikir, tapi berolah rasa juga.
Bagaimana tidak berolah rasa, wong begini, kau memang tak akan pernah mengalahkan aku. Akulah yang mengalahkan diriku sendiri (Hal. 3, Penangkapan). Kalian tak mungkin bisa mengutuk batu menjadi ibu yang gampang menangis (Hal.3, Penangkapan). //”Tak ada apa-apa di dunia ini kecuali Kepompong.”/Jadi diam sajalah. Tunggu Aba-aba/ atau lengking sangkakala.//(Hal. 10-11, Kecuali Kepompong). Makanlah sebelum ziarah ke makam (Hal. 13, Hidangan Di Meja Serdadu). Kau juga ingin membunuhnya? Tak perlu kaujawab. Kematian itu pasti dan tak membutuhkan pertanyaan dan jawaban (Hal. 17, Bukan Pesan Nabi). Siapa yang mampu mengubah cinta menjadi bunga? Siapa yang mampu mengubah takdir menjadi takbir? (Hal. 19, Tentang Sabda Yang Tak Sampai). Kini kuberi tahu, sabda itu berbunyi la. Maknanya li. Malaikat lupa menerjemahkan perihnya kepadamu (Hal. 19, Tentang Sabda Yang Tak Sampai). Serta masih banyak Ngaji Urip yang bisa kita petik dari buku sekumpulan (sejarah?) puisi ini.

V

Secara garis besar haluan puisi (GBHP) ini merupakan sejarah Kartosoewirjo—ya, jelaslah. Wong judulnya saja Kematian Kecil Kartosoewirjo—, namun ada beberapa sub-sub yang mesti dibagi sebagai suatu pemudahan pembaca(yakni masyarakat awam). Selain itu, sebab buku sejarah ini bukan sejarah murni—dalam pengertian sesuai ketentuan yang berlaku—, melainkan buku puisi, semacam serat; yang sebagai metode penulisan sejarah orang-orang jawa dahulu. Pembagian sub-subnya yakni, sejarah murni tentang Kartosoewirjo, yakni GBHPnya, kedua, pengamsalan ke ruang sejarah Nabi, wayang, dongeng, dan makhluk halus (malaikat, iblis dan jin), dan reportase.
GBHPnya mungkin bisa kita ketemukan di puisi Penangkapan, Raut Maut, Makanan Ternak, Kecuali Kepompong, Ngilu Yang Bukan Ngilumu, Tentang Sabda Yang Tak Sampai, Di Sehelai Foto, Aku Tak Mengajarimu Bunuh Diri, Ayat Batu, Nasihat Imam Tentara, Kuburkanlah Arlojiku, Tak Ada Waktu Lagi, Perihal Kobaran Api, Di Mobil Tahanan, Ganti Baju, dan lainnya. Pengamsalan ke ruang sejarah nabi, buka saja puisi Neraka Tak Bernama, Hidangan Di Meja Serdadu, Tak Perlu Kaudengarkan, Belum Ada Hujan Di Beranda, Nahkoda, Hijrah, Pemburu Kabar, serta lainnya.
Pengamsalan ke ruang wayang dan dongeng, coba buka puisi Secangkir Kopi Dalam Senyap, Bukan Pesan Nabi, Jihad. Sementara pengamsalan ke ruang makhluk halus, ada di puisi Tidur, Panglima Buta, dan lainnya. Serta ada juga reportase pada beberapa puisi Kau Tak Perlu Memborgolku, Introgasi, Pesan Dokter, dan lainnya. Selain itu hampir rata, kematian menjadi tematik yang kuat.
Sekian lah, ketimbang ngawur dan semakin menyesatkan. Buku yang sudah jujur tak perlu lah kita komentari teramat banyak. Mari kita jalani pesan-pesannya saja, sebab kejujuran yang paling indah adalah diam-diam melaksanakan perkataan. Maaf, saya haturkan kepada om Triyanto Triwikromo, jika sedikit oretan saya ini tak sesuai kehendak hati penulis. Al Fatihah untuk Kartosoewirjo serta Soekarno.
Terakhir, saya kutip beberapa kutipan yang saya anggap Ngaji Urip, tak pernah benar-benar tepat menunjuk arah kiblat, tetapi selalu saja merasa telah sampai pada makhrifat (Hal. 24, Ayat Batu). Bangunlah dari tidur-tidur yang tak perlu. Bunuh seluruh iblis dan segera dirikan negara dari laut yang keruh dari pulau penuh desau. (Hal. 43, Introgasi). Aku tak enggan menyeberang dari satu kapal ke kapal lain. Dari Kemungkinan kematian satu ke kemungkinan kematian lain (Hal. 46, Hijrah). Baiklah, karena itu, mari kita mulai berperang. Perang setelah pasukan menerima wahyu. Perang membela kehendak Allah. Bukan perang membela Allah (Hal. 52, Jihad). Aku tahu siapa pun tak seharusnya membunuhmu. Bukankah begitu? (Hal. 65, Mereka Tak Ingin Menembakku). Sudah lama aku berpuasa kata. Tak mengutuk para kafir yang ingin membangun bangsa. Tak menghujat burung-burung yang hanya berkicau di jalanan kacau. Tak meledek para penghafal ayat yang takut mengacung-acungkan pedang ke angkasa. Gusti, aku telah berikhtiar menyentuh cahaya-Mu. Semoga kau tak meninggalkan aku (Hal. 87, Kematian Lembut)

Semarang-Demak, Akhir Jumadil Akhir 1436

(Sekedar Coretan untuk agenda Kelab Buku Diskusi Kematian Kecil Kartosoewirjo)

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html