Sunday, 28 June 2015

Selamat Datang Ramadlan

Oleh: Arafat Ahc
Rais Tanfidziyyah PeSaN-ALiD Demak, pegiat sastra di Komunitas Sastra LAH Community Kudus dan ikut mengelola Komunitas Sastra jeN4NG Kudus.

I
Ramadlan merupakan bulan hujan bagi manusia. Mengapa hujan? Lantaran di bulan Ramadlan, Allah menurunkan banyak hujan (rahmat) tanpa eman-eman[1]. Dalam Qur’an, surat Al Baqarah ayat 185, definisi ramadlan (dalam tafsir saya) adalah bulan dimana al Qur’an diturunkan. Sementara al Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia—bukan cuma seorang muslim— serta banyak penjelasan mengenai petunjuk dan pembeda.
Mengapa hujan? Dalam bahasa jawa, hujan memiliki kosa kata jawoh. Sementara bagi orang jawa—yang tercampur oleh budaya arab—, memaknai jawoh sebagai ja’a rahmatullah—datanglah rahmat Allah— dalam sanepannya. Jika ramadlan merupakan bulan rahmat, maka ia juga merupakan bulan hujan. Hujannya keberlimpahan pahala, hujannya pintu-pintu kebaikan yang deras, hujannnya rahmat-rahmat Allah, yang senantiasa ia kucurkan, salah satunya via al Qur’an. Mungkin saja, al Qur’an sebagai perumpamaan atas petunjuk yang menunjukkan dan petunjuk yang membedakan. Mungkin saja, al Qur’an merupakan metafora dari seluruh yang termaktub dalam diri Qur’an.
Jika kita membuka—kemudian membaca beserta artinya— al Qur’an, akan menemukan ayat-ayat mengenai rahmat. Satu diantaranya yakni ayat 40 surat al Mu’min, (dalam terjemahan saya) “dan peliharalah mereka dari kejahatan-kejahatan. Dan orang (banyak) yang engkau pelihara dari kejahatan-kejahatan di hari itu, maka sesungguhnya telah engkau anugerahkan rahmatNya. Dan itulah adalah kemenangan yang agung”.
Begitu besarnya rahmat Allah, sampai suatu ketika ada seorang Baduy keliling ka’bah sembari mengucapkan “Ya Karim”. Di belakang orang Baduy, ada seorang laki-laki yang sedang tawaf, juga mengucapkan “Ya Karim”. Sampai akhirnya orang Baduy itu menegur lelaki yang ikut mengucapkan “Ya Karim”.
“Kamu ngapain kok niru-niruin saya.” tegur orang Baduy
“Lo, saya enggak niru-niruin kamu. Saya memang ingin mengucapkan dzikir Ya Karim.” jawab lelaki yang berada di belakang orang Baduy
Mendapat penjelasan itu, orang Baduy melanjutkan kembali keliling Ka’bah. Sementara laki-laki yang di belakangnya juga tawaf dengan mengucapkan “Ya Karim” seperti yang dilakukan orang Baduy. Akhirnya dia marah lantaran lelaki, yang belum dia ketahui namanya, yang di belakangnya masih saja mengikuti ucapan yang ia ucapkan.
“Kalau kamu niru-niruin saya terus, akan aku beritahukan kepada Muhammad. Dialah orang yang paling saya imani, yang paling saya cintai, yang paling saya percayai, yang membuat hidup saya sangat hidup. Dialah Muhammad.” Marahnya orang Baduy
“Kamu sudah ketemu Muhammad belum?” tanya lelaki di belakangnya
“Belum. Saya sudah keliling Mekah tapi belum tahu dimana Muhammad. Akhirnya saya muter-muter Ka’bah.”
“Hai Baduy, akulah Muhammad yang engkau cari.”
Lantas saja, orang Baduy tersebut memeluk kanjeng nabi Muhammad ShallaAllahu ‘alaihi Wasallam sedemikian rupa. Di tengah ramah tamah mereka, tiba-tiba Jibril datang disuruh Allah (dalam hadits Qudsi). Pertama Allah menyampaikan salam untuk nabi Muhammad dan dijawabnya “Wa’alaikumussalam, apa yang bisa saya dengarkan dari Allah.”
“Allah menitipkan pesan kepada Yahudi itu: Apa dia pikir dengan mendzikirkan Ya Karim dan mengelilingi Ka’bah. Lantas Aku tidak menghitung dosa-dosanya.” kata Jibril yang kemudian disampaikan nabi Muhammad kepada orang Baduy. Kemudian Baduy tersebut marah, “Kalau Allah berani menghitung-hitungku, akan aku hitung Dia.” Nabi Muhammad kaget dan menyampaikan itu kepada Jibril—agar disampaikan kepada Allah—.
“Bagaimana mungkin dia menghitung-hitung saya? Sementara Akulah yang menghitung dia” kata Allah via Jibril kepada nabi Muhammad, untuk kemudian disampaikan kepada orang Baduy. Lantas orang Baduy menjawab, “Kalau Allah berani menghitung-hitung dosa saya. Akan aku hitung ampunanNya. Kalau Allah berani menghitung-hitung kekhilafan, kesalahan saya. Akan aku hitung permakluman dan kedermawanan Dia kepada saya. Coba seimbang apa tidak? Aku yakin permakluman dan kedermawanan Dia akan berlimpah-limpah daripada kesalahan saya.”
Begitulah, jika Allah sudah memberi rahmat kepada hambaNya yang berkenan untuk kembali pulang kepadaNya. Sebab pintu rahmat Allah selalu terbuka bagi siapa saja yang berkenan menujuNya. Sebab hujan rahmat Allah selalu Dia kucurkan bagi siapa saja yang mengharapkanNya.

II
Efek ramadlan tidak hanya antara Allah dan personality yang mengharapkan-Nya. Juga memiliki pengaruh besar terhadap agenda-agenda pen-citraan yang marak dilakukan oleh kalangan selebritis, politisi, pelaku ekonomi, pebisnis dan manusia-manusia kapilatis, hedonis yang kering akan air rahmatNya. Semoga saja tidak sekedar citra yang dibangun, melainkan suatu kenyataan yang terus hidup dalam diri mereka. Bagaimana serampangannya iklan-iklan yang betebaran di televisi, baliho-baliho di pinggir jalan, entah yang hanya sekedar satu frasa, satu kalimat, bahkan sampai satu paragraf, brand ramadlan menjadi rahmat tersendiri bagi pelakunya.
Kemarin sore, ketika saya melakukan keliling-keliling dengan motor dalam rangka menghabiskan waktu untuk kemudian melakukan ifthar, saya jadi teringat dengan saudara saya—yang juga guru— Ullyl Ch. Mengapa dia yang terlintas di kepala? Lantaran ketika sedang ngabuburit saya melihat baliho besar dari sebuah instansi **** (sensor) yang bertuliskan “Selamat Datang Ramadlan”. Sontak membuat ingatan saya kembali pada tahun 2010, ketika baru mengenalnya dan mengenal tulisannya (yang dibukukan) dalam antologi “Selamat Datang Hujan”.
Saya merasa berdosa, karena selama ini tidak pernah menuliskan sedikit ulasan mengenai “Selamat Datang Hujan”—kemudian disingkat SDH—. Padahal dialah yang mengenalkan dunia Hujan (sastra), meski sebelumnya saya sudah mengenali hujan. Kemudian saya mengetahui bahwa diantara titik-titik hujan ternyata lebih luas sela-sela yakni udara diantaranya. Kemudian membuat saya kembali membuka SDH di tengah-tengah hujan rahmat Allah di bulan ramadlan, di tengah-tengah pembacaan saya terhadap hujan Allah.
Mulanya saya menganggap (pada 2010) puisi-puisi dalam SDH adalah puisi-puisi bagus yang tidak layak dikritisi dan hanya layak diapresiasi. Tapi nyatanya, tidaklah demikian ketika saya ulangi pembacaannya (sekarang) dan saya hayati setiap sahifah[2]nya. Seperti yang dikatakan MM. Boernomo dalam pengantarnya[3], siapa saja akan mampu menikmati estetika orisinal setiap kali membaca puisi, sepanjang belum pernah membaca puisi lain yang serupa atau mirip. Karena ada proses dan ruang bacaan yang bertambah, sehingga (dengan sombong) saya beranikan diri untuk menulis ulasan kepada seseorang yang (tidak pertama) menceburkan saya ke kedalaman sastra.
Saya sangat berterima-kasih kepadanya, (mungkin) tanpa lulusan TBS yang bernama Ullyl Ch., saya tidak akan sampai seperti ini dalam dunia sastra. Saya hanya terus menulis lalu saya simpan dalam catatan dan potongan puzzle dalam kitab-kitab dan buku ngaji. Juga kepada Allah, lantaran skenario perjodohan dengan sastra via Ullyl Ch., Ia takdirkan.
Menyoal penyairnya, meminjam MM. Boernomo (dalam pengantar SDH), pada dua dekade (1980-2000), banyak sekali penyair muda di berbagai daerah berlomba-lomba menerbitkan buku antologi puisi dan kemudian membagi-bagikannyadengan gratis kepada rekan-rekannya. Setelah itu mereka menghilang entah kemana. Dan jika mereka muncul lagi, statusnya bukan penyair lagi. Ada yang menjadi jurnalis, aktivis, dukun dan seterusnya.
Ya, benar adanya, setelah sedulurku Om Ulil—panggilan dekat saya— melaunching SDH, setelahnya (seolah) dia menghilang dari dunia kepenyairan. Seolah SDH hanya sebagai batu nisan kepenyairannya, meski sempat saya bahagia mendengar ia akan menerbitkan buku lagi—tapi sampai sekarang saya belum mendengar ia menerbitkan lagi—. Terakhir saya ketemu, ia bekerja di Jakarta. Sebelumnya ia di Kudus sebagai pekerja organizer bazar buku dan penjahit. Terlepas dari pekerjaannya, saya menyayangkan jika SDH hanyalah batu nisan kepenyairannya saja, meski nyatanya saya masih menemukan dia tetap menulis(?), tanpa ada kelanjutan proses menulis puisi lagi, dan menerbitkannya. Sebab (dalam pembacaan saya kali ini) puisi-puisinya masihlah dalam proses menuju kediriannya yang sejati.

III
Berbicara SDH, maka kita akan memperbincangkan 50 puisi karyanya dalam sebuah buku. Berbicara SDH, tidak akan bisa melepaskan seorang penyairnya dari khazanah kesantrian, kembelingan dan segala rekam jejak om Ulil dalam menjalani proses hidup. Dalam SDH, ia mengawalinya dengan sebuah puisi berjudul: Prolog. Kau tahu prolog? Prolog adalah pengantar, awal, pembukaan, pendahuluan, dll. Kutulis sajak ini jauh hari sebelum engkau dilahirkan/ di malam sabit,/ remang-remang menyusup lubang ventilasi/ lubang-lubang yang tersembunyi/ lubang-lubang kenikmatan/ lubang binatang lajang// malam onani/ melahirkan setitik gerimis berbau amis/ bagaikan air mengalir yang anyir// di malam,/ ada tikus terkapar bersama pelacur  bunting/ meneteki susunya yang kering//(Prolog, Kudus; 2006)
Seperti tradisi kepenulisan dunia pesantren, seperti tradisi kepenulisan para mushannif dalam kitab kuningnya, om Ulil memulai SDHnya. Berlatar sebagai seorang santri Madrasah NU TBS Kudus, ia berusaha mentradisikan setting halaman sesuai tradisi kepenulisan dunia yang menjadi titik baliknya, sebelum akhirnya ia benar-benar menjadi penyair, syu’ara. Sebuah penguatan karakter realitas pada teks-teksnya. Secara isi, Prolog istiqomah pada pijakan dunianya, pijakan dunia islam, pijakan dunia kesantrian. Setidaknya ia memiliki ruh-ruh qur’ani, di balik kenaturalismeannya om Ulil.
Sebenarnya ayat-ayat mengenai kelahiran, lubang kenikmatan, setitik gerimis berbau amis, meneteki susunya, amatlah banyak, misalnya di Surat Al Mu’minun (dalam bentuk terjemahan saya), ayat 12: dan sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dari saripati (yang berasal) dari Thin[4].  Ayat 13: kemudian (Kami) jadikannya-(saripati dari Thin) nuthfah—air mani— dalam wadah yang kokoh. Ayat 14: kemudian Kami jadikan nuthfah (menjadi) ‘alaqoh—segumpal darah—, lalu Kami jadikan ‘alaqoh (menjadi) mudhghoh—segumpal daging—, lalu Kami jadikan mudhghoh (menjadi) ‘idhoman—tulang belulang—, lalu Kami bungkus ‘idhoman (dalam) lahman—daging—, kemudian Aku menghendakinya menjadi makhluk yang lain. Maka Maha suci Allah, Pencipta yang paling baik.
Barangkali ayat tersebutlah yang menjadi pengalaman spiritual om Ulil dalam mengalami proses kreatifnya, proses hidupnya pada frame dia sebagai seorang santri yang selalu berkutat pada religiusitas al Qur’an. Selain Prolog, ada indikasi lain yang dipengaruhi ayat-ayat tersebut, seperti puisi Zarah(Kudus, 2009: h.28), Dari Adam (Kudus, 2007: h.43). Selain itu, dari beberapa puisi lain, seperti Nyanyian Asa(Kudus, 2008: h.6), Di Sudut Waktu I, Di Sudut Waktu II (Kudus, 2005: h.8-9), mungkin memori otak kita langsung mengarah ke Surat Al A’shr. Perempuan(Kudus, 2006: h.13), Odha(Kudus, 2006: h.14), Engkau(Kudus, 2009: h.39), mungkin kepala kita akan terbawa kepada Surat An Nisa’. Tapi entahlah, itu hanya atas pembacaan saya, dan pandangan saya mengenai puisi-puisinya.
Saya tak akan membanding-bandingkan puisi-puisi om Ulil dengan penyair-penyair terdahulu, meski ada beberapa penyair yang mempengaruhi gaya kepenulisannya, tapi bukan waktunya mengagung-agungkan mereka. Hidup dan nasib hanyalah kebetulan. Kebetulan om Ulil terpengaruh. Kebetulan mereka mempengaruhi. Kebetulan sama-sama berpengaruh dan terpengaruh. Mengapa saya tak mau membandingkan? Lantaran, hari ini, teramat banyak pengulas—jika tak berlebihan menyebut essais— yang senang membanding-bandingkan suatu karya penyair masa kini dengan penyair masa dulu. Menurut saya, hal tersebut akan menghilangkan orisinalitas karya sastra, yang konon satu dari beberapa karya tulis yang terbilang orisinal dari buah pikir, perenungan serta permenungan atas riwayat hidup, riwayat baca, riwayat sunyi seorang sastrawan.
Kedua, karena saya memang bukan orang yang gila referensi dalam bentuk mengutip-ngutip, menurut-nurut, meminjam-minjam, kecuali menurut MM. Boernomo—lantaran dia masuk ke dalam bagian buku SDH—, dan saya memang bodoh dalam hal tersebut. Ketiga, apresiasi ulasan seringnya hanya kuantitatif, tidak kualitatif kekedalaman prasangka-prasangka dari pengulas kepada yang diulas. Keempat, jika begitu-begitu saja dalam mengapresiasi karya sastra, maka sastra tetaplah akan ekslusif dan tidak bisa dinikmati masyarakat ndeso, seperti saya. Dan meski om Ulil terpengaruh oleh beberapa karya “orang tua”, tapi hal itu (saya yakin) akan masuk ke ranah seleksinya dalam pikir dan dzikirnya.
Yang saya ambil dari puisi-puisi di SDH, bukan estetika dan kualitas karya. Bukan pula teoritis dari kepenulisannya, baik berupa benar-salahnya, indah-buruknya. Tapi seberapa puisi bisa diambil hikmahnya dalam rangka menuju Rabbun ghafur, tidak sekedar thoyyibatun saja.

IV
Apa kabar suara?

apa kabar suara......?
lama kau terdiam
dibungkam kata
dan janji-janji busa

kini kau kembali terdiam
dalam pesta suara
suara kesedihan
suara keprihatinan
suara harapan
dan suara-suara kebodohan

kau terus terdiam
dibungkam kata
dan janji-janji busa

Kudus, 100308

Apa kabar suara? Suara kabarnya tidak baik dan mengenaskan hari ini. Mengapa demikian? Sejak om Ulil menuliskan AKS(Apa kabar suara) yakni 10 maret 2008, tak ada kabar baik mengenai suara-suara. Pertama, mengenai suara rakyat tiap lima tahun sekali. Secara nasional, sejak 2008-2015, telah terjadi dua kali pengambilan—bisa saja pencurian— suara lewat pemilihan SBY serta Jokowi sebagai presiden, pemilihan koalisi Demokrat dan KIH serta KMP sebagai wakil (yang tak) rakyat. Jika secara hitungan usia om Ulil, yakni dari 1985-sekarang, suara itu telah menjadi Soeharto—kemudian diteruskan BJ. Habibie—, Kiai Abdurrahman Wahid—kemudian (dirampok) diteruskan Megawati Soekarno Putri—, SBY serta Jokowi. Suara itu juga menjadikan banyaknya perampok, yang suaranya hanya bisa digambarkan oleh om Ulil sebagai berikut: “/lama kau terdiam/ dibungkam kata/ dan janji-janji busa//”.
Dari puisi tersebut, ia telah menampakkan bagaimana ia menjadi bagian terpenting dalam suatu kesatuan bangsa (yang fiksi) Indonesia. Selain puisi tersebut, kita bisa menjumpai ruh-ruh keindonesiaannya di puisi Di negeri ini(Kudus, 2007: h.10), juga Merah Putih(Kudus, 2007: h.11-12). Bagi saya, seorang manusia (yang ditakdirkan) Indonesia, begitupun seorang penyair, wajib hukumnya dalam menjiwai Indonesia dalam setiap napas hidupnya. Dan tugas penyair, serta penulis lainnya, menuliskan Indonesia dan merasainya dalam setiap teks-teksnya.
“....../dalam pesta suara/ suara kesedihan/ suara keprihatinan/ suara harapan/ dan suara-suara kebodohan/” kedua, akan terasa lain, terasa ada sudut pandang berbeda mengenai suara tersebut. Tidak sekedar suara yakni hak memilih rakyat (yang dipilihkan) calon presiden dan wakil rakyat, melainkan ada suara yang banyak dan beragam. Yakni dalam pesta suara. Meski tetap saja pesta suara bisa menjadi suatu pesta politik bangsa, tapi pesta suara (menurut saya) adalah suatu perkumpulan yang dirayakan oleh beberapa suara. Dideskripsikannya dengan suara kesedihan/ suara keprihatinan/ suara harapan/ dan suara-suara kebodohan/.
Mengenai suara kesedihan, ia gambarkan pada puisi Kuburan Puisi(Kudus, 2008: h.5), Pelayat cinta (Kudus, 2009: h.17), dan Rapuh(Kudus, 2007: h.25). mengenai suara keprihatinan itu bisa mewujud Rasa(Kudus, 2006: h.27) semacam jiwa-jiwa keindonesiaan, yang bersandar atas keprihatinan nasib sebangsa, menjunjung tinggi nilai keadilan, kemanusiaan, seperti puisi Di negeri ini, Merah Putih. Sementara suara harapan ia tuliskan dalam beberapa puisi Pada(Kudus, 2008: h.4), Nyanyian asa(Kudus, 2008: h.6), Cingkai mimpi(Kudus, 2009: h.22-23), Sajak untuk anakku(Kudus, 2010: h.41), Ingin(Kudus, 2008: h.50-51).
Dan suara-suara kebodohan itu hampir seluruhnya berada pada puisi-puisinya. Yakni, pertama, puisi-puisinya merupakan puisi musta’mal, lantaran ia menuliskannya atas keterpengaruhan—yakni karya suci dari orang lain— yang telah mensucikan yang mempengaruhinya dan tidak bisa mensucikan diri om Ulil. Itulah kebodohannya, itulah kelalaiannya. Tidak ia saja, hampir rata-rata puisi yang mengedepankan eksistensialisme pribadinya akan terasa musta’mal, bahkan ada yang sebagian mutanajis. Itulah kebodohan hampir rata-rata penyair, penulis, essais, cerpenis, dan label-label lainnya. Mengapa tidak menjadi mutlak dulu baru memunculkan diri?
Meskipun musta’mal secara pensucian dirinya, tapi puisi-puisinya mampu bermanfaat, meski tidak sanggup mensucikan dirinya sendiri. Puisi musta’mal bisa menjadi puisi sunnah, puisi mubah, puisi makruh, tapi tidak akan menjadi puisi wajib dan puisi haram. Mengapa demikian? Sebab kemusta’malan suatu karya, bisa dimanfaatkan dalam suatu sudut pandang selain pensucian. Misalnya dalam SDH ini, hampir banyak, puisi-puisinya tergolong puisi musta’mal, dan itu tidak sekedar di SDH saja, melainkan di seluruh karya puisi-puisi yang belajar mengenali diri puisinya. Untuk menjadi puisi wajib, puisi tersebut mestinya menjadi suatu karya yang harus ada di tengah-tengah (masyarakat)pembaca. Untuk menjadikan puisi sunnah, cukuplah mengambil hati agar menjadi kecintaan (masyarakat)pembaca. Begitupun puisi mubah, jadikan puisi tersebut menjadi biasa-biasa. Puisi makruh, jadikanlah puisi itu sebagai suatu yang tidak dibutuhkan dan kebutuhannya di waktu yang terdesak. Serta puisi haram, yang kehadiran puisi tersebut sangat tidak dikehendaki (masyarakat)pembaca. Untuk SDH, tergantung anda sebagai pembaca menjadikannya apa? Kembali ke suara-suara kebodohan yang disuarakan om Ulil, merupakan antitesis dari kenyataan yang ia sentil dan ia paparkan dalam SDHnya.

V
Selamat Datang Hujan(Kudus, 2008: 45-46), selamat datang ramadlan. Seperti hujan, ramadlan sangat dinantikan oleh mereka yang haus akan asupan nilai-nilai religiusitas dan kemarau jiwa yang melanda. “selamat datang hujan/ hadirmu selalu dinantikan/ kala kemarau berkepanjangan/ jiwa-jiwa sujud di tengah panasNya/ meneteskan peluh dan air mata/ seraya melantunkan do’a/ Tuhan..... turunkanlah hujan//”(SDH). Ramadlan sebagai ruang cinta, ruang rindu, meski dalam isi SDH tidak ada satupun kata “cinta” dan “rindu”. Cinta tidak harus dikatakan dengan kata “cinta”, begitupun rindu tak harus dikatakan dengan kata “rindu”. Om Ulil dengan piawai menyembunyikan atau menyimpan ruh cinta di dalam peluh dan air mata, begitupun rindu yang ia simpan dalam lantunan do’a. Oleh karenanya, di luar puisi SDH, tapi dalam buku SDH, ia menuliskan rindu dalam puisi Rindu I(Kudus, 2009: h.19), Rindu II(Kudus, 2009: h.20), Rindu III(Kudus, 2009: h.21). Ia menuliskan cinta dalam puisi Cinta I(Kudus, 2009: h.47), Cinta II(Kudus, 2009: h.48), Cinta III(Kudus, 2008: h.49).
“selamat datang hujan/ kau disambut cacian/ sumpah serapah para insan/ yang harapannya ditenggelamkan/ air mata, dan peluhnya/ menjadi neraka//”(SDH). Selamat datang hujan, selamat datang ramadlan. Hujan adalah rahmat, jika saja engkau mau menjadikannya berkah maka berkahlah hidupmu. Namun jika engkau tak sanggup mengubahnya menjadi berkah, maka laknatlah hidupmu. Maka berhati-hatilah di ramadlan yang hujan ini, dalam mengakali rahmat tersebut. Bisa-bisa ramadlanmu adalah berkah, bisa juga laknat. Tergantung engkau membuka Pintu(Kudus, 2010: h.7) yang mana, dengan Kunci(Kudus, 2009: h.33) yang bagaimana. Semua tergantung padamu sebagai manusia yang diberi pilihan oleh Yang Sejati(Kudus, 2009: h.34) dalam menentukan keputusan dan langkah.
“sementara hujan/ adalah kesempatan penguasa/ para elite politik dan birokrat/ datang membawa bantuan/ atas nama “belasungkawa”/ tidak luput tebar pesona//”(SDH). Begitupun kesementaraan ini berjalan. Sebab sementara ramadlan menjadi suatu kepentingan meributkan kebenaran rukyah dan hisab. Ramadlan menjadi suatu kesempatan manusia bertopeng arab berkoar atas nama “agama” untuk tebar pesona. Begitupun Uang(Kudus, 2006: h.42) menjadi begitu penting bagi mereka (yang seolah) perindu hujan, perindu ramadlan. Menata kepentingan beserta kesempatan tersebut seindah Kupu(Kudus, 2009: h.38). Selamat datang hujan, selamat datang ramadlan.
“selamat datang hujan/ kau tak lagi diharapkan/ berganti panas yang selalu diidam-idamkan//”(SDH). Selamat datang hujan, selamat datang ramadlan. Ramadlan serta hujan sekedar alat untuk memanaskan suasana. Maka pada akhirnya seolah kau—yakni hujan dan ramadlan— (seolah) tak lagi diharapkan, lantaran kita, hanya mengidamkan panas—yang menggantikan hujan dan ramadlan—. Dulu, NU-Muhammadiyyah mengganti hujan dan ramadlan dengan pertikaian dan permbenaran atas fatwa-fatwanya dalam rukyah dan hisabnya. Kini, Islam Nusantara menjadi pemanas atas panas yang dikoar-koarkan HTI dan lainnya dalam urusan kebudayaan yang diagamakan dan diislamkan. Mau Islam yang arab monggo, mau Islam yang nusantara ya monggo. Tapi kalau saling kapling-kapling kebenaran, ya, islam menjadi panas, ramadlan yang hujan pun menjadi panas. Yang paling penting Ajarkan cinta(Kudus, 2009: h.32) agar Persetubuhan sepi(Kudus, Semarang: 2009) bisa menjadi poin penentu atas kemesraan antar komunitas, ormas dan golongan. Kalau kata darbost—merk kaos seharga 15.000, yang paling diminati oleh warga kampung saya— “berdiri diatas semua golongan”. Kembali lagi pada cinta, ya, cinta merupakan pelebur segala perbedaan. Dengan cinta, Rummi mampu menembus batas-batas (yang disebut kekerasan) kekomunalan.
“pada hidup tak ada lagi harapan/ bersandar di pengungsian/ seraya menengadahkan tangan/ tuan..... beri kami bantuan/ bantuan-bantuan pun datang/ bersama para relawan, para dermawan/ ;dari negeri kawan/ tapi mereka terlantar di jalan-jalan/ dan mungkin,/ terlantar di gudang pemerintahan//”(SDH). Pertama, om Ulil, pun saya sadar, ketika hidup tak menciptakan harapan, maka apapun jalannya, bahkan yang tak indah pun akan menjadi jalan yang terpaksa harus dipilih. Mengapa demikian begitu penting? Sebab di Indonesia, khususnya ketika masih Nusantara, tolok ukur suatu hidup tidak sekedar baik dan benar saja, melainkan harus memenuhi keindahan dalam hal apapun. Oleh itu, puisi menjadi penting, lantaran keindahan begitu penting. Dalam bait kelima SDH, om Ulil menyatakan bahwa keindahan hari ini tidak lagi bisa diharapkan kehadirannya. Harga diri merupakan keindahan suatu makhluk dalam lingkaran hidup sesama manusia, baik dan benarnya tak pelu dibahas, lain kali saja.
Karena bangsa Nusantara adalah bangsa yang berbudi daya tinggi di jagad bumi. Maka hidup masyarakat Nusantara tidaklah sekedar baik dan benar. Oleh karena itu, om Ulil dalam “puisi balsem”nya yang semoga menjadi puisi wajib—kalaupun tidak bisa, semoga menjadi puisi sunnah— menyentil dengan “seraya menengadahkan tangan”, “tuan.... beri kami bantuan”. Betapa panasnya balsem tersebut, saya sebagai manusia Nusantara merasa malu jika dalam kondisi tidak mampu harus menerima bantuan-bantuan (pun) yang datang bersama para relawan, para dermawan. Apalagi datangnya ;dari negeri kawan, bisa saja Malasiya, Singapura, Brunei Darussalam, Vietnam, Papua Nugini, malulah jika harus dibantu mereka sebagai bangsa yang menjadi muasal dari berdirinya negara-negara tersebut, bahkan jika datang dari Timor Leste, teramat terinjak-injak dan terpantat-pantat bangsa ini. Al yadu ulya khoirum mina yadi sufla, lebih baik tangan (bangsa) kami diatas.
Kedua, secara kenikmatan yang terberi, bangsa Nusantara—yang sekarang dipolitisir sebagai Indonesia— lebih banyak dirahmati oleh Allah ketimbang bangsa lain, baik secara ekonomi, budaya, serta bidang lain. Namun karena suara-suara kebodohan(Apa kabar suara) itulah yang menjadikan Nusantara bernama Indonesia memasuki ruang rahmat Yang terkubur(Kudus, 2009: h.37). Sehingga bulan mati,/ angin mati,/ rasa mati,/ bintang pun mati// di hati//(Sepi, Kudus, 2009: h.40). Tak hanya itu, keNusantaraan telah mati, Di mana?(Kudus, 2008: h.57) di ruang tanpa Cahaya(Kudus, 2008: h.55) yang bernama Indonesia.
Tamparan dari bait tersebut begitu membuta-buta babi, membabi-babi buta. Tapi mereka (bantuan-bantuan) terlantar di jalan-jalan/ dan mungkin,/ tertahan di gudang pemerintahan/. Selain martabat sebagai rakyat terkoyak-moyak oleh bantuan negeri tetangga, bantuan-bantuan itupun terlantar di jalan-jalan, yakni orang-orang yang menelantarkannya karena tidak menyadari bahwa segala yang materil di Nusantara tak akan bisa menyejukkan apa-apa. Seperti hujan dan ramadlan, mestinya kita, masyarakat Nusantara, sadar bahwa tiada kesejukan di bangsa ini kecuali segala yang inmaterial. Bangsa yang berpegangan pada keindahan, setelah segala yang baik dan benar telah terpenuhi. Mengapa kita turun kelas? Selamat datang hujan/ (kata pak presiden)/ kau membawa berkah bagi negeri ini/ selamat datang hujan/ (kata seorang bocah)/ kau tak lagi memberkati/ Tuhan, kutukan apa lagi semua ini/ atau sekedar peringatan/ agar kami lebih bersahabat dengan alam/ tapi mengapa tidak kau kutuk mereka/ yang membabi buta/ menelan ribuan lahan/ menelan ribuan lautan/ sedang kami tidak kebagian makan// Kudus, 080308 (SDH).
Ironi yang tumpang tindih dengan romantisme personal beserta balsem-balsemnya, memberi kabar bahwa hampir seluruh Selamat datang hujan, tidak sekedar satu puisi tersebut namun keseluruhan kumpulan puisi tersebut, memiliki aroma-aroma semacam itu. Perlu diingat, dan perlu dicatat, bahwa Angin(Kudus, 2009: h.29) yang berhembus dari diri kita, di bawah pendar cahaya Bulan(Kudus, 2009: h.15-16) kehidupan—yakni cahaya yang dipendarkan dari Allah— akan terhirup oleh manusia yang berada pada lingkaran hidup kita. begitupun yang mesti disadari oleh om Ulil.

VI
Sebelumnya, saya haturkan maaf dari om Ulil, lantaran sejak diterbitkan Bukukita Programme dan Cipta Prima Nusantara Semarang pada Juni, 2010, baru kali ini bisa mengoret-oret dan mengawur-ngawurinya dengan sedikit celoteh dan kemesraan saya. Harapan saya, semoga puisi-puisinya—serta tulisan lainnya— tidak menjadi Stalagmit(Kudus, 2009: h.30) dalam gua ketidakurusan hidup, seperti Indonesia hari ini. Semoga ia mampu meReinkarnasi(Kudus, 2009: h.18) dirinya beserta puisi-puisinya untuk tetap hidup sebagai penyair (seperti dalam puisi Reinkarnasi bait terakhir), yang mereingkarnasiku/ dalam derap nafas-Mu//. Sebab ia (semoga saya dan anda-anda yang merasa penyair juga) bukan waAsy-syu’araau yattabi’uhumu ulGhaawuun(a)[5]#224, alam taraa annahum  fii kulli waadin yahiimuun(a)[6]#225, waAnnahum yaquuluuna maa laa yaf’aluun(a)[7]#226 (Asy-Syu’ara). Melainkan illa alladzina aamanuu wa ‘amiluu assholihaati wa dzakaruuLlaha katsiiran wa antaasharuu min ba’di maa dlulimuu. wa saya’lamu alladzina dlalamuu ayya munqalibin yanqalibuun(a)[8]#227 (Asy-Syu’ara).
Maka dalam ramadlan kali ini, dalam hujan ini, selamat datang ramadlan, selamat datang hujan. Semoga segala Ringsut(Kudus, 2009: h.31) bisa lekas Pecah(Kudus, 2009: h.36) Di batas senja maya(Kudus, 2008: h.52), baik untuk om Ulil, saya, NU, Islam(tidak mengkhususkan Islam Nusantara), Indonesia, Nusantara, Manusia dan seluruh Alam Semesta. Biar Balada esok pagi(Kudus, 2008: h.44) mampu merawat apapun Di balik senyummu(Kudus, 2008: h.56) sebagai Sajak terakhir buat Eva(Kudus, 2008: h.35), (kau tahu Eva?—siapakah dia, akupun masih meragukannya—) Di ujung Rembulan(Kudus, 2008: h.53-54).
Terakhir, sebelum benar-benar awur-awuran ini anda baca, semoga ada kemanfaatannya, selaksa hujan, seperti ramadlan. Saya akhiri dengan satu puisi yang merepresentasikan om Ulil dari pengakuannya. Sebelumnya, saya kembali ulangi, selamat datang ramadlan. Nikmatilah sela-sela titik-titik ramadlan yang teramat lebih luas dan lapang. Selamat datang hujan, tiap rintik yang berdentum itulah hujan yang memuasakan dirinya dalam awan-awan kesedihan umat manusia. Kesabaran air menjadikan hujan sebagai rahmat bagi semesta alam. Selamat datang hujan, selamat datang ramadlan.
Aku

aku adalah tulang-belulang tak berdaya
aku adalah segenggam tanah liat yang diperkosa
aku adalah setitik embun bening
yang keluar dari lubang-lubang kenistaan
aku selalu dipenjara
dikurung
dicekik
oleh waktu yang meremas habis
kaki dan lengan bersama
sang raja nafsu

kemudian,
aku ingin menjilat
rasa tubuhku yang pahit
aku ingin mencium aroma
tulangku yang anyir
aku ingin meminum
air liur yang keluar dari lubang-lubang kenistaan
aku adalah ketamakan

aku adalah burung kecil
yang terbang menerobos sekat-sekat pemahaman
aku adalah elang yang ingin mencakar
mencabik-cabik muka kesombongan
aku adalah macan yang ingin menerkam
menghardik di setiap langkah kebenaran
aku adalah kekejaman

Kudus, 2006

Kos Bintang 2-Gg. Pisang, Ramadlan 1436


[1] Tanpa perhitungan, tanpa menghitung timbal-balik pemberiannya kepada hamba-hamba yang berusaha mencarinya.
[2] Sahifah artinya halaman.
[3] Judul pengantarnya yakni Memperhitungkan kata, Melahirkan Estetika dan Makna.
[4] Secara terjemahan konvensional, Thin merupakan tanah. Namun bagi saya, Thin tidaklah sekedar tanah, coba buka Surat At Thin, barangkali bisa menjadi referensi anda.
[5] Tafsir Arafat: dan penyair-penyair (itu) sedang diikuti mereka (yakni orang-orang) yang tersesat.
[6] Tafsir Arafat: apakah engkau tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya mereka(yakni penyair) dalam (keadaan) 1. segala—merupakan arti umumnya— jurang yang signifikan dalamnya, 2. atau tiap-tiap jurang yang dalam, 3. atau (menurut saya)sebagian jurang yang mendalam.
[7] Tafsir Arafat: dan sesungguhnya mereka(yakni penyair) sedang membicarakan apa yang tidak mereka laksanakan.
[8] Tafsir Arafat: kecuali (penyair) yang beriman dan mengamalkan keshalehan serta mengingat Allah dalam kuantitasnya dan menerima pertolongan dari sesudah berbuat salah. Dan orang-orang yang berbuat salah akan mengajarkan mana yang dari hati bagi mereka yang berhati.

Awur-awuran mengenai Selamat Datang Hujan karya Ullyl Ch.

2 comments:

  1. Mantap Mas Kang Mas

    Salam:
    Lukni Maulana

    ReplyDelete
    Replies
    1. suwun kiai lukni,,,, bukune njenengan pundi jeh?

      Delete

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html