Tuesday, 23 June 2015

Mempertimbangkan Upin-Ipin; Suatu Penghancur (Bahasa) Bangsa


Oleh: Arafat Ahc
A.n Ibnu Abdul Hadi Ch. Al Jathawy AsSlemany
Rais Tanfidziyyah PeSaN-ALiD Demak, mantan Redaksi buletin eL-Insyaet Madrasah NU TBS Kudus
I
Tentunya banyak dari para pembaca yang sudah mengetahui tentang serial kartun Upin-Ipin. Serial Kartun buatan Mohd. Nizam Abdul Razak, Mohd. Safwan Abdul Karim, Usamah Zaidbekas mahasiswa dari Multimedia University Malaysia, dan para pemilik Les' Copaque, menjadi salah satu serial kartun yang digandrungi remaja dan anak-anak sekarang. Serial kartun yang ditayangkan di MNC TV, Indonesia, menjadi panutan para pemirsa MNC TV(bukan bermaksud promosi atau iklan)—mayoritasnya adalah warga Indonesia dalam berbahasa. Padahal bahasa tersebut bukanlah bahasa resmi negara tercinta (kita) Indonesia. Namun (demam) bahasa tersebut rasanya sudah melekat dilidah para remaja dan anak-anak negri kita.
“Betul-betul-betul” merupakan satu contoh ucapan yang sering saya dengar di telinga saya dari orang sekitar. Saya sebagai pengamat budaya amatiran, merasa hal tersebut sebagai suatu kerugian yang maha dahsyat. Harga diri negara kita sudah diinjak-injak oleh negara melayu tersebut. Coba bayangkan, berapa banyak kejadian yang sudah dilakukan oleh negara tersebut kepada (Negara) kita, baik pemerintahan, budaya, maupun rakyat (negeri) kita. Selain bahasa anak negeri yang sudah diporak-porandakan Malasiya, banyak kejadian yang telah merugikan negara kita oleh negeri melayu tersebut.
Pertama, diwaktu dekat ini, tertanggal di bulan desember ketika ada perhelatan sepak bola AFF. Apa yang telah dilakukan oleh suporter Malasiya terhadap pahlawan lapangan hijau Merah Putih. Tentunya semua pembaca sudah mengetahui kejadian tersebut.
Kedua, pengklaiman atas budaya bangsa kita, diantaranya Reog ponorogo. Mungkin cuma satu budaya yang ketahuan oleh kita atas pengklaiman budaya (yang amat banyak) oleh mereka. Sedangkan yang tidak ketahuan berapa(?) bayangkan! Menimbang budaya kita merupakan budaya terindah di dunia. Ketiga, pengklaiman pulau milik tanah air kita. Banyak pulau di area perbatasan Indonesia dengan negeri melayu tersebut, yang telah diklaim negara Malasiya.
Keempat, kasus Manohara dan para TKI atau TKW yang di Malasyia. Dalam kasus ini dapat diambil bahwa warga negara kita di Malasyia seringnya mendapat pelayanan hidup yang tak terjamin. Maaf, saya sedikit menyangkut pautkan permasalahan Upin Ipin sebagai penghancur bahasa bangsa dengan semua kesakitan yang dialami Indonesia atas pelecehan dan kecurangan Malasiya.
Saya tidak bertujuan apa-apa kecuali agar semua warga negeri kita mau mengintropeksi diri. Agar tidak mudah dijajah oleh negara lain dengan bahasa dan budaya mereka dan tidak mudah tertipu daya oleh negara tersebut serta negara-negara lainnya dalam khazanah kebahasaan dan kebudayaan.

II
Tenarnya serial kartun Upin-Ipin dan efek moral kebudayaannya adalah cambuk yang sangat keras pada negeri kita. Tak ayal, kejadian itu mengingatkan saya akan bahasa negara kita dan menjadikan miris hati. Ketakutan dan kegelisahan bagaimana kelanjutan bahasa tanah air bisa mengakar di jantung para warganya masing-masing.
Meski bahasa melayu merupakan satu dari ragam khazanah bahasa di Indonesia. Namun disayangkan jika betawi seseorang menjadi melayu, jika jawa seseorang menjadi melayu, jika madura orang berubah menjadi melayu, dan seluruh etnisitas kebahasaan merubah wujud menjadi seragam melayu semuanya. Sehingga keberagaman dan pluralitas kebahasaan akan hilang. Karena itu merupakan bagian dari cita-cita globali-sasi, yang bercita-cita pada keseragaman dan kesamaan dalam segala hal.
Mengenai, perlakuan supporter sepak bola Malasiya kepada pahlawan Indonesia-nya lapangan hijau, barangkali menjadi suatu pertimbangan bagi PSSI. Mengapa? Karena kekerasan bagi saya, yang lebih parah adalah ketika kemunafikan dan penusukan dari dalam selimut itu berlaku. Sementara jika analogi Malasiya merupakan musuh, maka mestinya kita bisa melakukan suatu siasat, formasi, strategi untuk melakukan perlawanan yakni peperangan, dan itu teramat mudah. Tapi jika ada saudara sebangsa, yakni PSSI, yang menikam dari belakang dan dari dalam selimut, dengan politik yang berwajah olah raga memberangus kesehatan yang di jalankan para atletnya. Jadi mana yang lebih dikhawatirkan?
Dalam surat atTaubah ayat 71, sebagaimana tafsir Gus Mus, bahwa mu’min satu dengan mu’min lainnya merupakan bolo[1] bagi satu sama lain. Beliau menjelaskan jika bukan bolo maka musuh dan tidak mungkin bolo akan melukai bolo. Jika ada bolo melukai bolo, maka itu suatu kecelakaan. Wajar saja ketika Malasiya melukai Indonesia, lantaran mereka bukan bolo bagi Indonesia, seperti kasus Manohara dan kasus TKI serta TKW lainnya. Namun suatu kecelakaan jika bolo bernama PSSI, dengan siasat politiknya melukai bolo, yakni insan persepakbolaan. Maka yang paling berbahaya dan miris itu apa?
Jika budaya kita diklaim oleh mereka, maka hanya ada kata “Asu” bagi mereka. Lantaran kebudayaan merupakan karakter personal yang bersosial dalam jangka yang panjang. Karena kita sudah bersusah payah dari satu orang yang konsisten berpikir dan merenung untuk menjadikannya sebagai ucapan, kemudian ucapan itu dikonsistenkan menjadi suatu karakter. Dan memang tepatnya ketika kita kecurian, hanya kata ”Asu”lah yang menjadi wakil dari emosional seorang manusia. Sebab kita bukan malaikat. Tapi jika kita mau merenungkan kembali, memikirkan kembali. Pertama, apa perhatian khusus yang diberikan pemerintahan kepada (seluruh) kebudayaan yang dihidupkan masyarakatnya? Lalu seberapa kuat masyarakat menang-kalah oleh pertandingan serta pertarungan antara dirinya—yakni kebudayaannya— dengan orang lain—yakni kebudayaan luar—.
Maka benar adanya, jika kita patut merenungkan diri Indonesia untuk setelah mengasukan Malasiya yang mencuri kebudayaannya. Kedua, Malasiya dan Indonesia merupakan bangsa serumpun. Mungkin saja, karena keserumpunan itu, dan hanya administratif kenegaraannya saja, kebudayaan yang sama bisa sama-sama dimiliki oleh kedua bangsa tersebut. Toh, WNI banyak yang menetap di Malasiya, sehingga masih berkemungkinan kalau penyebab Malasiya memiliki kebudayaan tersebut, lantaran WNI yang mengembangkan kebudayaan Indonesia disana. Berlandaskan rasa cinta terhadap bangsanya disertai kerinduan yang mencuat.
Terakhir, bangsa kita kan bangsa kreatif dan bangsa yang kaya akan kebudayaan. Logisnya, masak satu-dua kebudayaan dicuri orang lain, kita lantas marah sejadi-jadinya dan panas di kepala yang dikedepankan? Jika memang itu benar-benar pencurian (semoga memang benar), maka saya yakin akan tumbuh ratusan, ribuan, jutaan kebudayaan yang bermunculan dan lahir dari orang-orang kreatif seperti masyarakat Indonesia yang Nusantara.

III
Soal klaim kepulauan milik Indonesia, barangkali itu merupakan wilayah politik dan orang-orang berdasi serta militernya. Sebab jika ada satu-dua pulau yang dicuri Malasiya, Indonesia tidaklah mengetahui kecuali orang-orang berdasi yang menjadi wakil dari kita. Lantaran pulau-pulau yang dicuri mereka adalah pulau-pulau yang tak berpenghuni dan bertempat di perbatasan wilayah antar negara. Jadi ada beberapa kemungkinan. Pertama, dengan perjanjian bawah tanah antara (orang) Malasiya dan (orang) Indonesia, terjadilah beberapa kesepakatan sehingga Malasiya memiliki hak atas suatu pulau yang bersifat nasional yang di personalkan seseorang yang berkepentingan dari Indonesia.
Kedua, pasca keruntuhan era Soeharto, militer yang dipisahkan dari hak-haknya untuk berpolitik. Jika militer sebagai kekuatan pertahanan suatu negara atas negara lain tidak diberikan hak untuk mengisi parlementer, maka apa daya militer untuk mengatasi konflik antar negara menyoal bidang yang digeluti. Mestinya militer dikembalikan hak-hak kekuasaannya sebagai otonomi negara bukan otonomi pemerintahan. Berbeda dengan kepolisian, yang segalanya di bawah presiden langsung. Militer kekuasaannya di bawah menteri dalam negeri, dan mendagri kekuasaannya di bawah presiden. Itu yang timpang, menyoal teritorial negara yang mesti dijaga oleh otonomi di tingkat bawah tiga, bukan otonomidi tingkat bawah dua di bawah presiden langsung.
Itulah yang menjadi keruwetan bangsa kita sendiri dalam hal pertahanan dan ketahanan teritorial negara. Begitu juga yang dialami WNI kita di Malasiya. Memang sangat “Asu” mereka, dengan semena-mena memperlakukan WNI. Tapi, perlu diingat, mengingat WNI yang berada di Malasiya sama-sama tidak terjaga keamananannya dan kehidupannya seperti tinggal di Indonesia. Di negara sendiri, keamanan warganya saja tidak pernah dilindungi. Para warga negara selalu melindungi diri mereka sendiri dari serangan dan ancaman apapun. Bahkan ketika di jalan raya, warga Indonesia malah merasa terancam oleh adanya keamanan bernama polisi. Ketika di pengadilan, di   kantor-kantor cat merah, mereka akan berusaha melindungi diri mereka sendiri seaman-amannya dari serangan manusia yang hidup dari gaji rakyatnya.
Maka apa yang perlu dirisaukan, jika keamanan dirinya di negara sendiri tidak pernah dirasa aman. Jadi paling tidak para WNI yang berada di Malasiya memiliki bekal dalam hal bertahan hidup dari segala serangan dan ancaman yang mengancam dirinya. Sebab sebelum mereka hidup di luar negeri, mereka sudah di­try-out oleh bangsanya sendiri. Sehingga dalam hal pertahanan hidup, masyarakat bangsa Indonesia jauh ampuh dan siap uji di negara manapun. Dan itu tidak perlu di pertanyakan lagi. Tapi Malasiya tetaplah “Asu”, meski WNI yang disana sangatlah tangguh.

IV
Kembali kepada Upin-Ipin. Sedikit pertanyaan bagi kita, menapa kita mau dijajah atas bahasa mereka? Padahal bahasa negeri kita adalah bahasa terindah yang berbudi luhur. Malukah kita memakai bahasa kita atau sekedar kita ikut-ikutan bahasa yang digunakan penjajah bahasa tersebut? Kesemuanya adalah PR bagi kita, bagi yang merasa warga negara RIkalau yang tidak merasa ya………terserah.
Mungkin ini adalah fenomena yang sering terjadi. Fenomena demam pada kedatangan yang baru di Indonesia. Kau tahu demam? Demam adalah penyakit yang kedatangannya karena ketidaktahanan tubuh kita pada virus-virus luar. Demam sangat cepat memuncak pada titik tertinggi dari tingkat daya tahan tubuh manusia serta mudah sembuhnya. Begitupun dengan bahasa Upin-Ipin yang (kemungkinannya) menjadi demam bagi masyarakat Indonesia. Kemungkinannya, tidak lama bahasa Upin-Ipin akan lekas hilang dan kesembuhan akan menghampiri masyarakat Indonesia. Namun perlu direnungi, bahwa seseorang haruslah berhati-hati dalam berucap. Sebab jika ucapan itu dikonsistenkan, maka tidak lama akan menjadi suatu karakter bagi orang tersebut. Jika karakter itu berpendar pada wilayah sosial kemasyarakatan maka berharaplah kalau karakter itu tidak sesegera mungkin menjadi suatu kebudayaan masyarakat. IhdinaShiratalMustaqim. Tunjukkanlah kami pada jalan yang lurus, Tuhan, jalan yang lurus sesuai karakter bangsa Indonesia.
Selain sisi negatif dari adanya serial kartun Upin-Ipin di tanah air, yang memperparah bahasa ibu pertiwi. Serial kartun Upin-Ipin memiliki pengaruh positif pada pengetahuan anak tentang agama Islam. Namun dari sisi positif dan negatif yang ada, realita yang kita temukan adalah sisi negatif yang lebih menonjol diperoleh anak bangsa negeri ini. Sementara sisi positif yang didapatkan hanyalah sekian persen saja. Oleh itu, tidak perlu kita menyalahkan kesalahan (negara) lain, sebelum (negara) kita sendiri sadar dan mau bertaubat kembali pada jalan lurusnya. Belajar untuk tidak njelimet dan mbingungi, agar mengenal siapa diri sejatinya bangsa Indonesia. Serta berkenan meninggalkan segala hal dari luar yang berpotensi merubah diri Indonesianya dan meneguhkan untuk konsisten pada jati diri Indonesia.

Kajeksan, Shaffar 1432
(di buletin eL_Insyaet edisi 42)

[1] Bolo merupakan antonim dari musuh.

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html