Sunday, 14 June 2015

Hutan Rejenu, Menyimpan Jutaan Misteri

Oleh: Arafat Ahc
Rais Tanfidziyyah PeSaN-ALiD Demak, Mantan Redaksi buletin eL_Insyaet

I
Di area Rejenu terdapat makam-makam ‘Auliya’ yang berjumlah 72 (tempatnya menyebar sampai petilasan Syaikh Subakir), diantaranya Syaikh Abi Hasan Assyadzaly, Sayyid Ali, dan Syaikh Ishak.[1]Neng Rejenu iki ono makome 72 wali. Panggone nyebar nyangkek pucuk petilasane Syaikh Subakir.[2]” tutur Paijan. Selain makam-makam ‘Auliya’ yang menjadi suatu keindahan di Hutan Rejenu, terdapat beberapa tempat eksotis yang bisa dikunjungi dan memiliki sejarah yang misterius—seperti misterinya makam-makam ‘Auliya’— untuk dipelajari.
 Air Tiga Rasa, Air Lima Rasa serta pemandangan-pemandangan—menjadi khas Bumi Khatulistiwa— yang begitu eksotisnya dan jarang di temukan di negara lain. Merupakan khasanah Indonesia dan kemisterian pegunungan Muria. Lantaran di kedua tempat tersebut memunculkan aroma belerang, tetapi tidak ditemukan aktifitas-aktifitas gunung aktif di pegunungan Muria. Mengapa(?), waAllahu ‘alam. Yang paling penting, masyarakat menyakini keberadaan paku bumi—yakni para wali— yang bersemayam disana serta makhluk lainnya, menjaga kearifan alam.
Kawasan Rejenu secara geografis terletak di desa Japan, kecamatan Dawe, kabupaten Kudus. Lokasi tepatnya di atas obyek wisata Air Terjun Monthel, sebelah utara makam Raden Umar Sa’id[3]. Satu diantaranya yakni Air Tiga Rasa. Letaknya di belakang makam Syaikh Abi Hasan Assadzaly.
Air Tiga Rasa yakni sumber air yang memiliki tiga rasa. Rasa pertama, anyep-anyep kecut[4], berkhasiat mengobati berbagai penyakit. Menyoal obat berbagai penyakit, lebih baik dikembalikan kepada Allah dan keyakinan masing-masing. Rasa kedua, seperti rasa minuman bersoda “sprite” (bukan untuk komersil dan iklan lo), yang berkhasiat dapat menumbuhkan rasa percaya diri dalam berbagai permasalahan hidup. Dan dari sumber yang ketiga memiliki rasa semacam minuman keras “tuak” atau “arak”. Dari rasa yang ketiga memiliki khasiat memperlancar rejeki jika bekerja keras untuk mendapatkannya. Menyoal khasiat-khasiat dari ketiga rasa tersebut, masyarakat setempat, yakni penduduk Japan, mempercayai khasiat tersebut. Jadi jika tidak sesuai dari realitas yang anda temukan, maka jangan salahkan siapapun, termasuk penduduk setempat ataupun saya, salahkanlah diri anda. Ini hanya sekedar keyakinan, tapi tetaplah misterius(?) bukan. Ketiga jenis rasa tersebut, jika dicampur menjadi satu maka akan menjadi tawar rasanya.
Konon, dulunya mata air di Air Tiga Rasa terdiri dari empat mata air. Jika air dari keempat sumber mata air tersebut dicampurkan menjadi satu maka (khasiatnya) dapat mengabulkan segala permohonan peminumnya. Kembali lagi, bahwasanya hal semacam itu bagi orang-orang yang percaya. Sementara yang tidak mempercayai jangan berfatwa apapun mengenai hal tersebut, jangan ikut campur! Oleh Syaikh Abi Hasan Assyadzaly, mata air keempat ditutup. Mungkin kekhawatiran Syaikh Abi Hasan kepada masyarakat yang mengghoyah[5]kan air tersebut yang sebenarnya washilah[6]. Karena ditutup, (kini) teramat banyak peziarah yang melakukan tirakatan guna melihat dan mengambil air dari mata air keempat untuk dicampurkan menjadi satu dengan air lainnya.
Sementara Air Lima Rasa, tak jauh beda dengan Air Tiga Rasa, hanya saja ada  tambahan kedua rasa yang memunculkan aroma belerang(kok belerang?). Padahal pegunungan muria tidak termasuk dalam jenis gunung berapi. Tapi  yang perlu kita benar-benar catat, yakni setiap dataran tinggi pasti memiliki kandungan panas bumi, dan panas bumi itulah yang menjadikan setiap pegunungan sebenarnya memiliki potensi untuk meletus. Akan tetapi hal itu tidak terjadi pada kasus gunung Muria, mengapa(?). Begitulah misterinya gunung Muria, khususnya hutan Rejenu.

II
Adapun hutan Rejenu baru diperhatikan oleh pemerintah kabupaten Kudus pada tahun 1992. Keterangan tersebut dipaparkan oleh Bapak Sami’un[7], sementara menurut satu penjual makanan dan minuman (yang tak mau disebutkan identitasnya) disana, bahwa hutan Rejenu bawu dirawat oleh pemerintah pada tahun 1993. Merujuk pada Mpu Samidaya, orang Japan asli, sebagai palarasan[8] hutan Rejenu dan juru kunci pertama makam Syaikh Abi Hasan Assyadzaly.
Ya, karena memang hutan, selain Air Tiga Rasa dan Air Lima Rasa, tentunya banyak pepohonan yang rindang serta beragam disana. Fauna juga banyak jenisnya. Selain itu, ada Gua Jepang, Sendang Anglingdarmo serta Air Terjun (yang belum bernama) samping Air Lima Rasa.
Mengenai medan menuju hutan Rejenu, pertama bisa melalui jalan setapak dari Air Terjun Monthel. Kedua, menggunakan kendaraan bermotor, tapi kendaraaan beroda dua, lewat perkampungan desa Japan, atau kalau mau lebih sehat jalan kaki lewat jalur ini. Untuk kendaraan bermotor hanya sampai pada area makam Syaikh Abi Hasan Assyadzaly. Sementara menuju ke tempat-tempat lain hanya bisa jalan kaki dan mendaki.
Mengenai rute untuk sampai ke petilasan Syaikh Subakir, yakni pertama di makam Syaikh Abi Hasan Assyadzaly. Di belakang makam terdapat Air Tiga Rasa dan sebelum memasuki gerbang masuk area makam akan menemui makam Sayyid Ali. Ketika memasuki gerbang masuk, sebelah kanan ada makam Syaikh Ishak. Selain itu, area makam Syaikh Abi Hasan Assyadzaly merupakan pos pendakian terakhir bagi pendaki yang akan mendaki ke puncak Argowiloso atau Argojembangan[9]. Sekedar tambahan bahwa secara astronomi, keberadaannya pada koordinat 6◦39’6” LS 110◦54’10” BT.
Kedua, mendaki menuju pertigaan, jika lurus terus mentok[10] maka kita akan menjumpai Air Terjun (samping) dan Air Lima Rasa. Kemudian balik lagi ke pertigaan sebelumnya dan melanjutkan lagi ke jalur menuju petilasan Syaikh Subakir. Sepanjang jalan akan menemukan banyak makam tanpa identitas yang digadang-gadang atau diyakini sebagai makam para wali yang berjumlah banyak tersebut. Di titik terakhir, meski akan ada cabang jalan, saya yakin jika anda berniat ziarah kesana, tidak  akan kesasar, puncak keberadaan petilasan Syaikh Subakir.
Ketika saya melakukan ekspedisi sendiri, di hari Jum’at—wajar, liburnya santri hanya di hari Jum’at— mulanya hanya berniat ziarah ke makam Syaikh Abi Hasan Assyadzaly. Namun ada hal lain (yang tidak dapat ditulis sebab sensor personal) yang menjalankan kaki saya untuk terus berjalan melewati jalur-jalur di atas dan sampai pada petilasan Syaikh Subakir. Pertama, ada suasana, yang memang suasana khas flora dan fauna, seolah dzikir dan wirid yang terus mengagungkan Sang Hyang Tunggal, Allah Ta’ala. Kedua, tiap kali bulu kuduk berdiri, ternyata di sekitar tanah yang kuinjak merupakan makam seorang (yang diyakini) wali. Tapi segala itu kembali lagi kepada anda, apakah anda benar-benar meyakini yang ghaib atau tidak. Atau sekedar wacana tanpa dilandaskan pada keyakinan hati anda. Namun tidaklah begitu penting untuk didiskusikan.

III
Syaikh Abi Hasan Assyadzaly adalah seorang wali kelahiran Baghdad, Irak yang berkelana ke tanah Jawa. Motif berkelananya diyakini masyarakat sebagai sebuah dakwah, mengajak masyarakat Jawa, yang animisme dan dinamisme ke dalam agama Islam. Bersama Syaikh Subakir dan para wali yang berdakwah di tanah Jawa sekitar abad 13 dan menyebar. Sementara Syaikh Abi Hasan Assyadzaly berdakwah di daerah Rejenu dan Japan.
Beliau diantar oleh Laksamana Zheng He[11] menggunakan perahu ke pegunungan Muria, tepatnya di hutan Rejenu. “Syaikh Abi Hasan olehe syebarke Islam ten mriki kinten-kinteneabad tigo welas[12] papar Pak Sami’un. “Syaikh Abi Hasan mriki diterke Sam Poo Kong beto perahu[13]” tambah Paijan.
Japan, merupakan tempat beliau berdakwah, lantaran hanya Japan lah yang berpenduduk. Sementara daerah Colo sudah dipegang oleh Raden Umar Sa’id. Sehingga jaringan kewilayahan berdakwah hanya dalam batas Japan-Rejenu. Sedangkan Rejenu merupakan tempat khalwat, uzlah serta padepokannya—semacam pesantren, jika di era sekarang—. Letak padepokannya berada (yang kini) di sebelah timur musholla—sebelah selatannya makam Syaikh Abi Hasan Assyadzaly—.
Ada sebuah cerita unik mengenai kekeramatan yang ada pada Syaikh Abi Hasan. Suatu ketika terjadi teror kepada umatnya di Japan oleh pendeta Hindu. Menyihir seluruh buah-buahan yang ada di Japan, yang mulanya manis menjadi pahit, yang asam menjadi pahit. Melihat peristiwa semacam itu, sesepuh desa Japan sowan[14] kepada beliau agar njapani[15] peristiwa aneh tersebut. Kemudian Syaikh Abi Hasan melakukan ritual, yakni istighasah sendiri. Munajat kepada Allah agar keadaan bisa kembali seperti semula.
Setelah beliau njapani, akhirnya keadaan kembali seperti semula. Buah-buahan kembali menjadi seperti sebelumnya. Yang manis kembali menjadi manis, yang asam kembali menjadi asam. Itulah yang melatarbelakangi asal-usul nama desa Japan, yang berasal dari Syaikh Abi Hasan njapani daerah tersebut dari sihir pendeta Hindu.
Perkiraan beliau wafat pada 25 muharram (untuk tahunnya masih dalam proses penggalian data oleh pihak yayasan), karena warga Japan mengadakan ritual tahunan mengenang beliau pada tanggal tersebut. Yakni buka luwur[16] atau biasa kita kenal dengan tradisi haul. “Mriki nek dihauli pas tanggal selawe syuro, nek tahun sedane mboten ngertos. Amargi penduduk Japan ngertose sampun wonten makam piyambak.[17] papar Pak Sami’un.
Di catatan lain, Syaikh Abi Hasan Assyadzaly merupakan murid dari Raden Umar Sa’id, dengan nama Syaikh Syadzaly yang sangat disegani. Beliau termasuk murid yang paling dikasihi Sunan Muria semisal kisah ketika ia memegang peranan penting tatkala Sunan Muria mengadu kesaktian dengan Dampo Awang. Namun karena banyak murid lain yang iri, kemudian tersisih maupun disisihkan, maka beliau (dengan kesadarannya) menyunyikan diri di wilayah Rejenu. Guna meminimalisir perselisihan dan permasalahan atas iri murid lainnya.

IV
Mengenai berbagai versi dan ketidakselarasan antara satu penggal cerita dengan cerita lainnya, baik dari satu sumber maupun beberapa sumber, merupakan kewajaran. Lantaran ketidakpernah adanya teks yang akurat yang memenuhi syarat ilmiyah bagi suatu kebenaran sejarah. Meski semacam itu, mampu mengasah kemampuan tingkat perasaan kita dan kekuatan keyakinan mempercayai folklore[18] sebagai suatu acuan penting untuk mempelajari sejarah yang lahir di bangsa kita.
Meski folklore merupakan suatu yang fiksi. Terkadang suatu yang bagi ruang akademisi (sok ilmiyyah) fiktif dan tidak layak diterima kebenarannya. Namun bagi kebenaran nurani, suatu yang fiksi kadang sangatlah realistis, nyata dan ilmiyyah. Hanya saja kemampuan logika akal belum sampai (atau belum ditemukan rumus dan teorinya) pada logika hati atau belum ditemukannya logika akal.
Seperti menurut Paijan, bahwa Syaikh Abi Hasan Assyadzaly merupakan pendirik tarekat Syadzaliyyah. Alasannya karena Syaikh Abi Hasan Assyadzaly masih memiliki satu saudara yang berada di mesir yakni Syaikh Abu Hasan Assyadzaly. Jadi masih memiliki kemungkinan bahwa tutur tinular yang ia terima menjadi suatu kebenaran sejarah. Namun bagi Pak Sami’un, Syaikh Abi Hasan Assyadzaly bukanlah pendiri tarekat Syadzaliyyah. Sebab pendiri tarekat tersebut berada di mesir, yakni Syaikh Abu Hasan Assyadzaly.
Benar bukan(?), sejarah merupakan matematika ingatan dan waktu. Siapa yang tetap meneguhkan ingatan dan menyimpan kuat erat, maka dialah yang akan menjadi kebenaran sejarah. Tapi kebenaran sejarah akan patah, jika waktu menggerusnya tanpa ditulis dalam wujud teks. Maka kebenaran yang menang adalah kebenaran sejarah yang telah di tekskan. Barangkali inilah sebuah usaha saya (yang bertanggung jawab dalam ruang asal) untuk terus mentradisikan matematika ingatan dan waktu ke dalam ruang teks-teks agar abadi. Bukan untuk menang atau kalah, namun untuk meneruskan folklore yang dimiliki bangsa kita agar tidak hilang. Sesuai dengan variabel yang menjadikan hasil dari matematis atas ingatan dan waktu yang terus menerus berjalan dan move on.
Terakhir, sejarah memang tidak pernah ada suatu kebenaran yang hakiki, sebab disana ada kepentingan yang telah diselipkan. Hanya kepekaan rasa anda maupun saya, yang mampu memfilter untuk menjadikan dongeng yang benar bagi teman tidur dan masa depan anak cucu kita. Terlepas dari itu, hutan Rejenu (umumnya pegunungan Muria) merupakan hal yang masih misteri untuk terus digali dan ditelusuri keakuratan data dan ceritanya. Mengenai Air Tiga Rasa, mengenai Syaikh Abi Hasan Assyadzaly, Rejenu, Japan serta kemisterian yang lain. WaAllahu ‘Alam. Semoga kita semua menuju shiratal mustaqim dan terhindar dari godaan sejarah yang menjerumuskan.

Japan, Syawwal 1432

di buletin eL_Insyaet edisi XIV

[1] Berdasarkan informasi dari Paijan, salah satu pedagang yang penduduk asli di area Rejenu dan realita keberadaan makam yang telah dikijing.
[2] Di Rejenu ada makamnya wali sebanyak 72. Tempatnya menyebar (di seluruh hutan Rejenu) sampai puncak, petilasan makam Syaikh Subakir.
[3] Raden Umar Sa’id merupakan nama asli Sunan Muria.
[4] Artinya tawar-tawar masam.
[5] Ghoyah memiliki arti tujuan.
[6] Washilah memiliki arti jalan atau perantara.
[7] Adalah juru kunci makam Syaikh Abi Hasan Assyadzaly.
[8] Sebutan bagi orang yang menyelaraskan manusia, alam dan makhluk ghaib.
[9] Kedua puncak tersebut merupakan puncak tertinggi pegunungan Muria.
[10] Mentok artinya buntu.
[11] Biasa dipanggil dengan nama lain Cheng Ho.
[12] Artinya Syaikh Abi Hasan dalam menyebarkan Islam disini kisaran abad 13.
[13] Artinya Syaikh Abi Hasan kesini diantar oleh Sam Poo Kong(maksudnya merujuk pada Laksamana Cheng Ho) menggunakan perahu.
[14] Sowan artinya bersilaturrahim.
[15] Njapani memiliki arti menyembuhkan, mengembalikan atau mengobati.
[16] Merupakan tradisi yang mulanya hanya dipakai oleh tradisi haul Sunan Kudus. Kemudian menjadi tradisi seluruh masyarakat Kudus dalam menyebut haul.
[17] Artinya disini kalau mengadakan haul ketika tanggal 25 asura(muharram), kalau tahunnya tidak tahu. Karena penduduk Japan tahunya hanya sudah ada makam(Syaikh Abi Hasan) sendiri.
[18] Folklore artinya cerita rakyat.

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html