Wednesday, 17 June 2015

Kalah Telak 4-0



Oleh: Arafat Ahc
Rais Tanfidziyyah PeSaN-ALiD Demak, Mantan Redaksi buletin eL_Insyaet

1-0
“ Mereka (para ‘Auliya’) sudah meninggal 400 tahun yang lalu, tapi di dalam kuburnya, mereka masih berdakwah.” kata Habib Luthfi bin Yahya dalam penutupan Munas Jatman, yang diselenggarakan di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Ahad (29/6/2011) malam.
Dakwah mereka yakni adanya peziarah yang membaca tahlil, yaasin(al-Qur’an), shalawat maupun dzikir lainnya. Lantaran semua itu merupakan ajaran yang mereka berikan pada waktu silam. Meski sudah berabad-abad, namun hal tersebutmasih dipegang erat oleh para peziarah.
1-0 atas kekalahan kita dari ‘Auliya’ menyoal dakwah dan ilmu yang bermanfaat. Kita sebagai manusia, masih diberikan kesehatan baik fisik, pikiran maupun perasaan dalam menjalankan dakwah dan mengamalkan ilmu yang bermanfaat tidak mampu mencapai pencapaian seperi para wali. Kita jarang (bahkan tidak pernah) sedikitpun berdakwah, mengajak mereka yang tidak Islam, untuk memasuki ruang Islam. Serta tidak mampu mengamalkan ilmu yang dimiliki agar bermanfaat bagi sesamanya.
Mungkin hanya 1-0, sehingga kita masih beranggapan bahwa itu merupakan kekalahan yang wajar. Sebab mereka adalah walinya Allah, sementara kita sebatas manusia biasa, yang belum mencapai pada maqom khalifatullah[1]. Atau jangan-jangan kita belum sepenuhnya memahami sebagai manusia dan belum lulus dalam menjalani kelas makhluk(?), mungkin.

2-0
Kita kalah lagi. Mari kita tengok perekonomian yang berada di sekitar area pemakaman ‘Auliya’. Bagaimana(?), ketemu jawabannya kan. Tempat tersebut menjadi suatu pusat perekonomian, yang ramai dikunjungi oleh manusia-manusia sebagaimana halnya supermarket, mall atau swalayan—kalau berlebihan, seperti pasar-pasar ala Indonesia—.
Kita kalah lagi, kan(?) dari makhluk yang kasat mata. Hanya saja jiwa mereka yang terus menerus hidup pada degup makhluk yang tampak mata. Kekalahan kita kali ini terletak pada sektor perekonomian. Sebagai makhluk yang masih hidup secara ragawi dan masih mampu untuk bekerja dengan tenaga mestinya sanggup membantu sesama dalam hal perekonomian. Sementara mereka, yang tak memiliki kapasitas seperti kita, hanya sebatas jiwa yang hidup—terlepas perbandingan power mereka dan kita, mana yang lebih unggul— bisa memberikan jalan rejeki (yang ekonomi) bagi hajat hidup manusia yang mengais nafkah di area makam mereka.
Secara (tak) sengaja, martabat kita sebagai manusia—yakni makhluk yang berakal— beserta nikmat yang terberi gugur oleh kehebatan mereka. Karena ketidakmampuan kita (saling) membantu sesama manusia dengan banyaknya fasilitas yang diberikan oleh Allah Subhanahu WaTa’ala. Malu tidak kita(?) oleh kekalahan kedua ini. Ah, baru dua kan, belum berbanyak-banyak.

3-0
Alhamdulillah, kita kalah lagi. Kekalahan kali ini, kita kalah dalam babakan persatuan dan perdamaian. Seringkali kita melihat penampakan yang apik, pertunjukkan yang menarik. Dari peragaan peziarah ketika sedang melaksanakan prosesi ritual keagamaan-kebudayaan di makam para wali. Ada kelompok demak, jam’iyyah kudus, organisasi pati, komunitas jepara, (misalnya) dan lain-lain. Mereka semua memainkan intrumentalia dzikiran dengan kebudayaan dan keyakinan tafsir mereka. Namun tidak ada sedikitpun kericuhan yang terjadi disana.
Mereka dengan khusyuk(tetapi kesejatiannya, saya tidak tahu) dan bangga bercengkerama dengan para wali menggunakan style dan gayanya, tanpa mengganggu dan diganggu yang lainnya. Semuanya fokus pada jalannya (masing-masing), semua membaur seperti air dalam ruang yang satu, sama-sama muslim. Bahkan ketika kita berziarah ke makam Raden Syarif Hidayatullah[2] atau Kiai Abdurrahman Wahid(Gus Dur), akan ada pertunjukkan menarik. Peziarah dari lintas agama berbaur, mulai Islam, Kristen, Katolik, Konghucu, Budha, Hindu, dll., berziarah sesuai keyakinan masing-masing. Seperti ketika Rasulullah Muhammad membuat perjanjian perdamaian dengan kaum Nashrani, Yahudi, Majuzi, Zoroaster, dll., di Madinah.
Semuanya melepaskan baju fanatisme (buta) agama, madzhab dan komunitasnya, sehingga tidak terpercik api perselisihan yang berujung pada tindakan radikal. Itulah mengapa kita kalah 3-0 oleh kehebatan para wali—yang telah wafat ratusan tahun lalu— dari kita menyoal persatuan dan kesatuan serta kedamaian. Para wali mampu menjadi mediator perdamaian, kesatuan dan persatuan bagi kita, makhluk Tuhan yang hidup bernama manusia. Namun disayangkan bagi kita yang tidak mampu merealisasi wacana-wacana perdamaian, kesatuan dan persatuan dalam ruang social-horizontal, ketika masih banyaknya perseteruan dan pertikaian antar suku serta agama. Mengingat negeri ini berhaluan pada kebhinekaan yang tunggal ika dan pancasila. Mengingat pula, Islam yang mengajarkan tiga ukhuwah[3], yakni ukhuwah islamiyyah[4], ukhuwah wathaniyyah[5] serta ukhuwah basyariyyah[6].
3-0 merupakan suatu kekalahan yang sudah terhitung telak. Apalagi jika kita mau sedikit bercanda, bagaimana taruhan rokok dengan teman santri, menyoal hasil pertandingan sepak bola. Jika pour-pouran, apa ada yang berani ngepour sampai 3(?), adakah diantara teman-teman. Sementara kali ini, kita sudah dibabat 3-0 oleh mereka, yang tak berjasad. Hallah, barangkali baru 3-0 dan masih ada waktu untuk membalas balik maupun seri. Tapi ingat, permainan hidup tak seperti permainan sepak bola—yang jelas kapan berakhirnya—. Permainan hidup masih absurd untuk kita ketahui kapan berakhirnya. Serta alasan-alasan lain untuk ngelès atas ketidakberdayaan kita, yang kalah atas mereka.

4-0
Kalau memang engkau belum puas atas kekalahan-kekalahanmu, lantaran aku sudah merasa sangat kalah, maka akan aku tunjukkan dan kutampakkan kekalahanmu lagi. Agar kesedihan bertambah dan rasa malumu hadir untuk menambah kualitas serta kuantitas atas keikhlasan dan keabdullah[7]an. Serta terus-menerus untuk konsisten berubah menuju ke perbaikan diri, menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Semoga saya juga, setelah menulis dan membacanya kembali.
4-0 kita kalah oleh mereka, para wali, dalam mengislamkan seseorang dengan metodenya. Metode mereka, tak hanya satu resep(atau sekedar mengalir, fokus pada perbaikan individu seorang) yang dijalankan. Pertama, kemungkinan mereka mengislamkan manusia dengan resep akulturasi. Dalam arti mereka sengaja berdakwah agar orang-orang pribumi, yang animisme dan dinamisme[8], untuk masuk Islam. Dengan jalan akulturasi kebudayaan, yang dirasa kurang pas bagi Islam maupun pelestarian kebudayaan, yang dirasa tidak bertentangan dengan Islam.
Kemungkinan kedua, mereka memakai resep menikahi atau menikahkan seorang yang menjadi bagian suatu kerajaan, yang waktu itu masih memeluk agama Budha dan Hindu, untuk diajak nenuju Islam. Ketiga, kemungkinannya, yakni resep memperbaiki diri sendiri. Mereka selalu mengamalkan ajaran Islam pada dirinya, yakni berbuat baik pada sesama, saling membantu, tidak berbuat yang buruk dan mampu menjadi ahsanu taqwim[9]. Pun menjadi khoirunnas anfa’uhum linnas[10], dengan mengalir tanpa setting resep. Sehingga ada hukum timbal-balik atas kebaikan yang diterimanya dari orang-orang pribumi. Maka timbullah keingintahuan orang-orang pribumi terhadap kepercayaan yang dianut mereka.
Setelah mengetahui, maka orang-orang pribumi berduyun-duyun bersyahadat, memeluk agama Islam. Sehingga timbullah kebenaran, kebaikan serta keindahan yang masuk ke dalam konsep kebudayaan yang berlaku dan masih dijalankan hingga hari ini. Oleh karenanya, dengan berbagai  kemungkinan tersebut, (tidak) sengajalah kita telah kalah. Kalah 4-0(!), dan puaskah kalian serta malulah sedalam kesadaran kalian mengenai kekalahan-kekalahan pada mereka yang wafat ratusan tahun silam. Karena tak ada satupun manusia yang mampu kita islamkan—wong kita sendiri belum jelas keislamannya—.

5
Cukup itu saja (yang barangkali) untuk shockterapy atas kemerasamenangan kita terhadap hidup yang mesti dipertanggungjawabkan. Sebab betapa ngeri suatu penyesalan, jika seluruh kekalahan kita dipertampakkan. Apalagi 4-0 hanya suatu kekalahan (telak) dari manusia yang sudah di dalam tanah, sementara kita adalah manusia yang masih berpijak pada tanah.
Cukuplah itu saja sebagai pelecut rasa malumu, maluku, untuk berbenah diri agar tidak malu-maluin—minimal atas diri sendiri dan Allah—. Lantaran masih berjuta kemaluan-kemaluan yang terus kita lakukan, hanya satu kemaluan yang selalu tersimpan dalam celana. Meski satu, harusnya kita tak boleh kembali melakukan hal-hal yang mempeloncokan dan memalukan diri untuk tetap menjaga martabat manusia sebagai manusia.
Kita sebagai makhluk yang bernama manusia yang juga islam—namun belum khalifatullah— mampu dipecundangi 4-0 (sementara ini) oleh para wali yang wafat ratusan tahun silam. Ingat(!!!!!) kita (baru) kalah telak 4-0, atas kekalahan kita pada ketidakmampuan berdakwah, ketidakmampuan membantu sesama, ketidak-mampuan hidup damai dalam pluralitas agama dan bangsa, serta ketidakmampuan kita mengislamkan (kita dan) seseorang.
Lalu, muncul sebuah pertanyaan sederhana yang mesti dijawab sendiri-sendiri oleh pembaca. Dimana dedikasi kita terhadap Islam serta bangsa ini(?) untuk menyamai prestis yang telah dicapai manusia—terlepas dari kewaliaannya— yang meninggal ratusan tahun silam. Kalaupun tidak mampu, ya, minimal  mampu melakukan satu dari keempat tersebut. Semoga.......

Janggalan, Dzulqo’dah 1432

(dimuat di buletin eL_Insyaet edisi XIV)

[1] Merupakan tahap tertinggi sebagai seorang pemimpin, yang mampu memimpin dan mengkoordinasi segala makhluk Allah. Atau minimal sebagai pemimpin manusia di dunia ini.
[2] Memiliki sebutan Sunan Gunung Jati, merupakan satu dewa wali songo, yang berdakwah di Cirebon, Jawa Barat.
[3] Yakni persatuan dan kesatuan.
[4] Persatuan dan kesatuan sesama umat Islam.
[5] Persatuan dan kesatuan sesama bangsa, yakni Indonesia.
[6] Persatuan dan kesatuan sesama manusia, baik lintas agama maupun lintas bangsa.
[7] Artinya hamba Allah.
[8] Di jawa, animisme dan dinamisme berkembang lewat jalan kepercayaan terhadap tu/to/ta, watu(batu), toya(air), tanduran(pepohonan) dll., dengan laku tapa(meditasi) dan lainnya.
[9] Sebaik-baiknya bertaqwa.
[10] Sebaik-baiknya manusia yakni manusia yang bisa bermanfaat bagi lainnya.

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html