Saturday, 13 June 2015

Jahiliyyah edisi II, Nasionalisme Patriot Bangsa yang Pudar dalam Potret Dualisme Politik :Sebuah Penantian Kembalinya Karakter Asli Bangsa

Oleh: Arafat Ahc
Rais Tanfidziyyah PeSaN-ALiD Demak, Mantan Redaktur Buletin el_Insyaet

Ketika politik kita dilucuti arus politik bangsa lain. Ketika produk—inovatif maupun kreatif— kita pasang surut keteteran menghadapi importisasi produk bangsa lain. Ketika pemuda-pemuda lebih (banyak) mengkonsumsi tingkah tak berbudi luhur negara lain yang (katanya) lebih maju. Ketika Indonesia tak sanggup (lagi) bernafas di kandang sendiri. Sesaat ilmuwan kita dipecundangi oleh manusia-manusia botak berhidung mancung (dari luar). Pun ketika budaya kita digeser oleh budaya import yang tak punya kemanfaatannya (dalam skala social-nasionalism). Apakah kita masih sanggup mengaku sebagai terpelajar yang berpelajar, sementara semua itu menerpa kita?

Begitulah kiranya, beberapa pernyataan dan satu pertanyaan yang atas dewasa ini, percaturan politik telah banyak menarik dan menjadi primadona konsumsi akal pikiran kita. Untuk dipertimbangkan dan direnungkan kembali.

I
Ke dalam, permasalahan yang telah terpapar diatas, barangkali kita bisa bersama menilai (dan berpikir—jika masih diperlukan—) betapa dewasa ini, percaturan politik, yakni permainannya, sadar tidak sadar telah memberi efek yang (tak) biasa-biasa saja. Beberapa nama besar, yakni artis politik, mampir ke persidangan—entah sebagai saksi, terduga, tersangka, sampai narapidana— dengan dugaan/kasus penyelewengan hak umat (baca; rakyat) seperti hak kesejahteraan umat, pendidikan pelajar, serta keadilan hidup berbangsa dan bernegara sesuai pepesan bapak bangsa kita, yang terpapar pada bhinneka tunggal ika serta pancasila. Terbawalah publik—masyarakat luas— untuk ikut menyaksikan dan mengukir sejarah Indonesia abad 21, suatu awal jahiliyyah edisi II.
Tidak ketinggalan, para pelajar pun diseret oleh arus dinamika politik bangsa ini. Sebagai korban atas kisruh politik pada ideologi bernama kurikulum. Para santri menjadi korban atas sertifikasi kehalalan pendidikannya untuk khalayak dalam bentuk informatif dari kementrian yang mengurusinya. Serta Kiai-kiai hanya bisa ngelus dodo[1] dirubahnya ruang kesahajaan tanpa formalitas dan legalitas, dipaksa harus ikut ke dalam konsep yang bersifat organisatif, legal, dan beku. Sementara hakikat pesantren merupakan ruang cair, ruang penyatuan, kebersamaan yang tak memiliki batas-batas dalam menciptakan suatu kehidupan yang adil dan beradab, sesuai satu dari lima butir pancasila. Tak hanya itu! Hampir seluruh aspek kehidupan yang berbangsa dan bernegara, dimasukkan sebagai pion-pion tumbal catur politik para penguasa.
Inilah jahiliyyah edisi II bernama Indonesia, kawan! Negeri yang mestinya menjadi macan asia hanya bisa gigit jari, sebab tanpa taring untuk menerkam kebijakan yang pas dalam takaran dan momentumnya. Indonesia, sebuah negara yang mestinya menjelma negara terkaya dunia dengan kandungan emas berkualitas terbaik dan terbesar, cadangan gas alam terbesar, kandungan uranium di dalamnya yang cukup untuk memenuhi hajat listrik seantero jagad bumi. Dengan hutan tropis terkayanya, yang jika negara ini menginginkan kiamat, tinggal bakar seluruh hutan, mudah kan? Sebab Indonesialah yang menyeimbangkan efek kapitalisme, hedonisme serta konsumerisme pada bentuk benda-benda yang mengeluarkan asap-asap. Indonesia, negeri yang memiliki empat huruf konsonan dan lima huruf vokal, menjadi sebuah negara dari cuilan surga yang terlempar di bumi.
Begitulah fakta-fakta menarik dari bangsa kita—atau kalian saja!— yang seharusnya sebagai (penyandang predikat) negara terbaik, hanya sebagai bahan bacaan, kajian dan kemudian sekedar wacana tanpa kesadaran untuk mewujudkannya. Mimpi(?) ya, begitulah nasib negara yang diperosokkan oleh sikap politik semi-liberal (atau bahkan post-liberal) yang tak paham bagaimana mengenakan (kembali) baju kebudayaannya. Hanya bisa meminta si paman(sam)nya untuk dipakaikan baju budayanya. Begitulah, negara yang saya representasikan sebagai jahiliyyah edisi II. Benar, ini memang nyata, hanya di Indonesia (semenjak para bapak pendiri diperangi dari dalam).

II
Tanah Papua Barat merupakan usaha doktrinisasi Belanda dalam rangka politik kekuasaannya akhirnya berkenan bertunggal ika dan berpancasila. Soekarno dan rakyatnya (para sabiqunal awwalun[2]) lah yang berusaha  dan berjuang untuk menginsafkan Papua Barat atas kekufurannya pada Merah Putih. Fathul Merah Putih di tanah Papua, Merah Putih berkibar!
Bumi Makassar yang berhasil direbut dari tangan Merah Putih Biru oleh Sultan Hasanuddin beserta pejuang syahid lainnya. Perlawanan di Jawa dikomandoi Pangeran Diponegoro dan ‘auliya’ lainnya. Merupakan bukti nasionalisme patriot bangsa atas aplikasi Jihad li ridlaIllah wa Wathaniyyah para pahlawan (yang syahid) terhadap kolonialisme, meski taruhannya hidup—jiwa serta raga— mereka.
Akan tetapi, sekian nama para bapak bangsa (hari ini) hanya sebagai kenangan dalam bingkai dan figura yang terpasang di dinding—itupun hanya kantor warna merah dan gedung pendidikan— saja. Kita enggan mempertahankan sesuatu yang telah lama dan panjang diperjuangkan dan diusahakan kemerdekaannya. Tak pernah kita renungi berapa liter darah yang tumpah, berapa pahala tumpah darah dan darah-darah yang tumpah tanpa pamrih, hanya demi sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan kita semua untuk berpikir, berkehidupan, berkreasi dan berkomunal atas satu cita-cita mulia yakni kesemakmuran bersama yang adil dan beradab.
Meski mempertahankan itu teramat lebih sulit ketimbang merebut, namun memulai berjuang dan berusaha untuk (kembali) mengambil hak kita bersama adalah sebuah keberanian yang lebih patut dihargai ketimbang mempertahankan suatu yang telah diperoleh. Ya, mempertahankan teramat sulit tetapi mempertahankan adalah suatu penghargaan atas keberanian para pendahulu (barangkali agar mereka tak gentayangan di makam pahlawan). Namun (hari ini) tak pernah kita temui sebuah usaha mempertahankan kemerdekaan yang diberikan atas rahmat Tuhan tersebut. Oleh karenanya, (mungkin) Tuhan menguji kita yang tak berkenan mensyukuri nikmat kemerdekaan tersebut. (Nanti) sejarah Indonesia ditulis sebagai jahiliyyah edisi II karena hari ini kita membiarkan kolonialisme (kembali) hidup diluar dan dalam tubuh Indonesia.
Sejarah Indonesia kini (kembali) berganti babak. Memasuki babak jahiliyyah edisi II, post-kolonialisme. Post-kolonialisme merupakan penjajahan yang paling ditakutkan oleh Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, karena kita, selain melawan penjajahan dari luar, melawan penjajahan dari dalam. Yang menjadi bahaya dari post-kolonialisme yakni perang ideologi dan kebangsaan. Sebagian—bahkan seluruhnya— nilai-nilai pancasila ditumpas habis penjajah ideologi berkedok pertukaran budaya dan arus peradaban modern.

III
Politik merupakan bagian dari penentu atas keseluruhan hajat hidup bangsa. Pendidikan, perekonomian, religiusitas, kebudayaan, keamanan dan pertahanan, tanpa disadari telah berjalan dengan laju perpolitikan serta saling mengisi dan mempengaruhi pos masing-masing. Politik adalah kebudayaan yang harus tetap tumbuh dalam suatu bangsa dan mampu berdaulat. Guna memberlangsungkan hidup, tumbuh, kembangnya karakter bangsa dan moralitasnya, meskipun (hari ini) telah dinisankan oleh (hampir) seluruh umat Indonesia.
Kembali saya ulangi, bahwa Indonesia, bangsa yang pernah menguasai sepertiga dunia—dengan nama Nusantara—, mau tidak mau telah memasuki jahiliyyah edisi II. Potret yang sempat diramalkan oleh tokoh-tokoh Nusantara seperti di Joyoboyo. Hari ini, politik bangsa kita carutmarut oleh penjajahan ideologi lewat jalur perundang-undangan dan peraturan lain. Persilangan dan perkawinan kurikulum merangsek masuk ke dalam tubuh pendidikan, meski sejak lampau kurikulum pendidikan telah digarap oleh manusia sejaman Majapahit dan era Walisongo, yang lebih sejalan dengan karakter Nusantara. Kebudayaan yang luhur-luhur mulai mblongsongi(ngelungsungi)[3] menjadi budaya jingkrak-jingkrang lo-lo, gue-gue, tanpa mengedepankan kultur sosial, melainkan kultur personal. Perekonomian terombang-ambing oleh kalkulasi-kalkulasi kebohongan internasional, keamanan dan ketahanan bangsa menjadi tontonan adu domba pihak-pihak luar yang merupa merah putih.
Begitulah jika politik tidak lagi menjadi jalan mengaplikasi nasionalisme patriot kebangsaan. Jika politik selalu menjadi rumah bagi kemunafikan—jika bukan kemunafikan, adalah kejahatan—, padahal kemunafikan merupakan penyakit hati yang lebih parah ketimbang kejahatan pembunuhan, pemerkosaan, pencurian dan yang tampak lain. Dualisme politik, bukan dualisme partai—lantaran partai hanya alat kendaraan politik, dan politik merupakan alat kendaraan menjalankan suatu bangsa— yakni ketika politik sudah naik kelas ke kelas munafik dan mampu merupa banyak wajah. Mestinya politik sebagai alat strategis dalam menjalankan seluruh fakultas-fakultas dari universalitas hidup dan saling mengisi satu sama lain, tapi berkat (yang laknat) para politisi di divisi eksekutif, legislatif yakni presiden (beserta menterinya), dan DPR (beserta alat kelengkapannya), pun yudikatif—jika memang negeri ini sangat akut penyakitnya—.
Meskipun kita sebagai kesatuan bangsa Indonesia, memiliki tanggung jawab kebangsaan, namun para eksekutif, legislatif (serta yudikatif) lah yang memiliki tanggung jawab besar atas jahiliyyah edisi II bangsa ini. Sebab merekalah yang memegang permainan dan mengetahui segala permasalahannya (yang mereka buat) dalam sikap dualisme politiknya. Lempar batu sembunyi uang (ups, sembunyi tangan), lempar masalah, sembunyi uang, rakyat kebingungan, tangan disembunyikan wajah ditampakkan, seolah merekalah pahlawan bagi permasalahan yang dibuat. Sedikit harapan (palsu), semoga segala hal mengenai jahiliyyah edisi II dan nasionalisme patriot kebangsaan yang memudar bukanlah rencana besar mereka—melainkan orang luar yang berbanyak muka— dan segala kebaikannya (meski kita tahu itu palsu), bukan sebagai pengkaburan topik atas rencana-rencana besar tersebut untuk meluluhlantahkan kebesaran bangsa kita. semoga itu benar-benar nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan (meski banyak keraguan) yang hidup di dalam diri mereka guna mengembalikan karakter bangsa.

IV
Terlepas dari segala permasalahannya—yang memiliki kejelasan silsilah dan turunannya—, sebuah bangsa akan lebih mengharapkan para pemudanya—yakni, pelajar, santri dan mahasiswanya. Jika ada pemuda pengangguran itupun sangat diperlukan—. Pemuda yang berkenan dan berkehendak sesuai moralitas dan karakteristik ketimuran (Nusantara), meski politik (dan fakultas lain)nya sedang dilanda kejahiliyahan dan nasionalisme patriot kebangsaan yang memudar. Kedua, butuh kiprah seorang pemuda dalam memikirkan nasib (politik) bangsa kedepannya, tidak asal pasang mata dan telinga, namun mau berperan aktif menegakkan kembali (politik) karakter bangsa. Sehingga, minimal, dualisme politik tidak kembali dicatat dalam sejarah peradaban bangsa kita, nantinya. Sebab mengatasnamakan Indonesia pada catatan tidak baik merupakan air mata kesedihan bagi (saya) bangsa berbentuk perahu ini.
Sudah saatnya pemuda mulai berdiri, berbaris di garda paling depan, menelas air liurnya dan lantang segarang garuda. Pemuda, yakni pelajar, santri dan mahasiswa, meneriakkan sekencang dan kekeras Mpok Nori dalam rangka mengembalikan jati diri dan karakter bangsa (yang berbudi luhur), serta membunuh kejahiliyyahan. Ingat! Bung Karno lebih mempercayakan kemajuan bangsa ini hanya kepada sepuluh pemuda.
Jika ulama’ merupakan warasatul anbiya’, maka seorang santri(yakni pelajar dan mahasiswa merupakan pewaris ulama’ (baca; pahlawan). Para pahlawan yakni Ir. Soekarno, Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro dan para Gugur Bunga lain secara tersurat,tersirat dan tersorot telah menitipkan bangsa ini untuk terus dikembanghidupkan kepada para santri dalam rangka jihad li ridloIllah wa wathaniyyah. Kita teguhkan (kembali) nasionalisme dengan kesadaran tentang arti memiliki bangsa, bahwa bangsa ini milik kita bersama, bukan aku atau kamu sendiri.
Dengan kita berkenan ikut terjun dan campur tangan memikirkan dinamika politik. Maka kita sudah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mempertahanlan perjuangan para pahlawan. Efeknya yakni terhapusnya jahiliyyah edisi II di masa mendatang, serta kembalinya karakter asli bangsa Nusantara.

Kudus, Syawwal 1432
dimuat di buletin eL_Insyaet Madrasah NU TBS Kudus edisi XIV

[1] Sebuah istilah jawa yang memiliki arti kepayahan tapi tetap berusaha sabar.
[2] Merupakan istilah yang dipakai di masa Rasulullah Muhammad dalam menyebut orang-orang pertama yang mau mengimani beliau.
[3] Adalah teknik pergantian kulit yang dipakai oleh ular.

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html