Wednesday, 24 June 2015

Kehancuran Moral, Kehancuran Agama, Kehancuran Bangsa



Oleh: Arafat Ahc A.n Habib Arafat
Rais Tanfidziyyah PeSaN-ALiD Demak, mantan Redaksi buletin eL_Insyaet Madrasah NU TBS Kudus

Baru sekitar sebulan yang lalu, ranah negeri kita diguncang bom maksiat dengan beredarnya video mesum. Yang pelakunya tak lain adalah public figur negeri ini antara darah serambi mekah dengan darah pulau Dewata.

Itu adalah bagian kecil dari teror bom-bom maksiat yang dilakukan orang-orang yang tak lain oleh muslim negeri ini. Mereka semua pada mengaku muslim yang berkepercayaan kepada Allah Sang Esa dan utusan-Nya Muhammad ShallaAllahu ‘alaihi Wasallam. Namun dari banyaknya pengakuan atas keimanan mereka, tak ada satu bukti yang dapat menjelaskan bahwa keimanan mereka adalah keimanan yang hakiki. Bukti mereka bukanlah tanda bukti ikrar kesetiaan pada sang Pencipta melainkan tanda pengingkaran kepada Pencipta atas nikmat yang telah Pencipta berikan, baik itu berupa islam, iman juga akal pikiran.
Target-target dari terorisme pada agama ini menyerang pada inti-inti dari hati dan keyakinan para muslim. Moral yang bejat, tauhid yang diambang kepastian, kedangkalan tentang hukum syara’ kini telah banyak melanda para muslim negeri ini. Yang lebih parah lagi yaitu tentang hancurannya moral anak-anak bangsa sebagai penerus jihad para ulama’(pahlawan) penegak NKRI. Khususnya pada muslim-muslim yang sekarang telah lupa dan telah menanggalkan baju moralnya. Justru mereka lebih cenderung menggunakan pakaian-pakaian moral para non muslim daripada memakai gaun moral agama islam yang secara resmi telah diakui sang Khaliq. Rasulullah pernah mensabdakan sebuah hadits yang isinya tentang anjuran untuk berbaju moral agama yakni barangsiapa yang tidak punya moral bagaikan lalat.
Meskipun Rasulullah ShallaAllahu ‘alaihi Wasallam sudah menganjurkan umatnya untuk berpakaian moral agama. Namun respon dari mereka, sekadar menganggap hadits beliau adalah isapan jempol belaka. Yang tak logis dan tidak relevan di zaman ini.
Murahya moral remaja bangsa kita, bisa kita lihat dari realita para pelajar sekitar kita. Meskipun mereka pelajar yang seharusnya terpelajar namun mereka hanya mengenakan moral mereka pada jam-jam sekolah saja. Setelah jam sekolah usai, atribut moral mereka begitu saja ditanggalkan di rumahnya masing-masing. Keluar rumah tanpa moral bagaikan binatang-binatang yakni lalat tadi, yang berkeliaran. Contoh kecilnya adalah banyak dari kalangan hawa yang berdomisili di madrasah hanya memakai penutup kepala—jilbab, kerudung, hijab dan lain sebagainya— atau penutup tubuh—baju muslim misalnya—, hanya bertujuan untuk formalitas seragam yang telah ditetapkan dari madrasahnya.
Mereka tidak bertujuan untuk melaksanakan tuntutan dari agama melainkan mereka lebih dituntut dari pihak madrasah. Sebab realitanya banyak pelajar hawa hanya menutup aurat ketika bersekolah saja. Ketika sudah di luar, mereka begitu saja menanggalkan penutup auratnya di rumah, keluar rumah dengan aurat terbuka.
Lain ladang, lain pula belalang. Mungkin ungkapan itu patut disematkan pada pelajar putra yang berdomisili di madrasah. Karena realitanya tak jauh berbeda dari apa yang pelajar hawa lakukan. Meski di madrasah, keseharian mereka dipenuhi dengan materi-materi yang tak jauh dari agama, moral dan kebangsaan. Akan tetapi itu hanyalah isapan jempol. Realita di luar jauh berbeda dangan apa yang diharapkan di dalam.
Di dalam, mereka begitu patuh dan taat akan undang-undang yang ada. Ketika jam sekolah sudah usai, mereka tak lagi seperti seorang pelajar. Banyak dari mereka yang menanggalkan ilmu dan pakaian moral yang telah dibekali dari sekolah. Seperti maraknya terjadi kasus prostitusi, perjudian, tawuran dan aksi ugal-ugalan. Dari contoh tersebut, seluruhnya tidak mengindikasikan mereka adalah seorang pelajar muslim.
Dari berbagai rentetan-rentetan kasus yang menyangkut kepolisian, baik itu berupa bobroknya moral. Banyak dari kalangan pelajar yang menjadi tersangkanya. Mungkin bila Menteri pendidikan nasional punya pemahaman tentang kehancuran moral para pelajar negeri ini, pastinya materi tentang moral akan diujikan. Entah dalam materi-materi dalam ujian Nasional maupun ujian praktek atau sebagai penentu kelulusan seorang pelajar tersebut.
Akan tetapi cara tersebut bukanlah satu-satunya jalan pintas yang bisa digunakan sebagai jalan keluar dari permasalahan moral. Penekanan dari guru dan peran serta orang tualah yang dapat dijadikan sebagai pengawasan para pelajar dan anaknya untuk melakukan suatu moral yang baik, luhur dan berbudi pekerti. Sehingga apabila moral mereka baik maka agama juga akan menjadi baik dan bangsapun akan menjadi baik.
Terakhir, mengingat Rasulullah Muhammad ShallaAllahu ‘alaihi Wasallam diutus di muka bumi bukan sebagai penyempurna ilmu. Melainkan sebagai seorang yang menyempurnakan dan memperindah akhlak, baik di diri Rasulullah, maupun di diri manusia-manusia. Jadi yang paling penting adalah moral, bukan ilmu, bukan harta, apalagi tahta. Tapi moral tanpa diilmui bagaikan orang tuli. Ilmu tanpa moral bagaikan orang buta.

Jagalan 62, Syawwal 1431

(dimuat di buletin eL_Insyaet Madrasah NU TBS Kudus edisi 42)

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html