Tuesday, 11 August 2015

Duka Ci(n)ta untuk Buku-Buku Johar

Buku-Buku dan Sanad yang Terputus
Oleh: Arafat Ahc
Rais Tanfidziyyah PeSaN-ALiD Demak

9 Mei 2014 malam, yakni sabtu malam ahad, waktu itu saya masih ndrekke[1] Kiai Budi Hardjono memesrai masyarakat Damarjati, Kalinyamatan, Jepara. Desa tersebut menjadi ruang musabab kesedihan bagi tetanggaku yang putrinya—merupakan pelajar Madrasah Darussalam Jetak, ditingkat Aliyah— berpulang dilahap datangnya alir sungai yang tiba-tiba meninggi—kejadiannya terjadi pada tanggal merah di hari buruh 1 Mei—. Itulah mengapa, saya langsung ndrekke Kiai Budi, tanpa pikir dhowo, tanpa pertimbangan. Sebab dengan mengetahui keberadaan dari musabab terjadinya musibah—yang radar kesedihannya menjadi musibah bagi desa kami, desa Jetak, 8 pelajar dilarikan ke rumah sakit, 1 pelajar meninggal— membuatku sedikit legowo atas kejadian yang menjadi duka sedesa.
Malam itu, Kiai Budi memintaku baca puisi—memang begitulah penghargaan bagiku, membaca puisi di tengah masyarakat yang (mungkin) jarang memesrai segala hal tentang puisi— di depan kakek-nenek, bapak-ibu, barangkali mereka tak sempat merasakan puisi. Malam itu, entah mengapa saya lebih memilih baca puisi-puisiku yang beraroma usia, waktu, serta kepasrahan dan pengembalian hidup kepadaNya. Malam itu pula, saya tak sempat membuka ponsel, meski sekedar membuka akun jejaring sosial; ngetwitt, nyetatus atau lainnya. Benar, malam itu memang tampak tak mengajak tubuh yang bernama Arafat untuk sekedar berbahagia dan bercanda. Bahkan Rohman[2] tak menampakkan geliat bahagia, hanya wajah datar-datar saja. Sementara Kang Dul, guru spiritualku, tiba-tiba hadir di tengah pembacaan puisi.
Kang Dul hadir tak seperti kebiasaan ketika makjenduduk[3] hadir di beberapa tempat saat saya sengaja tak mengabarinya. Ia memang begitu, selalu saja hidup pada ritme-ritme jazzy, tak mudah menebak bagaimana prediksi dan alur langkahnya. Raut muka Kang Dul yang biasanya sumringah serta tingkangnya yang jumpalitan ketika hadir tiba-tiba, Ia tampak muram kali ini, meski hanya matanya saja yang menampakkan kemuraman itu. Pipi, mulut, hidung, jidad, serta mimik mukanya datar-datar saja, seolah tak ada apa-apa tapi mengapa Ia demikian? Seperti ada isyarat lain yang ingin ditunjukkan Kang Dul melalui kebingunganku serta ketidaktahuanku, di malam yang tak sewajarnya menghadirkan ketelanjangan yang berbusana.
Saya bukanlah manusia yang pandai membaca peristiwa yakni tanda-tanda semesta, isyarat alam, serta kepekaan rasa—yang terbilang ganjil, sebab belum lekas penggenap menggenapi keganjilan— kecuali Kang Dul yang sering memberi tahu, itupun jika Ia berkenan. Kadangkala Ia menjadi penggenapnya, tapi tetap pada pencapaian sak karepe dhewe[4]. Tapi kali ini, kehadiran Kang Dul memberi tanda untuk kuketahui, tapi apa? Kematian saudaraku kah? Musibah yang bakal menimpaku kah? Mbuh[5]! Aku tak tahu.
*****
Pukul 01.01 di hari yang berbeda, hari sudah memasuki ahad dini, sesaat pengajian bersama Kiai Budi selesai. Di ruang penghidangan masakan dari tuan rumah, disela-sela makan ponsel kubuka untuk membuka satu dari akun jejaring sosial. Status-status bermunculan, pemberitahuan bermunculan, perlahan-lahan kubaca. Sesekali menyukai status yang kuanggap layak untuk disukai. Kadang berbincang dengan Rohman, tapi Kang Dul entah dimana. Ia berlalu tanpa memberitahu kepergiannya. Kembali ke desa? Kembali ke persemediannya? Biarlah, Ia selalu saja begitu. Datang dan pergi sesukanya.
Kehadirannya memang membuatku terus memikirkan isyarat semacam itu. pun tanda-tanda semesta yang silih berganti mencuat dan bertaut pada alam pikir serta rasaku. Sebenarnya ada apa? Ada berita apa yang akan aku terima. Ah, saya terlalu buta dan teramat bodoh untuk hal-hal yang menjadi rahasiaNya. Rahasia langit yang bernama qodlo dan qodar. Rahasia langit yang biasa disebut takdir. Ada apa sebenarnya? Mengenai kehadiran Kang Dul, mengenai muramnya wajah yang diwakili matanya. Sebenarnya apa yang terjadi? Ah......
Saya semakin tak mengerti. Lama-lama semakin pusing jika dipikir. Lama-lama semakin ngilu jika dirasa. Kemudian menjadi suwung. Tak berpikir apa-apa. Tak merasa apa-apa. Sembari tetap menggeser ponsel—kata beberapa teman ponsel sejenis kepunyaanku merupakan teknologi adopsi dari warung tegal. Bila disentuh maka akan menampilkan keinginan yang kita sentuh— untuk membuka status-status di beranda akunku.
Ternyata benar. Ternyata sesuai. Ternyata tepat. Tanda-tanda yang diberikan Kang Dul. Isyarat yang disampaikan alam raya. Ada yang tak beres yang menyangkut hajat hidupku. Di status teman yang menampakkan selembar foto yang menunjukkan pemandangan serba api. Disertai sepenggal frasa bertulis “Pasar Johar dibakar, duka Semarang.” Kang Dul memang tidak pernah salah memberitahuku. Tidak pernah mengibuliku soal tanda-tanda yang Ia baca serta kelinuwih[6]annya yang selalu menguntungkanku. Bukannya saya bahagia, lantaran sudah diberikan tanda dan isyarat yang absurd olehnya, malah tetap bertahan pada kesedihan. Tapi esensi sedih yang berbeda. Sedih pertama karena kebingungan dan ketidaktahuanku membaca tanda-tanda. Sedih kedua, sebab saya jadi teringat satu sahabat penjual buku disana dan beberapa tetangga yang menjual nasi kucing serta wedang—bukan soal kemanusiaan serta buku-buku. Lantaran hari ini, di jaman yang serba berketuhanan modernistik kanibalisme berbaju kemanusiaan, buku-buku dan kemanusiaan bukanlah topik yang popular untuk diperbincangkan—.
Tiba-tiba saya jadi teringat pada peristiwa silam, saat kenangan pertama berkenalan dengan Heri, satu dari banyaknya penjual buku-buku dari yang limited sampai unlimited. Di pasar Johar, tepatnya di selatan para penjual buah-buah, Heru serta para pedagang buku lainnya menjual buku berbonus kemesraan antara penjual dan pembeli. Dari buku agama, filsafat, psikologi, sastra, sains, sejarah serta sosial politik tumpah ruah ada di searea dari sudut tangga timur, tempat jual nasi kucing si Sudarman sampai tangga ujung barat, diatas deretan pedangang kaos, sandal,  sepatu dan tas—disana ada lek Giono yang juga jual nasi kucing.
Biasanya yang kucari merupakan buku-buku agama, filsafat dan sejarah—apalagi sejarah menyoal jawa dan nusantara, pasti kulahap—, bukan buku-bukunya Milan Kundera, Ibnu ‘Arabi, Nietche, Borges dan tokoh luar lainnya. Sebab buku-buku tersebut biasanya saya meminta rekomendasi dulu dari sahabat-sahabat yakni BB, AFK, WEP, PP, dan lainnya, khususnya pendapat dari Kang Dul. Sebab buku-buku terjemahan merupakan beban moril yang musti diemban secara hati-hati.
Sebagai muslim tak sedikitpun saya mencari buku-buku mengenai islam di lapak-lapak Johar. Biasanya buku-buku agama lain, yakni kristen, budha, hindu, konghucu. Mulai dari dulu saat saya dikenalkan dengan Heri dan diajak jalan-jalan ke area buku-buku yang ekonomis bagi dompet tipisku oleh Kang Dul.
*****
Sekitar enam tahun yang lalu, saat saya masih mengenakan almamater santri Ponpes ArRaudlatul Mardliyyah. Saat itu sebenarnya tidak ada kehendak pergi ke Johar. Tak ada kepingin untuk kesana—lantaran belum mengetahui adanya seabrek deretan buku-buku bertumpukan satu sama lain—, tak ada rasa ketertarikan yang wujud padaku. Hanya saja ritus selalu menunjukkan dan kehendak manusia yang paham posisi akan menemui kehendak Tuhan untuk mertemu. Ritus memang selalu tetap dan tak berubah, sebanyak manusia berkehendak, selama tidak Tuhan menghendaki, maka jangan harap kehendak manusia akan terlaksana. Terkadang saja, Tuhan menggoda kepada manusia agar manusia bersungguh-sungguh dan Tuhan menghilangkan mood kehendakNya untuk mewujudkan kehendak manusia. Begitulah ritus yang selalu dijaga Kang Dul, saya sekedar nderekke dawuh lan lakune[7] Kang Dul.
Waktu itu, rencanaku dengan Bilal Ma’ruf, sahabatku—biasanya saya panggil dia dengan sebutan Mbaung— pergi ke Yogyakarta dengan modal nekat. Karena kami santri, kami sadar kapasitas saku yang sekadarnya jika harus kesana-kemari, sementara kami tak memiliki pintu ajaibnya doraemon, maka hanya kenekatan yang kami bawa. Tidak hanya kami yang melestarikan kebudayaan nekat, malah ada yang berhasil melembagakan kebudayaan nekat semisal sedulur-sedulur Bonek Mania—Bondo Nekat Mania—, suporter Persebaya (lo, saya kan Aremania, kok malah mempromosikan Bonek Mania. Begitulah jika cinta sudah ditabuh, genderang benci akan lenyap mengikuti irama cinta. Lantaran Bonek Mania sama-sama jalan seperti Aremania, cuma jalur nasab untuk sampai kepada Kanjeng Nabi dan Allah yang berbeda. Karena hanya pada Kanjeng Nabi dan Allah lah cahaya cinta sejati berpendar dan kita hanya pendaran dari cahaya. Begitulah Allah yang matahari dan Kanjeng Nabi yang rembulan menerangi kita yang bumi, baik Bonek Mania dan Aremania). Dengan nekat kami berlindung dari kebisingan jalan raya dan hingar bingar kendaraan kapitalisme dan tangis trotoar yang merintih tertndas globalisasi. Kami berangkat dari sudut jalan depan M*t*hari Mall Kudus—sekarang menjadi Caref**r Mall— untuk mendapatkan tumpangan truk menuju Semarang, jika dapat. Seperti kebiasaan kami di pesantren, yakni nunut[8] truknya Kiai Hisyam Hayat, Kiai Arwani, Kiai Ma’ruf Irsyad, Kiai Sya’roni, Sunan Kudus, Imam Syafi’i, dll., tidak langsung numpang busnya Kanjeng Nabi. Jika kami dianggap taklid (buta), maka teramat banyak penduduk Indonesia yang tergolong taklid. Lantaran tidak memiliki kendaraan untuk ditumpangi dan tidak memiliki saku untuk naik bus dan kebanyakan nunut truk, colt, pick-up maupun brondol untuk sampai tempat tujuan. Pun kami tak sanggup melawan kapitalisme dengan sarung kami, sebab kami masih membutuhkan mereka yang kapitalis untuk kami masuki dan kami tumpangi di jalanan, syukur-syukur jika mereka mau mendengar rayuan dan obrolan kami ketika mereka kami tumpangi. Lantaran kami mempercayai, meski kapitalisme merupakan dosa, jika tidak sesuai momentum yang tepat untuk dilawan, maka kapitalisme malah akan kembali menghardik lebih keras ketimbang sebelumnya. Dengan cinta kami percaya semua akan baik-baik saja dan harmoni—bahasa pesantren menyebutnya tawazun— akan terselenggara tanpa ada tendensi apa-apa. Jika benar, kapitalis memerupakan dosa besar, maka seluruh manusia merupakan dosa-dosa yang perlahan menggunung, kamipun berdosa karena menumpangi kendaraan kapitalisme untuk menuju tujuan kami.
Hanya sedikit waktu untuk menunggu, malam itu kami mendapatkan tumpangan brondol sampai lampu lalin(lalu lintas) dekat terminal Kudus, meski sebenarnya brondol tersebut bertujuan sampai di Gajah, Demak. Karena pertimbangan strategis ilmu kenunutan dan ilmu gondelan, kami memutuskan turun di tempat tersebut. Tiba-tiba Kang Dul hadir setelah kami turun dari kiai(eh, truk maksud saya) tumpangan yang jalan(nasab)nya ke Gajah, Demak saja untuk kami ketahui—mungkin jika saya mengetahui lebih kebenaran yang ainul yaqin[9] untuk pencapaian haqul yaqin[10] mungkin kami akan terus ikut kiai tumpangan tersebut— sebab yang dituju bukan tempat tersebut melainkan Yogyakarta yang cahaya dengan cepat. Sebelumnya kami berjalan dari pesanten yang berlokasi di Janggalan sampai M*t*hari Mall Kudus—jika dalam hitungan kilometer sekitar kurang lebih 5-7KM—.
Kang Dul yang tengah hadir kemudian membaca sebuah sajak:
Tiba-Tiba

Tiba-tiba hasrat mendedah kenangan,
mengangkasa
menjabani rindu tak bermuara
percumbuan angan dulu
beranak pinak sebanyak debu
“jelmakan pula mimpi penuh birahi
: maka ... (tiba-tiba) ingin kunikmati lagi
ciuman hangatmu lewat puisi

Solo ‘03[11]

Saya tidak tahu kepemilikan siapa sajak tersebut, yang saya ketahui hanya orang Solo saja sewaktu itu. Namun, pada februari lalu (2015), saya baru mengetahui itu milik sahabat saya, Serunie Unie, ketika bersilaturrahim ke kediaman bunda Sri Rahayu Wilujeng bersama Tubagus Muhammad Rois Rinaldi serta Mubaqi Abdullah, dan Bunda Rahayu—panggilan akrab saya— memberikannya(dalam bahasa saya, namun aslinya saya menodongkan mulut agar ia berkenan memberikan) padaku untuk PeSaN-ALiD Demak beserta buku-buku lainnya. Karena beberapa hal, Seruni enggan mengingatkan kepada lainnya—minimal kepada sahabatnya—, mungkin saja ia menjadi korban atas kejahatan literasi. Mungkin saja!
Setelah membaca puisinya Seruni, Kang Dul melanjutkan membaca puisiku:
Setan Jalan

aku menyebarkan virus
yang terselip diantara dadamu,
kawan. kita terkadang mengumandangkan adzan
sembari bermabok ria. kita terkadang menjambret
atau mencuri, lalu kita buang di masjid
di panti asuhan serta anak-anak miskin

begitu mudah kau mengikuti segala
caraku. merusak dunia dan membangunnya,
seperti mata uang. tergantung keberuntungan
memutar lingkaran pipihnya

aku itu setan dan kau
adalah jalanku. menebar paku,
dan ban motor, mobil, sepeda
kempes. karena kita
adalah setan jalan

berjalanlah semua!
agungkanlah dunia!

Pondok Jagalan 62, Dzulhijjah 1430

Entah darimana ia mengetahui puisiku, padahal puisi tersebut belum pernah dimuat di media manapun—dengan facebook dan twitter pun—, jikapun di dunia maya pernah saya publish, Kang Dul juga tergolong gaptek(gagap teknologi). Ia tak memiliki satupun akun jejaring sosial. Saya juga tak pernah memberitahunya dan hanya tersimpan di catatan santri. Begitulah yang tak mengherankan dari Kang Dul, meski mulanya muncul kekagetan yang beberapa detik hidup. Ya muqollibal qulub[12], tetapkanlah hati pada hati yang sehati. Begitu juga, darimana ia tahu sajaknya Seruni(?), apa Seruni bersahabat dengan Kang Dul(?), wAllahu ‘alam. Setahuku Seruni tak mengenal Kang Dul, dan menyoal sajak tersebut dalam buku Catatan Perempuan, Seruni tak pernah memberitahukan kepada dunia kalau dia menerbitkan buku tersebut. Lalu darimana Kang Dul mengetahuinya? Ya Mbuh.
Saya sedikit terpingkal melihat Kang Dul membaca puisi, namun Mbaung sama sekali tidak terpingkal, karena ia tidak mengetahui keberadaan Kang Dul yang hadir. Mbaung sibuk mencari kiai tumpangan untuk kami melanjutkan ketaklidan yang bernasab.
“Bon[13], kowe kok ngguyu dewe kenopo?[14]” tanya Mbaung melihatku yang tertawa sendiri.
pengen ngguyu wae.[15]” jawabku.
Banyak teman-teman pesantren yang menfatwaiku sebagai orang gila, karena kerap tertawa, berbicara dan bertingkah sendiri dan itu sudah menjadi suatu yang biasa-biasa saja bagi santri karena pesantren dan lingkarannya mempercayai yang maya dan yang nyata. Ya ‘Alimul ghaibi wa syahadah[16], kekalkanlah kebersamaan dan keharmonisan bagi makhlukMu yang nyata dan yang ghaib. Selain karena saya sering eksplorasi diri sebagai terapi jiwa, meminjam mauidlotil hasanah dari sahabat saya, Setia Naka Andrian, karena puisi merupakan ruang terapi jiwa, Kang Dul juga mempengaruhi keberadaan saya yang sering tertawa, berbicara dan bertingkah sendiri.
*****
Alhamdulillah, Mbaung sudah mendapatkan kiai tumpangan dan saya berpamitan kepada Kang Dul untuk melanjutkan perjalanan sampai Semarang. Karena sang kiai tumpangan berbeda nasab dalam tujuan, kiai tumpangan yang bersurban truk tersebut menuju Jakarta. Itulah mengapa kami hanya gondelan padanya sampai Kaligawe Semarang, dan kiai tumpangan kali ini melanjutkan ke Jakarta lewat pintu masuk tol Kaligawe. Ya, memang karena modalnya nekat, kadang kalanya bisa semilir seperti hembus angin yang perlahan, kadang kalanya seperti buroqnya Kanjeng Nabi. Ternyata kami salah menerapkan ilmu kenunutan dan ilmu gondelan pada bab pertimbangan strategis. Mestinya kami tetap ikut truk tersebut dan turun di pintu keluar tol Krapyak. Maklum lah sewaktu itu ngaji kami belum sampai pada bab pertimbangan strategis, lantaran baru penjelasan dari sudut pandang terminologi, lughotan, serta definisi-definisi mengenai ilmu kenunutan dan ilmu gondelan.
Di Kaligawe, berulang kali kami ditolak oleh sopir truk, baik yang besar, sedang maupun yang kecil. Berulang kali, bergantian kami menghadang kiai tumpangan untuk sekedar gondelan bak sarungnya, sebanyak hadangan kami, sebanyak penolakan itu bermunculan. Hal tersebut juga sudah biasa dan bisa kami atasi dengan kesabaran yang terpaksakan. Maka tak heran jika seorang santri diputus kekasihnya bukan dukun yang bertindak tapi kesabaranlah yang bertindak. Mengutip juga dari Bak Truc#11[17] menyatakan bahwa putus cinta sudah biasa, putus rem matilah kita. Menyiratkan bahwa seorang santri akan tahan banting dengan keadaan asmara, sebab baginya cinta teramat luas dan dalam, tidak sempit dan dangkal. Maka jika engkau mencintai Tuhan, cintailah Ia secara luas dan dalam, tidak mencintainya dengan sempit dan dangkal—dengan manifestasi yang ekstrim.
Berulang kali kami ditolak oleh sopir truk membuat kami sedikit agak jengkel meski kesabaran yang disiapkan oleh Allah teramat luas dan semerbak. Tapi kapasitas kami yang hanya hamba tidak mampu menampung segala kelapangan sabar yang dicepaki[18]Nya, kami terbuai dengan kejengkelan. Ditengah jengkel kami, saya terbelalak dan kaget atas kehadiran Kang Dul. Kata orang-orang tua, dahulu orang-orang tua bisa seketika hadir dimana saja karena memiliki ilmu ngelempit wektu[19]. Barangkali itu yang dimiliki Kang Dul meski usianya masih muda. Namun ilmu tersebut sudah teraplikasi di jejaring selular dan internet. Ilmu tersebut sudah merupa bayangan dan suara yang terpendar dari gelombang kawat.
Kang Dul berjalan-jalan mengitari jalan bawah tol Kaligawe. Mulanya agak samar dalam pandangan, semakin lama, semain jelas bahwa yang di bawah tol adalah Kang Dul. Seperti kecepatan cahaya yang mampu mempercepat waktu, kehadiran Kang Dul juga sama. Tadi dia muncul di lampu lalin dekat terminal Kudus sampai saya berpamitan ke Semarang, namun sekarang ia sudah berada disini, di pintu masuk tol Kaligawe Semarang saat kepala kami penat oleh penolakan sopir yang bertubi. “Assalamu’alaikum Kang Dul.” sapaku dan dihiraukannya. Meski sebenarnya dia menjawab salamku, namun tidak ia eksplorasi lewat mulutnya. Begitulah Kang Dul, sak karepe udele dewe[20]. “Kang Dul kok tiba-tiba disini, ada apa?” tanyaku kepadanya namun juga tak dibalas olehnya. Dia tetap mengitari bawah tol, menggubris pertanyaan dan tetap pada keriangannya berjalan-jalan.
Mbaung sudah lelah, sehingga ia tiduran dibawah tol, begitu juga saya yang termenung atas penolakan sopir-sopir dan kejudesan Kang Dul kali ini. Terkadang kendaraan yang kapitalis tersebut memang kapitalis dan tidak layak diperjuangkan serta dibela dalam suatu pembahasan. Begitulah sensitifisme manusia untuk peka terhadap keadaan dan mampu menitik tengahkannya dalam berpikir. Namun manusia seringnya berkepentingan, menolak A ketika A tidak memiliki apa-apa yang menguntungkannya, mendukung A ketika A mampu memberikan keuntungan baginya. Begitulah manusia yang dinamis dalam segala keuntungan dan kerugian. Manusia memang begitu kan? Selalu menciptakan definisi yang baik untuk kebaikan personal, bukan kebaikan kemasyarakatan. Maka mestinya NU benar, berpijak pada ketawasuthan dalam berpikir dan berijtihad.
Diam-diam Kang Dul berjalan ke arah Mbaung yang tengah tiduran. Mbaung tidak tahu namun saya tahu. Ia kemudian membisiki Mbaung, entah apa yang dibisikkannya saya tidak tahu, setelah sampai disamping Mbaung, membuatnya bangkit dari tidurannya.
Bon, ketimbang turu ning kene, mending ngo kontrakane Man[21].[22]” pertimbangan Mbaung untukku.
Lah Man ning endi?[23] tanyaku.
Wonge ning cedak pasar Johar. Tapi dodolane ning Pasar Johar. Nek he’eh tak sms wonge.[24]
Yo, Rapopo. Lah, ronone mbonek maneh opo umbal?[25]
“Dicoba mbonek, yen gak oleh mengko umbal.[26]
“Lah kowe ono duit po?[27]
“Ono, sante wae.[28]tutupnya.
Kemudian kami berusaha mencari kiai tumpangan, meski saya tahu kalau ternyata Mbaung membawa uang. Dalam rangka iritisasi perekonomian yang pas-pasan, mungkin itu yang cocok untuk tema kali ini, setelah kenekatan kami sedikit luntur oleh ketidaksanggupan kami atas penolakan-penolakan sopir untuk ditumpangi menuju Yogyakarta atau minimal pintu keluar tol Banyumanik. Seperti tadi, hasilnya pun nihil juga. Tak membuahkan hasil untuk tujuan Pasar Johar. Waktu menunjukkan pukul 03.03, akhirnya kami memutuskan untuk naik angkot meski Sudarman belum juga membalas pesan singkat kami. Biarlah, ia tidak membalas, kami asal nekat saja. Kami sudah diatas angkot menuju Johar, angkot yang bertulis Genuk-Johar, beserta Kang Dul.
“Kamu kok tidak mau berterimakasih?” tanya Kang Dul.
“Berterimakasih untuk apa dan kepada siapa?” tanyaku balik.
“Berterimakasih kepadaku atas segala ide dan kreatifitas berpikir yang aku berikan kepadamu lewat Bilal Ma’ruf.” Tutup Kang Dul membuat saya terhenyak oleh kata-katanya yang memang benar tetapi tak sempat terpikir mulanya. Ada kalanya manusia yang begitu antusias terhadap kita ternyata dia tidak pernah memikirkan dan perhatian kepada kita, justru kadang menjadi benalu. Ada kalanya manusia yang judes dan jutek-jutek saja, dialah yang justru perhatian dan baik terhadap kita. Begitulah manusia yang dipelajarkan kepada saya kali ini oleh Kang Dul. Jika ide dan kreatifitas berpikir waktu itu dia kabarkan padaku, maka mungkin saya yang akan kebingungan lantaran tidak memegang uang. Diberikanlah ide tersebut kepada Mbaung lewat angin yang dihirupnya dan darah yang berdenyut di nadinya. Dia seperti Iblis yang seenak hati memasuki sel-sel manusia, hanya saja ia baik tak seperti iblis.
Ada strategi-strategi yang dipahami dan diketahui oleh Kang Dul untuk mengatur siasat berkehidupan yang baik. Saya memahami itu, jika kondisi pikiran sedang jernih dan tidak ditutupi mendung kepenatan, kejengkelan serta awan sekawannya yang gelap. Ya, wajar saja, waktu itu kami sedang dilanda kejengkelan dan kami lebih memenangkannya ketimbang mengalahkannya. Lagi-lagi Kang Dul yang membuka cahaya dan mengusir mendung dari pikiranku. Akhirnya, kami tiba di pasar Johar, setelah membayar kepada sopir, saya tak melihat lagi batang hidung Kang Dul. Entah kemana perginya. Begitulah Kang Dul.
Sudarman belum merespon smsnya Mbaung. Sementara waktu sudah menunjukkan diri di pukul 04.04, kami memutuskan tiduran di emper seberang pasar belum ramai dihuni penjual. Sejenak kami melepas kepenatan dan pegal.
Waktu menunjukkan pukul 05.05, bersamaan smsnya Sudarman masuk di ponsel Mbaung, Kang Dul muncul. “Kowe ning endi? Sorry, aku lagi tangi, arep dodolan iki.[29]” tulis sms dari Sudarman. Seolah kepergian Kang Dul tadi untuk membangunkan Sudarman dari tidurnya atau itu hanya sekedar perasaanku saja yang ndelalah saja Sudarman membalas pesan, Kang Dul datang. Tapi ndelalah merupakan kalimat thoyyibah[30] yang dipakai orang jawa yang memakai akar kata Alah yakni Allah sebagai bentuk mengembalikkan momentum yang tepat kepada Allah. Terpenting Sudarman sudah membalas dan menjemput kami kemudian diajaknya ke warungnya.
Kami diajak sarapan dengan nasi bungkus yang dijualnya. Kami berbincang-bincang sebentar dan kemudian kami diistirahatkan di lantai atas, yakni depan lapak bukunya Heru. Pukul 08.08, kami terbangun lantaran terganggu, Heru yang sedang membuka lapak bukunya. Selesai ia membuka, Heru memperkenalkan diri dan kami berbincang hangat cukup lama. Meski kadang-kadang Heru melayani pembeli dan penjual. Selain menjual buku-buku, baik bekas maupun baru, baik kondisi yang bagus maupun rusak, disana Heru—beserta pedagang lainnya— menjadi pembeli bagi penjual buku dengan harga sama-sama. Untuk ilmu kepasaran dan teori penjualan beserta transfusi darah dan aliran nafas hidup bisnis buku yang berlangsung disana, tidak perlu lah untuk dijabarkan. Karena akan lain cerita jika dijabarkan, meski Heru sedikit banyak bercerita mengenai itu.
Pukul 11.11, kami melanjutkan istirahat di samping lapak bukunya Heru. Ditengah istirahat, Kang Dul muncul. Kali ini tidak di dunia nyata, melainkan maya, yakni mimpi, meski Kang Dul sendiri merupakan fenomena maya bagi manusia yang tidak percaya pada yang maya. Namun bagi saya, Kang Dul adalah senyata-nyatanya nyata karena dia maya. Kemunculan Kang Dul hanya memberikan seberkas cahaya yang kemudian kuingat-ingat.
“Inilah cahaya yang aku tunjukkan padamu sejak dari Kudus. Karena kamu tidak peka, sebab tujuanmu sebenarnya adalah ini. Bukan Yogyakarta! Lantaran cahaya yang begitu tampak disini. Karena disinilah cahaya yang bisa terasa, ditengah kepungan pabrik-pabrik kapitalisme serta konsumerisme Mall-Mall dan gedung-gedung berkaca. Di Yogyakarta merupakan taman. Disana peradaban sudah melanggem, maka cahayamu yang begitu kecil tidak akan kentara disana. Disinilah, di sedikit ruang dan taman di tengah gurun-gurun keegoisan, kamu akan terasa. Maka berhentilah untuk melanjutkan perjalananmu ke Yogyakarta. Disinilah, cahaya dari segala cahaya, sebab perjuangan merupakan cahaya yang kerlap-kerlip di malam yang gulita, bukan di siang hari yang tentram.”
Perlahan mimpi itu mulai pudar menjadi kenyataan, sebab jarum jam sudah menunjuk pada angka 16.16. Mbaung membangunkanku dan memberikan es teh dan mie ayam yang dibelikan Sudarman. Kami makan disertai canda tawa dan gurau bersama Heru yang sembari membersihkan lapaknya untuk ditutup. Heru sempat memberikan buku, yakni kitab suci umat Budha—lupa judulnya, karena lupa dan lidah belum terbiasa membaca bahasa asing tersebut, meski isinya berbahasa Indonesia—, sebelum berpamitan. Heru rupanya tahu kalau saya menginginkan mengkoleksi buku-buku agama selain Islam untuk kupelajari.
Kami menunggu Sudarman untuk menutup warungnya di Masjid Agung Semarang, Kauman, sementara ingatan mengenai mimpi tadi terus melekat pada kenyataan hidup. Pukul 17.17, Sudarman menemui kami di Masjid Kauman, lantas mengajak kami ke kontrakannya di dekat rel kereta api, berjalan kaki.  Kami bermalam di kontrakan Sudarman dan saya mengatakan ke Mbaung kalau besok pulang ke Kudus, tidak melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Diapun menyetuji.
*****
Semenjak itu, semenjak secara tersirat Kang Dul mengajakku bertemu Heru. Semenjak itu pula intensitas pertemuan dengan Heru dan lapak-lapak lainnya sering terjadi. Di sela libur pesantren sampai boyongan dari pesantren. Di sela libur kerja sewaktu di Ngaliyan, di Jatingaleh dan sesaat di rumah sewaktu pergi ke Semarang. Disana merupakan cahaya yang begitu merakyat dan membumi, tidak seperti di toko-toko buku yang melangit. Transaksi disana merupakan transaksi kemesraan dan cair. Tidak transaksi yang datar dan kaku meski berwajah diskon dan bonus. Heru dan para pedagang lainnya adalah para pahlawan yang begitu bersahaja merawat ingatan-ingatan lama meski tidak begitu besar mengambil keuntungan. Mereka adalah manusia-manusia yang bercaping kesederhanaan, berbaju kemesraan dan bercelana kenangan atas peradaban.
Sayangnya, di sabtu malam ahad, 9-5-14, buku-buku merintih kesakitan oleh api yang ganas melahap dan memperkosanya. Sampai hari ini saya belum bisa mempercayai tragedi buku yang terbakar dan belum berani untuk ke pasar Johar. Lantaran, pertama, sewaktu malam yang menjadi kelam bagi buku-buku, saya tidak mengetahui meski Kang Dul berulang kali mengisyaratkan. Kedua, karena sewaktu itu saya tidak disana, saya malu untuk menampakkan diri kesana sebelum Hendi maupun Ganjar mau turun untuk benar-benar membuatkan ruko, kios maupun lapak bagi mereka yang terbakar—maaf sedikit berdiplomasi agar pemerintah tidak terlalu pekok-pekok amat—.
Dalam buku-buku jawa, angka terkadang mempengaruhi suatu peristiwa. Jika kita mau otak-atik-gatuk-matuk, maka angka kejadian akan memunculkan 9, 5 dan 14. Jika 9 ditambah 5, maka berapa hasilnya? 14 bukan? Begitulah teori yang saya pahami dari orang-orang jawa dahulu. Begitulah teori yang saya tonton dari film-film orang yang berlebihan membenci yahudi, sehingga teori jawa dipakai untuk mensabtkan orang-orang yahudi, padahal yahudi adalah cucunya jawa, mungkin saja. Kedua, peristiwa terbakarnya ilmu dan perekonomian terjadi di hari sabtu. Bagi umat yahudi, hari sabtu merupakan hari sabt, yakni hari sial. Konon, terbakarnya tiap pasar merupakan rekayasa rentenir—apalagi kejadiannya menjelang ramadlan—, birokrasi dan politik, apalagi tahun 2015 merupakan tahun pilkada bagi Semarang. WaAllahu ‘alam. Konon, yahudi identik dengan rentenir, birokrasi dan politik. WaAllahu ‘alam.
Baiknya kita pahami juga kemungkinan-kemungkinan yang ngasal dari saya tersebut, sebagai pengkajian ulang serta pengajian ulang bersama atas musibah yang menimpa para penghuni pasar johar, khususnya buku-buku. Tapi bukan sebagai parameter utama untuk membangun kembali buku-buku yang sudah terbakar. Begitu sedihnya, begitu galaunya bagi siapa saja yang bergumul bersama cahaya, waktu dan peradaban. Jika buku-buku sudah terbakar, maka mata rantai yakni sanad keilmuan bisa saja terputus. Semoga ini bukan peristiwa yang terencana dan rekasaya dari sebagian manusia yang picik terhadap ilmu dan sejarah. Kalaupun iya, laknatullah ‘alaihim.

Gubuk Jetak-Kos Bintang 2, Gg. Pisang, Sekarang, Sya’ban-Syawwal 1436


[1] Nderekke: mengikuti. Biasanya kata tersebut dipakai oleh santri ke kiai maupun seorang gus, atau anak ke orang tua. Nderekke lebih kearah mengikuti dengan keta’dziman.
[2] Pengelola PeSaN-ALiD, Mahasiswa Universitas Negeri Semarang, cerpenis.
[3] Makjenduduk: secara tiba-tiba.
[4] Sak karepe dhewe: sesuka-sukanya/ kebebasan yang tak bisa diatur.
[5] Mbuh: sejenis kata yang mencakup makna keseluruhan dari kegelisahan atas ketidaktahuan.
[6] Linuwih: kelebihan yang bersifat magic dan ajaib. Biasanya linuwih dimiliki oleh manusia-manusia yang mempunyai laku tirakat maupun laku hidup yang bersifat personality dan tidak mengganggu hajat hidup orang lain—baik seorang maupun sebanyak orang—.
[7] Artinya, mengikuti perkataan dan perbuatan.
[8] Artinya, ikut.
[9] Artinya, Kebenaran yang menjadi pengalaman untuk diyakini.
[10] Artinya, kebenaran yang sejati untuk diyakini.
[11] Seruni. 2011. Catatan Perempuan. Demak: Hasfa Arias.
[12] Artinya, Wahai dzat yang membolah-balikkan hati.
[13] Merupakan kependekan dari kata Babon dan itu  menjadi laqoban bagi saya dari teman-teman yang rumahnya dekat dengan kediaman saya.
[14] Artinya, kenapa kamu tertawa sendiri?
[15] Artinya, ingin tertawa saja.
[16] Artinya, Wahai dzat yang mengetahui segala yang maya dan yang nyata.
[17] Merupakan agenda status akun FB Arafat Ahc. Kehadirannya semena-mena dan tiba-tiba.
[18] Artinya, disiapkan.
[19] Artinya, melipat waktu.
[20] Artinya, sesuka-sukanya sendiri.
[21] Man merupakan panggilan pendek dari Sudarman, satu penjual Angkringan yang lokasi jualannya dibawah tangga untuk bertemu lapak buku dari Heru. Sudarman merupakan tetangga dan teman main sewaktu kecil.
[22] Artinya, Bon, daripada tidur disini lebih baik tidur di kontrakannya Man.
[23] Artinya, lah Man dimana?
[24] Artinya, dia di dekat pasar Johar. Namun lokasi jualannya di Pasar Johar. Jika mau tak sms dia.
[25] Artinya, iya, tidak apa-apa. Lah, kesananya Bonek lagi atau naik angkot.
[26] Artinya, dicoba dulu Bonek, jika tidak ada maka kita naik angkot.
[27] Artinya, lah, kamu punya uang?
[28] Artinya, ada, santai saja.
[29] Artinya, kamu dimana? Maaf, aku baru bangun tidur, ini mau jualan.
[30] Artinya, kata-kata yang baik.

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html