Thursday, 25 August 2016

Siddharta Bertemu dengan Para Pertapa Jang Menjiksa Diri

oleh: Upa. A. Pandita Vidyadharma Soesanto
guru agama buddha SMP/SMA Sekolah Nasional Karangturi Semarang

Siddharta bertempat tinggal tudjuh hari lamanja dalam hutan Mangga Anupiya di tepi sungai Anoma. Ia merasa sangat gembira untuk menikmati bagaimana bebasnja dengan tanpa lagi adanja ikatan keduniawian.

Kemudian ia meneruskan perdjalanannja hendak menudju ke Radjagriha (ibukota Keradjaan Magadha) jang perkasa dibawah asuhan radja Bimbisara. Untuk sampai di ibukota Radjagriha, maka harus ditempuh djalan naik turun gunung melalui hutan-hutan lebat, karena kota Radjagriha itu dikelilingi oleh lima buah gunung jang seolah-olah membentengi kota tersebut. Gunung-gunung Balbara, Bipulla, Tapowan, Sailagiri dan Ratnagiri merupakan benteng alam jang perkasa bagaikan raksasa-raksasa jang mendjaga mengelilingi ibukota keradjaan Magadha itu.

Siddharta menempuh djalan melalui kaki gunung Ratnagiri jang berbatu-batu, menembus hutan lebat jang berpohon besar-besar dan sedjuk hawanja. Diantara pohon-pohon jang besar jang tjukup dimasuki seorang, untuk berteduh. Untuk beberapa waktu lamanja Siddharta memilih salah satu pohon besar jang tjukup besar lobangnja sebagai tempat kediamannja. Ia mengumpulkan rumput-rumput kering dan menjusunnja seperti kasur untuk tidurnja. Makanan diperolehnja dari orang-orang jang simpati.

Disini pulalah ia merenungkan diri dengan tiada memperdulikan gangguan-gangguan, seperti gonggongan andjing-andjing hutan, aumnja harimau dan suara-suara binatang lainja. Bila ia sedang duduk mengheningkan tjipta, sampai tidak terasa ada beberapa andjing hutan disekitarnja bahkan kadang-kadang ada jang naik dipangkuanja. Setelah larut malam barulah ia merebahkan diri sekedar beristirahat dan sebelum matahari terbit ia telah bangun. Pagi-pagi setelah matahari terbit, ia membersihkan diri di sungai atau pantjuran di dekat tempat tinggalnja. Baru kemudian ia turun ke desa-desa guna menerima dana dari penduduk desa itu.

Manakala Siddharta sedang meminta-minta dana di desa-desa, meskipun ia hanja mengenakan djubah jang sederhana. Namun karena wadjah--agungnja selalu menjinarkan tjinta--kasih, sangat menarik perhatian para penduduk. Banjak ibu-ibu jang mengandjurkan kepada anak-anaknja untuk mengangkat udjung djubahnja dan menjentuhkan pada dahinja atau mentjium kaki Siddharta dengan maksud supaja mendapatkan suatu berkah dari pertapa muda itu.

(bersambung)

sumber: Sang Buddha djilid II (Riwajat kehidupan P. Siddharta Gotama) Bagian Kedua. Seri Sinar Vidya. Idzin No. 551/KD3K/A/IX/69.

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html