Wednesday, 19 October 2016

Putra-putri Kiai Abdul Haq (Jetak, Wedung, Demak)

Putra-putri Kiai Abdul Haq + Ny. Zaenab, Ny. Masruroh, Ny. Muslihah

  1. Kholil Idris + "?" (Bangsri, Jepara)
  2. Zainal Abidin + "?"[1] (Bangsri, Jepara)
  3. Lathifatul Bariyah + Damanhuri (Dempet, Demak)
  4. Arinal Muna + Nailus Sa'adah (Jetak,Wedung, Demak)
  5. Umi Malihah + Atho' Silmi (PP. AdDainuriyyah 2, Pedurungan, Semarang)
  6. Aina Mardliyyah + Ahmad Taufik Hidayat (Troso, Pecangaan, Jepara)
  7. Ima Ni'matus Salamah[2]
  8. Baha'uddin[3]





[1] Putra pertama dan kedua diperoleh dari Ny. Zaenab.
[2] Putra-putri yang ketiga sampai yang ketujuh dilahirkan Ny. Masruroh.
[3] Putra yang kedelapan dikandung dari rahim Ny. Muslihah.

Pada Sarung

pada sarung yang berhari-hari tak dicuci. aku menemui kisah yang kekal. menemui ingatan "utawi iki iku" yang bermuara kepada mim. melewati jalan kho'.

pada sarung yang berminggu tak diangkat dari rendaman. aku temukan aroma kasturi yang merupa alif. tegak lurusnya seperti saka panjer. yang menyangga kamar-kamar tidur, loteng, lorong, kamar mandi, kotak baju, yang penuh tumpukan sarung. di dalamnya, terdapat lipatan yang tak beraturan. celana dalam, singlet, kaos, baju koko, celana, kemeja, surban.

pada sarung yang berhari tak dicuci, berminggu tak diangkat dari rendaman. kami menyisakan sedikit do'a yang logikanya tak mampu dirumuskan. kecuali rumus berkah menyekap tubuh kami. kemudian merasai jiwa dan aliran darah. menjadi sikap dan laku.

pada sarung yang berhari tak dicuci, berminggu tak diangkat dari rendaman, berbulan tak diangkat dari jemuran. setidaknya syafaat masih menyisakan sedikit oase bagi dahaga kami di gurun yang penuh "uhuk-uhuk". "ahak-ahak" yang melingkari kami. "ohok-ohok" yang berjubel mendesak barisan jamaah kami. "ihik-ihik" yang melenakan sebagian dari kami. dan "ehek-ehek" yang mulai memasang bendera penjajahan bagi kami. ahok-ahok, ahik-ahik, ahek-ahek, ahuk-ahuk yang kemudian menjadi musuh bagi kelamin-kelamin surga.

setidaknya keberkahan masih setia memayungi dan menaungi kemanjaan yang kian menutupi segala tarekat-tirakat kiai-kiai.

pada sarung yang entah kemana perginya. sebab kami tak pernah merasa memiliki sendiri, kecuali kami sebagai benang yang bermushafahah satu sama lain. merajut diri menjadi sarung kebersamaan. dalam mim yang "utawi", kho' yang "iku". karena lam akan menunjukkan tegaknya alif diri.

pada sarung yang telah menyulam menjadi kebersamaan. kami masih percaya pada kiai-kiai.

pada sarung kiai-kiai, kami telah lahir dari persetubuhan kata-kata dan keberkahan tirakat yang tarekat.

Jl. Palagan km. 7,8, Muharram 1438

#hari_santri_nasional
#22_oktober
#resolusi_rahmat

Thursday, 13 October 2016

HASIL MUSYAWARAH PAGER MAS BAQIN

Masa Khidmah 1438-1439
            
            1. Urunan Anggota:
a.       Setiap anggota yang sudah bisa mandiri secara ekonomi (pedagang, pegawai, pengusaha, buruh,dll.) diharapkan ikut urun sumbangan sebesar Rp. 300.000,-/tahun atau bisa diangsur tiap bulan sebesar Rp. 25.000,- kepada koordinator wilayah masing-masing.
b.      Setiap anggota yang masih tergolong pelajar diharapkan ikut urun sumbangan sebesar Rp. 150.000,-/tahun atau bisa diangsur tiap bulan sebesar Rp. 15.000,- kepada koordinator wilayah masing-masing.
c.       Urunan tersebut akan diagendakan sebagai Agenda “Slametan Ratan” yang berjalan tiap tahunnya.

2. Ziarah (Jawa + Madura)
a.       Pembayaran (yang ikut) bisa diangsur ketika ada penarikan sewaktu “Slametan Ratan” atau bulanan sebagaimana urunan, kepada koordinator masing-masing.
b.      Pembayaran (yang ikut) bisa langsung kepada Ketua I(Mad Hudlori).
c.       Adapun Biaya Ziarah sebesar Rp. 250.000,-

3. Seragam Keanggotaan
a.       Pembuatan Seragam akan dilangsungkan dalam waktu sesingkat-singkatnya.
b.      Pembuatan Seragam akan diprakarsai oleh Pengurus Harian(yakni Ketua Umum, Ketua I, Sekretaris Umum, Sekretaris I dan Bendahara Umum).

4. Qurban
a.       Bagi Anggota yang menghendaki Qurban, yakni 1 Qurban Sapi, bagi 7 orang.
b.      Pembayaran Iuran bisa lewat Koordinator daerah atau Ketua I.

5. Pengadaan Layur dan MMT
a.       Pengadaan layur dan MMT akan diambilkan dari sisa saldo tiap tahunnya.

6. Uang Transportasi
a.       Setiap Koordinator daerah akan mendapatkan subsidi dana setiap bulan (bagi yang berkeinginan mengambilnya) sebesar Rp. 20.000,-.

7. Musyawarah
a.       Musyawarah Pager Mas Baqin akan berlangsung tiap 2 minggu sekali.
b.      Musyawarah Istimewa Pager Mas Baqin akanberlangsung pada hari-hari tertentu, seperti Hari Idul Fitri, Hari Isra’ Mi’raj, Hari Choliel, Hari Asyura, Hari Nuzulul Qur’an, Hari HUT RI, Hari Tahun Baru Hijriyah, dan hari-hari besar lainnya yang memiliki kemungkinan untuk diadakan musyawarah.

Jetak, 10-11 Muharram 1438/ 9-10 Oktober 2016 M

Susunan Kepengurusan Paguyuban Remaja Masjid Baitul Muttaqin [PAGER MAS BAQIN]

Masa Khidmah 1438-1439

PENASEHAT                         : KH. Ali Hafidh, Ch, S.Pd.I
KETUA UMUM                    : Abdul Mu’id
KETUA I                                : Mad Hudori
SEKRETARIS UMUM         : Arinal Muna (Koordinator Semarang & DIY)
SEKRETARIS I                     : Habib Arafat
BENDAHARA UMUM        : Ahmad Husein (Koordinator Jakarta)

DIVISI HUMAS
KEPALA DIVISI                  :  Syamsuri
Anggota
  1. Abdul Wahab (Koordinator Demak)
  2. Sami’udin Musthofa (Koordinator Demak)
  3. Afifuddin Parto (Koordinator Semarang)
  4. Abdurrohman (Koordinator Pelajar)
  5.  Irwan Wahyu (Koordinator Santri)
  6.  Imron Mardi (Koordinator Jakarta)


DIVISI KELENGKAPAN
KEPALA DIVISI                  : Nur Salim Sunoto
Anggota
  1. Jamal
  2. Fanjuli
  3. Thoha
  4. Rokhis
  5. Tadarus Bait


DIVISI PEMBANTU UMUM
KEPALA DIVISI                  : Nur Rohim (Bodong)
Anggota
  1. Abdul Munif
  2. Ahmad Ahfadh Labib (Koordinator Semarang)
  3. Umam Fanani

Ngaji Urip #57


Ngaji Urip #57

" Dimanapun dan bagi siapapun, meski selalu menyentuh, kesepian tetaplah catatan yang mengerikan untuk ditulis dan dibaca."

Tuesday, 11 October 2016

Catatan Kemerdekaan Kesekian Setelah Kemerdekaan 1945 Yang Entah Kemana (1)

I

Kemerdekaan bagi saya, merupakan suatu bentuk dari hasil atas perkenan untuk tidak (begitu) mau menjadi obyek kehendak orang lain—selama mengarah kepada kemudharatan yang amat—. Dalam khazanah kebangsaan, kemerdekaan menjadi suatu sikap yang menjadi suatu antitesis terhadap merelakan keburukan (tidak baik) bagi kelangsungan hidup masyarakat sebangsa. Bisa dikatakan, kemerdekaan sebagai perwujudan dari sifat serta dzat ilahiyyah, yakni manunggaling kawula lan gusti, yang sudah menata hidup kita. Tauhid antara Allah dan manusia. Dalam arti, manusia tidak berkehendak merdeka, jika segala hal yang terjadi merupakan kehendak Allah. Begitu juga, Allah tidak akan memerdekakan manusia, jika manusia tidak menyadari kemanusiaannya. Maka segala tindak yang tidak berdasarkan kemanusiaan merupakan tindak penjajahan dan mesti dimerdekakan. Begitu juga, segala tindak yang tidak ada landasan atas Allah, sebagaimana konsep innalillahi wa inna ilaihi raji’un, merupakan bentuk penjajahan dan harusnya sesegera memerdekakan diri.

Lalu, pertanyaan saya yakni, apakah sejatinya kemerdekaan bagi bangsa kita itu ada atau telah menghilang? Mungkin akan banyak tanggapan mengenai pertanyaan tersebut baik berwujud kontra maupun pro. Sebab realitas tak menunjukkan adanya signal kuat mengenai sikap masyarakat yang merasa bahwa kekalahan saudara sekitarnya menjadi kekalahannya juga. Kedua, tak ada—su’udzon dari lemah teles saya— pemimpin yang setiap menemui Tuhannya mengatas-namakan sebagai kami, seluruh masyarakatnya. Pun tak ada pemimpin yang setiap langkah keputusan sikapnya terhadap masyarakat atas kesenangan Tuhannya.

Namun, hal diatas tak akan saya bahas menjadi pembahasan, sebab kekuasaan masyarakat saat ini sekadar matang karbitan, tidak matang wit. Oleh karenanya alangkah baiknya jika tak ada pembahasan namun lebih baik menuju lemah teles yang kami temui—bahkan itupun yang sebenarnya kami cari—. Akan saya ceritakan mengenai segala yang telah terjadi pada kami di momentum dirgahayu kemerdekaan bangsa.

Pertama, tak ada rencana yang amat matang—bisa dikata mentah— dari perjalanan yang kami namai sebagai ekspedisi Bondo Merah Putih. Kami bukan perencana sejati dari rencana-rencana yang fana. Rencana kami hanya kebetulan pasca obrolan dalam pertemuan di rumah baca PeSaN-ALiD. Hanya butuh beberapa jam memutuskannya untuk berangkat malam itu dan tidak merencanakan tanggal kepulangan. Pada kesimpulan rencana tersebut, Alam mengijinkan kami berempat, saya, Rohman, Ulum dan Abad, melakukan ekspedisi tertanggal 16 sampai 19 Agustus 2014—itu pun di luar skenario— bertepatan Dirgahayu 69 Indonesia.

Kami ibarat air waktu itu. Air yang merdeka oleh kepasrahan kepada Pengatur Rencana sebagaimana air dalam sungai. Niat kami sekadar ingin menghaturkan merah putih di Pendapa Agung Trowulan, Mojokerto. Namun ternyata ada banyak rencana Allah untuk kita dalam kepasrahan tersebut.

II

Dimulai dari Gubuk Jetak (Jetak, Wedung, Demak) dengan berkendara sepeda motor—diantarkan dua motor— sampai Mijen (Demak). Mijen, Demak menuju Trengguli (Demak) dengan menumpang mobil bak terbuka/pick-up—orang-orang biasanya menyebut peristiwa yang hanya terjadi di bangsa nusantara dengan kata mBonek— sedulur yang kami temui di jalan. Untuk menuju Surabaya, Alhamdulillah, ada pick-upnya Pak Dhe—entah siapa namanya— berleter L, meski membutuhkan waktu sampai tanggal 17 Agustus dini hari. Dalam sepanjang perjalanan yakni, Demak, Kudus, Pati, Rembang (wilayah Jawa Tengah), Tuban, Lamongan, Gresik, dan Surabaya (wilayah Jawa Timur), kami mengibarkan bendera Merah Putih yang dibantu terpaan angin malam.

Kami tiba di Surabaya, tepatnya Jembatan Merah Plaza(JMP) di tanggal 17 Agustus 2014 sekitar jam 3 pagi. Lalu, berjalan kaki menuju Ampel Denta, untuk menghaturkan persembahan merah dan putih tanah air serta panjatan do’a lewat Raden Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel), Mbah Shonhaji, dan Mbah Sholeh—padahal sejak awal tak ada rencana— di Shubuh itu. Merah Putih berkibar di Ampel Denta.

Setelah mengintimi rumah kekasihNya di Masjid Sunan Ampel, kami lanjutkan jalan kaki berkeliling kota Pahlawan. Surabaya, kota perjuangan, ruang bagi kami menghayati bagaimana (yang katanya) kemerdekaan yang sudah mencapai usia 69. Ruang bagi kami memahami perjuangan para pendahulu, Syuhada’, melawan kedzoliman yakni ketika manusia tidak memanusiakan manusia.

Mengibarkan Merah Putih di Jembatan Merah, obyek yang dijadikan Gesang dalam puisinya. Mengibarkan Merah Putih di jalan-jalan kota Pahlawan. Di depan Kantor Gubernur Jawa Timur. Di Tugu Pahlawan. Serta tempat-tempat yang perlu untuk dikenang oleh penerus berkibarnya kejayaan Nusantara. Terhitung puluhan kilometer kami lalui berjalan kaki, tanpa menyisakan nestapa di setiap langkah cinta kepada bangsa ini.

III

Setelah terik sudah menyapa kulit tubuh, kami melanjutkan perjalanan menuju tujuan awal, yakni ingin mengibarkan sang Saka di hadapan Syekh Gajah Mada dan Syekh Hayam Wuruk di Pendopo Agung Trowulan, Mojokerto. Perjalanan kami dari Surabaya, melewati Sidoarjo dan Mojokerto, lalu kami sampai di kecamatan Trowulan, Mojokerto dengan melalui dua kali penumpangan Bus. Bus pertama dari Tugu Pahlawan menuju terminal Bungurasih, bus kedua, dari terminal Bungurasih menuju kecamatan Trowulan.

Kami rehat sementara di masjid Raden Fatah, Trowulan. Salam kepada penjaga Bumi Trowulan, Salam kepada Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Kemudian, kami berjalan kaki sekitar dua kilometer menuju pendapa Agung Trowulan. Melewati kolam Segaran, kami bertemu para pemancing ikan. Pemancing-pemancing itu menyadarkan kita betapa terik matahari tak berarti jika hidup menuntun kepada jalannya sendiri. Dan kolam Segaran menjadi satu diantara peninggalan Majapahit yang amat berlimpah.

Kemudian kami berjalan menyusuri jalanan menuju pendapa Agung Trowulan. Ketika kami mau masuk museum Majapahit, alamak, ternyata tutup—niatnya mau masuk museum setelah menikmati kolam Segaran—. Kami terus melanjutkan perjalanan kaki menuju Pendapa Agung, sejarak satu kilometer dari museum. Hati kami mulai menampakkan debar yang tak beraturan, betapa rindu kami kepada siapa yang pernah menerbangkan bangsa sampai pada tingkat ilahiyyahNya. Dua gapura yang menjulang tinggi menyambut para peziarah sebelum merasakan atmosfir serta gelombang elektromagnetik yang terus berpijar di Pendapa Agung.

Kami masuk dengan perasaan yang campur aduk. Antara bahagia, bisa mertamu ke Pendapa Agung, dan sedih, sebab anak-cucu mereka tidak mampu mempertahankan kebesaran bangsa yang aslinya besar. Kami berkeliling, membaca warisan yang mereka tinggalkan berupa pahatan, foto dan patung. Yang paling penting tentunya, keberadaan pendapa dan makam beliau. Tak lupa, kami pun menyempatkan berfoto ria, serta sebagai kenangan (yang kelak, anak cucu kami mau mengenangnya).

Sehabis berkeliling di pendapa, kami bergegas menuju makam panggung. Makam Panggung merupakan pertapaan Eyang Raden Wijaya (pendiri kerajaan Majapahit) dan tempat pembacaan amukti palapa Eyang Patih Gajah Mada (kepala pemerintahan kerajaan Majapahit). Disana, kami tak melakukan ritual bersama, karena diantara kami ada yang tidak berkenan membacakan tahlil, yaasin dan do’a-do’a, ada pula yang berkenan. Maka berbekal kesadaran pluralisme, atas keberagaman yang diajarkan leluhur kami, kami putuskan untuk berziarah di makam panggung, dengan bahasa yang kami mengerti serta pahami sendiri-sendiri, tanpa memaksa pemahaman yang kami pahami secara berbeda-beda. Begitulah, keindahan dari persahabatan, persaudaraan kami berempat, tanpa harus menyamakan pemahaman.

Dalam catatan yang kami dapatkan, ada 13 raja yang memimpin Kerajaan Majapahit. Yakni,
1. Raden Wijaya (Prabu Kartarajasa Jayawardana), 1294-1309,
2. Kalagemet (Prabu Jayanegara), 1309-1328,
3. Tribhuwana Tungga Dewi (Bhre Kahuripan II), 1328-1350, putri dari Gayatri (Jayawisnu Wardhani)-Prabu Jayanegara.
4. Raden Hayamwuruk (Prabu Rajasanagara), 1350-1389,
5. Raden Yangwicesa (Prabu Aria Wikrama Wardhana), 1389-1437,
6. Dewi Suhita, putri Raden Yangwicesa, 1437-1447,
7. Bhre Daha, selir gayatri, 1447,
8. Bhre Tumapel II (Prabu Kertawijaya), 1447-1451,
9. Bhre Pamotan Gangsen Garan (Prabu Rajasawardana), 1451-1453,
1453-1456 tanpa seorang raja.
10. Prabu Hyang Purwa Wisesa, 1456-1466,
11. Bhre Pandan Salas (Prabu Singa Wikrama Wardana), 1466-1468,
12. Prabu Kertabumi, 1468-1478,
13. Dyah Rarawijaya, 1478-1487.

Serta ada catatan ketika Patih Gajahmada bersumpah palapa, “Lamun huwus kalah Nusantara, isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, ring Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.” Meski kami belum sepenuhnya mengenali satu demi satu sejarah raja-raja Majapahit, kecuali saya yang sedikit paham mengenai Tribhuwana Tungga Dewi dan Raden Hayamwuruk, namun saya(khususnya) bahagia bisa melihat data-data yang selama ini saya ketahui hanya dari buku sejarah yang keshahihannya masih perlu dipertanyakan berulang-ulang. Meski kami tidak memahami apa yang dikatakan dalam amukti palapa Patih Gajah Mada, namun saya sudah bangga karena kami tidak sendiri di bangsa ini. Banyak hal yang menjadi guru kami meski sekadar situs dan prasasti serta makam. Kami banyak ngaji dari mereka. Kamu?

IV

Waktu menunjukkan bahwa hari kian petang, sehingga kami harus memaksa diri untuk sesegera bergegas pamitan dari pendapa agungnya Raden Hayamwuruk. Meski sempat sejenak diantara kami ambruk terserang ngantuk. Semoga masih disisakan waktu oleh Hyang Tunggal untuk kami bersilaturrahim kembali ke Trowulan. Sebab di sana, kami menemukan sedikit puzzle yang hilang dari Indonesia hari ini. Jika kami ketemukan sedikit-sedikit puzzle itu untuk melengkapi sedikit Indonesia masakini, maka alangkah bercahayanya bangsa ini. Dan kami mesti memetik hikmah dari segala hal yang kami lewati untuk membangun masa depan.

Kami kembali berjalan, sejarak yang kami jalani dari perempatan Trowulan sampai pendapa Agung. Waktu menunjukkan sekitar jam 5/6 petang, di perempatan Trowulan. Kami mengundang(-undang), meminta(-minta), menyapa(-nyapa) para truk, pick-up beserta para sopirnya. Agar mereka mengiba menatap wajah empat pemuda (yang waktu itu) single. Mengiba betapa lelahnya kami berekspedisi jawa tengah hingga jawa timur berbondo Merah Putih saja. Alhamdulillah, meski mulanya harus ditolak-tolak dan tak diterima oleh mereka, kami tetaplah sebagai bagian dari persaudaraan senasib sebangsa. Akhirnya dari beberapa yang menolak, pastinya ada yang akan menerima kami. Begitu halnya engkau, (yang katanya) jones jomblo ngenes, janganlah berputus harap. Sebab, pasti akan ada yang menerimamu sebagai bagian dari dia, jika momentumnya sudah pas.

Kami menumpangi truk menuju Kediri, melewati jombang. Truk yang kami tumpangi berhenti di daerah Gurah, Kediri. Kemudian, kami mendapatkan tumpangan pick-up lagi menuju area Pondok Modern Darul Ma’rifat Gontor 3 (Sumbercangkring, Gurah, Kediri). Dilanjut dengan kebaikan seseorang—yang memakai mobil pribadinya— yang akan pergi menuju Kediri kota. Lalu, berjalan kaki menyusuri kota yang terkenal dengan Gudang Garamnya. Kali ini, kami bertiga manut pada jalan yang dipilih Kak Abad, lantaran ia sudah lama tinggal di Kediri, sebagai santri di pesantren Lirboyo.

Seusai berjalan-jalan menyusuri kota, dimana sejarah mencatatnya sebagai suatu kerajaan bernama kerajaan kediri. Kemudian Kak Abad mengajak kami bertiga menaiki bus, karena masih ada uang tersisa di dompet, untuk istirahat di kediaman paman, Pak Dhe Miftah. Sekitar jam 8 atau 9 malam di tanggal 17 Agustus 2014, kami menuju ke kediaman Pak Dhe yang bernama lengkap Ali Miftah bin Basyir Muhsin bin Choliel Idris bin Idris bin Dawud bin Damanhuri bin Roro Kasihan binti Pangeran Benowo bin Roro Ayu Maskumambang binti Sultan Trenggono bin Sultan Fatah bin Kertawijaya.

Tanggal 17 Agustus 2014 dan malam 18 Agustus 2014, kami habiskan waktu untuk istirahat, sekalian silaturrahim di kediaman beliau, dsn. Kolak, ds. Wonorejo, kec. Ngadiluwih, Kab. Kediri. Kami bergadang bersama beliau serta mendengarkan berbagai hal, dari sejarah mengenai desa Jetak, foklore masa lalu di Jetak yang sudah punah, dari hal yang logis sampai klenik. Beliau pun menceritakan kisah hidupnya sewaktu masih anak-anak dan muda yakni di desa tanah airnya, Jetak. Seusai beliau berkisah dan bertutur panjang lebar (tanpa tinggi), kami pun beristirahat.

V

Hari sudah memasuki tanggal 18 Agustus 2014, Alhamdulillah, kami terbangun agak kesiangan, namun beliau dengan kelapangan dada, sedikit memaklumi kami yang sholat shubuh di jam 10 pagi. Pertama, permaklumannya, lantaran kami ini, dalam ranah fiqih tergolong seorang musafir, sehingga sebagai muslim ia memahami, meski sebenarnya beliau sangat tegas dalam fiqih. Namun sebagai muslim yang baik beliau mengharuskan diri untuk tajam ke dalam dan tumpul ke luar, begitulah mestinya muslim-muslim kita jika mau menjadi muslim yang baik. Permaklumannya, kedua, lantaran kami ini Gus(yang beneran atau tidak, saya tidak tahu), maka belum wajib untuk sholat. Haha..... yang wajib kan hanya Kiai.

Beliau mengajak kami untuk sarapan yang telah disediakan Bu Dhe Ainun.


Gubuk Jetak-Gunungpati, Catatan Agustus 2014-Jumadil Awwal 1437

Monday, 10 October 2016

Surat Terbuka untuk Pildes

Di desa nun jauh yang pernah melahirkan saya sedang mengadakan pemilihan kepala desa. (Saya tidak menyebutnya sebagai pesta rakyat, lantaran proses pemilihan seorang kholifah, rais, raja, imam, pemimpin atau sesebutan lainnya, mestinya dijalankan penuh khidmah dan khusyu’. Agar terpilih secara sunyi seorang pemimpin yang sunyi—dalam kebijaksaan dan kharisma— untuk menegakkan keadilan. Sementara kemakmuran merupakan efeknya). Sementara saya masih di Yogyakarta dan tidak memungkinkan untuk memilih pemimpin diantara keduanya, satu calon dari kaum wanita, calon lainnya dari kaum pria.

Dalam surat ini, saya tidak akan berbicara soal “memilih”, karena memilih adalah hak. Maka untuk “tidak memilih” merupakan hak juga, yang sampai dewasa ini, panitia pemilihan kepala—baik desa, kabupaten/kota, provinsi hingga negara— belum berani menyatakan bahwa “tidak memilih” merupakan hak bagi setiap warga/masyarakat. Saya hanya ingin berbicara menyoal pemilihan kepala desa, nun jauh yang saya tinggalkan. Menyoal calon(yang bersifat wanita) dipinang oleh rakyatnya(yang bersifat pria).

Saya mau bertanya, siapakah yang layak bersifat pria? Rakyat atau pemimpin. Dan siapa yang layak berposisi sebagai wanita? Pemimpin atau rakyat. Tak perlu dijawab, lantaran dewasa ini, pola pikir kita makin dibayikan oleh metode dan cara berpikir yang modern/westernis. Kita akan gagap menjawab pertanyaan semacam itu, karena kita tidak berani memutuskan untuk menjadi diri sendiri(jawa-nusantara) atau orang lain(arab-barat). Kemudian, yang menarik dari pildes desa nun jauh yakni fenomena pertarungan antara dua calon kades tersebut. Wanita melawan pria.

Sebelumnya dalam pemilihan kades desa nun jauh tidak memiliki pengalaman seorang wanita maju sebagai petarung perebutan kursi pelayan pemimpin rakyat, ini merupakan pengalaman pertamanya. Emansipasi Westernisasi hari ini telah menjadi kebudayaan masyarakat indonesia, dari skala negara hingga skala kabupaten/walikota, memunculkan ibu Megawati Soekarnoputri(Presiden RI 7), ibu Ratu Atut Chosiyah (Gubernur Provinsi Banten 2005-2014), ibu Tri Rismaharini (Walikota Surabaya 2010-sekarang), bupati Demak, Endang Setyaningdyah serta banyak pemimpin-pemimpin wanita lainnya menjadi seorang pemimpin. Sampai-sampai desa nun jauh terjangkit dengan pencalonan seorang kepala desa yang berkelamin vagina wanita.

Emansipasi—bukan westernisasi— yang dipromotori buyut Raden Ajeng Kartini bukan pada persamaan pekerjaan secara menyeluruh. Dalam kebudayaan Jawa-Nusantara, ada beberapa pekerjaan yang “saru” jika dilakukan oleh wanita, begitu sebaliknya. Buyut Kartini pun menyadari itu, dan masih dalam penafsiran saya, beliau lebih menitik beratkan emansipasi pada kapasitas intlektual wanita, bukan profesi wanita. Kebiasaan masyarakat kita, khususnya wanita, pendidikan(bukan sekolahan maupun universitas) adalah hak wajib bagi setiap manusia, apalagi manusia yang berbudaya dan beragama. Maka perlawanan yang dilakukan oleh Eyang kita Kartini, putri sejati, atas kebudayaan yang tidak baik tersebut—peremehan terhadap pendidikan— dengan cara beliau mendidik dan mengajarkan ilmu—berupa pengetahuan dan pengalaman— kepada para wanita di sekitarnya. Bukan mengajak wanita untuk mempersempit lapangan pekerjaan dengan menjadi tukang parkir, supir bus, kuli bangunan, calon kepala desa serta pekerjaan lainnya. Dan mengkerdilkan mental pria, yang dianggapnya kurang mampu sebagai sumber nafkah dan tanggung jawab bagi wanita—yang notabenenya seorang istri.

Kembali pada persoalan desa nun jauh yang memiliki salah satu calon kepala desa dari seorang wanita, sebagai pengalaman pertama desa tersebut. Secara hukum, tindakan itu merupakan hal yang legal-sah. Namun secara kebudayaan, apa itu menjadi suatu kewajaran dan kepantasan? Wanita di posisikan Tuhan sebagai perhiasan dunia yang mestinya dijaga sebagai pusaka oleh seorang suami, anak maupun orang tuanya. Maka Tuhan teramat men-spesial-kan wanita dengan daya dan kekuatannya hanya begitu-begitu saja. Wanita dianugerahi menstruasi, datang bulan, haid, PMS—beberapa wanita memiliki pengalaman terkadang sakit di perutnya. Maka anehlah jika seorang wanita menjadi seorang pemimpin bagi Jama’ Takstir—jama’ mudzakar salim dan jama’ muanats salim—.

Dari beberapa kode alam yang mata airnya dari Tuhan mengenai wanita, mestinya kita mampu menimbang dan merenungi kepantasan seorang wanita sebagai pemimpin. Anehnya, desa nun jauh yang pertama kali ikut-ikutan modernis tersebut, dalam prasangka saya, wanitanya bukan dicalonkan oleh komunitas wanita, komunitas wilayah maupun komunitas lainnya. Ia pun tidak mencalonkan sendiri, melainkan dicalonkan oleh suaminya. Suami yang masih menjabat sebagai Plt. Kades di desa nun jauh tersebut. Dengan alasan peraturan daerah  kabupaten tersebut menyatakan tidak ada lagi calon tunggal yang melawan “bumbung kosong.” Namun tetap saja, bagi saya, masih terasa aneh dan patut kita bertanya pada diri sendiri, atau bertanya pada rumput yang bergoyang saja, kalau perlu.

Mengapa harus istrinya yang dicalonkan? Kenapa bukan adik, kakak, sepupu, sahabat dekatnya yang dicalonkan? Atau jangan-jangan dalam rumah tangganya memang telah terjadi pertarungan, perebutan kekuasaan, yang dewasa ini sedang ngetrend-nya the real kepala rumah tangga seorang wanita—suami di ketiak istri, kecuali para wanita yang sudah menjanda, karena cerai atau cerai mati. Semestinya pertarungan antara suami-istri patut diselenggarakan di ranjang kamar mereka, bukan ranjang pemilihan kepala desa. Ditambah lagi pertaruhan politik raja desa tidak hanya terjadi di desa nun jauh saja, melainkan hampir terjadi di tiap desa yang hanya memiliki satu calon kades saja dengan batasan tenggat waktu yang telah diputuskan pemerintah daerah.

Satu calon kades, yang belum memiliki lawan, tidak berkenan mensuplay sedikit kesabaran lagi, meski bukan dirinya—yang petahana— tidak dipilih sebagai Plt. Sementara Kades oleh bupati/walikota. Maka, dengan ketergesa-gesaan mereka memaksa/dipaksakan diri untuk mengajukan istrinya, sebagai lawan dalam ranjang pemilihan kepala desanya. Prasangka saya lagi, agar selekas-lekasnya ia menjadi pemimpin baru—jika petahana, maka hanya melanjutkan pemerintahannya kembali. Bukankah sikap semacam itu secara (tidak) langsung telah menyembelih hak rakyat untuk memiliki perbandingan kualitas kepemimpinan bagi masa depan desa—yang meliputi rakyat. Atau ternyata sikap semacam itu merupakan tanda, secara moral dia “rumongso biso” namun tidak “biso rumongso”. Secara politik, beliau mengisyaratkan akan maniak jabatan dan kekuasaan. Secara ekonomi kapitalisme global, ia memberi kabar mengenai kerakusannya untuk iming-iming tanah bengkok—meski isunya kepala desa, sudah tidak lagi mendapatkan bengkok, melainkan gaji berapa persen dari hasil pelelangan bengkok tersebut, selain gaji intensif dari pemerintah daerah. Semoga imajinasi-imajinasi saya tidak mendekati suatu kebenaran, meski sekecil dzarrah. Semoga saja, lantaran mereka ingin menyegerakan kebaikan-kebaikan yang berupa kemakmuran yang adil dan bijaksana bagi masyarakat desanya.

Meski begitu, yang saya pahami dari sains dan teknologi alam semesta bahwa setiap fernomena, tragedi, peristiwa yang terjadi merupakan takdir yang sudah terpolakan oleh semesta raya. Ada sebab, ada akibat. Ada mendung, ada hujan. Ada usaha, ada hasil. Begitulah orang-orang jawa-nusantara memiliki budaya primbon, weton, hari baik, kliwon, wage, ngulon, ngetan, sedekah bumi, dhemit, pulung, kothek lancung, kakang kawah, adhi ari-ari, wewe gombel, sang hyang widhi, sang hyang wenang dan pernik-pernik kebudayaan lainnya. Meski dalam konteks tertentu ada pengecualian dari teori-teori sains jawa-nusantara tersebut, yakni jika Allah sudah “Kun” maka tanpa sekat kata apapun pastilah ada “Fayakun”, atau langsung “Kun Fayakun”. Sekali lagi, saya ingin katakan, saya lebih mempercayai Allah, namun saya tidak akan mengatakan bahwa “Bumi Milik Allah”, karena saya tidak merasa pas kalau tanah jawa-nusantara ditegakkan khilafah. Lantaran kepandaian leluhur jawa-nusantara dalam sains teknologi yang disebut “ilmu titen” jauh lebih unggul dan mapan daripada sains modern saat ini, dan menurut saya hampir mendekati sains teknologinya Allah dalam Qur’an dan Hadits.
Silahkan berdemokrasi, silahkan bermonarki, silahkan berkhilafah—tapi jangan lah— asalkan satu, yakni terwujudnya keadilan untuk kemakmuran, bukan kemakmuran untuk keadilan. Tapi ingat, musim sudah berubah, titi mangsa sudah berubah, hujan-panas tidak bisa lagi ditebak, musim tandur-panen pun sama. Maka bersiaplah men-titen-i tanda-tanda di zaman baru ini, tanda-tanda yang sudah ditampakkan semesta raya. Bersiaplah menjadi manusia yang siap menjadi khalifah bagi dirimu sendiri—baik diri yang ageng maupun diri yang alit.


Adam Barbershop, Yogyakarta, Muharram 1438

Sunday, 9 October 2016

Ngaji Urip #54


Ngaji Urip #54


" Jika anda tidak bisa memposisikan diri anda ditengah-tengah masyarakat, lebih baik ambil pisau untuk menikam diri."

Ngaji Urip #53

Ngaji Urip #53


" Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia."
- Muhammad Yamin

Ngaji Urip #51


Ngaji Urip #51

" Kita punya hak untuk menuntut ke pemerintah. Namun pemerintah tidak berhak menjadikan kita hambanya. "
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html