Tuesday, 11 October 2016

Catatan Kemerdekaan Kesekian Setelah Kemerdekaan 1945 Yang Entah Kemana (1)

Oleh: HB. Arafat
Rais Tanfidziyyah LEMBAGA PESAN-ALID, Supervisor AdamBarbershop

I
Kemerdekaan bagi saya, merupakan suatu bentuk dari hasil atas perkenan untuk tidak (begitu) mau menjadi obyek kehendak orang lain—selama mengarah kepada kemudharatan yang amat—. Dalam khazanah kebangsaan, kemerdekaan menjadi suatu sikap yang menjadi suatu antitesis terhadap merelakan keburukan (tidak baik) bagi kelangsungan hidup masyarakat sebangsa. Bisa dikatakan, kemerdekaan sebagai perwujudan dari sifat serta dzat ilahiyyah, yakni manunggaling kawula lan gusti, yang sudah menata hidup kita. Tauhid antara Allah dan manusia. Dalam arti, manusia tidak berkehendak merdeka, jika segala hal yang terjadi merupakan kehendak Allah. Begitu juga, Allah tidak akan memerdekakan manusia, jika manusia tidak menyadari kemanusiaannya. Maka segala tindak yang tidak berdasarkan kemanusiaan merupakan tindak penjajahan dan mesti dimerdekakan. Begitu juga, segala tindak yang tidak ada landasan atas Allah, sebagaimana konsep innalillahi wa inna ilaihi raji’un, merupakan bentuk penjajahan dan harusnya sesegera memerdekakan diri.
Lalu, pertanyaan saya yakni, apakah sejatinya kemerdekaan bagi bangsa kita itu ada atau telah menghilang? Mungkin akan banyak tanggapan mengenai pertanyaan tersebut baik berwujud kontra maupun pro. Sebab realitas tak menunjukkan adanya signal kuat mengenai sikap masyarakat yang merasa bahwa kekalahan saudara sekitarnya menjadi kekalahannya juga. Kedua, tak ada—su’udzon dari lemah teles saya— pemimpin yang setiap menemui Tuhannya mengatas-namakan sebagai kami, seluruh masyarakatnya. Pun tak ada pemimpin yang setiap langkah keputusan sikapnya terhadap masyarakat atas kesenangan Tuhannya.
Namun, hal diatas tak akan saya bahas menjadi pembahasan, sebab kekuasaan masyarakat saat ini sekadar matang karbitan, tidak matang wit. Oleh karenanya alangkah baiknya jika tak ada pembahasan namun lebih baik menuju lemah teles yang kami temui—bahkan itupun yang sebenarnya kami cari—. Akan saya ceritakan mengenai segala yang telah terjadi pada kami di momentum dirgahayu kemerdekaan bangsa.
Pertama, tak ada rencana yang amat matang—bisa dikata mentah— dari perjalanan yang kami namai sebagai ekspedisi Bondo Merah Putih. Kami bukan perencana sejati dari rencana-rencana yang fana. Rencana kami hanya kebetulan pasca obrolan dalam pertemuan di rumah baca PeSaN-ALiD. Hanya butuh beberapa jam memutuskannya untuk berangkat malam itu dan tidak merencanakan tanggal kepulangan. Pada kesimpulan rencana tersebut, Alam mengijinkan kami berempat, saya, Rohman, Ulum dan Abad, melakukan ekspedisi tertanggal 16 sampai 19 Agustus 2014—itu pun di luar skenario— bertepatan Dirgahayu 69 Indonesia.
Kami ibarat air waktu itu. Air yang merdeka oleh kepasrahan kepada Pengatur Rencana sebagaimana air dalam sungai. Niat kami sekadar ingin menghaturkan merah putih di Pendapa Agung Trowulan, Mojokerto. Namun ternyata ada banyak rencana Allah untuk kita dalam kepasrahan tersebut.

II
Dimulai dari Gubuk Jetak (Jetak, Wedung, Demak) dengan berkendara sepeda motor—diantarkan dua motor— sampai Mijen (Demak). Mijen, Demak menuju Trengguli (Demak) dengan menumpang mobil bak terbuka/pick-up—orang-orang biasanya menyebut peristiwa yang hanya terjadi di bangsa nusantara dengan kata mBonek— sedulur yang kami temui di jalan. Untuk menuju Surabaya, Alhamdulillah, ada pick-upnya Pak Dhe—entah siapa namanya— berleter L, meski membutuhkan waktu sampai tanggal 17 Agustus dini hari. Dalam sepanjang perjalanan yakni, Demak, Kudus, Pati, Rembang (wilayah Jawa Tengah), Tuban, Lamongan, Gresik, dan Surabaya (wilayah Jawa Timur), kami mengibarkan bendera Merah Putih yang dibantu terpaan angin malam.
Kami tiba di Surabaya, tepatnya Jembatan Merah Plaza(JMP) di tanggal 17 Agustus 2014 sekitar jam 3 pagi. Lalu, berjalan kaki menuju Ampel Denta, untuk menghaturkan persembahan merah dan putih tanah air serta panjatan do’a lewat Raden Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel), Mbah Shonhaji, dan Mbah Sholeh—padahal sejak awal tak ada rencana— di Shubuh itu. Merah Putih berkibar di Ampel Denta.
Setelah mengintimi rumah kekasihNya di Masjid Sunan Ampel, kami lanjutkan jalan kaki berkeliling kota Pahlawan. Surabaya, kota perjuangan, ruang bagi kami menghayati bagaimana (yang katanya) kemerdekaan yang sudah mencapai usia 69. Ruang bagi kami memahami perjuangan para pendahulu, Syuhada’, melawan kedzoliman yakni ketika manusia tidak memanusiakan manusia.
Mengibarkan Merah Putih di Jembatan Merah, obyek yang dijadikan Gesang dalam puisinya. Mengibarkan Merah Putih di jalan-jalan kota Pahlawan. Di depan Kantor Gubernur Jawa Timur. Di Tugu Pahlawan. Serta tempat-tempat yang perlu untuk dikenang oleh penerus berkibarnya kejayaan Nusantara. Terhitung puluhan kilometer kami lalui berjalan kaki, tanpa menyisakan nestapa di setiap langkah cinta kepada bangsa ini.

III
Setelah terik sudah menyapa kulit tubuh, kami melanjutkan perjalanan menuju tujuan awal, yakni ingin mengibarkan sang Saka di hadapan Syekh Gajah Mada dan Syekh Hayam Wuruk di Pendopo Agung Trowulan, Mojokerto. Perjalanan kami dari Surabaya, melewati Sidoarjo dan Mojokerto, lalu kami sampai di kecamatan Trowulan, Mojokerto dengan melalui dua kali penumpangan Bus. Bus pertama dari Tugu Pahlawan menuju terminal Bungurasih, bus kedua, dari terminal Bungurasih menuju kecamatan Trowulan.
Kami rehat sementara di masjid Raden Fatah, Trowulan. Salam kepada penjaga Bumi Trowulan, Salam kepada Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Kemudian, kami berjalan kaki sekitar dua kilometer menuju pendapa Agung Trowulan. Melewati kolam Segaran, kami bertemu para pemancing ikan. Pemancing-pemancing itu menyadarkan kita betapa terik matahari tak berarti jika hidup menuntun kepada jalannya sendiri. Dan kolam Segaran menjadi satu diantara peninggalan Majapahit yang amat berlimpah.
Kemudian kami berjalan menyusuri jalanan menuju pendapa Agung Trowulan. Ketika kami mau masuk museum Majapahit, alamak, ternyata tutup—niatnya mau masuk museum setelah menikmati kolam Segaran—. Kami terus melanjutkan perjalanan kaki menuju Pendapa Agung, sejarak satu kilometer dari museum. Hati kami mulai menampakkan debar yang tak beraturan, betapa rindu kami kepada siapa yang pernah menerbangkan bangsa sampai pada tingkat ilahiyyahNya. Dua gapura yang menjulang tinggi menyambut para peziarah sebelum merasakan atmosfir serta gelombang elektromagnetik yang terus berpijar di Pendapa Agung.
Kami masuk dengan perasaan yang campur aduk. Antara bahagia, bisa mertamu ke Pendapa Agung, dan sedih, sebab anak-cucu mereka tidak mampu mempertahankan kebesaran bangsa yang aslinya besar. Kami berkeliling, membaca warisan yang mereka tinggalkan berupa pahatan, foto dan patung. Yang paling penting tentunya, keberadaan pendapa dan makam beliau. Tak lupa, kami pun menyempatkan berfoto ria, serta sebagai kenangan (yang kelak, anak cucu kami mau mengenangnya).
Sehabis berkeliling di pendapa, kami bergegas menuju makam panggung. Makam Panggung merupakan pertapaan Eyang Raden Wijaya (pendiri kerajaan Majapahit) dan tempat pembacaan amukti palapa Eyang Patih Gajah Mada (kepala pemerintahan kerajaan Majapahit). Disana, kami tak melakukan ritual bersama, karena diantara kami ada yang tidak berkenan membacakan tahlil, yaasin dan do’a-do’a, ada pula yang berkenan. Maka berbekal kesadaran pluralisme, atas keberagaman yang diajarkan leluhur kami, kami putuskan untuk berziarah di makam panggung, dengan bahasa yang kami mengerti serta pahami sendiri-sendiri, tanpa memaksa pemahaman yang kami pahami secara berbeda-beda. Begitulah, keindahan dari persahabatan, persaudaraan kami berempat, tanpa harus menyamakan pemahaman.
Dalam catatan yang kami dapatkan, ada 13 raja yang memimpin Kerajaan Majapahit. Yakni,
1. Raden Wijaya (Prabu Kartarajasa Jayawardana), 1294-1309,
2. Kalagemet (Prabu Jayanegara), 1309-1328,
3. Tribhuwana Tungga Dewi (Bhre Kahuripan II), 1328-1350, putri dari Gayatri (Jayawisnu Wardhani)-Prabu Jayanegara.
4. Raden Hayamwuruk (Prabu Rajasanagara), 1350-1389,
5. Raden Yangwicesa (Prabu Aria Wikrama Wardhana), 1389-1437,
6. Dewi Suhita, putri Raden Yangwicesa, 1437-1447,
7. Bhre Daha, selir gayatri, 1447,
8. Bhre Tumapel II (Prabu Kertawijaya), 1447-1451,
9. Bhre Pamotan Gangsen Garan (Prabu Rajasawardana), 1451-1453,
1453-1456 tanpa seorang raja.
10. Prabu Hyang Purwa Wisesa, 1456-1466,
11. Bhre Pandan Salas (Prabu Singa Wikrama Wardana), 1466-1468,
12. Prabu Kertabumi, 1468-1478,
13. Dyah Rarawijaya, 1478-1487.
Serta ada catatan ketika Patih Gajahmada bersumpah palapa, “Lamun huwus kalah Nusantara, isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, ring Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.” Meski kami belum sepenuhnya mengenali satu demi satu sejarah raja-raja Majapahit, kecuali saya yang sedikit paham mengenai Tribhuwana Tungga Dewi dan Raden Hayamwuruk, namun saya(khususnya) bahagia bisa melihat data-data yang selama ini saya ketahui hanya dari buku sejarah yang keshahihannya masih perlu dipertanyakan berulang-ulang. Meski kami tidak memahami apa yang dikatakan dalam amukti palapa Patih Gajah Mada, namun saya sudah bangga karena kami tidak sendiri di bangsa ini. Banyak hal yang menjadi guru kami meski sekadar situs dan prasasti serta makam. Kami banyak ngaji dari mereka. Kamu?

IV
Waktu menunjukkan bahwa hari kian petang, sehingga kami harus memaksa diri untuk sesegera bergegas pamitan dari pendapa agungnya Raden Hayamwuruk. Meski sempat sejenak diantara kami ambruk terserang ngantuk. Semoga masih disisakan waktu oleh Hyang Tunggal untuk kami bersilaturrahim kembali ke Trowulan. Sebab di sana, kami menemukan sedikit puzzle yang hilang dari Indonesia hari ini. Jika kami ketemukan sedikit-sedikit puzzle itu untuk melengkapi sedikit Indonesia masakini, maka alangkah bercahayanya bangsa ini. Dan kami mesti memetik hikmah dari segala hal yang kami lewati untuk membangun masa depan.
Kami kembali berjalan, sejarak yang kami jalani dari perempatan Trowulan sampai pendapa Agung. Waktu menunjukkan sekitar jam 5/6 petang, di perempatan Trowulan. Kami mengundang(-undang), meminta(-minta), menyapa(-nyapa) para truk, pick-up beserta para sopirnya. Agar mereka mengiba menatap wajah empat pemuda (yang waktu itu) single. Mengiba betapa lelahnya kami berekspedisi jawa tengah hingga jawa timur berbondo Merah Putih saja. Alhamdulillah, meski mulanya harus ditolak-tolak dan tak diterima oleh mereka, kami tetaplah sebagai bagian dari persaudaraan senasib sebangsa. Akhirnya dari beberapa yang menolak, pastinya ada yang akan menerima kami. Begitu halnya engkau, (yang katanya) jones jomblo ngenes, janganlah berputus harap. Sebab, pasti akan ada yang menerimamu sebagai bagian dari dia, jika momentumnya sudah pas.
Kami menumpangi truk menuju Kediri, melewati jombang. Truk yang kami tumpangi berhenti di daerah Gurah, Kediri. Kemudian, kami mendapatkan tumpangan pick-up lagi menuju area Pondok Modern Darul Ma’rifat Gontor 3 (Sumbercangkring, Gurah, Kediri). Dilanjut dengan kebaikan seseorang—yang memakai mobil pribadinya— yang akan pergi menuju Kediri kota. Lalu, berjalan kaki menyusuri kota yang terkenal dengan Gudang Garamnya. Kali ini, kami bertiga manut pada jalan yang dipilih Kak Abad, lantaran ia sudah lama tinggal di Kediri, sebagai santri di pesantren Lirboyo.
Seusai berjalan-jalan menyusuri kota, dimana sejarah mencatatnya sebagai suatu kerajaan bernama kerajaan kediri. Kemudian Kak Abad mengajak kami bertiga menaiki bus, karena masih ada uang tersisa di dompet, untuk istirahat di kediaman paman, Pak Dhe Miftah. Sekitar jam 8 atau 9 malam di tanggal 17 Agustus 2014, kami menuju ke kediaman Pak Dhe yang bernama lengkap Ali Miftah bin Basyir Muhsin bin Choliel Idris bin Idris bin Dawud bin Damanhuri bin Roro Kasihan binti Pangeran Benowo bin Roro Ayu Maskumambang binti Sultan Trenggono bin Sultan Fatah bin Kertawijaya.
Tanggal 17 Agustus 2014 dan malam 18 Agustus 2014, kami habiskan waktu untuk istirahat, sekalian silaturrahim di kediaman beliau, dsn. Kolak, ds. Wonorejo, kec. Ngadiluwih, Kab. Kediri. Kami bergadang bersama beliau serta mendengarkan berbagai hal, dari sejarah mengenai desa Jetak, foklore masa lalu di Jetak yang sudah punah, dari hal yang logis sampai klenik. Beliau pun menceritakan kisah hidupnya sewaktu masih anak-anak dan muda yakni di desa tanah airnya, Jetak. Seusai beliau berkisah dan bertutur panjang lebar (tanpa tinggi), kami pun beristirahat.

V
Hari sudah memasuki tanggal 18 Agustus 2014, Alhamdulillah, kami terbangun agak kesiangan, namun beliau dengan kelapangan dada, sedikit memaklumi kami yang sholat shubuh di jam 10 pagi. Pertama, permaklumannya, lantaran kami ini, dalam ranah fiqih tergolong seorang musafir, sehingga sebagai muslim ia memahami, meski sebenarnya beliau sangat tegas dalam fiqih. Namun sebagai muslim yang baik beliau mengharuskan diri untuk tajam ke dalam dan tumpul ke luar, begitulah mestinya muslim-muslim kita jika mau menjadi muslim yang baik. Permaklumannya, kedua, lantaran kami ini Gus(yang beneran atau tidak, saya tidak tahu), maka belum wajib untuk sholat. Haha..... yang wajib kan hanya Kiai.
Beliau mengajak kami untuk sarapan yang telah disediakan Bu Dhe Ainun.


Gubuk Jetak-Gunungpati, Catatan Agustus 2014-Jumadil Awwal 1437

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html