Monday, 10 October 2016

KIYAM

diambil dari FB: Ishlahul Falah

Oleh: Ishlahul Falah

Warga Demak yang pernah nyantri di Madrasah NU TBS







Hari ini adalah momen penting dimana akan dilaksanakannya Pemilihan Kepala Desa serentak di Kabupaten Demak. Nenek moyang kami sering menyebutnya dengan istilah KIYAM. Entah darimana akar kata ini berasal saya tidak tahu, yang jelas Kiyam adalah pesta demokrasi yang diselenggarakan untuk memilih calon pemimpin desa terbaik yang dimiliki oleh desa masing-masing.
Tak jauh beda dengan Pilkada-Pilkada yang diselenggarakan di era reformasi sekarang, Kiyam juga diwarnai bumbu-bumbu politik uang. Kalau di jaman dulu, beli suara tak cuma menggunakan uang tapi juga menggunakan pemberian sarung atau sejenisnya. Tak masalah untuk itu, karena kepala desa akan mendapatkan bagian Bengkok Desa sebagai gaji dari kinerjanya.
Ya memang kadang itu membuat dilematis bagi masyarakat yang katakanlah memegang teguh keyakinan untuk tidak menerima uang pemberian dari para calon kepala desa, akan tetapi itulah yang mereka katakan tradisi. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, sejak kapan tradisi politik uang itu berasal dan dimulai? apakah faktor sejarah masa lalu ketika penguasa-penguasa daerah di Jawa yang harus membayarkan upeti kepada Kompeni agar kekuasaannya tetap utuh dan langgeng dipangkuannya.
Terlepas dari itu semua, dan kembali ke awal tadi tentang istilah KIYAM. Menurutku Kiyam berasal dari Bahasa Arab yang berarti "berdiri". Tengok saja ketika acara pemilihan lurah itu diadakan, anggarannya berasal dari patungan para calon kepala desa, walaupun sekarang setidaknya sudah mendapatkan subsidi dari Pemerintah Daerah. Istilah Kiyam, mungkin yang diharapkan oleh pendahulu kita, orang Jawa, yang ditujukan bagi calon pemimpin daerah untuk selalu tegak berdiri, untuk selalu berjuang mementingkan kepentingan rakyatnya.
Dalam istilah fiqihnya تصرف الامام علي الرعية منوط بالمصلحة, bagi calon kepala desa harus menata niat masing-masing untuk selalu memegang teguh dan berkeyakinan penuh terhadap kaidah ini. Jika dari awal saja niatnya sudah melenceng, pasti dia akan menjadi pemimpin Jadong—meminjam istilah Syed Husein Alatas yang berarti Jahat, Bodoh dan Sombong.
Sebagai pemimpin harus mempunyai "Citra Sempurna" seperti Akhlak Rasulullah Shallahu alaihi wasallam, dan Khulafaur Rasidhin Radhiyallahu Anhum, sebagai pemimpin yang pengasih, adil dan tegas. Untuk mewujudkan itu, tugas masyarakat adalah sebagai SABET, terlebih lagi bagi Tim Sukses ketika calon lurah tersebut menghadapi detik-detik pemilihan. Saya pernah mendengar dari ungkapan seorang Bijak Bestari bahwa tugas seorang Sabet bukan sekedar bertugas membagi-bagikan uang pada masyarakat pemilih. Sabet semestinya juga mempunyai kewajiban untuk "menyabet/menegur" lurah yang telah terpilih ketika dalam tugasnya nanti dia melenceng dari niat awalnya tadi.
Dan akhirnya, saya sebagai penduduk yang tidak ikut dalam memilih kepala desa, saya dari sini hanya bisa mendoakan semoga pemimpin desa terpilih mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, agar tercipta masyarakat Madani yang gemah ripah loh jinawi tentrem raharjo.

Sentiong, Jakarta, 09-10-2016

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html