Monday, 10 October 2016

Surat Terbuka untuk Pildes

Oleh: HB. Arafat

Di desa nun jauh yang pernah melahirkan saya sedang mengadakan pemilihan kepala desa. (Saya tidak menyebutnya sebagai pesta rakyat, lantaran proses pemilihan seorang kholifah, rais, raja, imam, pemimpin atau sesebutan lainnya, mestinya dijalankan penuh khidmah dan khusyu’. Agar terpilih secara sunyi seorang pemimpin yang sunyi—dalam kebijaksaan dan kharisma— untuk menegakkan keadilan. Sementara kemakmuran merupakan efeknya). Sementara saya masih di Yogyakarta dan tidak memungkinkan untuk memilih pemimpin diantara keduanya, satu calon dari kaum wanita, calon lainnya dari kaum pria.
Dalam surat ini, saya tidak akan berbicara soal “memilih”, karena memilih adalah hak. Maka untuk “tidak memilih” merupakan hak juga, yang sampai dewasa ini, panitia pemilihan kepala—baik desa, kabupaten/kota, provinsi hingga negara— belum berani menyatakan bahwa “tidak memilih” merupakan hak bagi setiap warga/masyarakat. Saya hanya ingin berbicara menyoal pemilihan kepala desa, nun jauh yang saya tinggalkan. Menyoal calon(yang bersifat wanita) dipinang oleh rakyatnya(yang bersifat pria).
Saya mau bertanya, siapakah yang layak bersifat pria? Rakyat atau pemimpin. Dan siapa yang layak berposisi sebagai wanita? Pemimpin atau rakyat. Tak perlu dijawab, lantaran dewasa ini, pola pikir kita makin dibayikan oleh metode dan cara berpikir yang modern/westernis. Kita akan gagap menjawab pertanyaan semacam itu, karena kita tidak berani memutuskan untuk menjadi diri sendiri(jawa-nusantara) atau orang lain(arab-barat). Kemudian, yang menarik dari pildes desa nun jauh yakni fenomena pertarungan antara dua calon kades tersebut. Wanita melawan pria.
Sebelumnya dalam pemilihan kades desa nun jauh tidak memiliki pengalaman seorang wanita maju sebagai petarung perebutan kursi pelayan pemimpin rakyat, ini merupakan pengalaman pertamanya. Emansipasi Westernisasi hari ini telah menjadi kebudayaan masyarakat indonesia, dari skala negara hingga skala kabupaten/walikota, memunculkan ibu Megawati Soekarnoputri(Presiden RI 7), ibu Ratu Atut Chosiyah (Gubernur Provinsi Banten 2005-2014), ibu Tri Rismaharini (Walikota Surabaya 2010-sekarang), bupati Demak, Endang Setyaningdyah serta banyak pemimpin-pemimpin wanita lainnya menjadi seorang pemimpin. Sampai-sampai desa nun jauh terjangkit dengan pencalonan seorang kepala desa yang berkelamin vagina wanita.
Emansipasi—bukan westernisasi— yang dipromotori buyut Raden Ajeng Kartini bukan pada persamaan pekerjaan secara menyeluruh. Dalam kebudayaan Jawa-Nusantara, ada beberapa pekerjaan yang “saru” jika dilakukan oleh wanita, begitu sebaliknya. Buyut Kartini pun menyadari itu, dan masih dalam penafsiran saya, beliau lebih menitik beratkan emansipasi pada kapasitas intlektual wanita, bukan profesi wanita. Kebiasaan masyarakat kita, khususnya wanita, pendidikan(bukan sekolahan maupun universitas) adalah hak wajib bagi setiap manusia, apalagi manusia yang berbudaya dan beragama. Maka perlawanan yang dilakukan oleh Eyang kita Kartini, putri sejati, atas kebudayaan yang tidak baik tersebut—peremehan terhadap pendidikan— dengan cara beliau mendidik dan mengajarkan ilmu—berupa pengetahuan dan pengalaman— kepada para wanita di sekitarnya. Bukan mengajak wanita untuk mempersempit lapangan pekerjaan dengan menjadi tukang parkir, supir bus, kuli bangunan, calon kepala desa serta pekerjaan lainnya. Dan mengkerdilkan mental pria, yang dianggapnya kurang mampu sebagai sumber nafkah dan tanggung jawab bagi wanita—yang notabenenya seorang istri.
Kembali pada persoalan desa nun jauh yang memiliki salah satu calon kepala desa dari seorang wanita, sebagai pengalaman pertama desa tersebut. Secara hukum, tindakan itu merupakan hal yang legal-sah. Namun secara kebudayaan, apa itu menjadi suatu kewajaran dan kepantasan? Wanita di posisikan Tuhan sebagai perhiasan dunia yang mestinya dijaga sebagai pusaka oleh seorang suami, anak maupun orang tuanya. Maka Tuhan teramat men-spesial-kan wanita dengan daya dan kekuatannya hanya begitu-begitu saja. Wanita dianugerahi menstruasi, datang bulan, haid, PMS—beberapa wanita memiliki pengalaman terkadang sakit di perutnya. Maka anehlah jika seorang wanita menjadi seorang pemimpin bagi Jama’ Takstir—jama’ mudzakar salim dan jama’ muanats salim—.
Dari beberapa kode alam yang mata airnya dari Tuhan mengenai wanita, mestinya kita mampu menimbang dan merenungi kepantasan seorang wanita sebagai pemimpin. Anehnya, desa nun jauh yang pertama kali ikut-ikutan modernis tersebut, dalam prasangka saya, wanitanya bukan dicalonkan oleh komunitas wanita, komunitas wilayah maupun komunitas lainnya. Ia pun tidak mencalonkan sendiri, melainkan dicalonkan oleh suaminya. Suami yang masih menjabat sebagai Plt. Kades di desa nun jauh tersebut. Dengan alasan peraturan daerah  kabupaten tersebut menyatakan tidak ada lagi calon tunggal yang melawan “bumbung kosong.” Namun tetap saja, bagi saya, masih terasa aneh dan patut kita bertanya pada diri sendiri, atau bertanya pada rumput yang bergoyang saja, kalau perlu.
Mengapa harus istrinya yang dicalonkan? Kenapa bukan adik, kakak, sepupu, sahabat dekatnya yang dicalonkan? Atau jangan-jangan dalam rumah tangganya memang telah terjadi pertarungan, perebutan kekuasaan, yang dewasa ini sedang ngetrend-nya the real kepala rumah tangga seorang wanita—suami di ketiak istri, kecuali para wanita yang sudah menjanda, karena cerai atau cerai mati. Semestinya pertarungan antara suami-istri patut diselenggarakan di ranjang kamar mereka, bukan ranjang pemilihan kepala desa. Ditambah lagi pertaruhan politik raja desa tidak hanya terjadi di desa nun jauh saja, melainkan hampir terjadi di tiap desa yang hanya memiliki satu calon kades saja dengan batasan tenggat waktu yang telah diputuskan pemerintah daerah.
Satu calon kades, yang belum memiliki lawan, tidak berkenan mensuplay sedikit kesabaran lagi, meski bukan dirinya—yang petahana— tidak dipilih sebagai Plt. Sementara Kades oleh bupati/walikota. Maka, dengan ketergesa-gesaan mereka memaksa/dipaksakan diri untuk mengajukan istrinya, sebagai lawan dalam ranjang pemilihan kepala desanya. Prasangka saya lagi, agar selekas-lekasnya ia menjadi pemimpin baru—jika petahana, maka hanya melanjutkan pemerintahannya kembali. Bukankah sikap semacam itu secara (tidak) langsung telah menyembelih hak rakyat untuk memiliki perbandingan kualitas kepemimpinan bagi masa depan desa—yang meliputi rakyat. Atau ternyata sikap semacam itu merupakan tanda, secara moral dia “rumongso biso” namun tidak “biso rumongso”. Secara politik, beliau mengisyaratkan akan maniak jabatan dan kekuasaan. Secara ekonomi kapitalisme global, ia memberi kabar mengenai kerakusannya untuk iming-iming tanah bengkok—meski isunya kepala desa, sudah tidak lagi mendapatkan bengkok, melainkan gaji berapa persen dari hasil pelelangan bengkok tersebut, selain gaji intensif dari pemerintah daerah. Semoga imajinasi-imajinasi saya tidak mendekati suatu kebenaran, meski sekecil dzarrah. Semoga saja, lantaran mereka ingin menyegerakan kebaikan-kebaikan yang berupa kemakmuran yang adil dan bijaksana bagi masyarakat desanya.
Meski begitu, yang saya pahami dari sains dan teknologi alam semesta bahwa setiap fernomena, tragedi, peristiwa yang terjadi merupakan takdir yang sudah terpolakan oleh semesta raya. Ada sebab, ada akibat. Ada mendung, ada hujan. Ada usaha, ada hasil. Begitulah orang-orang jawa-nusantara memiliki budaya primbon, weton, hari baik, kliwon, wage, ngulon, ngetan, sedekah bumi, dhemit, pulung, kothek lancung, kakang kawah, adhi ari-ari, wewe gombel, sang hyang widhi, sang hyang wenang dan pernik-pernik kebudayaan lainnya. Meski dalam konteks tertentu ada pengecualian dari teori-teori sains jawa-nusantara tersebut, yakni jika Allah sudah “Kun” maka tanpa sekat kata apapun pastilah ada “Fayakun”, atau langsung “Kun Fayakun”. Sekali lagi, saya ingin katakan, saya lebih mempercayai Allah, namun saya tidak akan mengatakan bahwa “Bumi Milik Allah”, karena saya tidak merasa pas kalau tanah jawa-nusantara ditegakkan khilafah. Lantaran kepandaian leluhur jawa-nusantara dalam sains teknologi yang disebut “ilmu titen” jauh lebih unggul dan mapan daripada sains modern saat ini, dan menurut saya hampir mendekati sains teknologinya Allah dalam Qur’an dan Hadits.
Silahkan berdemokrasi, silahkan bermonarki, silahkan berkhilafah—tapi jangan lah— asalkan satu, yakni terwujudnya keadilan untuk kemakmuran, bukan kemakmuran untuk keadilan. Tapi ingat, musim sudah berubah, titi mangsa sudah berubah, hujan-panas tidak bisa lagi ditebak, musim tandur-panen pun sama. Maka bersiaplah men-titen-i tanda-tanda di zaman baru ini, tanda-tanda yang sudah ditampakkan semesta raya. Bersiaplah menjadi manusia yang siap menjadi khalifah bagi dirimu sendiri—baik diri yang ageng maupun diri yang alit.


Adam Barbershop, Yogyakarta, Muharram 1438

2 comments:

  1. Replies
    1. mana, kiriman dari Jantera Semesta, kiai? padahal udah aku buatkan kamar sendiri lo. hehehe

      Delete

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html