Tuesday, 6 December 2016

Aku Tulis Puisi


Aku Tulis Puisi
karya: Vanera el_Arj
pembacaan oleh: Hb. Arafat

1

Aku masih berdiri di tanah ini dengan sekumpulan imajinasi.
Mempelajari simpul tali temali. Mengurai pilar menjuntai dengan
sekumpulan derap mematri.

Aku masih meniti unggakan tangga di tanah ini, merangkak
dan berdiri, kadang berlari. Menghitung puluhan unggakannya,
seperti dulu belajar hitung memakai lidi di kelas tiga bersama pak
Sanio atau Bu Rani.

Di puncak bukit tanah ini, aku berkelakar bangga dengan
angin yang membelai lembut leherku. Menyanyi, merapal, bahkan
berpuisi. Ya berpuisi, aku ingat ketika Bu Anita mengajarkan bahasa
Indonesia dengan lembutnya. Mengajariku menulis kosakata,
peribahasa, majas dan metafora.

Lalu perlahan dan gagu kutulis kata, nada-nada, stanza pun
cerita. Seperti namamu dan sekawanan prosa yang menjelma prahara
lalu kusebut semua itu puisi.

Dengan dengus memburu, angin menimang sayu, dedaunan
melambai layu, matahari yang malu, bulan beku, kutulis puisi,
kutulis luah dada dalam rona satya pun pinta dan luka. Kutulis
sembarang kata berharap ada yang membacanya, menikmatinya,
memaknainya, memetik makna yang tersimpan di dalamnya, seperti
lebah memburu madu, dan pencandu yang rindu.

2

Kutulis puisi teruntukmu Bunda Pertiwi
: Negri suri budaya korupsi
Instansi-instansi puri.
Gunung hutan pepohonan mati. Alam bumi tak dipeduli.
Nyeri!

Kutulis puisi teruntukmu Punggawa negri
: Nurani selalu suci. Ucap langkah serasi
Tiada janji tak tertepati. Menjunjung tinggi asumsi
Nilai estetika terejawantah pasti. Penyampai aspirasi sejati
: Hati berambisi
Hidup instan tersaji. Tiada aral merintangi
Nilai, moral, dan dogma agama. Sebatas di dasi dan peci

Kutulis puisi teruntukmu Anak Negri
: Budi menyanyi di lorong sunyi
Budi menari di bawah terik matahari
Budi mandi keringat basi. Budi jatuh kala meniti
Budi menangis pasi. Budi kesepian di kerumun mimpi
Budi sang anak tiri di rumah sendiri
: Budi yang lepas kendali
Lupa identitas diri

Kutulis puisi teruntukmu Hawa
: Ibu dan putri ditinggal wafat bapak
Istri ditinggal pergi suami
Remaja yang tegar berdiri
Gadis kecil ceria berpuisi
: Wanita yang mencinta, bersembunyi!
Perempuan ekstasi pemuas birahi
Mata nyalang pemuja materi
Dan kau penggoda hati

Kutulis puisi teruntukmu Adam
: Engkau perkasa senggamai matahari
Bercucur derai keringat berlumpur anyir
Dahaga yang terlupa
Lelah tak dirasa jua
Mulia!
: Kau yang naïf, dusta!
Pemain rasa dan harta,
Kehormatan dan kasta.
Kalian yang lari dari istri,
Anak dan negri.
Nista!

Kutulis puisi teruntukmu sahabatku
: Penggugah nurani
Dikau yang tersakiti
Dikau yang dikhianati. Dikau yang tercaci
Dikau yang terkebiri. Dikau cermin tanpa ilusi

Kutulis puisi teruntukmu sepi
: Mereka tak henti menghayati
Kalian tak patah mati
Engkau tiada pupus memaknai
Aku, kau, kalian, dan mereka
Yang mematrikan panji sepenuh hati

Aku tulis puisi karena engkau sunyi
: Jiwa-jiwa sakti
Ruh pencinta cinta bersemayam abadi
Mahkota bunga bersapa ria mentari
Aku tulis puisi dengan dan dari detak ini.

3

Tak pernah cukup kata menulis namamu, tak pernah lelah
pena menitik tinta menceritakan cantik ayumu. Aku memujamu di
segala penjuru waktu meski kadang temaram bergelanyut dalam rona
bias kelabu. Namun, ijinkan kuselalu merindu sepenuh detak dan
deru qolbu. Mencumbu malam sakralmu. Mengurai gurat sisimu.
Menganyam rangkai, memilin putih tasbih singgasanamu.

Tak pernah cukup rasa meluah serah di dadamu, tak pernah
resah risau dalam pelukmu. Aku berserah kepadamu dalam sepenuh
maumu, setiap helai nafas, inci jengkal tubuh jiwaku.
Tak pernah cukup tetes air mengalir dari mataku, tak pernah
habis luluh kesal dalam noktah sesal. Aku mengalirkan dahaga sebab
cintamu. Aku memohon pinta sebab segala alfa dan syahwat
nafsuku. Aku merebah pinta rela segala rona kelamku.

Tak pernah cukup senyum mengingatmu, tak pernah puas dan
terus menggila berada di sisimu. Aku memanjatkan do’a setiap gerak
impuls syaraf, memahat namamu memenuhi hati sepiku.

Senyap mengembara
Menjelajah titah.
Resah, gelisah
Nista, dusta, gulana
Durja, durhaka!
Meremah, rebah, serah, pasrah.
Fana
Makna
‘Arofah

4

Seruah belantara menikmati hidang rasa si papa
-maya yang nyata
Selaksa....

kobaran api hanya kesejukan yang hangat
dan kebekuan hati membunuh semakin perih

pada riuh tawa sendawa
ia lipat muka memurung kurung jiwa
menyembuyikan diri dalam terang hari
dalam hingar matahari

mimpi, maya!
nyata, fana!

nyata fana mimpi yang maya
maya nyata mimpi yang fana
mimpi adalah maya yang nyata
fana adalah nyata yang maya

guruh gelegar mencuat darah segar
ruh rusuh risau yang paraumorgana tergelar hampar
hampa yang memar

oooh… puji mimpi yang terpatri
mengapa tak kau bunuh raga dan jiwa ini
sehingga mimpi menembus batas
dan ruh meretas
menetas di pusara tanpa batas
ouh … Cinta
kata miskin makna

5

Melihatmu kala senja tadi membuat aku tak sabar menunggu
malam. Di semburat kejora, ada gunung menjulang ranum. Kudaki,
memutari, menjamahnya selayak menjamah gunung-gunung di pasar
malam milik mba Cempluk, seperti kebiasaan mereka yang tak puas
dengan istri khalalnya.

Kemudian menurun pelan. Kutemukan lembah-lembah dan
bukit-bukit, diperindah dengan danau agak biru kecipak-kecipak
airnya sejuk wangi di antara semak yang tak cukup tebal.
•••

Merasa diapit dan mengapit. Aku hanya menelan ludah ketika
sang tuan dengan jas hitam yang tadi memarkir Honda Jazznya di
depan hotel tengah terengah, melenguh, mengerang girang, dan
akhirnya kejang menggelinjang kala birahinya memuncak. Ouh...
Menggema!

Akh, syahwatku memuncak
memandangmu di kala senja berdecak.
Tapi... Aku hanya terlena,
Atau, mungkin, bahkan,
Aku terlalu terpesona
memandang dan menikmati rona
lenggak lenggok montok tubuhmu,
dan aku terpedaya.

Dan malam,
Ketika nafas kita kian kentara
dan jika telah, bahkan kau sangat telanjang
Aku tak menemukan kesejukan.
Segala jamah rabaku tak menemu titik cumbu
Kering! Gersang! Tandus!

Tubuhmu yang kala senja merona mengilukan pesona
membuat mataku terpana, ternyata hanya ranggas belaka, nafas
resah, jiwa resam, Muram. Kehidupan yang terkapar, karam!

Aku...
Terhenyak dalam kesadaran nanar.

Pertiwiku tak lagi seperti perawan kembang desa. Dijajak
Rakasa seliar Dursasana dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya
bisa berpura-pura mencumbu rindu, memanjakan cinta. Meski harus
melata terlunta di jalan-jalan.

Kadal!

6

Membacamu seperti membaca huruf samar di kertas lusuh
yang tintanya memudar terkena air. Sesekali menghela nafas, entah
kegundahan dan penat, entah kekecewaan dan sesal, ataupun rasa
cinta dan harap yang terlalu usang pun gersang?

Aku tak mungkin bisa membencimu, sebab dari engkaulah aku
lahir dalam takdir. Tapi aku jengah membagi kisah, apalagi
berkelakar seperti para makelar, sahabat dari sahabatku. Diatas wajah
muliamu aku resah, di kandung badanmu aku gelisah. Keriput lusuh
di keningmu menyayat hati, putih uban di rambutmu membuatku
kelu. Miris!

Membacamu seperti membaca aksara dan angka purba, tak
lagi mampu meneriaki ritus pun situs sejarah yang mungkin telah
terlupa. Camping pak tua yang menua, cangkul yang dulu mampu
membongkah emas, kini hanya selaksa rengsa yang cadas. Hutan
yang angkuh dengan lebat rimbunnya, bersama satwa yang bersua,
kini hanya tinggal dongeng jenaka. Gadis dan anak lelaki yang dulu
menari di halaman rumah, bermain petak umpet dan klereng, atau
permainan gambar wayang seusai jam pelajaran kini tak lagi kulihat
dan kudengar.

Membacamu seperti menerka kata, buram! Sosok-sosok gagah
penuh tanggung jawab, perkasa ketika juang di medan laga, lembut
ramah ketika menyapa rumah, mesra ketika malam tiba bersua
purnama. Hanya kudengar dari cerita, novel, cerpen dan prosa yang
tak mampu kubaca.

Membacamu seperti mengurut dada sendiri, pekik jerit dan
derit semesta menggaung gema di gendang telinga. Kau memang
diam, karena mulutmu yang di lakban, tapi aku tetap mendengar derit
kaki-kaki yang melangkah paksa, tangan-tangan yang mengetuk
karya, dan mulut-mulut berbusa menceracau kata yang tiada bukti
nyata: Mulut perompak darat, pemburu harta korun di tengah jeritan
dan tangis dara di tinggal mati bapaknya. Aku mendengar tawa
sekaligus dengus desah nafas yang lelah, juga rengekan anak di pintu
gerbang sana.

Membacamu seperti menonton telenovela-telenovela. Drama
dan pertunjukan panggung yang memuakkan di pertontonkan. Makan
kenyang dan sengketa percintaan atau kedudukan tergambar jelas di
televisi-televisi. Komedi yang tak lucu lagi masih saja mendapatkan
upeti. Sungguh membacamu seperti membaca tulisan anak yang baru
mengenal pencil, coretan cakar ayam yang semrawut.

Membacamu seperti mimpi, suguhan fantasi dan keindahan
alam, kesejukan udara, keramahan tetangga, dan tentramnya jiwa,
hanya tersaji ketika terlelap tidur dan ketika matahari merajakan diri
di ufuk, aku terperangah seakan berhalusinasi. Bahkan ada yang
bilang membacamu sama sekali tak seperti mimpi, karena ketika
tubuh lelah dan resah, mimpi hadir garang dan penuh kesah.
Bingung, harus kuserupakan apa dirimu ketika kubaca?

Membacamu, hanya ada airmata cinta yang melepuh kecewa.
Membacamu hanya mengubur diri dalam alam yang entah dimana.
Membacamu hanya menawarkan duka, derita orang tua yang tak
mampu member saku putranya dan anak bangsa yang tak rampung
mengemas kado ulang tahun ibunya. Membacamu hanya selaksa
luka, seperti cinta yang tak ada sambutnya.

Membacamu…
Inikah engkau kini, nama yang tak bisa sempurna kubaca
Inikah engkau kini, aksara yang tak mampu kuraba?
Inikah engkau kini, jiwa yang kehilangan ruhnya.

Sodaqollahul’adzim!
Telah rampung ayat dibaca, nanar mata semakin kentara.


Kalibeber, Wonosobo. 31 Juli 2012

1 comment:

  1. Saya Atas nama IBU SAFITRI ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di MALAYSIA jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga di kampun,jadi TKW itu sangat menderita dan di suatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak di sengaja saya melihat komentar orang tentan AKI SOLEH dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di MALAYSIA,akhirnya saya coba untuk menhubungi AKI SOLEH dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg di berikan AKI SOLEH 100% tembus Magnum (4D) ((( 7160 ))) saya menang togel (165,juta) meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan AKI SOLEH kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik AKI SOLEH sekali lagi makasih yaa AKI dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja AKI SOLEH DI 082-313-336-747- insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW trimah kasih banyak atas bantuang nomor togel nya AKI wassalam.IBU SAFITRI

    KLIK DISINI ( BOCORAN DUKUN TOGEL GAIB HARI INI )

























    Saya Atas nama IBU SAFITRI ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di MALAYSIA jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga di kampun,jadi TKW itu sangat menderita dan di suatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak di sengaja saya melihat komentar orang tentan AKI SOLEH dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di MALAYSIA,akhirnya saya coba untuk menhubungi AKI SOLEH dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan AKI SOLEH 100% tembus Magnum (4D) ((( 7160 ))) saya menang togel (165,juta) meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan AKI SOLEH kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik AKI SOLEH sekali lagi makasih yaa AKI dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja AKI SOLEH DI 082-313-336-747- insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW
    trimah kasih banyak atas bantuang nomor togel nya AKI wassalam.IBU SAFITRI

    KLIK DISINI ( BOCORAN DUKUN TOGEL GAIB HARI INI )






























    ReplyDelete

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html