Sunday, 30 July 2017

Sabtu Kliwon Edisi Menco

Foto mbah Silmun sebelum meninggal dunia, arsip bu dhe Zuyyinah

Mukaddimah

Persambungan Choliel Sabtu Kliwon merupakan gerakan yang kamilek Ari, lek Syarif, lek Taufik, kak Abad dan saya inisiasi sebagai gerakan silaturrahim yang hidup di dunia dan barzah. Namun kami tak menafikkan jika gerakan ini akan menjadi trigger untuk ledakan ledakan persatuan dan kebermanfaatan anggota bani Cholielkhususnya yang muda di masa mendatang. Kami sebenarnya hanya berharap untuk saling mengenal antara simbah-bapak/ibu, simbah-cucu, simbah-buyut, bapak/ibu-cucu, bapak/ibu-buyut, cucu-buyut, cucu-cucu, buyut-buyut dan seterusnya. Sebab kelemahan kita hari ini, saking banyaknya anggota keluarga yang terus menerus bertambah, tidak saling mengenal sesama saudarabaik bathin maupun dhohir. Terkhusus kaum muda bani Choliel sendiri.


Selain itu, ada gejala ego little family dari sebuah rumah besar bernama bani Choliel yang disebabkan agen-agen keluarga di tiap cabangnya tidak mengenalkan sosok Simbah Choliel atau mengenalkan hanya sebatas pada pengetahuan belaka tanpa ada nilai kebersamaan dan kemesraan yang dibangun di dalam rumah besar tersebut. Itulah yang membuat kami, kaum muda bani Cholieldiluar lima inisiator tergerak untuk memulai tradisi tiap selapanan, Sabtu Kliwon. Untuk edisi perdana, kami memilih dukuh Menco, Berahan wetan, Wedung, Demak sebagai tujuan persambungan pertama kami. Jika saudara-saudara membutuhkan alasan mengapa yang perdana kami langkahkan kaki ke Menco, akan banyak alasan yang bisa kami jawabkan. Tapi alasan akan membuat luntur ketulusan sebuah tujuan.


Jika pun kami dipaksa mengungkap alasanmeskipun sebenarnya tidak ada alasan selain silaturrahim mengapa yang perdana di dukuh Menco. Maka akan kami kemukakan di akhir tulisan ini dan semoga Allah memberi jalan atau petunjuk agar kami bisa beralasan.

Foto bersama di kediaman bu dhe Zuyyinah

Meminta Restu Simbah Choliel

Matahari yang di selimuti awan tipis-tipis mengiringi Sabtu Kliwon, 5 Apit/Dzulqo'dah 1438 yang bertepatan 29 Juli 2017, dimana kami memulai sebuah langkah untuk menyambung persaudaraan sebani Choliel. Sesuai rundown acara, pukul 09.00 lek Ari sudah menunggu di Makam simbah Choliel bersama pak dhe Mukhlis Hilaluddin, bu dhe Maryam Mukhlis, bu dhe Mun'imah Hilaluddin dan mas Muhammad Chirzul Maula Mun'imah. Sementara saya masih sibuk mandi taubat saudara-saudara yang sebelumnya berkenan ikut. Diantaranya, Muhammad Fikri Musthofa Khosiyah, lek Syariful Anam Aini, mas Ridlwan Muhaimin, Hilmy Khosiyah, Mufti Khosiyah, mas Fajrul As'adah dan mas Ahmad Yusuf Zuyyinah, selaku shohibul wilayah Menco.



Kami menuggu konfirmasi kaum muda bani Choliel yang sebelumnya akan ikut. Lek Syariful Anam Aini--selaku inisiator-- mohon ijin karena diminta menjamu Habib Luthfi yang sedang Pengajian di Semarang, sementara dua Inisiator lainnya kak Abad Kholili Anisah, sudah menyatakan ijinnya untuk tidak ikut karena harus balik nyantri di Lirboyo. Lek Taufik Aina, minta ijin bergabung sore hari, karena masih bekerja di pasar. Hal yang sama dituturkan mas Ridlwan Muhaimin. Fikri Khosiyah meminta ijin datang terlambat karena masih ada interview di Walisongo Pecangaan dan Rapat di MA Babalan. Sementara yang lain belum membalas.


Kemudian saya menuju Makam bersama mamak Fathimatuz Zahra Fathinun dengan hati kecut karena hanya saya, lek Arinal Muna Abdul Haq dan mas M. Chirzul Maula Mun'imah yang ikut meminta restu jalannya Sabtu Kliwon agar bisa istiqomah. Hanya tiga pemuda bani Choliel yang datang dari ratusan pemudanya. Namun ada mutiara kata dari pak dhe Mukhlis disaat kami menunggu pemuda-pemudi lainnya, " قليل قر خير من كثير فر " tutur beliau. Entah artinya apa saya pun belum mengetahuinya sampai sekarang, namun saya yakin kalau itu sebuah suplemen untuk hati kecut saya. Selain itu, saya sangat kagum dengan semangat muda pak dhe Muklis, meski beliau sudah tua, namun beliau berkenan meluangkan waktunya untuk ikut silaturrahim Sabtu Kliwon. Andai saja saya tak ikut, mungkin saya akan wirang.


Meminta restu kepada Simbah Choliel kami pasrahkan kepada pak dhe Mukhlis Hilaluddin untuk memimpinnya. Tahlil dan do'a dimulai sekitar pukul 09.49. Sebelumnya perlu diketahui bahwa alasan mengapa Sabtu Kliwon dipilih sebagai selapanan silaturrahim adalah hari tersebut merupakan hari ketika Simbah Choliel diminta Allah untuk menyelesaikan outbond-nya di dunia.


"Makamnya Mbah Choliel semakin sejuk." tiba-tiba  pak dhe Mukhlis nyeletuk begitu, setelah tahlil dan doa kami panjatkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30, kemudian kami bergegas menuju dukuh menco, bersilaturrahim ke kediaman pak dhe Muali Zuyyinah. Pak dhe Mukhlis beserta rombongan dari keluarga Purwogondo ngegas duluan menuju Menco, saya menunggu lek Ari menjemput istrinya lek Nailus Sa'adah. Saat saya menunggu lek Ari, tiba-tiba mas Fajrul Islam As'adah datang. Akhirnya kami menunggu mas Fajrul ziarah terlebih dahulu. Barangkali pak dhe Mukhlis sudah sampai di Menco.



Silmi (Mbah) Silmun

Kami berlima menyusul pak dhe Mukhlis sekalian, bu dhe Mun'imah dan Mas Maula yang sudah di Menco terlebih dahulu. Sesuai Rundown acara, tujuan pertama kami yakni kediaman bu dhe Zuyyinah. Tak disangka, pak dhe Ali Rosyid ikut melingkar dengan kami di kediaman bu dhe Zuyyinah. Alhamdulillah, keadaan keluarga Menco sehat wal afiyat, khususnya pak dhe Muali Zuyyinah, sudah bisa njagongi kami, konon kemarin, beliau sakit. Kami bercengkrama layaknya keluarga yang lama tak merasakan silaturrahim tanpa sebuah momentum selain hanya persambungan keluarga saja.


Putra-putri bu dhe Zuyyinah syukurlah banyak yang di rumah. Antara lain mas Luzum, mas Yusuf(kononnya lajang), mbak Nikmah, mbak Niswa dan mas Ali. Selain itu, kedua cucu pak dhe Ali Rosyid ikut nimbrung disana. Silaturrahim bagi orang-orang terdahulu merupakan ikhtiar untuk melancarkan mesin rizki orang yang silaturrahim. Rizki bisa berupa apa saja, kalau saya sih berharap Rizki jodohnya. Kali ini, Rizki itu berupa kejutan, makan siang bersama, disaat Adzan Dhuhur berkumandang, disaat itu pula bu dhe Zuyyinah beserta putra putrinya menata lauk pauk, piring, sayur, nasi dan bala tentaranya untuk kami serbu dalam kebersamaan. Waktunya makan dan tak perlu kami pamerkan kenikmatan itu kecuali sedulur-sedulurku berkenan merasakannya nanti di selapanan berikutnya. Intinya kami makan siang. Selamat makan.


Kami yang muda-muda memiliki kehausan untuk menyelami dunianya Mbah Silmun, dari awal sering mencuri pertanyaan-pertanyaan. Namun kami hanya sampai pada permukaan saja. Kami belum menemukan kapan mbah Silmun lahir, kapan mbah Silmun menikah dengan mbah Kiai Slamet (Buko, Wedung), kapan menikah dengan mbah  Nurhadi (Kenduren, Wedung), kapan menikah mbah Abdullah Muslim (Menco, Berahan Wetan, Wedung) serta kebenaran menikah dengan mbah Suparmono. Sebab data dari pak Hariri Ahmad Said menyatakan bahwa mbah Silmun pernah menikah dengan mbah Suparmono dan memiliki keturunan bernama Mudawwamah.


Sebelum menikah dengan Mbah Abdullah Muslim, salah satu guru ngaji di menco waktu itu, mbah Silmun menikah dengan mbah Kiai Slamet, namun tidak memiliki keturunan. Proses berakhirnya hubungan suami-istri, kami lupa untuk menanyakannya. Entah cerai atau ditinggal mbah kiai Slamet ke rahmatullah. Selanjutnya, mbah Silmun menikah dengan orang Kenduren, bernama mbah Nurhadi. Dari pernikahan tersebut, mbah Silmun menurunkan satu putri bernama bu dhe Nayirotun, darinya, beliau menurunkan cucu bernama mas Khotib yang kemudian merantau ke Nusa Tenggara Barat. Untuk lebih tepatnya alamat mas Khotib, sedulur-sedulur bisa menghubungi pak dhe Ali Rosyid, kalau perlu diajak kesana. Konon, mas Khotib memiliki 2 putra yang kini tinggal di Semarang.

Sementara pernikahan mbah Silmun dengan mbah Abdullah Muslim membuahkan putra-putri sebanyak 10, yakni: Nahrawi, Ali Rosyid, Zainal Arifin, Nur Qosim, Ilyas, Nur Sholeh, Zuyyinah, Muznah, Isti'anah, Siti Maiyah. Dari 10 putra-putri yang masih hidup serta melanjutkan keturunan yakni, pak dhe Ali Rosyid, pak dhe Zainal Arifin, bu dhe Zuyyinah dam bu dhe Siti Maiyah. Pak dhe Ali Rosyid menikah dengan bu dhe Siti Sa'adah, tinggal di dukuh Menco. Pak dhe Zainal Arifin tinggal di Surabaya, Jawa Timur, nama istrinya lupa kami tanyakan. Bu dhe Zuyyinah menikah dengan pak dhe Muali, tinggal di Menco. Juga bu dhe Maiyah tinggal di Menco dan menikah dengan pak dhe Azhari.


Untuk kelanjutannya, kami simpan informasi lainnya untuk kehadiran buku, Kiai Choliel dan Lingkarannya. Kalau semua informasi silaturrahim kami haturkan, maka akan banyak yang tidak menghadirkan rasa silaturrahim di Sabtu Kliwon berikutnya. Sampai jumpa di Purwogondo, 11 Dzulhijjah 1438 yang bertepatan 2 September 2017, tema besar kita Rukyatul (mbah) Hilal. [RIF/7]

Adapun rundown Persambungan Bani Choliel edisi perdana, dukuh Menco:

1. 10.00-11.00 WIB (Makam Simbah Choliel Idries, Jetak-Wedung Demak)
Minta restu kegiatan Persambungan Choliel Sabtu Kliwon


2. 12.00-18.00 WIB (Kediaman bu dhe Zuyyinah Muali)
Silaturrahim, Silmi (mbah) Silmun, Sensus Bani Choliel

3. 13.00-14.00 WIB (Makam Mbah Silmun Ch., Mbah Abdullah Muslim)
Ziarah Qubur

4. 18.00-20.30 WIB (Kediaman pak dhe Ali Rosyid-Siti Sa'adah)
Silaturrahim, Silmi (mbah) Silmun, Sensus Bani Choliel


5. 20.30-23.00 WIB (Kediaman bu dhe Maiyah Azhuri)
Silaturrahim, Silmi (mbah) Silmun, Sensus Bani Choliel

0 tanggapan:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html