Friday, 19 October 2018

Tau Hid, Dhe


"Begini dhe, bahwa sesungguhnya tauhid tidak boleh ditolak oleh muslim mana pun. Meski 'Laa IlaHa illaAllah' itu berupa tulisan warna putih di atas kain warna hitam, pun sebaliknya. Tetap saja itu tidak boleh dhe. Kalau sampai ada ulama', kiai, ustadz bahkan ormas melarangnya. Maka perlu kita pertanyakan kredibilitasnya sebagai ulama, kiai, ustadz dan ormasnya.

Kalau betul itu sebuah perlawanan pada ormas terlarang. Mestinya identifikasinya jelas. Wong tidak ada huruf H, T dan I kok dilarang lo, dhe. Bahkan tulisan 'Hitz-mbut Tah-piye Ini-dia' pun juga tidak ada. Itu hanya lafadz tauhid yang ditulis di atas kain warna hitam. Sebagaimana kain penutup keranda, hanya saja warnanya hijau. Gitu kok dilarang to dhe. Kan lucu.

Begini dhe. Sebenarnya keputusan pemerintah membubarkan ormas itu blunder. Sebab akhirnya rakyat Indonesia tidak bisa mengidentifikasi pergerakannya secara tepat.

Kedua, bisa jadi ini program adu domba, agar kita yang merasa dibela oleh pengadu domba dan kita merasa berhutang budi sama pengadu domba tersebut. Kita adalah salah satu aduannya. Dasarnya domba, dasarnya hewan, tentu tidak mengerti bahwa yang benar itu domba lawan atau pengadu dombanya. Tahunya kita, bahwa kita dipihak pengadu domba dan akan terus membelanya, sampai harga mati. Tahunya dia, bahwa kalau dia menciptakan musuh bagi kita, kemudian dia membela kita, tentu dia akan kita hero-kan."

Begitulah ketegangan (atau keseriusan, saya tidak bisa menjelaskan secara tepat) saya, ketika njagong soal lafadz tauhid dengan pak dhe Min.

"Lo, kamu kok tiba-tiba mati-matian membela lafadz, membela simbol? Bukankah Allah itu 'laisa kamistlihi syaiun'? Bukankah Allah itu 'tan kinoyo opo, tan keno kiniro'?" Gerutu pak dhe Min, di udara bumi yang kian panas. Entah sebab atmosfir bumi yang kian menipis dan bocor, efek rumah kaca, efek knalpot motor atau karena suhu politik yang kian tinggi derajat celcius, fahrenheit dan derajat termometer lainnya.

Benar juga beliau, kenapa saya tiba-tiba sepaneng hanya membela simbol, lafadz dan bentuk. Tapi begini maksud saya. Saya kasian pada mereka yang tidak mengenal Islam, akan memiliki phobia terhadap Islam. Sebab yang mereka tahu, ormas A dan ormas B saling tolak menolak. Saling berantem hanya karena simbol saja. Lupa bahwa kedamaian, perdamaian itu jauh lebih penting daripada pertarungan benar-salah yang satu sama lain saling menutup kemungkinannya.

Tapi, ya wis ben, wong mereka dan kita sama-sama tidak saling membuka diri. Oke lah dhe, sirahku ku rendahkan, agar tak ada sedikit kesombongan hanya karena padangan mengenai kebenaran. Biarlah asap rokokku yang mengepul ke langit keindahan dan menyerbak kebaikan pada sekeliling. Mari ngudud dhe.

Wednesday, 10 October 2018

Seminar Batu


Awalnya, saya mengatakan pada dia, bahwa mesengger FB itu berat dalam penggunaan RAM di ponselku yang hanya 1 gigabyte. Lalu ia menimpali, "sek berat, koyok watu wae." Ia melanjutkan, kalau berat dipecahkan saja, biar jadi krikil. Dari sana, mulailah pembicaraan dengan tema batu yang memakan waktu 2 Jam, kurang lebihnya.

Macam-macam batu itu ada batu besar, ada batu kecil (krikil), kalau dilihat dari ukurannya. Kalau dilihat dari sudut pandang lainnya, ada yang namanya batu biasa, batu akik, batu mutiara, batu permata dan lainnya. Sampai kita terbawa pada suatu cuplikan lagu 'watu cilik arane krikil, serok cilik arane sothil, menthol ning dodo, arane....' lanjutkan sendiri ya gaes, ndak dikira sara nanti saya. Jadi tak heran kalau dulu pernah ada zaman batu. Karena batu pernah trending topik di kalangan manusia.

Sampailah pembahasan, ia menyatakan kalau Indonesia, Mataram, Pajang, Demak dan kerajaan kerjaan lainnya itu hanya krikil. Sementara batu(besar)nya itu Nusantara. Saya iyain saja, meski antara setuju dan tidak setuju, biar obrolan tetap berlanjut. Sebab kalau saling membatu kan tidak sampai dua jam. Asalkan tidak batu ginjal dan kencing batu itu Alhamdulillah, pokoknya.

Yang lebih menarik lagi ketika saya nyeletuk "batu itu sebenarnya kakak kita, para manusia dalam kehidupan". Ternyata ia melanjutkan dengan beberapa pertanyaan, kapan dan darimana batu diciptakan. Soal ini disensor ya, ndak dikira saya ahli perbatuan.  Pada suatu pernyataan yang pertanyaan darinya mengenai batu bata itu adik kita. Kalau dilihat dari bentuknya memang adik, tapi tanah kan lebih tua dari manusia.

Hingga ia nggeloyor obrolan kepada "batu bata kan terbuat dari tanah abang, kalau manusia terbuat dari apa?" Mungkin saja, dahulu, malaikat mengambil tanah dari Demak ketika Allah akan menciptakan Adam(ak). Coba perhatikan linguistik Adam dan Demak. Ada kemiripan kan? Itu hanya ngelantur saya saja. Jangan diambil serius ya gaes, cuma buat adem-ademan saja kok.

Meski batu sudah tidak lagi zamannya, namun batu telah terpahat di hati para manusia zaman now, hati batu. Begitulah seminar batu antara saya dan juragan buah di Bekasi Barat, putranya Lik Musthofa. Terkadang kita lupa kalau sering mencipta seminar-seminar, diskusi-diskusi, workshop-workshop, sinau bareng dan ngaji bareng dalam keremangan malam dan kesyahduan kopi serta kreteknya. Hanya saja kita tidak memahatnya di batu, jadi hilang.

Memahat di batu, itu ibarat suatu pekerjaan penulis. Kalau tidak menulis, sama saja kita seperti menulis di air dan di pasir pantai. Daya tahannya hanya sebentar. Kedua, lautan adalah sepercik ilmunya Allah. Mustahil kita mampu menghabiskannya.

Bicara soal penulis saya jadi ingat pernah bersama orang-orang batu, membahas batu berjudul "Malam Sekopi Sunyi" karya batu Ekohm Abiyasa di STAIN Kudus, konon sekarang namanya IAIN Kudus. Bersama orang-orang batu, orang-orang yang menuliskan masa depan di saat yang lainnya menulis di comberan. Orang-orang batu, orang-orang yang tak pernah lelah meski memahat batu itu melelahkan.

Mereka yang batu selain Ekohm Abiyasa adalah batu Muhammad Rois Rinaldi dan batu Bagus Dwi Hananto. Saking batunya mereka, kadang saya berujar Asu. Eh watu maksudnya. Semoga mereka selalu dibatukan iman, islam dan harapannya sampai tiada, sampai ada di kepala manusia-manusia berikutnya.

Sunday, 12 August 2018

Cerdas dengan Mengasyiki Sastra

Pengantar Materi Sastra | Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar | SMK Kiai Gading, Waru, Mranggen, Demak




Sastra merupakan bentukan dari kata “shastra” adalah bahasa sansekerta[1], memiliki arti teks yang memiliki muatan pengetahuan dan ilmu. Sementara para pelakunya—yang menempuh proses belajar— disebut sastri/santri, seseorang yang menempuh pengetahuan dan ilmu. Sehingga tak mengherankan jika teks-teks kuno jawa, kitab-kitab kuning dan karya ilmiyah pada masa lampau disebut sebagai karya sastra. Hal tersebut hampir menyeluruh berlaku di seluruh wilayah asia—baik Nusantara, Arab maupun China. Sementara di belahan bumi eropa, sastra disebut sebagai literatur.

Kemudian muncul pertanyaan, apakah semua karya teks tertulis merupakan sastra? Mulanya iya, tapi sekarang tidak. Mengapa? Sebab adanya suatu generalisir, bahwa sastra hanya pada wilayah teks yang spesifik menggunakan bahasa yang indah berbunga-bunga. Tapi menurut Foucault (1926-1984), sastra modern lahir dan tumbuh di dalam kemapanan bahasa dan kungkungan pola-pola linguistik yang kaku. Dengan begitu, sastra secara tidak langsung kembali kepada makna awalnya, suatu teks yang memuat nilai, pengetahuan dan ilmu. Pun para ilmuwan sastra umumnya sepakat bahwa tidak mungkin dirumuskan suatu definisi mengenai sastra secara universal.

Sementara itu, di Indonesia, menurut Nugroho Notosusanto, perkembangan kesusastraan Indonesia dibagi dalam dua periode. Pertama, periode kesusastraan melayu lama. Kedua, kesusastraan indonesia modern, yang dibaginya lagi dalam dua periode: periode kebangkitan (1920, 1933, 1942, 1945) dan periode perkembangan (1945, 1950, 1966, 1988, dan sampai sekarang). Sedangkan menurut Simorangkir Simanjuntak, membagi menjadi empat periode. Periode kesusastraan masa purba (sebelum terpengaruh dengan hindu), kesusastraan masa hindu-arab, kesusastraan masa islam dan kesusastraan masa baru. Kesusastraan masa baru sendiri dibagi dalam empat periode: periode Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, periode Balai Pustaka, periode Pujangga Baru, dan periode mutakhir (1942 sampai sekarang). Sebenarnya masih banyak lagi versi periodisasi, namun hal itu akan membuang banyak halaman yang saya tulis saja.

Dari periode-periode tersebut, dalam literasi yang tersebar, bahwa bangsa kita memiliki banyak sekali kategori atau jenis karya sastra. Diantaranya: sejarah, hikayat, syair, gurindam, kitab kuning, pantun, puisi, novel, cerpen, naskah drama, epos, roman, prosa, esai dan lainnya. Begitu kayanya bangsa yang konon minat bacanya rendah[2], namun menghasilkan begitu banyak karya dan penulis. Aneh bukan? Sangat aneh. Namun ada banyak kemungkinan mengapa bisa sampai begitu. Pertama, informasi dan data itu kurang valid—atawa hanya sebagai pemantik efek pesimistik anak-anak bangsa. Kedua, bahwa secara kuantitas memang sedikit, tapi dari yang sedikit itu melahirkan karya dan manusia yang berkualitas. Ketiga, manusia Indonesia adalah manusia yang dilahirkan dari peng-alam-an, sehingga yang kita pelajari adalah ilmu (dari) alam. Bukan belajar dari pengetahuan dan informasi teks saja.

Itulah dasar yang perlunya kita ketahui sebelum memasuki dunia sastra secara kaffah. Terakhir ada hal yang perlu kita catat dan ingat lagi, bahwa banyak orang memiliki minat dalam membaca. Tapi tidak semua pembaca mampu menjadi penulis. Kedua, syarat jadi penulis itu pandai saja tidak cukup, lebih dari itu, ia harus cerdas. Ketiga, menjadi penulis itu berat. Karena yang ia tulis tidak sekadar pengetahuan dan informasi saja, lebih dari itu ilmu juga menjadi keterkaitannya. Ilmu itu alam dan peng-alam-an yang sudah diamalkan. Ilmu itu artificial intelligence. Ilmu itu intuisi yang telah diendapkan, ilmu itu nur, cahaya, sesuatu yang datang dari Tuhan. Dengan pengetahuan dan informasi, seseorang akan menjadi pandai. Jika ditambah dengan ilmu, seseorang akan menjadi cerdas. Berat kan? Berat sebab sudut pandang kita sekarang, yang asyik adalah sesuatu yang ringan. Kalau saja kita sedikit menggeser sudut pandang itu, bahwa yang berat itu yang asyik. Maka kita akan cerdas dengan mengasyiki sastra. Terakhir yang benar-benar terakhir, meminjam perkataan Wakil Presiden Republik Indonesia, M. Jusuf Kalla. “Bacalah, maka anda akan mengenal dunia. Menulislah, maka dunia akan mengenal anda.”


Rifa Map, 1 Dzulhijjah 1439



[1] Ada dua versi: pertama, bahasa sansekerta merupakan bapak dari bahasa jawa. Kedua, bahasa sansekerta adalah anak dari bahasa jawa kuno (bahasa kawi).
[2] Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara dengan minat baca terendah di dunia.

Tuesday, 7 August 2018

Politik Kok Membidik


Jika membidik, mengintai, bermanuver dan serang-menyerang, dewasa ini, identik dengan politik. Maka perlu kita pertanyakan apa yang dilaku para pelaku politik dan bagaimana mereka mempredikati "politik" sesuai mestinya. Sebab sejak kecil, saya sudah dididik untuk berpolitik. Yakni ketika saya masih duduk--padahal seringnya playon-- di bangku MI, saya sering dipertontonkan berita politik era 90an oleh bapak. Selain itu saya juga pernah diajak terlibat dalam salah satu kampanye parpol. Partai apa hayo? Itu lo, partai besutan Gus Dur yang kini diambil-(paksa) oleh Mamen. Yang Mamennya pengen jadi ultraman bagi bangsa dan tanah air ulam-a'.

Selain itu, lingkungan saya juga mendidik saya berpolitik. Hampir tiap tahun, tiap kelasnya, dalam kalender pendidikan yang saya jalani, saya selalu didapuk sebagai (entah) ketua, wakil ketua, bendahara dan sekretaris beserta wakilnya pun seksi pendidikan. Secara berganti-ganti tiap tahun, tergantung mood saya pengen dimana--padahal dulu saya belum mengenal kata "mood". Itu kehendak teman-teman dan guru-guru, bukan kehendak pribadi. Apalagi dengan memasang baliho join, projo, cinta, wowo, jkwin, winht dan baliho macam-macam warna, font, gambar, akronim katanya. Lalu pilihlah saya, kalau tidak milih saya, maka bukan kita dan katakan tidak pada korupsi.

Selanjutnya di kampung, saya juga diajak untuk ikut organisasi remaja masjid, karang taruna. Di Kudus, sewaktu nyantri di TBS, Jagalan 62 dan Mardliyyah Janggalan, saya juga dikenalkan dengan IPNU(-IPPNU), FKKI, PII juga OSIS yang begitu kompleks aktifitas dan kegiatannya. Tapi, di dunia yang saya jalani, yang biasa kita kenal dengan dunia organisatoris, sebagai kepanjangtanganan partai politik dan dunia politik, saya tidak menemukan kengerian sebagaimana politik dewasa ini yang dikabarkan media--baik televisi, cetak maupun digital. Tapi anu, tergantung ruang, waktu dan konstelasinya nding. Tidak semua adem ayem, tidak semua gaduh duh duh.

Maka, dari itu saya melepaskan belenggu itu kemudian mempertanyakan apakah politik sarat dengan bidikan, intaian, manuver, taktik dan siasat? Bisa iya, bisa enggak. Tergantung pada nafsu, apa yang hendak engkau capai dan engkau laku di dunia itu. Sebab kita perlu mengingat bahwa sesuatu yang sudah terkena kotoran, terkena najis, perlu proses pensucian sesegera mungkin. Jika tidak, maka akan menjadi penyakit.

Kalau pun membidik, mengintai, bermanuver dan serang-menyerang, dewasa ini, identik dengan politik. Maka perlu kita ruwat dunia politik sesegera mungkin. Apakah politik melulu dengan hal semacam itu? Apakah politik melulu dengan partai politik, DPR, DPD, MPR, eksekutif dan kekuasaan? Jawabannya, bisa kita lihat dari dua tokoh bangsa ini, Muhammad Ainun Nadjib--biasa disapa Cak Nun, dan Ahmad Musthofa Bisri--biasa disapa Gus Mus. Ohya ada satu lagi yang nyempil, yang konon guru mereka, yakni Sujiwo Tejo--biasa disapa Mbah Tejo. Terakhir, apakah beliau-beliau berpolitik? Tentu. Lalu apa yang hendak beliau-beliau bidik. Tentu rahasia. Klunya, coba tanyakan pada forum-forumnya, engkau akan menemukan politik tidak sekadar lapisan kulit. Dan saya, sedang menikmati politik semacam itu.

Sampangan, Dzulqo'dah 1439

Tuesday, 31 July 2018

Gerhana Nasi Kucing dan Gorengan

Gerhana bukan sekadar tanda bahwa dunia sedang diselimuti kegelapan. Kegelapan itu bisa berupa kedzaliman, fitnah, makar, ketidakadilan, intoleran, korupsi, perampokan, zina, kesemena-menaan, angkuh, sombong, juga tak tahu diri. Kalau kita mengambil hikmah gerhana hanya dari sebab keadaan gelap, sehingga kita menciptakan citra-istighfaristighfar-citra. Memakai peci sembari menampilkan wajah sesendu mungkin, bertasbih di depan awak media, serta mengisak-isak tangisnya, itu sudah terlalu mainstream.

Kalau kita hanya mengambil hikmah dari gerhana, sebab telah terjadi gelap lalu ramai-ramai mencari sumber penciptaan cahaya, agar ia tidak kegelapan, itu sudah lazim. Jika tidak sanggup menemukan sejatinya sumber cahaya, maka itu akan menjadi cahaya yang semu. Tidak kekal dan hanya akan menjadi cahaya material saja.

Mestinya kita pandang gerhana sebagai momentum perenungan dan permenungan kita untuk menyadari, mengakui, dan meminta maaf untuk tidak mengulangi segala sesuatu yang ketika ada cahaya kita meredupkannya. Gerhana sebagai momentum untuk mengevaluasi segala hal dari dalam diri kita yang masih gelap. Gerhana sebagai jeda, dari berjalannya cahaya yang tiada henti dianugerahkan kepada kita. Agar kita bisa mikir. Mbok mikir.

Begitulah kultum dadakan kang Dul setelah tawanya terlepas dari mulut. Saya mendengarkannya secara khusyuk meski tangan saya meraba, mengambil nasi kucing dan gorengan di depan saya, sembari mata sedikit melirik ke tempat nasi kucing. Yang diambil oleh tangan bukanlah nasi kucing yang bungkusnya sebagai pemersatu dari multikulturalnya rasa nasi kucing. Namun nasi kucing yang sudah jelas identitasnya tertulis teri lombok ijo, ayam gongso, kerang, sambel goreng ati, meski bungkusnya hampir sama. Serta gorengan yang diambil tangan, bukan gorengan yang memiliki nasionalisme pada nasi kucing, tapi nasionalisme pada cita rasanya sendiri.

Nasi kucing ya nasi kucing, gorengan ya gorengan. Tidak seperti artikel tetangga sebelah yang sok paham nasi kucing dan gorengan.

“Nasi kucingmu apa?” tanya kang Dul

“Teri.”

“Teri sambel apa teri lombok ijo?”

“Teri sambel.”

“Sambelnya, sambel trasi, sambel bawang apa sambel kosek?”

Sak uni-unine lambemu, kang.”

“Dan hanya Allah yang tahu sementara kalian tidak mengetahuinya.”[1] balas kang Dul sembari wajahnya berkeliling menatap Boneng, lek Teguh dan beberapa pelanggan kedai kopi lainnya.

Rabu Legi, 16 Dzulqo’dah 1438/ 9 Agustus 2017
-
[1]
Ayat Al Qur’an surat Al Baqarah: 216.
كتب عايكم القتال وهوكره لكم ج وعسى ان تكرهوا شيئا وهو خيرلكم ج وعسى ان تحبواشيئا وهوشرلكم قلى والله يعلم وانتم لاتعلمون.

Jadwal Agustus

Rabu Pon, 1 Agustus 2018/ 19 Dzulqo'dah 1439:
Hormat Haji
Kediaman Pak Ali Muqoddas-Ibu Nur Lathifah, Singopadon, Singocandi, Kota, Kudus
07.00-13.00 WIB

Jum'at Kliwon, 3 Agustus 2018/ 21 Dzulqo'dah 1439:
Majlis Masyarakat Maiyah: Kalijagan
Universitas Sultan Fatah (UNISFAT), Jl. Katonsari No. 19, Demak
20.00-selesai

Sabtu Legi, 4 Agustus 2018/ 22 Dzulqo'dah 1439:
Latihan Rutin: GJS Fc
Borobudur Futsal, Manyaran, Semarang
20.00-22.00 WIB

Ahad Pahing, 5 Agustus 2018/ 23 Dzulqo'dah 1439:
Ngaji Kitab Kuning
PP. Addainuriyah 2, Sendang Utara, Pedurungan, Semarang
18.30-21.00 WIB

Jum'at Pahing, 10 Agustus 2018/ 28 Dzulqo'dah 1439:
Latihan Rutin: GJS Fc
Borobudur Futsal, Manyaran, Semarang
20.00-22.00 WIB

Ahad Wage-Senin Kliwon, 12-13 Agustus 2018/ 1-2 Dzulhijjah 1439:
Pernikahan Farhatun Najah
Kediaman Pak Dhe Mudlofir, Jetak, Wedung, Demak

Selasa Legi, 14 Agustus 2018/ 3 Dzulhijjah 1439::
Sparing: GJS Fc. VS GWS Fc.
Spider Futsal, Jl. Gajah Raya, Gayamsari, Semarang
21.00-23.00 WIB

Jum'at Wage, 17 Agustus 2018/ 6 Dzulhijjah 1439::
Majlis Masyarakat Maiyah: Mocopat Syafaat
TKIT Alhamdulillah, Kasihan, Bantul
20.00-selesai

Ahad Legi, 19 Agustus 2018/ 8 Dzulhijjah 1439:
Ngaji Kitab Kuning
PP. Addainuriyah 2, Sendang Utara, Pedurungan, Semarang
18.30-21.00 WIB

Ahad Legi, 19 Agustus 2018/ 8 Dzulhijjah 1439:
Hari Tarwiyah

Senin Pahing, 20 Agustus 2018/ 9 Dzulhijjah 1439:
Hari Arafah

Selasa Pon, 21 Agustus 2018/ 10 Dzulhijjah 1439:
Hari Raya Idul Adha 1439


Rabu Wage-Jum'at Legi, 22-24Agustus 2018/ 11-13 Dzulhijjah 1439:
Hari Tasyrik

Jum'at Legi, 24 Agustus 2018/ 13 Dzulhijjah 1439:
Latihan Rutin: GJS Fc
Borobudur Futsal, Manyaran, Semarang
20.00-22.00 WIB


Sabtu Pahing, 25 Agustus 2018/ 14 Dzulhijjah 1439:
Majlis Masyarakat Maiyah: Gambang Syafaat
Masjid Baiturrahman, Simpang lima, Semarang
20.00-selesai

Ahad Pon, 26 Agustus 2018/ 15 Dzulhijjah 1439:
Milad 25th
15 Dzulhijjah 1414-1439

Ahad Pon, 26 Agustus 2018/ 15 Dzulhijjah 1439:
Ngaji Kitab Kuning
PP. Addainuriyah 2, Sendang Utara, Pedurungan, Semarang
18.30-21.00 WIB

Jum'at Pon-Sabtu Wage, 31 Agustus-1 September 2018/ 20-21 Dzulhijjah 1439:
Pernikahan Ulul Abshor
Jetak Wedung Demak - Batang

Sunday, 22 July 2018

Berpikir Sempit dan Pendek


"Wong kang sholeh kumpulono" jare itu idiom ketiga sebagai obat hati yang digagas Sayyidina Ali bin Abi Thalib. (Jangan hanya karena saya menyebut satu sahabat itu, lalu framing yang kalian pakai, saya sebagai Syiah lo. Berpikirlah panjang dan luas, karena selain Si A, ada si B, si C dan sisi lainnya.) "Wong kang sholeh kumpulono" artinya berkumpullah dengan orang sholeh. Kalau dimaknai sebagai orang sholeh saja, maka perkumpulan saya dengan mbak Inayah Wahid tidak termasuknya. Karena kemungkinan yang terjadi beliau adalah orang sholehah, bukan sholeh, apalagi soledad. Soledad, mah lagunya Westlife, (lo, kok west, bukan east? lagi-lagi salah kan tiap menyebut satu kata. Seolah setiap kata harus berlawanan.) Maka jangan berpikir sempit dan pendek.

Kemungkinan lain dari idiom ketiga obat hati itu adalah berkumpullah dengan siapa saja. Temuilah, sapalah siapa saja tanpa memandang latar belakang agama, ras dan suku--baik dalam KTP maupun realitas sosialnya. Sebab manusia tidak memiliki kemampuan untuk benar-benar menentukan siapa yang sholeh hanya berbekal informasi citra dan citra penampilannya. Gampangnya begini, kalau saya pakai sorban kiai, jubah pastur, peci iket pendeta, apa lantas saya tergolong orang sholeh? Tidak kan? Maka jangan berpikir sempit dan pendek.

Sholeh itu kebaikan yang terpendar ke atas dan ke bawah serta ke kanan, kiri, belakang depan. Konon, ada yang membagi sholeh menjadi dua, sholeh sosial dan sholeh ritual. Tapi apakah seseorang yang berlaku sholeh sosial tidak sholeh ritual--dan sebaliknya? Kalau tidak, perlu lah dikroscek terlebih dahulu, apakah ia benar-benar sholeh? Mari diraba-raba terlebih dahulu diri kita sendiri. Jangan sampai berpikir sempit dan pendek memaknai sholeh.

Jadi kemungkinan makna sebenarnya yang paling enak kok "berkumpullah dengan siapa saja, lalu temukanlah keshalehan pada dirimu". Apalagi, banyak sekali teman saya yang namanya sholeh. Dari teman-teman saya mungkin kita bisa belajar juga, bahwa ada sholeh yang pemabuk, ada sholeh yang suka ke masjid, ada sholeh yang jaga karaoke, ada sholeh yang penulis dan sholeh-sholeh lainnya yang tidak mungkin saya kenalkan satu per satu. Jadi kalau bicara mengenai sholeh, sholeh yang mana dulu? Setidaknya, ada kurang lebih puluhan teman, saudara dan guru saya yang namanya sholeh.
berkumpullah dengan siapa saja, lalu temukanlah keshalehan pada dirimu.
Mari jangan berpikir sempit dan pendek. Tapi saya kok jadi kepikiran rumahnya sholeh yang sempit 2x3 meter saja. Serta anu-nya sholeh yang pendek, bukan celananya lo (kalau celana kan cingkrang ya?), hanya sekitar 10-15cm. Anu-nya itu apa? Pikirkanlah sendiri, karena hasil pikiranmu tergantung caramu berpikir dan menemukan hasil itu. Dan hasil pikiranmu menunjukkan siapa sebenarnya engkau. Jadi sholeh yang mana dulu? Yang anu kan?

Hotel Santika, Dzulqo'dah 1439

Thursday, 19 July 2018

Sedikit Kecemasan Melengkapi Puncak Kegembiraan


Bulan Januari merupakan forum pertemuan ke 10 Maiyah Kalijagan Demak, meski begitu, bulan Januari adalah pertama kalinya—dan semoga bisa menetap sampai ratusan tahun mendatang— Maiyahan diadakan di pelataran Masjid Agung Demak. Hal itu disambut kegembiraan oleh para penggiat, lantaran baru pertama bisa memiliki ruang yang bisa dijangkau publik dengan bebas. Sebelumnya, forum Maiyah Kalijagan dilakukan dari rumah ke rumah penggiat secara bergantian. Kemudian sempat disepakati penggiat untuk berpindah tempat ke kafe Angkasa—mantan stasion kereta api Demak— agar jamaah tidak rikuh dan sungkan untuk melingkar.

Sebab nilai yang selalu kami jaga dalam maiyah adalah kemesraan dan kebersamaan yang universal. Maka perpindahan dari rumah ke kafe adalah bentuk dari kemesraan dan kebersamaan yang bisa dinikmati siapa saja tanpa memandang “siapakah engkau”.

Monday, 25 June 2018

Bio Mbah Choliel 2



Kiai Choliel selama hidupnya menikah sebanyak 8 kali, diantaranya: istri pertama belum diketahui namanya, asal Babalan, Wedung, Demak. Istri kedua, Ny. Khodijah, ibu dari Kiai Basyir Muhsin, Kiai Ali Rodli dan 8 saudara lainnya. Istri ketiga, Ny. Suwaidah (Jambu, Mlonggo, Jepara). Istri keempat, Ny. Badriyah, ibu dari Ny. Halimah, Ny. Fathinun dan 4 saudara lainnya. Istri kelima sampai ketujuh berurut: Ny. Husriah (Purwogondo, Kalinyamat, Jepara), Ny. Ngarsinah (Jetak, Wedung, Demak), Ny. Sartipah (Jetak, Wedung, Demak). Dan istri terakhir beliau, Ny. Siti Fathimah, ibu dari Kiai Abdul Haq, Kiai Ali Hafidz dan 5 saudara lainnya.

Kiai Choliel meninggalkan 23 putra-putri: 1. Ruqoyyah, 2. Thoyyib, 3. Hilaluddin, 4. Masyhadi, 5. Basyir Muhsin (Ahmad Salim), 6. Ali Rodli, 7. SIlmun, 8. Abdullah Faqih, 9. Hasan, 10. Husein, 11. Halimah (Hulaiyah), 12. Fathinun, 13. Aminah, 14. Farhanah, 15. Durriyah, 16. Idris Muqthi, 17. Abdullah Waidl, 18. Waidloh, 19. Abdul Haq, 20. Awwabin, 21. Ali Hafidz, 22. Muayyad, 23. Abdullah Ta'ib.

Sunday, 24 June 2018

Bio Mbah Choliel 1



Kiai Choliel adalah putra dari Kiai Idris bin Kiai Dawud bin Kiai Damanhuri bin Roro Kasihan bin Pangeran Benowo bin Roro Ayu Maskumambang bin Sultan Trenggono bin Sultan Fatah.

Kami belum mendapatkan data kapan beliau lahir. Beliau wafat pada Sabtu Kliwon, 13 Syawwal 1395. Dimakamkan di desa Jetak, Wedung, Demak.

Thursday, 14 June 2018

Jadwal Syawwal 1439

Jum'at Legi, 1 Syawwal 1439/ 15 Juni 2018:
Hari Raya Idul Fitri 1439
Jl. Kauman Baqin, no. 147, Jetak 01/05, Wedung, Demak

Sabtu Pahing, 2 Syawwal 1439/ 16 Juni 2018:
¤ Silaturrahim Keluarga Tedunan
Kediaman Mbah Farhanah Ch., Tedunan, Kedung, Jepara
Kediaman Mbah Durriyah Ch., Tedunan, Kedung, Jepara
09.00-12.00 WIB

¤ Silaturrahim Ponpes Balekambang
Kediaman Gus Arwani Abdullah Zumar, Belekambang, Nalumsari, Jepara
12.30-14.30 WIB

¤ Silaturrahim Kiai Muftil Umam
Gedangan, Welahan, Jepara
15.00-16.30 WIB

Ahad Pon, 3 Syawwal 1439/ 17 Juni 2018:
¤ Ziarah Bani Choliel
Makam Mbah Choliel Idries, Jetak, Wedung, Demak
08.00-10.00 WIB

¤ Pernikahan Ahmad Thoha
Lebuawu, Kalinyamatan, Jepara
10.00-14.30 WIB

¤ Wisata Keluarga
Pantai Bandengan, Bandengan, Jepara
14.30-19.00 WIB

Selasa Kliwon, 5 Syawwal 1439/ 19 Juni 2018:
Dolan Karo Konco
Jetak, Wedung, Demak
09.00-13.00 WIB

Kamis Pahing, 7 Syawwal 1439/ 21 Juni 2018:
¤ Akad Nikah Nur Syihabuddin
KUA Wedung - Ngawen, Wedung, Demak
09.00-12.00 WIB

 ¤ Kumpul Bareng Konco
Reuni MTs Darussalam '09
Gubuk Jetak - Jetak, Wedung, Demak
19.00-selesai

Sabtu Wage, 9 Syawwal 1439/ 23 Juni 2018:
Pertemuan Keluarga Bani Dawud
Kediaman KH. I'thisom, Purwogondo, Kalinyamatan, Jepara
08.00-14.00 WIB

Senin Legi, 11 Syawwal 1439/ 25 Juni 2018:
¤ Resepsi Pernikahan Gus Chasan Albab Hafidz
Gedung Jam'iyyatul Hujjah Kudus (JHK), Kudus
10.00-12.00 WIB

¤ Majlis Ilmu Maiyah Gambang Syafaat
Masjid Baiturrahman, Simpang lima, Semarang
20.00-selesai

HAUL MBAH CHOLIEL IDRIES KE 45
Selasa Pahing, 12 Syawwal 1439/ 26 Juni 2018 & Kamis Wage, 14 Syawwal 1439/ 28 Juni 2018
Jetak, Wedung, Demak

Selasa Pahing, 12 Syawwal 1439/ 26 Juni 2018:
¤ Khotmil Qur'an bil Ghoib
Masjid Baitul Muttaqin, Jetak, Wedung, Demak
07.00-11.30 WIB

¤ Karnaval Haul
Keliling desa Jetak, Wedung, Demak
12.30-16.00 WIB

¤ Khitan Massal
Auditorium Thoriqoh Naqsabandy Kholidy Nahdliyyah, Jetak, Wedung, Demak
16.00-selesai

Kamis Wage, 14 Syawwal 1439/ 28 Juni 2018:
¤ Khotmil Qur'an bin Nadhor
Masjid Baitul Muttaqin, Jetak, Wedung, Demak
09.00-11.30 WIB

¤ Ziarah Qubur
Makam Mbah Choliel Idries, Jetak, Wedung, Demak
12.30-16.30 WIB

¤ Pengajian Umum
Masjid Baitul Muttaqin, Jetak, Wedung, Demak
20.00-selesai

Ahad Pahing, 17 Syawwal 1439/ 1 Juli 2018:
Resepsi Pernikahan Nur Syihabuddin
Jetak, Wedung, Demak

Jum'at Pahing, 22 Syawwal 1439/ 6 Juli 2018:
Majlis Ilmu Maiyah Kalijagan
Masjid Agung Demak
20.00-selesai

Rabu Legi, 27 Syawwal 1439/ 11 Juli 2018:
Akad Nikah Khoiron Hilmy
Geneng, Batealit, Jepara
08.00-13.00 WIB

Kamis Pahing, 28 Syawwal 1439/ 12 Juli 2018:
Resepsi Pernikahan Khoiron Hilmy
Tedunan, Kedung, Jepara

Wednesday, 13 June 2018

Gerhana Pengetahuan dan Khusufis Sex

Meski kaget mendengar kabar meninggalnya Pak Kaji Jamal, namun saya berusaha mengatur napas kekagetan saya. Khususnya kaget di depan Kang Dul. Bisa-bisa saya ditertawai sejadi-jadinya. Saya paham bahwa hidup manusia itu tidak hanya di alam ruh, alam rahim dan alam dunia saja, tapi masih kaget. Gitu saja kok kaget. Kemudian saya pindah gigi, pindah ke tarikan yang woles bro, agar Kang Dul tak menaruh curiga pada saya yang masih belajar mengenai hidup.

“Kang, ngomong-ngomong malam ini akan terjadi gerhana, lo.” Celetuk saya, mengalihkan perbincangan mengenai kematian dan Pak Kaji Jamal.

“Gerhana malam ini menjadi penanda kegelapan yang akan terjadi di desa Jim. Pak Kaji Jamal itu khalifah yang mampu mengayomi rakyat, dekat dengan rakyat, serta memiliki kharisma tersendiri. Jika alam sedang berhajat, itu tanda bahwa ada salah satu khalifatullah fil ardi atau waliyullah yang sedang dipanggil Gusti Allah menghadap haribaanNya. Namun tidak ada gerhana yang bertahan lama.”

“Bukankah gerhana itu siklus yang pasti akan terjadi, Kang? Sistem tata semesta, rotasi bumi yang berpijak pada dirinya, revolusi bumi yang mengelilingi matahari hidup. Begitu juga bulan yang berotasi pada dirinya, serta mengelilingi bumi yang berputar pada matahari hidup. Jadi bukan sebab karena Pak Kaji Jamal berpulang, Kang.”

Sesekali saya berusaha untuk mendebat Kang Dul, itu pun disertai kekhawatiran kalau-kalau nanti kang Dul menjawab tidak sesuai yang saya bahas. Efeknya, pikiran saya akan mengalami dislinearisasi. Namun teori yang saya kemukakan kepada Kang Dul hanyalah pengetahuan baru yang lahir kisaran abad 17 M. “Ar Rahman. Melekatkan informasi dalam Qur’an. Menciptakan manusia. Melekatkan komunikasi. Matahari dan bulan dalam satu sistem.”[1] Tambah saya guna memperkuat pendapat.

“Apa kamu tahu mengapa Allah menyuruh kita untuk sholat gerhana serta memperbanyak istighfar tatkala gerhana terjadi?” Kang Dul balik bertanya, tampaknya ia menyentil saya yang sok-sokan mengutip ayat al Qur’an.

“Tidak tahu, Kang.” Jawab saya sekadarnya. Sebab sebenarnya saya banyak ketidaktahuannya dari banyaknya pengetahuan. Padahal pengetahuan hanyalah permukaan dari samudera ilmu. “Saya banyak tidak tahunya Kang. Kanjeng Nabi pernah ngendikanAku kotanya ilmu dan Ali pintunya.[2] Lalu saya dimananya? Barangkali sejarak matahari ke bumi yang menutupi rembulan, Kang.” Lanjut saya.

“Allah menyuruh hambanya untuk mendirikan sholat khusufil qomari dan istighfar yang banyak itu sebab dahulu ada suatu bangsa yang mendirikan khusufis sex, maksudku pesta seks dan minuman keras saat terjadi gerhana.” Tutur Kang Dul sembari mematikan rokok batang pertamanya di hisapan terakhir. Kemudian ia tertawa sendiri.

Selasa Kliwon, 15 Dzulqo’dah 1438/ 8 Agustus 2017
-
[1]
Ayat Al Qur’an surat Ar Rahman: 1-5.
الرحمن. علم القران. خلق الانسن. علمه البيان. الشمس والقمر بحسبا ن.
[2]
Hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim dalam kitab Al Mustadrak Ash Shahihain jilid III hal 126. Meski ada beberapa pendapat Ulama’ yang mengatakan bahwa hadits ini dhoif dan maudhu’. Tapi bagi saya pribadi, selama tidak membuat kita mencelakai manusia dan makhluk lainnya, sah-sah saja hadits dhoif maupun maudhu’ dijadikan sebagai referensi.
حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا محمد بن عبد الرحيم الهروي بالرحلة ثنا أبو الصلت عبد السلام بن صالح ثنا أبو معاوية عن الأعمش عن مجاهد عن بن عباس رضي الله تعالى عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا مدينة العلم وعلي بابها فمن أراد المدينة فليأت الباب.

Tuesday, 12 June 2018

Seruput Teh dan Letupan Asap Rokok

Seruput, dua-ruput, Kang Dul meminum teh angetnya, sementara saya masih dibingungkan oleh jawabannya.“Dari rahim ibu” memiliki banyak kemungkinan tafsir. Pertama, rahim yang ia maksudkan rahim berupa vagina atau rahim dari kosakata bahasa arab, berarti kasih sayang, yang kalau dijawakan menjadi welas asih ing dalem akhirat bloko, sebagaimana merujuk dengan pemahaman Allah yang Rahman dan yang Rahim.[1] Kedua, ibu yang ia maksudkan itu ibu kandungnya, ibu dari anak-anaknya, atau ibu kota yang konon lebih jahat ketimbang ibu tiri.

Sayangnya, terkadang saya tidak memiliki kemampuan untuk bertanya pada Kang Dul. Takut-takut nanti saya dibuat kebingungan lagi dengan jawabannya, sehingga kemungkinan-kemungkinan itu hanya menguap dalam kepala. Meski begitu saya tetap bersyukur, mendapatkan beberapa kunci dari Kang Dul. Tinggal menunggu dipertemukan atau mencari untuk menemukan pintunya.

Kang Dul kemudian mengambil rokok, menyalakan api, sebagaimana bunyi kretek yang tak sempat diucapkan rokok kepada api yang menjadikannya tekhek[2]. Bukan dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.[3]

“Kang, sampeyan sudah tahu belum kalau Pak Kaji Jamal tadi siang meninggal.” tutur Kang Dul pasca letupan asap rokok hisapan pertama. Saya kaget, lantaran di hari raya kemarin saat silaturrahim ke kediamannya, beliau sehat-sehat saja.

“Lo, meninggal kenapa, Kang?”

“Orang meninggal itu sebab ketentuan dan jangka waktu untuk hidup sudah habis.”

Kalau jawabannya semacam itu, setiap muslim, bahkan setiap manusia, pasti tahu dan menyadarinya. Bahwa hidup di dunia tidak abadi, sebagaimana hidup di alam rahim. Masih ada alam-alam lain setelah alam duniabaru jarak dekat, masih ada jarak panjang. Maka tarik napas panjang, agar tak kehabisan napas dalam rakaat-rakaat panjang berikutnya.

Senin Wage, 14 Dzulqo’dah 1438/ 7 Agustus 2017
-
[1]
Ayat Al Qur’an surat Al Fatihah: 1.
بسم الله الرحمن الرحيم.
[2]
Tekhek: bahasa lokal jawa dari abu rokok.
[3]
Penggalan puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono.

Saturday, 9 June 2018

Lulusan Rahim Ibu

Dahulu ketika masih di Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Kang Dul memiliki kebiasaan ketika ditanya siapapun darimana” selalu menjawab tempat terakhir yang ia kunjungi. Meski tempat itu bukan menjadi sebab yang mempengaruhinya dalam bertindak. Hal itu ia sadari, malah dijadikannya sebagai trik menjawab pertanyaan dari ibunyaBu Fat namanya— ketika bertanya “mau kemana?” atau “dari mana?. Seringnya ia menjawab “mau ke masjid” atau “dari masjid”, agar tak ketahuan kalau ia hendak dan dari bermain bersama teman-temannya. Meski demikian, ia tak berani pulang sebelum pergi ke masjid terlebih dahulu, sekadar wudlu, kencing atau masuk keluar masjid saja.

Kalau kita terbiasa dengan multiple choice, kang Dul melakukan kebohongan atau kejujuran? Tentu jawabannya membuat kita saling berbenturan satu sama lain oleh kebenarannya masing-masing. Apalagi jika kebiasaan kang Dul sewaktu MI itu menjadi konsumsi publik saat ini. Jawabannya bisa benar, bisa salah, bisa bohong, bisa jujur. Tergantung bagaimana cara kita memandangnya. Jika kita memandangnya dari sudut pandang Bu Fat, tentu Kang Dul jujur, sebab data yang diinput Bu Fat hanya pergi ke masjid. Karena beliau tidak menanyakan selain masjid, pergi kemana lagi. Sementara itu, di sisi lain, teman-teman kang Dul yang mengetahui jawabannya kepada Bu Fat, akan menilai Kang Dul sebagai anak yang suka berbohong. Meski realitanya Kang Dul tidak bisa dikatakan bohong secara kata.

Membingungkan tidak? Sebenarnya tidak juga, asalkan kita memiliki data yang banyak, tidak sepenggal-penggal dan detail. Sebenarnya (juga) manusia tidak memiliki hak untuk menentukkan secara pasti, Kang Dul berbohong atau jujur, kecuali sekadar meraba-raba kebohongan dan kejujuran orang lain. Sebab kebenaran hanya datang dari Tuhanmu, maka jangan ada diantaramu yang menjadi bagian orang-orang yang khawatir. [1]

Saat ini, Boneng sedang memutar lagunya Nella Karisma judulnya “jaran goyang. Karyo memutar youtube, Nufi Wardana dengan lagu “asal kau bahagia”. Lek Teguh memutar lagu-lagu India. Tiba-tiba Kang Dul datang, memesan teh anget, langsung saja saya bertanya “Kang Dul, dari mana?”

“Dari rahim ibu.” jawabnya sembari menerima teh anget pesanannya.

Ahad Pon, 13 Dzulqo’dah 1438/ 6 Agustus 2017
-
[1]
Ayat Al Qur’an surat Al Imron: 60.
الحق من ربك فلا تكن من الممترين.
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html