Wednesday, 15 May 2019

X-Poems: Puisi-puisi Arafat Ahc, Selasa 5 Februari 2013


Tepian Mimpi Mereka

Pulanglah kau, Jum!
Ke hutan sana
Memunguti air mata yang patah dan jatuh dari pepohonan.
Aku telah mengakar pada jantungmu

Lekaslah kembali!
Menyelimutiku dengan bau bambu yang kau ambil dari kelopak mataku
Aku masih menangis tentang hutan itu.

Rumah kita: hutan, sawah, ladang.
Akan karam pada tangan mereka yang nisbi
Maka cepatlah belajar berenang bersamaku di empang belakang.
Itu akan mengoyak ikan yang tidur.
Ikan-ikan akan sadar tentang kail-kail berujung kekejaman.

Tidurlah sekarang, Jum.
Biarkan rumah karam pada mimpi-mimpi mereka.
Kita berenang saja pada mimpinya
Menuju pagi dan sepotong kehidupan.

Rabi’ul Awwal 1434 H

Puisi

Puisi itu perasaan atau intlektual? Katamu puisi intlektual yang tajam lalu merajam.
Berulang kali kau mengkritiki puisiku terlalu dangkal untuk dikuliti.
Para peramu lainnya menyoal cita rasa yang tercipta pada tiap bait-bait puisiku.
Kegelisahan selalu mendekapku saat aku mendiskripsikannya pada seminar-seminar, diskusi-diskusi yang sarat istilah.
Lalu bagaimana aku mendiskripsikannya?

Shaffar 1434 H

Bayang-Bayang: Kau, Aku Dan Angan

Im, kenapa kau selalu mendekap leherku. Nadi mulai sempit mencekik anganmu.
Kau rasa aku tak butuh bernafas lagi. Aku rasa aku akan mati olehmu.
Pada suatu waktu, kau akan menangisi kematian. Kau tak akan bisa mengingat pasujudan yang membuat keningmu berlumut. Hanya nisanku yang kau ajak bermain hidup.

Aku, sebenarnya menyayangimu, seperti kematian dan angan. Angan hanyalah kematian. Kau tak pernah menisankan angan-angan. Dia hanya kau gantung di kamar-kamar. Seperti kematianku, kau menggantungnya di kamarku. 

Kau im, iya im, kau.
Kau hanya bayang-bayang. Anganku kau anggap bayangku. Bukankah kau adalah anganku, tapi anganku bukanlah kau. Kau hanya kesekian setelah angan itu memelukku. Kau itu bayang dari angan-angan.

Kau akan memelukku setelah ku dipeluk angan. Takkan pernah kau memelukku sebelum angan memelukku. Berdo’a saja biar angan lekas memelukku, maka kau akan segera memelukku. Entah kau memelukku dengan apa. Cinta, nafsu, kata-kata? Terserah kamu im.

Muharram 1434 H

Ilusi

Masihkah kita menyalahkan tentang kehancuran cinta kita?
Kau atau aku.
Kaukah yang menganggap bualan kata-kataku tentang bahasa kekeluargaan atau bahasa persenggamaan. Atau aku yang mengganggap kau tergambar seperti apa yang ku bayangkan di tiap lembaran bait-bait cintaku. Tentunya kau masih mengingat keceriaan kita yang pernah terukir di sepanjang jalan kotaku dan kotamu, atau di sepanjang jalan tempat kita belajar merangkai kata-kata itu.
Itukah ilusi yang kau maksud sejak dulu, sesaat aku merangkai bahasa kebangsaan ini untuk menuntun hatimu yang tidak tahu peta khatulistiwa? Itukah ilusi yang pernah terlupakan olehku, sesaat kita asyik memainkan derasnya air terjun yang menjadi mithos kehancuran ini? Kau atau aku, yang memulai menggambar ilusi ini di jalan-jalan terjal yang pernah kita lalui? Yang waktu itu kau bilang cinta, namun aku hanya menganggukkan kepala tentang bahasa kebisuan kepasrahan cinta ini terhadapmu.
Ini ilusiku atau ilusiku?
Barangkali ilusi kita berdua yang terkadang meredup dan terkadang bersinar.

Jumadil Akhir 1433 H

Arafat Abdul Hadi Choliel ( Arafat AHC ) lahir di Desa Jetak, Wedung, Kabupaten Demak dan sekarang tinggal di Ngaliyan, Semarang. Untuk menyapanya, bisa ke facebook: Arafat AHC dan bisa mampir ke blognya: Arafat AHC dan Serat Gusti. Atau bisa menghubungi cr7.rafa@yahoo.co.id dan 085640790588, 087833743942, 089605024633. Penulis tergabung pada komunitas Sastra LAH Kudus, yang saat ini mati suri karena ditinggal anggota-anggotanya ke berbagai penjuru Indonesia.Ia hanyalah orang jalanan yang terus berlalu lalang sampai ia menemukan titik alamat hatinya yang sampai saat ini belum ketemu.


Bisa antum buka di link: http://albratva.blogspot.com/2013/02/x-poems-puisi-puisi-arafat-ahc-sealasa.html?m=1

Membaca Matapangara



Suatu kehormatan bagi manusia yang bisa memegang mata dari binatang buas, apalagi jika disertakan memandang tatap matanya. Suatu ketika di Kendal, komunitas yang diharamkan namanya oleh MUI, mengadakan apresiasi mata macan. Yakni, komunitas Pelataran Sastra Kaliwungu, dibawah asuhan kesesatan ustadz Bahrul Ulum A. Malik.

Maafkan saya, buku sebenarnya adalah Matapangara, karya sahabat yang pura-pura dan diam-diam menggurui saya. Ialah Raedu Badru Shaleh.

Saya bahagia lantaran waktu itu saya memenggal kenangan yang tak jera memunguti air mata. Barangkali begitu juga pada kiai kamvret Dimas yang senja pada indiananya.

Selain itu, syukur apalagi yang mesti dilakukan? Jika manusia sudah dititipi kenikmatan bercengkrama dengan kekeramatan orang madura.

Terimakasih pula pada sedulurku bro Setia Naka Andrian dan photographer yang entah siapa. Terimakasih menemani dan menikmati pembacaan ini.

Monday, 13 May 2019

Doa untuk Keponakan (1)



Jika omnya hebat, bisa jadi ponakannya hebat. Meski tak ada pemegang paten kehebatan itu kecuali Allah. Ini hanyalah kamuflase saya saja, jangan dibaca secara serius.

Begini, kalau engkau mau mendekap seorang bayi dengan dekapan hangat dan cinta. Engkau mengajarinya cinta, kasih dan sayang. Di dalamnya ada ketegasan, keberanian, kejujuran serta ketangguhan.

Nama bayi itu Amir Yusuf Aviecina. Amir sekadar simbol kepemimpinan. Kepemimpinan dunia ini, sebab manusialah yang diberi kewajiban menjadi pemimpinnya dunia.

Sementara Yusuf merupakan pengejawantahan ketampanan, bagus lahir maupun bathin. Baik pekertinya pun ucapannya. Baik pikiran maupun moralnya.

Dan Avieccina adalah bentuk dari kepandaian, penemuan, pencarian tanpa batas dan terus menerus belajar hingga lahat. Engkau tentu tahu siapa Ibnu Sina, yang di dunia barat, saking susahnya menyebut Ibnu Sina jadilah Avieccina.

Amir Yusuf Aviecina simbol kepemimpinan, ketampanan dan kepandaian. Semoga tidak sekadar pengertian permukaan, namun makna yang hakiki pula.


Palagan Tentara Pelajar, 29 Mei 2016

GS Yang Jazzy


Pada hari Selasa, 25 Desember 2018, Gambang Syafaat merayakan Miladnya yang ke-19. Sementara itu, hari ini, lincak, edisi khusus 19 tahun Gambang Syafaat memasuki hari ke 19. Artinya 11 hari lagi kita akan merayakan dengan penuh syukur beserta kebersamaan yang tak henti kita rajut semenjak 19 tahun lalu. Waktu kian dekat, hati pun berdebar-debar. Hidayah Allah mana lagi yang akan dinikmati dan syukuri.
Dari perjalanannya, selama 19 tahun, ada yang menarik dicatat, yakni Gambang Syafaat menjadi satu-satunya majlis ilmu, khususnya di Semarang yang memberikan ruang bagi band atau pemusik untuk mengekspresikan ilmu melalui nada, ritme dan suara. Band atau pemusik itu tidak terbatas hanya di wilayah hadroh atau rebana saja. Lebih dari itu, Gambang Syafaat menyuguhkan dangdut, rock, pop, klasik, campursari, gamelanan, koploan, jazz bahkan musik-musik lokal juga ditampungnya.
Keberadaan band atau pemusik yang amat beragam menjadi suatu penegasan bahwa ilmu, pengetahuan, informasi yang terdapat di GS, begitu pula jamaahnya sangat beragam, tidak seragam. Sebagaimana musik jazz. Kalau diingat-ingat ada beberapa band jazz yang pernah mengisi di GS: Beben Jazz Ft. Inna Kamarie, AbsurdNation, juga KiaiKanjeng serta semua band atau pemusik yang tampil di GS. Lo, kok KiaiKanjeng termasuk band jazz?
Mari kita baca sedikit penjelasan Pak Saratri Wilonoyudho: watak jazz adalah memberi tempat kepada setiap instrumen musik untuk menampilkan diri. Mereka boleh improvisasi apa saja, yang penting muaranya adalah harmoni. Ini adalah tauhid. Ibarat jazz itu agama, maka improvisasinya adalah aliran. Satu improvisasi tidak boleh dan tidak berhak mengklaim yang paling baik, paling indah, dan paling benar nadanya, karena semuanya memiliki tempat masing-masing. Jadi kalau aliran dalam agama atau mazhab dan sebagainya masih terkotak dalam klaim kebenaran, maka mereka belum nge-jazz. (KiaiKanjeng dan Jazz itu Tidak Penting. Caknun.com: 13 Oktober 2013)
Dari penjelasan Pak Saratri, pengalir ilmu dan nilai maiyah yang setia menemani Gambang Syafaat bersama Pak Ilyas, Habib Anis dan Om Budi, bahwa apapun bandnya, selama ‘memberikan tempat kepada setiap instrument musik untuk menampilkan diri’, bisa disebut sebagai band jazz. Ini sudut pandang menurut saya dan pak Saratri saja lo. Bisa iya, bisa tidak. Bisa setuju, bisa tidak. Enak to, menjadi jamaah Gambang Syafaat yang tidak dituntut menjadi genre A atau genre B, menjadi aliran C atau aliran D, menjadi madzhab E minor maupun F mayor. Semua jamaah, penggiat maupun pengisi memiliki intrumen masing-masing dan diperkenankan untuk menampilkan diri sebagaimana kapasitas musikalitas yang dimiliki.
Dari perjalanan 19 tahun Gambang Syafaat, dari penampilan musik yang disuguhkan, setidaknya kita punya frame bahwa GS sangat jazzy, GS sangat terbuka dengan kemesraan yang kalian suguhkan, terbuka atas instrumen ilmu, pengetahuan dan informasi yang kita punya. Sementara itu, dari yang saya catat (belum catatanmu ya), ada setidaknya 19 band atau pemusik yang tampil di Gambang Syafaat: 1. KiaiKanjeng, 2. Wakijo Lan Sedulur, 3. Rebana Nurul Asatidz (Upgris), 4. Ready (Undip), 5. Rebana Tanbihun, 6. Swaranabya, 7. Pembloesukan, 8. Dannu Sakkonco, 9. Urva Creato, 10. Biscuittime, 11. Dear April, 12. Eka Band, 13. Musik Biasa Saja, 14. Kidung Syafaat, 15. AbsurdNation, 16. Iki Endonesia, 17. Beben Jazz Ft. Inna Kamarie, 18. Anne Rasmusen, 19. Sujiwo Tejo. Dari 19 yang saya catat itu, mungkin merepresentasi ilmu, pengetahuan dan informasi antar jamaah, antar pengisi, dan antar penggiat yang saling kolaboratif dan saling impovisatif.
Gambang Syafaat menjadi ruang kolaborasi dan improvisasi yang sangat kreatif. Kreatif adalah ruang bagi manusia yang telah melewati kerja keras dan kerja otak. Kreatif juga menjadi ruang kerja manusia-manusia yang sudah mampu menembus keindahan setelah melewati proses benar dan baik. GS punya orang tua, ialah Mbah Nun dan KiaiKanjeng, kreatifitasnya GS yang jazzy tidak bisa lepas dari keduanya.
Selamat Milad GS yang jazzy, simpul Maiyah yang ke 3 dari 63 simpul yang lahir membersamai manusia-manusia jazzy Maiyah. Mabruk alfa mabruk bi id miladik tis’ata asar. Rahayu.

21 Sastrawan Jawa Tengah Ikut Temu Karya Sastrawan Nusantara

Laporan Wartawan Tribun Jateng Deni Setiawan


TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG - Sebanyak 21 sastrawan di Jawa Tengah, dijadwalkan akan bergabung dengan 115 sastrawan dari berbagai penjuru di Indonesia dalam Temu Karya Sastrawan Nusantara.

"Kegiatan itu akan digelar di Tangerang, Banten, pada 21 hingga 23 Desember 2013 ini dan kami sudah dapat undangannya," kata Ketua Bidang Kerja Sama Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) Gunoto Saparie dalam rilisnya kepada Tribun Jateng, Jumat (13/12/2013).
Dia mengungkapkan, undangan serta kehadiran di forum berskala nasional ini bakal menjadi momentum penting untuk menunjukkan diri apabila Jawa Tengah pun kaya pada karya sastranya.

Menurutnya, kegiatan tersebut secara rutin digelar yang tujuannya untuk mempertemukan para sastrawan Indonesia yang kemudian pula dikemas seperti diskusi hingga penampilan karya di tiap daerah.

"Kami akan tunjukkan kepada peserta forum, apabila Jawa Tengah pun pantas untuk diperhitungkan khususnya dari segi literer," ujarnya.

Gunoto menjabarkan, 21 sastrawan yang bakal hadir tersebut di antaranya Eko Tunas, Faizy Mahmoed Haly, dan Gunoto Saparie (Semarang), Dharmadi, Dimas Indiana Senja, dan Riyanto (Purwokerto), Lanang Setiawan dan Aulia Nur Inayah (Tegal).

Lalu, lanjutnya, Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo), Yuditeha (Karanganyar), Niken Kinanti dan Seruni (Surakarta), Agustav Triono dan Arif Hidayat (Purbalingga), Sus S Hardjono (Sragen).

"Dari Cilacap ada J Betara Kawhie dan Sri Wintala Achmad. Jepara ada Yudhie Yarcho. Lalu Sholihuddin Al Gholany (Kudus), Arafat AHC (Demak), dan Vanea El Ary (Wonosobo)," katanya.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul 21 Sastrawan Jawa Tengah Ikut Temu Karya Sastrawan Nusantara, http://www.tribunnews.com/regional/2013/12/13/21-sastrawan-jawa-tengah-ikut-temu-karya-sastrawan-nusantara.

Sunday, 12 May 2019

Puisi Suara Merdeka - Arafat Ahc (26 Mei 2013)

Semusim Kenangan

#semusim kenangan yang bergelanyut pada genangan
kita masih setia menanti kering yang enggan melanda
lampion-lampion tenggelam pada asa
belum tuntas mendewasakan diri
#semusim kenangan di musim kesedihan
sebab kesedihan adalah perjudian
pergenangan menewaskan air mata
anak-anak memainkannya.
di selangkangan penuh genangan
#semusim kenangan di desa tenggelam
kita menyanyikan lagu sendu
aiyah, sumpahsumpah kita menyampah pada rumah
karam oleh air mata dan kesedihan
mula tercipta keberingasan dan kerakusan berhala diri
buku-buku sebanjir muka merah kita
# semusim kenangan yang tertulis di catatan harian kesedihan
pertikaian
keegoisan
kesombongan
kitaambangkan pada genangan
kesedihan ini perjudian lalu telah kita pasang di bandar seberang

Semarang-Demak, Jumadil Akhir 1434 H

Kolam Hati

:Al Ghozali
Sebaiknya aku menggali atau mengairi?
Telah lama aku mengairi kolam ini
Lima arus sungai
Sebaiknya aku menggali atau mengairi?
Aku masih bekerja sebagai pengair
Tapi kolam keruh, lantaran sampah menyumbat
Lalu aku harus menggali atau mengairi?
Tapi aku takut menggali
Katamu itu asyik
Aku terlalu takut lupa daratan
Sebab nanti penyelaman itu mengasyikan
Sebab aku masih nikmat berenang di sungai
Lalu aku harus menggali atau mengairi?
Sebab aku tak mau menggali bukan air
Seperti tetangga keliru menggali air hasratnya

Yogyakarta, Rabi’ul Akhir 1434 H

Ruang Kelas Tak Menghadirkanmu

Pada pijar lampu yang menggigil.Tiap waktu, tangan-tangan memanggil. Kamu yang terlalu abstrak untuk kupresentasikan. Dan kawan-kawan berlari mengejar pertanyaan. Dimana jawaban,yang telah ku simpan di lacimu? Kau dimana?
Kau tak pernah hadir setiap kaliaku mempresentasikan namamu. Lalu bagaimana kawan-kawan bisa mengakhirkanpertanyaannya. Sedangkan kau tak nampak, disaat aku begitu berharap padamu.
Di lacimu, selalu ku absen daftarisi lacimu. Pertanyaan lagi, lagi-lagi pertanyaan yang melambaikan tangansambil bertanya-tanya lagi. Laci-laciku makin menumpuk oleh pertanyaan yang taktuntas kita jawab. Lalu bagaimana aku mempresentasikanmu?
Kau dimana?
Aku berkali-kali memanggilnamamu, memanggil baumu, memanggil kata-katamu. Bukan kau yang hadirmenyampaikan jawaban. Tapi pertanyaan terus melambaikan tanganmemanggil-manggil kita.
Kau terlalu abstrak untuk kupresentasikan, jika kau tak hadir di sini. Menemani kegelisahan yang bercakapria dengan pertanyaan-pertanyaan.

Ngaliyan, Dzulhijjah 1433 H

Saturday, 11 May 2019

Ikan dalam Kolam



Dalam perbedaan kami mampu saling menyapa. Ia meminta foto untuk kalian kasihi dan sayangi.

Meski ia tak sama seperti kalian yang di darat. Tolonglah, jangan sekali-kali mengatakan ia ‘sesat’, ia ‘haram’. Engkau yang mampu menembus batas pemisah antara darat dan air, njegurlah ke air untuk menyapanya. Sebab yang ia tahu hanya air dan samudera cinta. Maka sapalah dengan cinta dan kasih sayangmu. Arrahman dan Arrahimmu.

Kenduri Rindu, Jalin Ikatan Persaudaraan


Demak - Bangsa Indonesia memerlukan ikatan nasionalisme untuk menjalin rasa persaudaraan sebagai ikatan untuk dapat mendorong rasa memiliki dan kecintaan terhadap tanah air.

Demikian pesan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan Perpustakaan Sastra Nusantara - Arafat Library Demak (Pesan Alid) dalam mengenang 40 hari sahabat Vanera El-Arj.

selengkapnya bisa dibuka di link: https://issuu.com/koranpagiwawasan/docs/wawasan_20150207/22

Sumber: Koran Wawasan edisi Sabtu Pahing, 7 Februari 2015 halaman 22

Selamat & Sukses Atas Peluncuran Perdana Buku Kumpulan Puisi (Antologi) Memo Untuk Presiden - 1 Nofember 2014

Oleh: Rg Bagus Warsono (Indramayu)

Sebuah tonggak kesusastraan Indonesia Terkini yang patut dibaca oleh seluruh masyarakat . Sajian syair bagi negeri yang penuh dinamika perjalanan. Penyair hanya menunjukan jalan 'lurus agar tak tersesat. Penyair hanya memberi sedekah buah pena tanpa meminta sedekah materi apa pun. Penyair hanya berkiprah pada jalurnya tanpa meminta imbalan adalah kewajiban para penyair untuk mengisi Indonesia sebagaimana cita-cita pendahulu kita. Dan wajar bila bila penyair berkata dalam: MEMO UNTUK PRESIDEN.

Berikut adalah daftar penyair yang menuliskannya:


1. A. Slamet Widodo (Jakarta)
2. Aang Ayatullah K. @Aazatara (Jakarta
3. Abah Yoyok (Tangerang)
4. Abdurrahman El Husaini (Martapura)
5. Abidin Hanif (Lahat)
6. Acep Syahrir (Indramayu)
7. Ade Riyan Purnama (Jakarta)
8. Agam Jaya Syam (Wellington)
9. Agus Kusnandi Suling (Tegal)
10. Agus R. Subagyo (Nganjuk)
11. Agus Sighro Budiono (Bojonegoro)
12. Agus Triwibowo @Agus Subakir (Wonogiri)
13. Agustav Triono (Banyumas)
14. Ahmad Ardian (Pangkep)
15. Ahmad Samuel Jogawi (Pekalongan)
16. Ahmad Solihin @Rangdag Dawala (Tangerang)
17. Akhmad Sekhu (Jakarta)
18. Ali Syamsudin Arsy (Banjarbaru)
19. Aloeth Pathi (Pati)
20. Amar Ar-Risalah (Depok)
21. Anang Famuji (Purwokerto)
22. Andi Jamaluddin AR.AK (Tanah Bumbu)
23. Andreas Kristoko (Yogyakarta)
24. Andrian Eka Saputra (Boyolali)
25. Andrias Edison (Blitar)
26. Anjar Bayu Saputra (Yogjakarta)
27. Anna Mariyana (Banjarmasin)
28. Anung Ageng Prihantoko (Cilacap)

29. Arafat Ahc (Demak)
30. Arba Karomaini @Sugih Mblegedhu (Brebes)
31. Ardi Susanti (Tulungagung)
32. Arind Reza (Purworejo)
33. Aris Rahman Yusuf (Mojokerto)
34. Arsyad Indradi (Banjarbaru)
35. Asmoro El Fahrabi (Pasuruan)
36. Asril Koto (Padang)
37. Asro Al Murthawy Pamenang (Jambi)
38. Autar Abdillah (Surabaya)
39. Awan Hadi Wismoko (Banjarbaru)
40. Ayid Suyitno PS (Jakarta)
41. Ayu Cipta (Tangerang)
42. Bagus Putu Parto (Blitar)
43. Baharuddin Iskandar (Pinrang)
44. Bambang Eka Prasetya (Magelang)
45. Bambang Hirawan @ Buana K. S. (Muara Bungo)
46. BambangWidiatmoko (Jakarta)
47. Barlean Bagus S. A. (Jember)
48. D. S. Dhani (Schwerin)
49. D. Z. Sandyarto (Malang)
50. Daladi Ahmad (Magelang)
51. Darman D. Hoeri (Malang)
52. Daryat Arya @Arya Sutha (Semarang)
53. De Sucitra (Banten)
54. Deni Puja Pranata (Sumenep)
55. Denny Mizhar (Malang)
56. Dharmadi (Jakarta)
57. Diah Rofika (Berlin)
58. Diana Roosetindaro (Solo)
59. Didid Endro S (Jepara)
60. Dimas Arika Mihardja (Jambi)
61. Dimaz IndiaNa SEnja (Brebes)
62. Dody Yan Masfa @Teater Tobong (Surabaya)
63. Dulrokhim (Purworejo)
64. Dwi Ery Santoso (Tegal)
65. Dyah Kencono Puspito Dewi (Bekasi)
66. Eddie M. N. S Soemanto (Padang)
67. Eddy Pramduane (Depok)
68. Eddy Pranata PNP (Purwokerto)
69. Effendi Saleh (Blitar)
70. Eka Pradhaning (Magelang)
71. Eko Widianto (Jepara)
72. Endang Wahyuni Ramli (Surabaya)
73. Endang Setiyaningsih (Bogor)
74. Endang Supriyadi (Depok)
75. Esti Ismawati (Klaten)
76. Euis Herni Ismail (Subang)
77. Eva Nur Aprillail (Jakarta)
78. Fahrurraji Asmuni (Amuntai)
79. Fariz Ihsan Putra (Riau)
80. Fendi Kachonk (Sumenep)
81. Fikar W. Eda (Jakarta)
82. Fransiska Ambar Kristyani (Semarang)
83. GusHar Wegig Pramudito/ Agus Suharsono (Jakarta)
84. @H. A. Nurhadi Moekri/ Akhmad Nurhadi Moekri (Sumenep)
85. Hardho Sayoko SPB (Ngawi)
86. Hasan B Saidi (Batam)
87. Hasan Bisri Bfc (Bogor)
88. Helwatin Najwa (Banjarbaru)
89. Helyn Avinanto @ Helin Supentoel (Ngawi)
90. Hendra Royadi / Hendra Satiawan (Amuntai)
91. Herman Syahara (Jakarta)
92. Heru Mugiarso (Semarang)
93. Hidayat Raharja (Sumenep)
94. Husnu Abadi (Riau)
95. I Putu Supartika (Buleleng)
96. Iberahim (Barabai)
97. Ibnu Hajar (Sumenep)
98. Imam Ekapuji Al-ghazali @Ki Tapa Wengi (Sumenep)
99. Irna Novia Damayanti (Purbalingga)
100. Iwan Kusuma Ngo Cak (Jember)
101. Jhon F. Pane (Kotabaru)
102. Joshua Igho (Tegal)
103. Jumari HS (Kudus)
104. K. Pudji Peristiwati @Dewi Nurhalizah (Malang)
105. Kidung Purnama (Ciamis)
106. Kunthit Widodo (Kudus)
107. Kurnia Fajar (Wonogiri)
108. Langtijiwa Andra (Surabaya)
109. Lukni Maulana (Semarang)
110. M. Amin Mustika Muda (Marabahan)
111. M. Raudah Jambak (Medan)
112. Mameth Suwargo (Tegal)
113. Maria Roeslie (Banjarmasin)
114. Marlin Dinamikanto (Jakarta)
115. Melur Seruni (Magelang)
116. Mochammad Asrori (Mojokerto)
117. Moh Fauzi (Sumenep)
118. Mohamad Fauzi (Pemalang)
119. Much Khoiri (Surabaya)
120. Muhammad Hafeedz Amar Riskha (Indramayu)
121. Muhammad Lefand (Jember)
122. Muhammad Rois Rinaldi (Cilegon)
123. Muhtar S. Hidayat (Ngawi)
124. Muttafaqur Rohmah (Banyuwangi)
125. Najibul Mahbub (Pekalongan)
126. Nanang Anna Noor (Banyumas)
127. Nanang Farid Syam (Depok)
128. Nugraha A. T. @Andhyka Nugraha (Palembang)
129. Nur Auda Maulidia @Aida Raja (Sumenep)
130. Nur Widowati (Cirebon)
131. Nurani Soyomukti (Trenggalek)
132. Nurochman Sudibyo Y. S. (Indramayu)
133. Oscar Amran (Bogor)
134. Pekik Sasinilo (Kebumen)
135. Puput Amiranti (Blitar)
136. Puspita Ann (Solo)
137. Raedu Badrus Shaleh (Sumenep)
138. Rahman Sudrajat @Sejatineurip Drajat (Purworejo)
139. Rahmat Agung (Pasuruan)
140. Rahmi Airin @Amoy AiRior (Jakarta)
141. Rakhmat Giryadi (Sidoarjo)
142. RD Kedum (Lubuklinggau)
143. Restuti Saragih (Medan)
144. Rg Bagus Warsono (Indramayu)
145. Ria Oktavia Indrawati (Depok)
146. Ribut Achwandi (Pekalongan)
147. Rini Ganefa (Semarang)
148. Riswo Mulyadi (Banyumas)
149. Riyanto (Purwokerto)
150. Rusdiansyah (Bontang)
151. Rusliadi Darwis (Makassar)
152. Saiful Bahri (Aceh)
153. Saiful Hadjar (Surabaya)
154. Salman Yoga S. (Takengon)
155. Sanusi Pane (Jambi)
156. Sari Nurfatwa Hakim (Ciamis)
157. Sarwendah Rahman (Malang)
158. Shantined (Bontang)
159. Shella (Jepara)
160. Shonhaji Muhammad Al-Gowzhyne (Sidoarjo)
161. Sonny H. Sayangbati (Jakarta)
162. Sudarmono (Bekasi)
163. Sujudi Akbar Pamungkas (Kotawaringin Timur)
164. Sukur Budiharjo (Bogor)
165. Sulaiman Juned (Aceh)
166. Sulis Bambang (Semarang)
167. Sumanang Tirtasujana (Purworejo)
168. Sumasno Hadi (Banjarmasin)
169. Sunaryo Broto (Bontang)
170. Surya Hardi (Riau)
171. Sus S. Hardjono (Sragen)
172. Susmi Hartini (Purwokerto)
173. Sutejo Ssc (Malang)
174. Suyitno Ethex (Mojokerto)
175. Syarif Hidayatullah (Banjarmasin)
176. Syarifuddin Arifin (Padang)
177. Syarifuddin HH @Arif Al FanZa (Jember)
178. Syibram Mulsi (Barabai)
179. Tarmizi (Batam)
180. Taufik Ikram Jamil (Pekanbaru)
181. Tengsoe Tjahjono (Surabaya)
182. Thomas Budi Santoso (Kudus)
183. Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)
184. Tri Tedi Maedison (Padang)
185. Trisnatunabuyafi Ranaatmaja (Banyumas)
186. Udo Z. Karzi (Lampung)
187. W. Haryanto (Blitar)
188. Wage Tegoeh Wijono (Purwokerto)
189. Wahyu Prihantoro (Ngawi)
190. Wanto Tirta (Banyumas)
191. Wardjito Soeharso (Semarang)
192. Wawan Kurn (Makassar)
193. Yogira Yogaswara (Bandung)
194. Yusti Aprilina (Bengkulu)
195. Zulfa Fahmy (Kendal)
196. Zulkarnain Siregar @Lela Jingga (Medan)


Pesan Alid di Gloseum

Arafat Library (1431) menjadi Perpustakaan Sastra Indonesia-Arafat Library Demak (PSI-AL Demak), 1 Muharram 1435, menjadi Perpustakaan Sastra Nusantara-Arafat Library Demak (PeSaN-ALiD), Rabu, 22 Dzulqo'dah 1435 Arafat Library merupakan perpustakaan pribadi milik Arafat Ahc. Awal-awal, buku-bukunya bermukim di Rumahnya, Gubug Jetak, PPRM Jagalan 62--kemudian pindah di PPRM Janggalan--. Jumlah total buku-bukunya kisaran 500an eksemplar. Pada tahun 1433, sesaat ia keluar dari pesantren, sebagian bukunya masih tertinggal di pesantren dan sebagian lagi dibawa ke rumah. Semanjak itu seluruh buku-buku mencapai kisaran 200eks.

Berhubung ketiga saudaranya--Zahrotul Uyun, Ahmad Mubarok, dan Sajidah Ulfa-- memiliki buku banyak yang sudah dihatami/doubel, maka dimintainya semua. Sebelum menjadi PSI-AL Demak, Arafat juga mengumpulkan seluruh buku-buku milik ayahnya, Abdul Hadi, allahu yarham, untuk disimpan dan diwarisi. Selain itu, ia juga mengumpulkan buku-buku di rak lemari Ibunya, Fathimatuz Zahra', serta Neneknya, Fathinun--yang menyimpan sebagian bukunya, buku Pak Liknya, Ali Muqoddas, Hariri Ahmad, dan Abdullah Handziq, allahu yarham, juga Bu Liknya, Haritsah, dan Pak Dhenya, Ahmad Muzammil-- yang tidak tercantum sebagai donatur buku, yang kemudian pada 1 Muharram 1435 menjadi Perpustakaan Sastra Indonesia-Arafat Library Demak.

Sebelum berdirinya PSI-AL Demak--sebagai langkah untuk membuka ruang membaca umum-- ia meminta sepetak tanah ukuran 5x9--yang dulunya ruang tamu-- milik Ibu Fathimatuz Zahro' untuk dijadikan rumah baca. Walhasil, PSI-AL Demak berdiri sebagai rumah baca saja. Kemudian ketemu Tubagus Muhammad Rois Rinaldi, bercerita soal kegelisahan masyarakat mesin dan banyak hal, maka ia pun merestui berdirinya--setelah direstuinya Ibu Fathimatuz Zahro' dan Ny. Fathinun--. Pada perkembangannya, dalam ruang-ruang kegelisahan selanjutnya, berbincang dengan beberapa teman,diantaranya, Rohman SenadaAlam, Roden Al Jathowy, Ulul Abshor, serta Gus Arinal Muna, maka bertambahlah ruang bagi PSI-AL Demak--yang mulanya rumah baca saja-- yakni 1. Laborat Keilmuan, Kesenian dan Kebudayaan, 2. Buletin Provokatif, 3. Sanggar Bermain. Pada ruang lain, saat berbincang dengan Serdadu Putih, terciptalah Rumah Ramah Lingkungan. Sementara Rumah Arsip terlahir dari rahim Arafat Ahc sendiri.

Dan ketika melihat masyarakat--khususnya anak-anak--senang berkreasi, maka dilahirkanlah Rumah Kreasi. Sehingga sampai hari ini, ada tujuh Ruang di Perpustakaan Sastra Indonesia-Arafat Library Demak, yakni: 1. Rumah Baca 2. Laborat Keilmuan, Kesenian dan Kebudayaan 3. Buletin Provokatif 4. Sanggar Bermain 5. Rumah Ramah Lingkungan 6. Rumah Asip 7. Rumah Kreasi-(ti)fitas Beberapa kawan yang ikut berkhidmah di PSI-AL Demak, diantaranya Rohman SenadaAlam, Ulul Abshor, Roden Al Jathawy, Fath Fais, serta kemudian masuklah Ulum Salafy dan Alviyatur R serta beberapa adik-adik yang terus berjuang, Khusnul Yazid, Khoiruddin, Rosyad, Umar, Albab, Zaki, dll.

Dan pada hari rabu, 22 Dzulqo'dah 1435, perihal akronim yang terlalu sulit, serta pertimbangan soal Indonesia. Maka berubahlah nama yang semula Perpustakaan Sastra Indonesia-Arafat Library Demak (PSI-AL Demak) menjadi Perpustakaan Sastra Nusantara-Arafat Library Demak (PeSaN-ALiD). Sekretariat: Jl. Kauman Baqin 01/05 Gg. Gandul Kp. Genius Ds. Jetak No. 147, Kec. Wedung, Kab. Demak, Jawa Tengah-Indonesia 59554. fanspage: Perpustakaan Sastra Indonesia-Arafat Library Demak, blogspot:PeSaN-ALiD.blogspot.com, email: psialdemak99@gmail.comNo.HP: 085640790588, Pin BB:764a9967

Mission: Sekedar memberikan oase di tengah hidup yang materialistik serta hedonistik. Sekedar memberi ruang bagi mereka yang tak beruang atau tak memiliki ruang kreatifnya. Sekedar ruang sosial, kesenian serta kebudayaan.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html